
Ding.
[Peringatan! Mengkonsumsi terlalu banyak Exp boost potion akan berdampak buruk bagi tubuh anda.]
Sudah seminggu semenjak Hayabusa pulih, dan kesehariannya sekarang hanyalah berburu monster di pedalaman Forest of death. Dan tadi, bukan pertama kalinya system memperingatkan Hayabusa untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi "Exp boost potion". Exp boost potion memang memiliki kegunaan yang bagus, yaitu menambah jumlah exp ketika membunuh monster, namun itu juga ada batasannya. Untuk setiap Exp boost potion hanya bisa memberikan efek selama satu jam. Dan ini sudah kesekian kalinya Hayabusa meminum potion tersebut.
Mungkin bisa dikatakan, dalam satu hari Hayabusa dapat menghabiskan sepuluh Exp boost potion, atau dalam artian satu hari Hayabusa berburu monster selama sepuluh jam.
Slass!
Ding.
[Berhasil membunuh Black Tiger +10 exp(+5).]
"Hah..hah ...." Nafas Hayabusa terengah-engah. "Kurasa cukup untuk hari ini," kata Hayabusa, lalu kemudian menyarungkan kembali pedangnya.
Terlihat puluhan mayat Balck tiger berserakan dimana-mana, dan semuanya itu Hayabusa yang membunuhnya sendiri.
Hayabusa berjalan ke arah pohon terdekat untuk bernaung dibawahnya, beristirahat. Hayabusa duduk di bawah pohon besar, menyenderkan punggungnya di batang pohon. Hayabusa memandangi puluhan mayat monster yang tadinya ia bunuh, dengan tanpa ekspresi, seakan belum puas.
Hayabusa menghela nafas berat, lalu kemudian menengadahkan kepalanya menatap hamparan langit biru yang begitu luas.
Meskipun pandangannya terpaku menatap langit, akan tetapi pikirannya melayang kedalam dunia kenangan. "Jadilah kuat." Itulah yang tertetap di hati Hayabusa. Hayabusa sangat terobsesi untuk menjadi kuat, alasan mengapa dirinya ingin menjadi kuat adalah ingin membalaskan dendam kedua orangtuanya.
Hayabusa memejamkan matanya, tak lama kemudian secercah memori saat kekalahannya melawan Hanzo terbesit di kepalanya. Hal itu membuatnya marah sangat marah, entah kenapa Hayabusa sangat benci kekalahannya pada saat itu.
Giginya mengatup dengan erat, jari-jemarinya meremas dengan kuat, urat hitam tampak samar muncul di dahinya. Emosinya tiba-tiba meluap.
Ding.
[Emosi host meningkat, disarankan untuk menenangkan diri.]
Hayabusa langsung menghela nafas panjang sedetik setelah kemunculan pemberitahuan tersebut. Hayabusa mulai mengatur nafasnya, berkali-kali ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya lewat mulut, emosinya kian mereda.
Hayabusa kembali membuka kedua matanya. Terlihat sudut bibirnya yang sedikit terangkat. "System, kau yang terbaik." Hayabusa memuji ...
Namun tak ada respon maupun jawaban.
Wajar saja, karena system hanyalah sebuah program yang dikhususkan untuk memandu dirinya, dengan kata lain system sama sekali tak mempunyai emosi.
Hayabusa bangkit, lalu berjalan ke tumpukan mayat monster yang tadinya ia bunuh.
Hayabusa mengerutkan keningnya. "Alangkah baiknya kalau aku menerima tawaran penipu itu," kata Hayabusa, sedikit ada rasa penyesalan. "Tapi aku juga tidak tau cincin itu berbahaya atau tidak, yah setidaknya untuk kali ini aku merasa beruntung." Hayabusa tersenyum tipis.
__ADS_1
Hayabusa kembali berjalan melewati tumpukan mayat monster.
.
.
.
Setibanya di bibir hutan, Hayabusa mendapati ketiga wanita cantik yang sedang menunggu dirinya. Berbagai ekspresi unik terukir di wajah mereka.
"Apa aku membuat kalian khawatir?" Hayabusa bertanya, sedikit meledek.
Sontak ketiga gadis itu naik pitam, menatap Hayabusa dengan tatapan tajam.
"Haha, aku hanya bercanda." Hayabusa menggaruk kepala bagian belakangnya, sedikit takut dengan ketiga wanita itu.
Hanabi menatap wajah Hayabusa sekilas, lalu kemudian menghela nafas. "Jangan terlalu memaksakan diri," pinta Hanabi.
Kagura dan Miya mengangguk setuju. "Itu benar," keduanya menimpali.
Hayabusa tersenyum terpaksa. "Yah, kurasa kalian ada benarnya." Asal kalian tau, aku juga melakukan ini demi kalian.
Semenjak peristiwa minggu yang lalu entah kenapa ketiga wanita itu sangat perhatian kepada Hayabusa, mungkin karena satu alasan. Cinta? mungkin.
Hayabusa mengedar pandang menatap ketiga wanita itu. "Bagaimana kalau kita pulang? aku sangat lelah hari ini," Hayabusa mengajak.
Ketiganya pun berjalan beriringan pulang kerumah.
.
.
.
Hari menjelang malam, matahari bergantian dengan bulan. Bintang-bintang bergelantungan, gemerlapnya menghiasi gelapnya hamparan langit. Udara dingin menyingsing, menggelitik kulit tangan, cahaya dari setiap rumah bersinar menyinari gelapnya malam.
Didalam kamarnya, Hayabusa duduk di dekat jendela yang dibiarkan terbuka supaya dapat menyaksikan indahnya bintang-bintang. Di dalam genggamannya terpaut sebuah buku yang terlihat kuno. Note universe, itulah buku yang sedang ada di genggaman Hayabusa.
Matanya dengan jeli membaca setiap suku kata yang ada di dalam buku itu, wajahnya begitu serius ketika membacanya.
"Buku ini seperti cerita dongeng, namun penyampaian ceritanya sedikit rumit," Hayabusa menyimpulkan. "Ini seperti alur mundur, dan yang menurutku menarik adalah bagian ini: Malaikat bukan berarti malaikat, iblis bukan berarti iblis. Terkadang kita sering tertipu. Baik bukan berarti baik, jahat belum tentu jahat. Lalu di sebelahnya ada gambar dua topeng yang berbeda, apa maksud dari semua ini? makin membingungkan saja ini buku."
Tok tok tok
__ADS_1
"Permisi.. bo-boleh saya masuk?" Suara dari sebrang pintu kamar Hayabusa.
Brak.
Hayabusa langsung menutup Note universe. "[Backpack.]" Seketika buku yang ada di genggamannya berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya yang akhirnya memudar.
"Silahkan masuk," Hayabusa mempersilahkan.
Lalu kemudian pintu terbuka, lalu nampaklah seorang pemuda gagah, Hajime. Di kedua tangannya ia sedang membawa sebuah nampan yang di atasnya ada semangkuk bubur.
"Maaf saya mengganggu, saya kemari hanya ingin mengantarkan makanan." Hajime berjalan ke arah meja kecil dekat ranjang Hayabusa, lalu kemudian meletakkan nampan berisikan bubur di atasnya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri terlebih dahulu." Hajime menunduk ke arah Hayabusa.
"Tunggu dulu." Hayabusa menghentikannya. "Hajime, aku punya satu pertanyaan untukmu."
"I-iya, tuan, apa itu?"
"Apa ... kau yang membuat bubur ini?" Hayabusa bertanya.
"I-iya, tuan itu saya. Apakah ada yang salah dengan buburnya?" Hajime kembali bertanya, panik.
Hayabusa tersenyum tipis. "Hahaha, tidak usah takut begitu. Aku hanya cuma ingin bilang kalau bubur buatanmu enak."
Hajime menghela nafas lega. "Sa-saya kira, tuan membenci makanan buatan saya."
"Hahaha, tidak mungkin. Itu saja yang ingin kutanyakan, kau bisa kembali."
"Ba-baik, tuan." Hajime menunduk lalu kemudian beranjak pergi dari kamar Hayabusa.
.
.
Tiga puluh menit berselang.
Tok tok tok.
"Boleh saya masuk?" Suara dari balik pintu kamar Hayabusa.
Hayabusa menghela nafas. Siapa lagi ini? mengganggu waktu istirahat ku saja. "Silahkan masuk." Hayabusa mempersilahkan.
Lalu masuklah orang tersebut kedalam kamar Hayabusa. Seorang kakek dengan jenggot putihnya yang sudah memanjang, tubuhnya yang sudah tidak lagi bugar, serta wajahnya yang sudah banyak kerutan.
__ADS_1
"Maaf malam-malam mengganggu waktu istirahatmu," kata kakek tersebut.
"Tetua Myuji? apa ada perlu sesuatu?" Hayabusa bertanya, penasaran.