Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Chapter 7: Revenge, part 9


__ADS_3

"Kita sudah sampai." Ungkap Hanabi ketika melihat sebuah pintu kamar dengan nuansa ala-ala Jepang, dimana ketika membuka pintu harus di geser bukan di dorong. "Ayo masuk." Ajaknya.


Hanabi berjalan mendahului, masuk kedalam kamar tersebut, yang kemudian diikuti oleh kedua gadis di belakangnya. Miya dan Kagura.


Setelah masuk ke dalam kamar, pandangan ketiga gadis itu langsung terpaku ke sesosok laki-laki yang tengah terbaring di atas kasur dengan balutan perban di sekujur perutnya. Hanabi, Miya, dan Kagura pun langsung berjalan menghampiri laki-laki yang terbaring itu.


Setibanya disana, ketiganya menatap sosok laki-laki itu dengan ekspresi yang sulit di artikan. "Sadarlah, Hayabusa." Kagura berharap. Terpampang jelas ekspresi sedih di wajahnya, begitu juga Hanabi dan Miya.


Tidak ada sautan, maupun jawaban. Hayabusa masih menutup kelopak matanya.


...***...


"Kau gagal." Kata seorang pria yang memakai topeng kepada seseorang pria dengan penampilan ninja yang tengah berlutut di belakangnya.


Sontak pria di belakangnya langsung bergidik ngeri mendengar pernyataan dari pria bertopeng yang tengah berdiri di depannya. Memunggungi.


Ia langsung menelan ludah, keringat dingin mulai membanjiri wajahnya, jantungnya mulai berdentum dengan sangat cepat. Otaknya langsung bekerja keras mencari-cari alasan yang akan di ungkapkanya nanti. Tapi sayangnya tak ada segelintir kalimat yang muncul di kepalanya untuk bisa ia jadikan alasan, walaupun itu hanya hal yang sia-sia, karena dia tau orang yang berdiri di depannya tak akan mendengarkan.


"Apa ini akhir bagiku?"


Pria bertopeng itu memutar tubuhnya, menatap tajam anak buahnya yang tengah berlutut. Kepalanya terus menunduk, tak berani menatapnya. "Jelaskan, kenapa kau bisa gagal," pria bertopeng bertanya dengan tegas, "Han..zo." Dengan nada tinggi.


Tubuh Hanzo langsung gemetaran, ketakutan.


Hanzo mengangkat wajahnya, menatap topeng pria itu dengan penuh rasa takut. Dirinya merasa seperti sedang terkena tekanan gravitasi yang sangat berat. Bibirnya bergetar, rasanya sulit sekali untuk mengucapkan sepatah kalimat. "I-itu, tuan," kata Hanzo terbata-bata, "Aku gagal membunuhnya karena ...."


...***...


Silau.

__ADS_1


Itu yang Hayabusa rasakan saat pertama kali membuka kelopak matanya. Ia merasa jika kalau Kepalanya sangatlah sakit, rasanya mau pecah.Hayabusa kemudian memutar bola matanya, mengedarkan pandang.


"Bukankah ini kamar ku?"


Hayabusa berusaha bangkit, mencari posisi yang nyaman untuk dirinya. Sekali lagi Hayabusa mengedarkan pandangannya, meneliti ruangan yang di tempatinya. "Tidak salah lagi, ini kamar ku." Hayabusa terdiam sejenak, berusaha mencerna semua kejadian yang ia alami.


"Bukankah sebelumnya aku berada di ruangan putih tak berujung, bersama dengan penipu itu. Apa benar tadi aku berada di alam kesadaran ku? tapi aku rasa bukan."


Yah, lagian itu hal yang bagus bukan? terhindar dari penipu. Padahal tadinya Hayabusa hanya menduga-duga saja kalau sesosok pria yang mirip dengannya saat berada di ruangan putih tak berujung bukanlah orang baik. Hayabusa menipunya dengan kedok psikologis, padahal Hayabusa juga tak terlalu paham akan hal itu. Penipu itu justru mengaku, lalu menunjukkan sosoknya yang asli, dan setelah itu Hayabusa tersadar dari pingsannya.


"Ugh ... Kepalaku." Hayabusa memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, rasanya kepalanya seperti sedang ditusuk ribuan jarum.


Beberapa detik berlalu, rasa sakit itu kian menghilang. Hayabusa kembali tenang, nafasnya mulai beraturan. Hayabusa mulai menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya, hal itu ia lakukan untuk menjernihkan isi pikirannya.


"Hanzo ... kurasa bukan dia pelakunya," Hayabusa menyimpulkan, "rasanya, masih ada seseorang kuat yang ada dibelakangnya." Hayabusa menyimpulkan hal tersebut karena mendapati adanya sedikit keganjilan.


"Meskipun begitu." Hayabusa menekuk wajahnya, memasang ekspresi masam. "Aku masihlah lemah, bahkan ketika melawan Hanzo aku terluka parah seperti ini ... aku, harus menjadi kuat."


"Permisi~"


Tiba-tiba ada seseorang yang memasuki kamar Hayabusa. Hayabusa langsung menolehkan wajahnya, melihat siapa barusan yang masuk ke dalam kamarnya.


"Kau ...."


Hayabusa mendapati seorang pria yang tampaknya seumuran dengannya. Rambutnya pendek berwarna hitam, kedua bola matanya berwarna sepadan dengan warna rambutnya, hidungnya mancung, postur tubuhnya sempurna.



"Ma-maaf, sepertinya aku mengganggu anda," tukas pria itu. Panik.

__ADS_1


"Ah, itu tidak masalah," ujar Hayabusa, "Kau pria yang waktu itu, kan? apa ada urusan denganku?" Hayabusa bertanya.


"I-iya benar, kau masih mengingat ku. Lagian siapa juga yang tidak ingat dengan orang yang bersembunyi ketakutan dikala klannya di bantai di depan matanya." Memasang ekspresi bersalah. "Untuk pertanyaan kedua, aku datang kesini hanya untuk mengantarkan makanan untuk anda, aku mendengar kalau anda sedang terluka parah."


Pria itu berjalan mendekat kearah Hayabusa, lalu kemudian meletakkan nampan yang berisi semangkuk bubur di meja kecil di samping ranjang Hayabusa.


"Sekali lagi, maaf karena telah mengganggu waktu istirahat anda." Pria itu membungkukkan badannya.


Hayabusa mengernyitkan dahinya. "Kau tidak usah terlalu formal kepada ku," tuturnya.


"A-ah maafkan, eh maksud ku baiklah."


Hayabusa menghela nafas. "Oh ya, kalau boleh tau siapa namamu?" Hayabusa bertanya, penasaran.


Pria itu langsung berdiri tegap, seperti seorang tentara saat berhadapan dengan komandan. "Pe-perkenalkan, nama saya Hajime, saya bekerja sebagai koki di klan ini," jawabnya dengan penuh semangat.


Hayabusa tersenyum tipis. "Hajime, nama yang bagus," ujar Hayabusa, jujur.


Seketika wajah Hajime merona. "Te-terima kasih atas pujiannya." Membungkuk dengan cepat kemudian kembali berdiri. "Kalau begitu, saya pamit undur diri." Hajime langsung memutar tubuhnya, berlari keluar dari kamar Hayabusa.


Hayabusa hanya tersenyum tipis melihatnya tingkahnya yang terbilang pemalu. "Tak kusangka ada orang seperti dia di dalam klan ini," kata Hayabusa dalam hati.


Kini perhatian Hayabusa teralihkan, kedua matanya menatap semangkuk bubur yang berada di atas meja kecil tepat disampingnya dengan intens.


"Kurasa tak buruk untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum beraktifitas," tutur Hayabusa.


Tangan kanan Hayabusa meraih sendok yang terletak di samping mangkuk, lalu kemudian menyendok bubur yang ada di dalam mangkuk. Perlahan, Hayabusa memasukkannya kedalam mulutnya. Memakannya.


Mata Hayabusa langsung terbelalak lebar.

__ADS_1


"Hmm, bubur ini ... enak."


__ADS_2