
Hayabusa dan yang lainnya masuk kedalam rumah Kagura dan duduk di ruang tamu, dengan sedikit hidangan makanan di atas meja-buatan ibu Kagura. Hayabusa duduk di hadapan Kagura, sedangkan Hanabi dan Miya duduk di samping kanan dan kiri Hayabusa.Ibu Kagura pergi keluar, katanya dia memiliki sesuatu yang harus di urus.
Sampai saat ini belum ada seorang yang angkat bicara, suasana masih hening dan hanya terdengar beberapa kali kicauan burung dari luar rumah.
"Miya, kau bisa lepaskan jubahmu," ujar Hayabusa.
Sebelum datang ke Cadia Riverland, Miya sempat mengenakan jubah untuk menyembunyikan identitasnya.
Miya kemudian melepaskan jubah sesuai apa yang Hayabusa katakan. Tampak wajahnya yang cantik jelita, dipadu dengan rambut pirangnya, dengan kedua telinganya yang agak runcing dan kedua iris matanya yang berwarna biru langit.
Meski bukan pertama kalinya, Kagura masih kaget melihat sesosok Elf yang berada tepat dihadapannya. Kagura menyipitkan matanya menatap intens wajah Miya. "Jadi itu kau, Elf yang pada saat itu?!"
Miya sedikit melengkung bibirnya, lalu berkata. "Aku terkesan kau masih mengingat ku."
"Tentu saja aku ingat,tapi kenapa kau kesini lagi?"
"Pertanyaan yang bagus. Aku kesini ingin hidup bersama, Hayabusa," merangkul lengan Hayabusa lalu menatapnya "Benar begitu,kan, sayang~"
__ADS_1
Kagura langsung terkejut mendengar Miya yang memanggil Hayabusa dengan sebutan "Sayang"
"Ehhh, sayang??"
Miya hanya tersenyum, menanggapi reaksi bingung Kagura.
"Langsung ke intinya saja, apa yang ingin kau tunjukkan kepadaku," ujar Hayabusa berusaha mengalihkan topik.
"Ehh itu, aku, baik tunggu sebentar aku akan mengambilnya." Kagura langsung beranjak pergi menuju kamarnya. Ahh, kenapa aku sangat gugup. Aku masih merasa sedikit bersalah kepada Hayabusa, batin Kagura
Tak berselang lama, Miya kembali membawakan sesuatu yang dibungkus kain, dan itu terlihat seperti sebuah pedang. Kagura langsung duduk di kursi lalu meletakkan pedang yang diselimuti kain di atas meja. Kagura mengarahkan pandangannya ke arah Hayabusa. "Ayahmu menitipkan ini kepada ku sebelum beliau meninggal, beliau ingin aku memberikan pedang ini kepada mu."
"Scarlett Phantom," gumamnya.
Hanabi langsung tersentak saat setelah mendengar kalimat yang Hayabusa ucapkan tadi. "Scarlet Phantom! bukankah itu..."
"Ya, ini adalah pusaka milik klan kita, Scarlet Shadow," ucap Hayabusa. Pedang ini seharusnya di simpan di ruangan rahasia, tapi kenapa ini bisa ada ditangan ayah? apa itu karena insiden yang baru terjadi. Tapi itu tetap saja, ini harus tetap diletakkan di ruangan rahasia, kenapa ayah menyerahkan pedang ini kepada ku?!
__ADS_1
Mata Hayabusa tetap setia menatap pedang yang ada di genggamannya, berbagai pertanyaan terlintas di benaknya, ia berasumsi itu berkaitan dengan hal yang terjadi baru-baru ini-mengenai pembantaian klan Scarlet Shadow.
"Apa itu saja?" ucap Hayabusa.
"Em..oh ya aku ingat. Sebelum ayahmu meninggal, beliau juga sempat mengatakan, 'jangan percaya kepada siapapun, musuh kita bukan hanya dari luar' tapi aku tak paham apa maksudnya."
Hayabusa langsung berfikir keras, berusaha mengolah apa yang tadi Kagura katakan. "Musuh kita bukan hanya dari luar" dengan kata lain ada seorang penghianat, batin Hayabusa.
"Hayabusa, apa terjadi sesuatu?, kau kelihatan begitu gelisah," ucap Kagura Khawatir. Hayabusa menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada."
Selalu saja seperti itu, apa sebegitu tak pentingnya aku bagimu, batin Kagura. Wajah Kagura mengerut, ia kemudian menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah kekecewaannya.
Hanabi sempat melihat perubahan ekspresi Kagura, ia kemudian menoleh menatap wajah Hayabusa. Ini sumber masalahnya, batin Hanabi. Hanabi kemudian mencubit lengan Hayabusa.
Sontak Hayabusa pun langsung menoleh. "Ada apa?"
Hanabi mendongakkan kepalanya, menunjuk-nunjuk ke arah Kagura. Hayabusa mengernyitkan keningnya, tak paham maksud dari Hanabi. Hayabusa kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Kagura karena Hanabi memberi arahan seperti itu.
Kagura tampak sedang sedih, tapi kenapa? apa maksud Hanabi tadi, aku harus menghiburnya?
__ADS_1