
Land of Dawn sebuah benua yang misterius di selubungi oleh hal-hal mistis. Berbagai ras hidup di dalam benua itu dalam keadaan kedamaian maupun peperangan.
Berbicara mengenai perang ada sesosok mahluk yang berasal dari ras demon memiliki ambisi yang sangat gila yaitu menguasai benua Land of Dawn benua yang dipenuhi sejuta cerita. Beberapa wilayah telah dikuasi oleh sesosok demon itu dan tentu saja dengan cara yang tidak lembut, yaitu: Peperangan.
Ia bersama rekan-rekan demon yang lain berkerjasama dengan tujuan yang sama dan bagi 'mereka' peperangan adalah sebuah permainan, permainan dimana yang kuatlah yang bertahan. Bahkan seluruh benua tau betapa ngerinya 'mereka', dan hal pertama yang terbesit di kepala penduduk Land of Dawn tentang kengerian adalah 'Thamuz', sesosok iblis yang menciptakan peperangan tiada akhir, sesosok iblis bengis nan kejam, dan ialah sesosok mahluk yang memiliki ambisi gila itu.
Apapun akan Thamuz lakukan untuk menguasai benua Land of Dawn. Secara perlahan ia menginvasi suatu wilayah ke wilayah yang lainnya. 'Kehancuran' itulah yang akan di terima oleh wilayah yang akan di targetkannya.
Namun belakangan ini Thamuz gagal dalam menginvasi wilayah hanya karena seekor kutu. Kegagalan, tentu saja Thamuz tidak menerima hal itu. Dengan emosi yang membeludak ia kembali mengumpulkan para demon dan kembali bergerak tapi kali ini ia benar-benar telah menyiapkan segalanya supaya tidak terjadi lagi yang namanya kegagalan, karena bagi Thamuz kegagalan adalah hal yang tabu.
Dan wilayah selanjutnya yang akan ia datangi adalah Moniyan Empire.
Moniyan Empire adalah sebuah kerajaan yang terletak di tengah-tengah benua Land of Dawn. Kerajaan ini menjadi pusat segalanya, banyak para pedagang yang berasal dari segala penjuru datang ke wilayah itu. Berbagai ras hidup di sana. Kerajaan disana sangatlah sejahtera berlandaskan politik yang kuat serta masyarakatnya yang taat kepada peraturan.
Seluruh masyarakat menganggap bahwasanya kerajaan Moniyan Empire adalah kerajaan kedamaian bagi seluruh ras. Namun, di balik itu kerajaan itu menyimpan hal yang suram dan hanya sedikit orang yang tau. Perdagangan manusia, perbudakan, pembantaian, eksperimen manusia, dan banyak hal lagi terjadi secara diam-diam di kerajaan itu. Dan jika ditelusuri lebih dalam akan membuat siapa saja meludah karena saking parahnya.
Diibaratkan seperti buah apel segar yang terkesan manis dan enak dimakan namun tak di sangka di dalamnya terdapat belatung-belatung yang bergeliat.
Dan lagi ada kehancuran yang sedang mendekat. Lalu apakah kerajaan Moniyan Empire dapat mengantisipasinya.
Di dalam sebuah hutan Moniyan Empire yang terletak jauh dari pusat kota. Berdiri sebuah tenda yang besar nan kokoh di sebuah pekarangan yang luas dekat dengan sungai yang mengalir dengan lembut.
Dipinggiran sungai terdapat seorang laki-laki berambut perak dengan rupa yang rupawan tengah duduk dengan dua kaki terlipat. Kedua kelopak matanya terpejam dengan lekat mendalami gemercik sungai.
Di depan laki-laki tersebut tertancap sebuah pedang bergerigi berwarna ungu yang memancarkan aura yang lembut.
Laki-laki itu membuka matanya setelah sekian lama duduk di depan pedang tersebut tanpa adanya pencerahan.
"Mengapa susah sekali untuk menaklukkan pedang ini," ujar laki-laki itu. "Bahkan Tetua Myuji saja tidak tahu, yang dia mengerti jikalau pedang ini harta pusaka milik leluhur."
Laki-laki itu berdiri lalu melayangkan pandangan ke sekitar. Memperhatikan dengan seksama lantunan angin disertai gemercik air.
"Sudah dua tahun aku hidup di benua ini, tak kusangka sudah selama itu."
"Dan juga aku sudah banyak berubah, bahkan penampilanku juga berubah. Semenjak aku meminum pil untuk menghilangkan efek samping pemakaian Exp boost potion rambutku berubah menjadi perak."
Ilustrasi tampilan Hayabusa.
__ADS_1
Hayabusa menghela nafas panjang lalu menatap kearah pedang yang tertancap di depannya.
"Kurasa lain kali saja aku mempelajari Scarlett phantom. System, masukan pedang itu kedalam Backpack."
Ding.
[Permintaan diterima.]
Tiba-tiba pedang yang tertancap itu berubah menjadi serpihan cahaya biru yang lalu memudar hilang.
Hayabusa mendongak keatas menatap matahari tengah tampil dengan maksimal. Ia mensejajarkan telapak tangan kanannya di atas kedua alis matanya mencegah sinar matahari menusuk kedalam mata.
"Ini sudah siang," ungkap Hayabusa lalu menoleh kearah tenda yang berdiri kokoh di belakangnya. "Dan mereka belum bangun?"
Hayabusa berjalan kearah tenda itu lalu masuk kedalam. Setelah di dalam. Diamatinya tiga wanita yang masih terlelap tidur dengan tanpa busana yang tak lain adalah ,Hanabi, Miya, dan Kagura.
Sebenarnya Hayabusa ingin pergi ke Moniyan Empire sendirian untuk menyelesaikan misinya. Namun ketiga wanita itu bersikeras untuk ikut meskipun Hayabusa sudah menyuruh untuk tetap tinggal di Cadia riverland.
Hayabusa mengulum senyuman menatap ketiga wanita itu. "Bukan hanya kemampuan yang berkembang, hubungan kami juga sudah berkembang. System, tampilkan [Shop]"
Ding.
Muncul layar biru transparan di depan wajah Hayabusa. Jemarinya menggulir layar itu kebawah lalu berhenti begitu melihat [Energy potion].
Ding.
[Berhasil membeli Energy potion poin akan dikurangi sebanyak 100.]
Lalu muncul serpihan cahaya berwarna biru yang mulai merajut di udara yang kemudian menciptakan sebuah kendi kecil berwarna cokelat kehitaman.
Hayabusa menggapai kendi itu dengan tangan kanannya lalu mengarahkan pandang ketiga wanita yang tengah terbaring.
Lalu tersenyum menyeringai. "Saatnya melanjutkan yang semalam," gumam Hayabusa.
Begitulah yang dilakukan oleh Hayabusa siang hari di tengah hutan belantara. Bercinta habis-habisan dengan tiga kekasihnya sampai sore hari sebelum melanjutkan perjalanan yang amat panjang.
...--------------------------------------------------...
AUTHOR STORY
Di dalam kamar author tengah duduk di kursi kayu di temani meja belajar. Tangan kanannya sibuk mencoret di kertas putih dibuku novel. Pandangannya sangat lekat, tak pernah pudar dari kertas itu.
__ADS_1
Sampai kemudian sinar matahari menerobos masuk lewat jendela. Saat itu pula Author berhenti dari kesibukannya.
Author menggaruk-garuk kepalanya begitu frustasi.
"Gue butuh ide cerita ,arkhh."
Cita-cita Author adalah jadi penulis novel.
"Wahai ide cerita muncullah di dalam kepalaku." Author berpose layaknya seperti seorang Buddha.
Lalu tiba-tiba muncul dua mahluk kecil di atas masing-masing pundak Author. Salah satu bersayap yang satunya lagi bertanduk.
"Udahlah ga usah repot-repot, mending rebahan," kata mahluk bertanduk.
"Jangan dengerin dia, semangat aja kita pasti bisa," komentar mahluk bersayap.
"Apa sih sok asik," respon mahluk bertanduk, "Udahlah, lagian ga ada yang bakal baca novel lu, mending rebahan mueheheh."
"Jangan dengerin mahluk sesat itu," respon mahluk bersayap. "Semangat, pasti suatu saat novel kamu akan banyak pembaca ,kok."
"Mending rebahan."
"Semangat, aku yakin kamu pasti bisa. Jangan menyerah."
"Rebahan."
"Semangat!"
"Rebahan!"
Akhirnya kedua mahluk kecil itu ribut membuat sang Author tambah setres.
Tiba-tiba muncul aura yang menyilaukan dari samping Author. Author pun menolehkan kepalanya, ternyata yang mengeluarkan aura itu adalah 'Kasur'.
"Nggak, nggak! gue mau jadi penulis. Ga akan tergoda ama yang begituan."
Tiba-tiba ada yang membisik di telinga Author. Udah, tidur aja. Aku yakin kamu pasti capek, aku ada disini siap menemani kamu.
Author menggelengkan kepalanya. "Nggak, gue ga bakal tergoda."
Lalu mengepalkan tangannya erat-erat. "Gue yakin gue pasti bisa. Yosh, untuk hari ini segini dulu novelnya bakal gue lanjut besok."
__ADS_1
Pada akhirnya Author tergoda dengan rayuan Kasur.
Kejadian itu terus berulang setiap hari menyebabkan sang Author tidak bisa update novel.