
"Benarkah?? apa yang kau katakan?"
Hayabusa menyeringai. "Haruskah aku memberi tahumu?" tandasnya.
Sontak pria berjubah hitam itu naik pitam mendengarnya. Ia kemudian mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, bola kristal berwarna hijau yang hinggap di ujung tongkat bersinar, memancarkan cahaya hijau yang pekat.
Lalu pria berjubah hitam itu alias Hajime, mengarahkan ujung tongkat ke arah Hayabusa dan Hanabi. "Matilah! [poison bee]."
Keluar ratusan lebah dari bola kristal hijau yang ada di tongkat Hajime.
Hanabi mengeratkan rahangnya menatap ratusan lebah yang sedang menerjang kearahnya dan juga Hayabusa.
Kali ini giliranku melindungi, Hayabusa, kata Hanabi dalam hati.
Hanabi mengambil kunai yang ada di pinggang lalu melemparkannya ke arah ratusan lebah yang sedang menerjang, bukan hanya satu melainkan beberapa kunai Hanabi lemparkan. Sekilas terlihat secarik kertas yang terikat di pangkal kunai.
Bom! bom! Bom!
Kunai-kunai itu meledak setelah menabrak ratusan lebah, serta menghasilkan bunyi yang memekakkan telinga.
"Woah, serangan pembuka yang bagus," kata Hajime terkagum.
"Berhati-hatilah, Hanabi." Hayabusa memperingati. "Serangan orang itu bertipikal racun, sebisa mungkin hindari semua serangannya," lanjutnya.
Hanabi mengangguk. "Baik, serahkan semuanya kepadaku."
Hayabusa tersenyum simpul mendengarnya. "Yeah, kurasa kali ini aku akan bergantung kepadamu."
Hanabi sekilas menoleh ke arah Hayabusa. Tersenyum tipis lalu kemudian kembali mengarahkan pandangan ke arah Hajime.
Hanabi bergerak berlari kencang kearah Hajime. Lalu melemparkan Higanbana nya, dan itu melesat cepat kearah Hajime.
Trang!
Hajime berhasil menepisnya dengan tongkat sihirnya, dan lalu Higanbana itu kembali ke tangan Hanabi. Seperti Boomerang.
"Kau ingin melawanku menggunakan mainan itu." Hajime mencemooh.
Ini akan sedikit sulit, pikir Hayabusa. Gaya bertarung Hanabi lebih bertumpu kepada senjatanya, sedangkan untuk lawannya, dia pengguna sihir. Dan untuk sekarang aku tidak akan membantunya.
Hanabi memejamkan matanya. Lalu menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya sekaligus melalui mulutnya. Ia kembali membuka kedua matanya, tatapannya tajam menatap kearah Hajime.
"[Sword technique: Style 1]."
Hanabi melesat, bergerak dengan gerakan zig-zag. Sangat cepat, sampai membuat Hayabusa terperangah melihatnya.
__ADS_1
Buk!
Hajime terhempas ke belakang akibat terkena hantaman pukulan Hanabi, yang kemudian terbentur ke pohon.
Apa itu tadi, pekik Hajime. Kenapa tiba-tiba pergerakannya berubah menjadi sangat cepat.
Tak ingin kehilangan kesempatan, Hanabi melemparkan kunai yang sudah dipasangi kertas peledak kearah Hajime.
Bom!
Sekepulan asap terbentuk akibat ledakan barusan.
"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu." Hajime keluar dari kepulan asap dan tampak dirinya terlihat baik-baik saja.
Buk!
"Khuak..!"
Hajime kembali terhempas kebelakang akibat tendangan Hanabi. Hanabi tak memberikan celah sama sekali.
Hajime langsung bangkit dari posisinya. "[Poison fog]."
Kepulan asap hijau keluar dari bola kristal hijaunya, dan kini mulai menyebar, menginvasi wilayah sekitar.
Hanabi melompat kebelakang, menjauhi area yang sudah di endapi asap beracun tersebut. Sekarang akan lebih sulit untukku mendekatinya, pikir Hanabi. Aku harus mencari cara lain.
Sial, dia bisa dengan leluasa mengeluarkan sihirnya dari dalam kabut beracun ini, pikir Hanabi masam.
[Sword technique: style 2]." Hanabi langsung menebas ratusan lebah beracun itu dengan Higanbana nya. Gerakannya sangat cepat dan jika dilihat terlihat seperti kilatan tebasan.
Ini kesempatanku, batin Hajime, "[poison blob shot]."
Hajime menembakkan gumpalan racun ke arah Hanabi yang sedang sibuk memberantasi lebah beracun.
Bom!
Ledakan racun tersebut menyebabkan rerumputan di sekitarnya terkikis layu.
Hajime menatap kearah ledakan dengan pandangan menerawang. "Apakah dia sudah mati?" Setelah sekepulan racun menghilang, betapa terkejutnya Hajime karena yang dilihatnya hanya sebatang kayu.
Hajime mendecakkan mulutnya, sebal dengan apa yang ia lihat. "Inilah sebabnya aku benci ninja," gerutunya. "Dan sekarang, ada dimana dia?" Hajime mencari-cari
Hajime menyapu pandangannya ke sekitar area untuk mencari Hanabi. Namun yang ia lihat hanyalah Hayabusa yang masih terduduk lemah tak jauh darinya. Ada dimana dia, batinnya. Hajime mengarahkan pandang ke Hayabusa. "Ada dimana kekasihmu? apa kabur karena ketakutan?
Hayabusa menyeringai memperlihatkan gigi taringnya. "Buat apa aku memberi tahumu," ujar Hayabusa.
__ADS_1
"Cih," Aku tau kalau gadis itu tidak akan kab-
Srak!
Tiba-tiba Sebuah kunai menggores lengan Hajime dari arah belakang.
"Jadi kau bersembunyi disana." Hajime memutar kepalanya ke arah sumber datangnya kunai barusan, lalu mengangkat tongkatnya.
"[Poison explosion]." Energi hijau keluar dari tongkatnya lalu meledakkan pohon yang jadi persembunyiannya Hanabi.
Bomm!
Pohon tersebut langsung terkikis, seketika dedaunannya rontok. Hanya menyisakan ranting-rantibg yabg bercabang.
Srak!
Hajime kembali tergores kunai, namun kali ini berasal dari sisi kirinya. Membuatnya benar-benar geram.
Bom!
Kunai yang barusan menggores Hajime meledak membuatnya terpelanting hingga membentur sebuah pohon.
"[Ninjutsu: Higanbana round]."
Tiba-tiba sebuah senjata yang mirip gear datang entah darimana dan menerjang ke arah Hajime. Yang kemudian...
Srak!
Higanbana itu mengenai leher Hajime sehingga membuatnya terlepas dari badannya.
Meskipun begitu, tidak ada yang bisa menyaingi skill senjata milik Hanabi, batin Hayabusa.
Hayabusa menolehkan wajahnya kebelakang, lalu tersenyum tipis. "Kau berhasil, Hanabi," tuturnya.
Setelah itu muncul gadis cantik berambut hitam panjang yang di kuncir kuda dari semak-semak. Gadis itu lalu menatap wajah Hayabusa dengan penuh kepuasan.
"Kau sepertinya sudah berkembang dengan pesat, Hanabi." Hayabusa memuji seraya mengembangkan senyumnya.
Hanabi justru memalingkan wajahnya kesamping, terlihat rona merah di pipinya. "Kenapa kau tidak membantukku," gerutu Hanabi, "Padahal, kan kau bisa saja."
"Emm, tubuhku sakit." Hayabusa berkilah seraya cengengesan.
Hanabi menggembungkan pipinya mendengar jawaban Hayabusa. "Bohong, kau terlihat membaik, bahkan lebih baik daripada hari-hari sebelumnya," hardiknya meminta penjelasan. "Dan lalu, kenapa dengan rambutmu."
"Itu bisa ku jelaskan nanti. Yang lebih penting kau berhasil mengalahkan penghianat itu," kata Hayabusa.
__ADS_1
Tiba-tiba Hanabi memasang wajah murung. "Tapi tubuh itu hanyalah boneka," keluhnya.
"Aku tau itu, tapi janganlah bersedih. Aku juga sudah menyiapkan sesuatu untuknya." Hayabusa menyeringai.