Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Chapter 7: Revenge, part 11


__ADS_3

"Hayabusa, apa terjadi sesuatu?" kau terlihat seperti sedang banyak beban pikiran." Hanabi memperhatikan Hayabusa yang sedari tadi duduk tercenung.


Tak ada jawaban, Hayabusa masih tercenung, melayang-layang di dalam dunia pikiran. Yang semakin membuat Hanabi penasaran.


"Hayabusa?" Sekali lagi Hanabi memanggil.


Hayabusa langsung tersadar dari lamunannya, lalu kemudian menatap wajah Hanabi.


"Ah, iya. Ada apa Hanabi?" Hayabusa bertanya.


Wajah Hanabi langsung merengut mendengarnya. "Katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan!" sergahnya. "Jangan memendam semuanya sendirian," tuturnya.


Hayabusa terhenyak, lalu membuang mukanya kesamping. "Tidak ada yang spesial," ungkapkanya.


Hanabi mengerang, mendengus sebal. "Apa sebegitu tak berartinya aku bagimu sampai-sampai kau tak mau menceritakannya padaku."


"Bukan begitu." Hayabusa menundukkan wajahnya, menatap lekat kearah tanah.


Hanabi bangkit dari duduknya kemudian beranjak pergi.


"Tunggu," seru Hayabusa menghentikan langkah Hanabi. "Tak baik kalau kau keluar dari hutan ini sendirian. Kau tau, kan? kalau hutan ini berbahaya."


Sekarang Hayabusa dan Hanabi sedang berada di dalam forest of death untuk berburu monster. Sebetulnya Hayabusa ingin berburu sendiri untuk meningkatkan levelnya, hanya saja Hanabi bersikeras ingin ikut dengannya.


Hanabi terdiam, menghentikan langkahnya sesaat. "Bahkan kau meremehkanku, menganggap ku begitu lemah sampai-sampai harus didampingi untuk keluar dari hutan ini." Setelah itu Hanabi kembali melajukan langkahnya. Ada sedikit rasa kekecewaan di lubuk hati Hanabi.


Hayabusa memandangi punggung Hanabi yang semakin menjauh, tak bergeming bahkan tak terpikirkan untuk menghentikannya.


"Apa kau percaya kalau aku menemukan dalang dari balik pembantaian klan?" gumamnya. "Pasti kau akan bertanya dari mana aku tahu itu. Tapi apakah kau percaya bahwa ada sebuah system didalam diriku yang selalu membimbingku, yang lebih penting apakah kau akan percaya bahwa sebenarnya aku bukanlah Hayabusa yang asli."


Hayabusa mengacak-acak rambutnya. "Kenapa aku jadi seperti ini? Ada apa denganku?"


Hayabusa mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya sekaligus melalui mulutnya. Berusaha menenangkan pikirannya.


Deg.


Deg.


Deg.


"Apa ini!" Tiba-tiba Hayabusa merasakan rasa sakit yang teramat di kepalanya. Dan kini mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


Rasanya seperti otot-otot yang ada di dalam tubuhnya terputus, rasanya teramat nyeri.


Ding!


[Peringatan: Muncul efek samping akibat pemakaian Exp boost potion yang berlebihan.]


Hayabusa terhenyak mendapati peringatan itu. "Sial! kenapa aku lupa dengan itu."


Deg.


"Huakh...." Hayabusa mengeluarkan seteguk darah dari dalam mulutnya. Dirinya tersungkur di atas tanah.


"S-sytem..." rintihnya.


...***...

__ADS_1


"Kenapa dia membiarkanku begitu saja. Apa dia sudah tidak perduli denganku."


Sepanjang perjalanan Hanabi selalu menggerutu tentang Hayabusa. "Apa jangan-jangan dia diserang monster?"


Terbesit pemikiran yang aneh-aneh di benak Hanabi. Tapi dengan segera Hanabi menggelengkan kepalanya untuk menepis pemikiran itu.


"Tidak, tidak, tidak. Dia itu kuat..." Hanabi menghentikan langkahnya. "Apa aku mengeceknya saja? tapi bukan berarti aku peduli dengannya. A-aku hanya ... ah, masa bodo lah."


Hanabi langsung berbalik kemudian segera melangkahkan kakinya menuju Hayabusa.


Mata Hanabi terbelalak setelah mendapati Hayabusa tersungkur lemas di atas tanah.


"H-hayabusa!" pekiknya. Hanabi langsung menghambur ke arah Hayabusa.


Terlihat urat-urat hitam mulai menginvasi tubuh Hayabusa.


"Hayabusa, apa yang terjadi denganmu!" Hanabi panik melihat kondisi Hayabusa sekarang.


"H-hanabi, apa itu kau?" desis Hayabusa pelan.


"Y-ya, ini aku. Jelaskan kenapa kau bisa seperti ini, dan apa yang harus aku lakukan."


Hayabusa terkekeh mendengarnya.


"Itu tidak lucu tau. Cepat beritahu aku kenapa kau bisa seperti ini!" ujar Hanabi.


"Ini kesalahanku," jawab Hayabusa.


"Wah-wah, drama apa ini." Tiba-tiba muncul seseorang dari balik pohon.


Orang itu memakai sebuah topeng, serta jubah hitam panjang sampai menyentuh mata kaki. Di tangan kanannya ia memegang sebuah tongkat dimana terdapat sebuah bola kristal berwarna hijau.


"Siapa aku? apa aku harus memberi tahumu?" jawab orang itu.


"Akhirnya kau muncul juga, pengkhianat!" kata Hayabusa seraya berusaha bangkit meskipun tertatih-tatih.


"Hayabusa, jangan terlalu memaksakan diri. Serahkan ini kepadaku," tutur Hanabi.


"Ahh~ apa kau sudah tau siapa aku?"


^^^Malam sebelumnya...^^^


"Tetua Myuji, apa ada perlu sesuatu?"


Kakek berjenggot putih itu terdiam, terus memperhatikan Hayabusa dengan seksama. "Kenapa kau masih menetap di klan ini?"


Hayabusa mengernyit. "Apa maksud anda?"


Tetua Myuji melambai-lambaikan tangannya. "Ah, lupakan. Apa kau sudah mendengar rumor tentang mu?"


Hayabusa menghela nafas singkat. "Yah, aku sudah mendengarnya. Katanya aku ini penghianat klan."


"Sebenarnya akulah yang menyebarkan rumor itu," Tetua Myuji memberi tahu.


Hayabusa terperangah tak percaya. "Kenapa anda melakukan itu?" Hayabusa bertanya setengah waspada.


"Sebenarnya tak banyak, aku hanya menginginkanmu segera meninggalkan klan ini," jawab tetua Myuji tanpa sedikit keraguan. "Kau dan yang lain, segeralah tinggalkan desa ini. Ini demi keselamatan kalian."

__ADS_1


"Apa anda terkena racun?" ujar Hayabusa seraya tersenyum simpul.


Kakek tua itu terbelalak mendengarnya. "Ba-bagaimana kau bisa tahu?" Tetua Myuji bertanya seakan tak percaya.


"Apa anda sedang diancam?" Hayabusa kembali melontarkan pernyataan.


Membuat kakek tua itu tak bisa berkata-kata.


"Bagaimana kalau aku bilang aku punya penawar racun itu, tapi sebelum itu aku ingin menanyakan sesuatu." Hayabusa menatap kakek tua itu dengan intens.


Tetua Myuji menelan ludahnya dengan susah payah. "Apa yang ingin kau tanyakan?" Tetua Myuji bertanya.


Hayabusa tersenyum tipis. "Apakah benar sebelum pembantaian, klan kita sedang mengadakan sebuah perayaan?"


Kakek tua itu kembali terperangah mendengarnya. "Ba-bagaimana kau bisa tau?"


Hayabusa mengangkat bahunya. "Itu hanya dugaanku saja, tapi tak kusangka aku benar." Hayabusa lalu berjalan menuju lemari kecil yang terletak di samping ranjangnya, lalu mengambil sesuatu dari dalamnya.


Lalu berbalik kembali kehadapan kakek tua itu.


"Makanlah ini, maka racunmu akan hilang," Hayabusa menyodorkan pil kecil berwarna coklat emas.


Kakek tua itu dengan segera menerimanya tanpa adanya rasa curiga sedikitpun. Kakek tua itu menatap Hayabusa dengan pandangan menyelidik. "Tapi bagaimana kau bisa tau?"


"Emm, sebenarnya aku merasa ada sedikit kejanggalan. Aku merasa ada yang sedikit aneh, bagaimana bisa klan kita yang beranggotakan ninja-ninja yang hebat bisa terbantai hanya oleh satu orang.


Aku berpikir pasti ada sesuatu yang menyebabkan melemahnya klan kita, karena aku tau orang yang membantai klan kita tidaklah terlalu kuat mungkin bisa dikatakan sepadan dengan ayah.


Aku berpikir klan kita diracuni atau semacamnya sebelum diserang dan ternyata dugaanku benar. Sebelum diserang klan kita mengadakan perayaan dengan kata lain para anggota klan pasti akan mengadakan acara makan-makan.


Dan itu merujuk dengan apa yang mereka makan sebelumnya."


"Benar, kau benar. Tapi bagaimana bisa kau berpikir sampai sejauh itu." Tetua Myuji bertanya.


"Bagaimana, ya aku menjelaskannya. Mungkin bisa dikatakan beberapa hari yang lalu aku juga di racuni, tapi untungnya aku punya seseorang mungkin tidak dapat dikatakan orang, namun pada intinya ada sesuatu yang selalu mendampingi ku dan selalu memberi tahu segala sesuatu yang sedang terjadi kepadaku.


Beberapa hari yang lalu aku dihidangkan makanan berupa bubur, dan didalamnya terdapat sebuah racun yang tidak mematikan, tapi mengikis tubuh kita secara perlahan.


Racun itu sangat sulit terdeteksi karena tidak memiliki bau, ataupun rasa, yang pastinya si pembuat racun sangatlah ahli. Dan aku mencurigai seseorang, yang katanya dia bekerja sebagai koki di klan. Namun setelah aku telusuri-"


"Kau benar," Tetua Myuji mencekat. "Orang itulah yang juga mengancam ku dengan racunnya itu. Orang itu menginginkan pusaka klan kita Scarlet phantom."


"Ternyata memang dia orangnya..."


.


.


.


"Hajime."


Orang bertopeng itu tertawa terbahak-bahak mendengar ungkapan Hayabusa. "Kenapa kau baru menyadari itu," tandasnya.


"Perlu bukti-bukti untuk menguak semua itu. Dan ternyata memang benar kaulah orangnya, dan kau jugalah orang yang meletakkan surat di kamar ayahku yang sebenarnya itu ditujukan kepada ku." Nafas Hayabusa mulai terengah-engah akibat efek samping dari penggunaan potion secara berlebihan.


"Hahaha, terus memangnya kenapa. Kau sudah teracuni, dan tak lama lagi kau juga akan mati, dan sebentar lagi tujuanku akan tercapai."

__ADS_1


Hayabusa tersenyum simpul. "Benarkah?"


__ADS_2