Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Mencuri Batu Azurium


__ADS_3

Ding!


[Special Quest: Curi batu Azurium di kerajaan Moniyan Empire


Reward: Unlock new skill


Failed: – ]


Mata Hayabusa terbelalak saat layar transparan di depannya menampilkan sebuah misi. Bahkan hal itu sampai membuatnya lupa dengan makanan yang ada di depannya. Untuk beberapa saat dia terus melihat layar transparan itu sampai sebuah suara membuatnya sadar dari lamunan.


"Hayabusa, apa terjadi sesuatu?" tanya Kagura yang duduk tepat di depannya. Hanabi dan Miya yang sudah di sebelah Kagura juga ikut penasaran.


Hayabusa menjawab, "Tidak ada. Tadi aku hanya sempat terpikirkan sesuatu," jawab Hayabusa.


Tak ada lagi percakapan. Mereka berempat menghabiskan makanan yang telah di pesan. Sekarang mereka sedang berada di kedai makanan yang terletak di kerajaan Moniyan Empire–kedai makanan yang cukup terkenal. Mereka memutuskan untuk berisitirahat sejenak setelah melakukan perjalanan yang panjang, membasmi monster-monster, dan menyelesaikan misi yang diberikan System.


Hayabusa dan yang lainnya memutuskan untuk menyembunyikan identitas dengan cara menutupi wajah mereka supaya tidak ada seorang pun yang mengenali. Hayabusa memakai jubah hitam bertudung, wajahnya tidak terlalu terlihat, dan tiga kekasihnya memakai cadar untuk menutupi kecantikan mereka.


Meskipun begitu, itu tak sempurna untuk menutupi mereka seutuhnya. Kecantikan mereka bukan hanya berasal dari wajah saja, tubuh molek mereka yang sempurna sempat beberapa kali menjadi pusat perhatian orang-orang. Bahkan, di kedai makanan ini beberapa pria terus memandang takjub ke arah mereka bertiga.


Setelah menyelesaikan kegiatan makan, mereka keluar dari dalam kedai. Langit di atas sana sudah berwarna gelap. Hiruk-pikuk orang-orang yang berseliweran menjadi yang paling dominan di kota ini. Meskipun jauh dari kerajaan kota ini tetaplah ramai, perdagangan ada dimana-mana.


"Kita berpisah di sini. Aku ingin menyelesaikan sesuatu di kota ini, kalian bebas ingin berpergian kemana. Kuharap uang yang kuberikan kepada kalian cukup. Kita bertemu lagi di kedai ini besok, saat langit sudah gelap,"kata Hayabusa.


Tidak ada protes dari tiga kekasihnya. Mereka mengangguk menandakan setuju.


Setelah itu Hayabusa pergi ke arah utara tempat dimana kerajaan Moniyan Empire berdiri. Hayabusa bergerak dengan sangat lincah di atas bangunan, dan tanpa suara. Sekitar lima kilometer lagi untuk dirinya sampai di kerajaan.


Sudah sekitar satu bulan Hayabusa berada di Moniyan, jadi dia sudah lumayan hafal dengan jalan yang ada di kota. Bahkan termasuk seluk beluk kota ini. Dari mulai perdagangan gelap, obat-obatan terlarang, bahkan yang paling parah perbudakan manusia.

__ADS_1


"Batu Azurium ... itu akan sangat sulit bagiku untuk mencurinya, mengingat betapa ketat pengawalnya. Tapi, aku punya satu cara. Dan kuharap ... aku bisa segera bertemu dengan orang itu."


Hayabusa melompat turun dari bangunan saat dia melihat sebuah bangunan yang sudah rusak dengan sebuah papan toko bertuliskan "KEDAI SERBAGUNA". Di sekitar bangunan itu sepi, seolah orang-orang menjauhi bangunan itu.


Hayabusa berjalan ke arah toko, dia berhenti sejenak saat melihat papan toko yang sudah hampir terlepas. Cahaya dari dalam toko menyala menandakan bahwa memang ada seseorang yang mengelolanya.


Hayabusa menghela nafas sebelum kembali melangkah masuk ke dalam toko. Bunyi lonceng terdengar saat Hayabusa membuka pintu. Di dalam sangat sepi, hanya ada seseorang pria tua yang berjaga di meja kasir. Ada banyak sekali peralatan di dalam ruangan, seperti mesin-mesin, patung beruang yang sudah lapuk, senjata yang sudah berkarat, dan masih banyak lagi benda-benda yang sudah usang.


"Selamat datang di toko kami," kata pria tua di meja kasir, "Apa yang anda butuhkan, Tuan?"


Hayabusa menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum berjalan ke arah meja kasir. Pria tua itu tak bergeming sama sekali, wajahnya yang sudah keriput dan tubuhnya yang sudah sangat tua hanya bisa berdiam diri di balik meja.


"Tuan bisa mendapatkan diskon sebesar 50% jika Tuan membeli lebih dari satu," kata pria tua itu kembali menawarkan.


"Kalau begitu ... saya memesan minuman bersoda dengan sedikit toping keju di atasnya. Jangan lupa dengan makanan yang hangat."


"Pesanan di terima," kata pria tua itu. Lalu ia menarik sebuah tuas yang berada di bawah meja. Tiba-tiba ruangan bergetar sebelum sebuah tangga bawah tanah muncul di tengah-tengah ruangan.


Hayabusa menyeringai dari balik tudung. Setelah itu ia berjalan menuruni tangga bawah tanah itu. Sebenarnya ruangan di atas hanyalah pengalihan, karena yang sebenarnya ada di ruang bawah tanah. Sedikit orang yang mengetahui tempat itu, tempat dimana berkumpulnya para pembunuh bayaran.


Setelah melewati tangga yang sempit, sampailah Hayabusa di ruang bawah tanah. Berbeda dari yang sebelumnya, ruangan ini sangat berisik, penuh dengan orang-orang yang membawa senjata, sedang menikmati makanan di meja masing-masing.


Hayabusa berjalan ke arah meja kasir yang dimana terdapat seorang wanita cantik di sana.


"Mau pesan apa, Tuan?" kata wanita cantik itu setelah Hayabusa tiba di sana.


"Tidak untuk sekarang," jawab Hayabusa, "Aku sedang mencari seseorang. Pemuda yang bertarung dengan seekor monyet."


Wanita itu mengernyit. "Saya tidak tahu apa maksud anda–"

__ADS_1


Perkataannya tercekat saat Hayabusa meletakkan tiga koin emas di atas meja. "Apakah dengan ini cukup?" kata Hayabusa.


Wanita itu tersenyum. Tangannya dengan cepat mengambil tiga koin emas itu. "Kalau begitu ikuti saya."


Wanita itu berjalan meninggalkan meja kasir, Hayabusa mengikutinya dari belakang. Hayabusa di tuntun menuju ke sebuah ruangan bawah tanah lainnya, gelap dan cukup lembab. Dia melewati sebuah tangga dengan pipa-pipa besi di sebelahnya–ada beberapa pipa yang bocor–sampai Hayabusa tiba di ujung tangga.


Terdapat sebuah pintu penuh dengan coretan warna-warni di depan sana dengan sebuah lampu pijar di atasnya.


"Sebaiknya anda jangan terlalu lama berbincang dengannya jika tidak ingin kehilangan sesuatu," tutur wanita itu sebelum kembali pergi ke atas.


"Aku tau," gumam Hayabusa.


Hayabusa mengetuk pintu itu, tidak ada jawaban. Jadi dia memutuskan untuk masuk karena pintu itu sama sekali tidak di kunci. Ruangan di dalam sini lumayan luas, ada banyak sekali peralatan yang tersebar-sebar.


Ada beberapa blue print yang terpajang di dinding ruangan. Meja belajar dengan lampu pijar, kasur kecil dengan selimut yang berantakan, serta ada banyak sekali coretan warna-warni yang ada di lantai.


Yang pasti, tidak ada seseorang pun yang ada di ruangan ini. Saat itulah Hayabusa mendongakkan kepalanya, menatap ujung langit-langit yang gelap.


"Aku tau kau ada di sana," kata Hayabusa.


Beberapa detik kemudian muncul bunyi berderak, di susul seseorang pemuda yang turun dark atas. Laki-laki itu melihat penampilan Hayabusa, dia mengelilingi seluruh tubuhnya, sangat penasaran.


Laki-laki itu mengendus tubuh Hayabusa lalu berkata, "Siapa kamu, Paman? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya."


Hayabusa melepas tudung yang menutupi kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang tampan dengan rambut berwarna perak. Ia kemudian tersenyum.


"Aku ingin menawarkan sesuatu yang sangat menguntungkan. Bagaimana kalau kau mendengarkan terlebih dahulu ceritaku, Claude."


Laki-laki terhenyak. "Na-namaku! bagaimana kau bisa tau!"

__ADS_1


__ADS_2