Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Chapter 7: Revenge, part 8


__ADS_3

Hayabusa membuka kedua matanya lalu kemudian terbelalak lebar, karena mendapati dirinya sedang berdiri di ruangan yang hanya di dominasi warna putih. Dimana aku? Pertanyaan yang otomatis tersemat di benak Hayabusa setelah mendapati dirinya di ruangan yang terbilang aneh.


Hayabusa mengedarkan pandangannya menatap sekeliling ruangan putih yang tak berujung tanpa ada apapun di sekitar. "Dimana aku?" Hayabusa bertanya kembali, penasaran dimana ia sekarang. Hayabusa mulai melangkahkan kakinya menyusuri ruangan berharap mendapatkan suatu jawaban.


Tapi tiba-tiba di pertengahan Hayabusa berhenti. "Apa aku sudah mati? Apa tempat ini alam dunia lain?" Hayabusa kembali bertanya setelah tadi mendapat secercah ingatan tentang dirinya yang tertusuk duri akibat dari serangan Hanzo.


Hayabusa menghela nafas panjang. Jika benar dirinya sudah mati, apa boleh buat.


"Kau belum mati." Suara yang tiba-tiba muncul dari belakang Hayabusa. Sontak Hayabusa langsung memutar badannya untuk melihat siapa itu.


Mata Hayabusa kembali terbelalak, karena mendapati seorang yang sangat mirip dengannya, bisa di katakan seperti kloningannya sendiri, hanya saja mata orang itu berwarna merah berbeda dengan dirinya yang berwarna coklat.


Bibir Hayabusa bergetar karena saking tak percayanya dengan pemandangan yang dilihatnya. "Kau ... siapa?" tanya Hayabusa penasaran sekaligus sedikit merinding.


Orang itu tersenyum tipis. "Aku adalah kau." Jawabnya dengan suara lembut, yang semakin menumbuhkan rasa penasaran Hayabusa.


"Apa maksudmu Kau adalah aku?!" Hayabusa kembali bertanya karena tak paham.


Orang itu menekuk wajahnya, memasang ekspresi kecewa karena pertanyaan yang diajukan Hayabusa. Orang itu menghela nafas panjang, lalu berkata. "Apa kau masih tak paham? Aku adalah kau, kau adalah aku. Dengan kata lain kita ini orang yang sama."


Hayabusa mengerutkan keningnya, masih tak paham dengan jawaban orang itu, orang yang sangat mirip dengannya. Orang itu mengibas-ibaskan tangannya mendapati ekspresi yang di keluarkan Hayabusa. "Sudahlah, lupakan," ungkapnya. "kita tidak punya waktu lagi." Ekspresinya berubah menjadi serius.

__ADS_1


"Tidak punya waktu lagi? apa maksudnya. Aku bahkan tak paham dimana aku sekarang, dan kenapa bisa ada di sini?"


"Kau sekarang berada di alam kesadaran mu," ujar orang itu seolah paham apa isi pikiran Hayabusa.


Hayabusa memasang ekspresi kaget setelah apa yang di ungkapkan orang itu. Bagaimana bisa dia tau isi pikiran ku? ... apa dia bisa membaca isi pikiran? batin Hayabusa bertanya-tanya.


Orang itu kembali menghela nafas. "Kan sudah kubilang! Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Otomatis aku akan tau isi pikiran mu. Dan di tempat ini, kau tidak bisa berbohong ...." Orang itu sengaja menghentikan kalimatnya sesaat untuk melihat ekspresi yang dikeluarkan Hayabusa. "Dan ... apa kau ingin menjadi kuat?"


Seketika Hayabusa tersentak mendengar itu. Bagaimana bisa dia tau? tentu saja itu mudah, Karena orang itu adalah Hayabusa.


Hayabusa membuka mulutnya. Namun kembali menutup, tak jadi ingin mengucapkan sesuatu. kuat? Tentu saja aku ingin itu. Dengan menjadi kuat aku bisa melindungi orang yang ku sayang, apapun caranya aku ingin menjadi kuat, kata Hayabusa dalam hati.



Setelah terbentuk sempurna, orang itu langsung melemparkannya ke Hayabusa, dan spontan Hayabusa langsung menangkapnya. "Ring perish, cincin itu dapat menambah kekuatanmu." Menjelaskan. "cincin itu juga dapat menyerap energi monster dan akan menambah kuat efeknya." Tersenyum lebar. "Bagaimana? cara yang efektif bukan."


Hayabusa menatap cincin yang ada di genggamannya dengan intens, lalu kembali menatap orang yang berdiri di depannya. "Apa yang membuat mu berpikir aku akan mengenakan cincin ini?" tanya Hayabusa di penuhi rasa curiga.


Orang itu pun menghela nafas, lalu kemudian menatap Hayabusa dari bawah ke atas, lalu kembali lagi ke bawah. "Ayolah, aku hanya ingin membantumu menjadi kuat!"


"Kenapa kau ingin membantu ku?"

__ADS_1


Orang itu langsung mengacak-acak rambutnya, frustasi. "Apa kau ini bodoh!. Sudah kubilang aku adalah kau, dan kau adalah aku. Jika kau bertanya kenapa alasannya? itu simpel. Aku tidak ingin mati, karena kalau kau mati aku juga akan ikut ... apa itu sudah jela-"


"Bohong!" Hayabusa mencekat kalimatnya, tersenyum menyeringai. "Jika itu orang lain, maka caramu akan berhasil. Tidak usah pura-pura."


Seketika orang itu langsung terdiam. Tak lama kemudian ia langsung tersenyum lebar penuh makna. "Apa maksudmu?!"


"Apa kau tau Psikologis? Aku dulu pernah mempelajarinya. Psikologis, ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia aku sangat suka itu, apa kau pernah mempelajari itu?"


.


.


.


"Tenanglah, aku yakin dia baik-baik saja," ucap seorang wanita yang memiliki telinga runcing, berusaha menenangkan wanita di samping kirinya.


"Iya itu benar, tak usah khawatir. Aku yakin dia akan baik-baik saja." Timpal wanita di samping kanannya.


"Aku hanya takut kalau akan terjadi sesuatu, apa kalian yakin?" menatap kedua wanita di sampingnya, "dia akan baik-baik saja, Hanabi, Miya?"


"Aku yakin," jawab Hanabi di dukung anggukan oleh Miya. "Dulu dia juga pernah mengalami hal yang serupa dan dinyatakan takkan bertahan lama. Namun nyatanya dia masih hidup sampai sekarang, kau tidak usah terlalu khawatir, Kagura."

__ADS_1


__ADS_2