
Di malam yang gelap nan dingin ini, terdengar beberapa kali suara tebasan dan jeritan para demon dari dalam kerajaan elf, yang sekarang sudah dikuasai boleh Abyss. Terlihat sekelompok manusia yang tengah berlarian di sepanjang lorong. Dan mereka bertiga adalah: Alucard,Miya, dan Hanabi. Mereka bertiga menyusup kedalam istana dengan tujuan; membangunkan Raja elf terdahulu, tetapi tujuan mereka sekarang adalah; mencari Hayabusa untuk mengambil kunci utama untuk membangunkan Raja elf yang tertidur.
Namun di pertengahan perjalanan, mereka di hadang oleh sesosok Demon yang memiliki rupa identik dengan manusia, hanya saja di atas kepalanya terdapat tanduk kambing. Demon itu sedang bersender di dinding sambil bersiul-siul. Mereka bertiga kaget, pasalnya Demon itulah yang mengajak Hayabusa bergabung kedalam Abyss tempo hari yang lalu.
"Sedang apa kalian berkeliaran di markas Abyss?!" seru Dyrroth.
Miya yang mendengarnya meluap emosi."Ini bukanlah Markas Abyss, ini adalah istana milik kerajaan Elf!" dengan suara lantang.
"Elf? maksudmu ras lemah itu" berusaha memprovokasi. Dan benar saja, kalimat itu sukses menyulut amarah Miya. "Apa kau bilang!"
"Apa harus ku perjelas lagi L-E-M-A-H!"
Seketika emosi Miya memuncak. Miya langsung menarik busurnya, dan menghunuskan anak panahnya kearah Dyrroth. Akan tetapi Dyrroth dengan mudah menangkapnya hanya dengan tangan kosong.
"Apa kubilang kau itu L-E-M-A-H!," dengan penekanan di kalimat terakhir. "Sekarang giliran ku." Dyrroth mengangkat kedua tanganya lalu menepuknya dengan keras.
Prokk! prok! prok!
Sepersekian detik kemudian, muncul pasukan Iblis dari kedua belakang mereka bertiga, dan jumlahnya pun sangat banyak.
"Sial, kita terkepung," ujar Alucard.
Dengan arogan Dyrroth berkata. "Apa kalian sangat bodoh, masuk kedalam kandang serigala." Akan tetapi Dyrroth tidak mendapatkan respon yang diinginkan seperti; ketakutan atau keputusasaan. Justru mereka bertiga tetap tenang. Akhirnya Miya angkat bicara.
"Apa kau pikir kami kesini tanpa sebuah rencana, jika kau berpikir seperti kau salah besar! kita sudah merencanakan semuanya dengan matang," ujar Miya. "Waldherz, datanglah." sambungnya.
Seketika tanah bergetar dengan hebat, tembok-tembok disekitar mulai retak. Kemudian muncul akar-akar menjalar dari dalam tanah, dan menyerang pasukan iblis yang ada dibelakang ketiga manusia itu. Tak butuh waktu lama, muncul sesosok monster dari dalam tanah. Monster itu mempunyai perawakan yang sangat besar, tubuhnya terbuat dari kayu, dan di kedua tangan dan kakinya terdapat semacam formasi sihir.
Ilustrasi Waldherz.
Setelah muncul dari dalam tanah, Waldherz langsung mengamuk dan langsung menyerang pasukan iblis itu.
Bruk! bruk! bruk!
__ADS_1
"Waldherz benci iblis," ujar Monster itu.
"Waldherz, bisakah kau menangani pasukan iblis yang disana, biar kita bertiga yang akan mengalahkan iblis itu." ujar Miya yang lalu menunjuk ke arah Dyrroth. Waldherz pun langsung menerjang ke arah musuh tanpa rasa takut sedikitpun.
"Aku balikkan kata-kata mu, sekarang kaulah yang masuk kedalam kandang serigala," seru Miya.
"Hahahaha, kalian memang menarik," mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat. "Baiklah, aku akan menemani kalian bermain."
"Sesuai dengan rencana, serang dia."
"Baik!" jawab serentak Hanabi dan Alucard.
°°°
Disebuah ruangan dimana terdapat banyak sekali senjata seperti; pedang, tombak, perisai, dan masih banyak lagi. Terlihat 2 sosok individu yang saling beradu tatapan. Mungkin jika tatapan dapat menghasilkan kerusakan, kemungkinan besar ruangan ini akan hancur lebur. Kedua individu itu memiliki perbedaan yang cukup besar, yang satu manusia sedangkan yang satunya lagi Raja iblis.
"Kau pikir ruangan ini tempat dia berada, Haha kau sangat naif."
"Aku memang sudah menduga ada keanehan dengan ruangan ini, aku sengaja kesini hanya untuk memancing mu keluar. Aku sudah tau dimana Moon Goddess Gavana berada."
"Hahaha, kau memang menarik, tetapi itu percuma, aku takkan membiarkanmu kabur, aku akan mengubur mu disini hidup-hidup," dengan senyuman penuh kemenangan.
"Apa maksudmu, ah, jangan-jangan, kau." dengan seorang Thamuz menyerang Hayabusa.
"[Exchange.]" seketika Hayabusa langsung berpindah tempat dengan bayangan hitam yang sudah dia taruh di sebuah tempat. Karena tau serangannya gagal, Thamuz menjadi sangat marah.
"Sialan kau manusia!" berteriak dengan sangat keras.
°°
Haya sekarang berada di ruangan Singgasana, sangat sunyi dan sepi. ia menuju kemari karena ia selalu merasakan pancaran kekuatan yang sangat kuat di ruangan ini. Dan juga pancaran kekuatan itu seperti selalu memanggilnya. Lalu Hayabusa mengeluarkan sebuah kristal dari sakunya, kristal itu bersinar lebih terang dari pada biasanya, dan itu menambah keyakinan Hayabusa bahwa Moon Goddess Gavana berada disini.
Haya berjalan menuju singgasana karena kristal itu seperti merespon sesuatu. Setibanya di tempat, kristal semakin bersinar dengan terang.
"Aneh, kristal ini bersinar terang tetapi aku tidak menemukan apa-apa." Tetapi tiba-tiba Hayabusa mendengar sesuatu. "Tunggu-tunggu, apa itu tadi?!"
__ADS_1
Hayabusa berdiam sejenak untuk mendengarkan suara itu lebih seksama karena memang pendengarannya cukup tajam.Hayabusa mendengar suara seperti; hembusan angin, kicauan burung, dan suara air mengalir.
"Ini asalnya dari bawah, aku sangat yakin." Hayabusa menempelkan telinganya ke lantai untuk memastikan apakah pernyataan tadi benar. Setelah menempelkan telinganya kelantai, suara yang ia dengar semakin jelas.
"Sudah kuduga, pasti ada ruangan bawah tanah, tapi bagaimana caraku ke sana. Aku yakin Thamuz sudah tau ruangan itu mengingat dia selalu duduk di singgasana."
"Singgasana... jangan-jangan."
Hayabusa mencoba duduk di singgasana untuk menemukan petunjuk. Setelah cukup lama ia duduk, akan tetapi tidak terjadi sesuatu. Hayabusa pun menjadi kesal, karena dia tahu Thamuz sedang menuju kesini sedangkan dirinya hanya melakukan hal yang sia-sia.
Hayabusa langsung beranjak dari kursi singgasana lalu menendangnya dengan keras untuk melampiaskan emosinya.
Kriett!
Tiba-tiba kursi singgasananya sedikit bergeser setelah di tendang dengan keras.
"Kursinya bergeser?" Hayabusa pun mencoba mendorong singgasana itu, dan benar saja itu berhasil tergeser. Akhirnya setelah berhasil tergeser, Hayabusa melihat sebuah tangga yang menurun ke bawah. Tanpa pikir panjang Hayabusa langsung menuruni tangga tersebut. Tak butuh waktu lama Hayabusa sudah sampai di dasar tangga. Matanya melebar karena melihat hutan yang sangat indah, dan yang paling utama ia melihat sebuah rumah pohon yang dilindungi oleh sebuah barier.
"System, apa kau tau barier apa itu?"
ding...
[Itu adalah 'Aegis' barier yang sangat kuat dan sangat sulit untuk ditembus.]
"Seberapa kuat?"
[Barier itu dapat menahan nuklir.]
"Glek..
Hayabusa menelan ludah.
"Nuklir, bukankah itu sangat kuat. Lalu bagaimana caraku agar dapat memasuki barier ini."
__ADS_1
[Anda tinggal menempelkan kristal itu ke barier]
Sesuai apa yang system katakan, Hayabusa menempelkan kristal hijau itu ke barier, dan benar saja, barier itupun memudar secara perlahan.