Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Chapter 5: Fighting the Abyss, part 5


__ADS_3

Dua energi besar saling bertabrakan satu sama lain, yang satu penuh dengan energi kebencian, sedangkan yang satunya lagi penuh dengan energi positif. Udara di sekitar meluap-luap, angin berhembus dengan kencang dan tak berarah, pepohonan terombang-ambing mengikuti alur dari angin, dedaunan beserta debu-debu mulai berterbangan di mana-mana. Dari balik itu, terlihat 2 sosok individu yang tengah berhadapan dan saling beradu tatapan.


"Baguslah kalau begitu, jadi aku bisa membalaskan dendam ku kepadamu," ucap dari salah satu individu tersebut yang ternyata adalah; Thamuz.


Matanya tak berhenti menatap sesosok elf yang tengah berdiri tak jauh darinya.


"Dendam?," ucap sesosok elf itu yang ternyata adalah; Estes.


"Apa kau lupa? atau kau pura-pura lupa?!"


Estes mengangkat bahunya ke atas. "Entahlah." Semua ingatan dari dirinya belum sepenuhnya kembali, karena dia baru saja terbangun dari tidur abadi.


"Baiklah kalau begitu aku akan mengingatkan mu kembali. Dulu, ribuan tahun yang lalu saat kita berperang untuk memperebutkan wilayah, pasukan mu berhasil mengalahkan pasukan ku, dan karena mu aku memiliki bekas luka ini," menunjuk ke bekas luka yang ada di dadanya yang memiliki bentuk 'X'


"Saat kekalahan ku pada saat itu, aku merasa sangat terpukul. Sejak saat itu aku memutuskan terus menerus berlatih dengan harapan menjadi kuat agar bisa mengalahkan mu, bertahun-tahun aku berlatih akhirnya aku berhasil mencapai tujuan ku, aku menjadi sangat kuat, sangat kuat bahkan sudah tidak ada lagi yang bisa mengalahkan ku. Dan sekarang waktunya untuk menebus kekalahan ku dulu."


Estes menempelkan jari jemari di pelipisnya dengan kedua mata terpejam, otaknya mulai bekerja keras untuk mencari memori tentang kejadian yang Thamuz bicarakan tadi, tak butuh waktu lama memori tentang peperangan itu muncul sedikit demi sedikit di kepalanya.


Estes tersenyum menyeringai. "Ya, aku ingat peperangan itu, dan aku mengingat dengan jelas penderitaan yang kau berikan kepada kerajaan ku pada saat itu."


"Baguslah kalau kau ingat, setelah sekian lama mencari mu akhirnya kita bertemu kembali, dan inilah saatnya untuk membalaskan dendamku kepada mu."


"Aku juga akan berkata demikian, ini saat bagiku untuk membalas penderitaan yang kau berikan kepada rakyat ku dulu."


"[note universe]"


Sringg!


Muncul cahaya yang sangat menyilaukan di depan Estes. beberapa saat kemudian cahaya itu mulai meredup, yang kemudian menampakkan sebuah buku. Buku itu langsung melayang ke samping Estes.


"Seperti biasa, kau selalu mengandalkan buku itu," ujar Thamuz.

__ADS_1


"Dan juga seperti biasa, kau selalu mengandalkan kapak sabit itu," balas Estes.


"Hahaha, sama seperti dulu, kau selalu menjengkelkan. [Cauterant Inferno]," Seketika Thamuz di selimuti oleh aura pekat (dimana dalam mode ini Thamuz bisa menambah damage dari serangannya.) Tanah yang di pijaknya pun menjadi retak serta mengeluarkan magma.


Thamuz langsung melesat ke arah Estes dengan sangat cepat, dan setibanya di sana Thamuz langsung menebaskan sabitnya.


Duar!


Sabit Thamuz menghantam tanah hingga membuat retakan yang cukup besar. "Sama seperti dulu, kau sangat gesit," menatap keatas. Terlihat Estes yang sedang terbang.


Estes menggerakkan tangannya membuat formasi sihir di kehampaan. "[Domain of moon god]." Seketika muncul lingkaran sihir di sekitar Thamuz, lingkaran sihir itu menjulang ke atas seperti membuat pembatas agar Thamuz tidak dapat keluar dari dalam lingkaran.


Thamuz yang berada di dalam lingkaran merasakan tekanan gravitasi yang sangat besar, dirinya kesulitan untuk menggerakkan tubuh.


Estes mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan telapak tangan saling berhadapan, tetapi tidak bersentuhan, ada jarak 2 kepal tangan antara telapak tangan kanan dan telapak tangan kiri. Estes memanifestasikan mana di antara telapak tangannya, lalu muncullah bola sihir berwarna biru.


Perlahan bola sihir itu membesar seiring dengan mana yang ditransferkan, Estes merenggangkan jarak kedua telapak tangannya karena bola sihir semakin membesar. Sampai di titik maksimal, Estes melemparkannya ke arah Thamuz yang terkurung di dalam lingkaran sihir.


Bumm!


"Apa cuma segini kemampuanmu, mengecewakan," ujar Thamuz. Thamuz mengangkat kembali kepalanya menatap Estes yang masih terbang di langit-langit. Thamuz menekuk kakinya lalu merentangkan kedua tangannya. "[Chasm leap]."


Thamuz melompat ke arah Estes, muncul kubangan tanah dari bekas lompatannya tadi. Setibanya di hadapan Estes- Thamuz langsung menebaskan sabitnya secara vertikal dari atas kebawah. Estes yang belum membuat pertahanan tubuhnya terhempas kebawah dengan sangat cepat.


Bruk!


Tubuh Estes menghantam tanah dengan sangat keras hingga menciptakan retakan yang cukup besar. Thamuz kembali mendarat ke tanah, dia mulai mengangkat kedua sabitnya ke atas. Magma panas mulai menyelimuti sabitnya.


"[Slaughterous scythes]." Thamuz melemparkan sabitnya ke arah Estes yang masih terbaring di tanah. Sepanjang lesatan sabit Thamuz terus berputar dengan sangat cepat, seperti roda mobil yang tengah melaju cepat.


Estes langsung berdiri karena melihat sabit Thamuz yang mulai mendekat. Kedua tangannya mulai mengukir formasi sihir di kehampaan, tangannya bergerak secepat kilat. "[Shield]." Muncul tameng sihir di hadapan Estes.

__ADS_1


Bumm!


Sabit Thamuz menghantam tameng sihir milik Estes dan terlempar puluhan meter.


Thamuz menggertakan giginya melihat serangannya berhasil di tepis. Bagaimana mungkin serangan ku di tepis olehnya, ini mustahil, batin Thamuz.


Estes mengangkat tangan kanannya ke depan, ia memusatkan mana di telapak tangannya."[Scripture of the moon elf]." Muncul gelembung-gelembung sihir yang akhirnya menggumpal dan membentuk bola sihir berwarna hijau. Semakin lama semakin besar bola sihir itu, sampai di titik maksimal dengan besar sekepala Estes.


Estes melemparkan bola sihirnya ke arah Thamuz.


Bomm!


Namun sayangnya serangan Estes tidak mengenai Thamuz, lebih tepatnya serangannya dihisap oleh Alice yang tiba-tiba muncul di depan Thamuz.


"Alice?! kenapa kau kesini, pergilah, ini pertarungan ku," ujar Thamuz.


"Kita harus kembali, pasukan kita telah tumbang."


"Bagaimana bisa?!" dengan ekspresi tak percaya.


"Muncul 3 penyusup ke dalam istana, dan mereka telah mengalahkan banyak pasukan."


"Tiga, bagaimana bisa?!"


"Awalnya mereka terdesak, akan tetapi mereka memanggil monster yang sangat kuat."


"Sigh! sialan, rencana kita berantakan," Thamuz mengarahkan pandangannya ke arah Estes. "Kita sudahi sampai di sini dulu, tapi ingat, lain kali aku akan mendatangi mu dan aku akan memenggal kepalamu."


Estes tersenyum. "Aku akan menantikannya."


"[sickle axe]," sabit Thamuz kembali padanya. "Ayo kembali," ajak Thamuz.

__ADS_1


Alice mengangguk. "[Blood gate]." Seketika muncul portal di hadapan Alice, Thamuz dan Alice pun memasuki portal, tapi sebelum itu, Alice melirik ke arah Hayabusa yang masih terbaring. Setelah mereka berdua memasukinya, portal pun menghilang.


Estes menghela nafas lelah. "Untung saja,jika aku terus bertarung kemungkinan akan kalah, kekuatan ku belum pulih sepenuhnya."


__ADS_2