Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Chapter 5: Fighting the Abyss, part 4


__ADS_3

"Siapa kau!" Alucard melemparkan pertanyaan ke sosok wanita yang telah melindungi Dyrroth dari serangannya tadi. Alih-alih mendapatkan jawaban, Alucard justru mendapat saran dari wanita itu.


"Sebaiknya kalian pergi ke aula singgasana sekarang," jawab wanita itu. Wanita itu kemudian berbalik menatap ke arah Dyrroth lalu berkata. "Tampaknya kau kalah."


"Ma-maafkan aku nona," jawab Dyrroth penuh ketakutan.


Karena Alucard tidak mendapatkan jawaban, akhirnya ia bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama. "Hei jawab aku! siapa kau?!" namun lagi-lagi wanita itu menjawab sama seperti sebelumnya. "Sebaiknya kalian bergegas pergi ke aula singgasana jika tidak ingin teman kalian kenapa-napa."


Wanita itu kemudian membentangkan kedua sayapnya. "[Blood gate]" Tiba-tiba muncul sebuah pusaran berwarna ungu kehitaman di sampingnya dengan besar menyesuaikan tubuhnya. Lalu kemudian ia mengarahkan telapak tangannya di depan wajah Dyrroth. "[Bloodsucker]" Seketika jeratan bunga yang mengekang Dyrroth terhisap secara perlahan. Tak butuh waktu lama, jeratan itu habis ia serap.


"Ayo pergi."


"Ba-baik nona," jawab Dyrroth, dan dengan segera dia memasuki portal itu.


Sebelum memasuki portal, wanita itu menyempatkan diri menatap Alucard."Namaku Alice, ingat itu," lalu kemudian beranjak memasuki portal.


Alucard hanya bisa menyaksikan dari kejauhan kepergian Dyrroth beserta wanita iblis itu yang memiliki nama Alice. Dirinya ingin sekali menghentikannya, tapi apalah daya, kekuatannya berbanding jauh, mengingat serangan tadi dihentikan dengan mudah.


"Alice, kan kuingat itu." Lalu Alucard mengarahkan pandangannya ke arah Miya yang tengah memegangi tubuh Hanabi. "Apa kau baik-baik saja?."


Miya menjawabnya dengan anggukan yang berarti baik-baik saja. "Seperti kata iblis tadi, sebaiknya kita bergegas menuju aula singgasana, dia bilang ada teman kita, kemungkinan itu Hayabusa."


Dengan ekspresi tak setuju, Alucard menjawab. "Jangan, takutnya itu jebakan yang sudah disiapkannya."


Miya menggeleng. "Tidak, aku merasakan kejujuran dari wajahnya tadi."


Alucard diam sejenak.


Menimang-nimang kembali apakah dirinya akan ikut.


"Aku tak memaksamu untuk ikut," ujar Miya.


Miya menatap dalam wajah Hanabi yang tengah pingsan, lalu kemudian mengarahkan pandangannya kearah Waldherz yang memang sedari tadi sudah membereskan para iblis. Tak semuanya Waldherz bunuh, hanya Demon saja yang ia bunuh, sedangkan untuk para elf yang sudah menjadi Darkelf, Waldherz hanya membuat mereka pingsan, karena sudah tertanam didalam otaknya untuk tidak membunuh elf.


"Waldherz, bisakah aku minta tolong kepadamu untuk menjaga kan Hanabi."


Waldherz mengangguk, ia kemudian membuatkan ranjang yang terbuat dari akarnya, untuk membaringkan tubuh Hanabi. Miya pun langsung membaringkan Hanabi di atas ranjang yang sudah Waldherz buat.


Miya kemudian berjalan mendekat kearah Alucard. "Apa kau sudah membuat keputusan?"


Alucard menghela nafas. "Ya, aku akan ikut, toh lagian aku juga berhutang budi kepada pria itu."


"Baguslah, Kalau begitu ayo kita bergegas."


°°°°

__ADS_1


"Kau ingin bermain sembunyi-sembunyian dariku, baik lah akan ku ladenin."


"A-aku harus mengulur waktu sebisa mungkin," gumam Hayabusa. "Ku-kumohon bertahanlah."


Hayabusa terkena luka yang cukup fatal pada bagian perutnya akibat dari serangan Thamuz. Berkali-kali Hayabusa telah menyerang Thamuz, namun itu tak berdampak sama sekali padanya, seolah semua serangnya hanya menggelitik saja. Hayabusa terus memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah. Hayabusa bersembunyi dari balik pohon yang ada ditempat ini, dirinya dapat bersembunyi dengan sempurna berkat skill Stealth, dimana skill itu dapat menghilangkan keberadaanya sementara.


"Ya,itu tidak masalah jika kau tak ingin keluar, aku hanya tinggal membunuh pria elf yang ada didalam rumah itu, berkat kau barier yang melindunginya menghilang, jadi bisa dengan mudah aku masuk,' ujar Thamuz.


'Sial!' batin Hayabusa.


"Perlu kau ketahui, akulah yang membuat pria elf itu terluka parah, itu setimpal dengan bekas luka yang dia tinggalkan di tubuh ku. Aku mendengar jika pria elf itu sedang memulihkan diri, dan ternyata dia berada di tempat ini, jadi tidak perlu lagi aku mencari-carinya."


Thamuz mulai berjalan mendekat ke arah rumah pohon itu.


"Berhenti!"


"Akhirnya kau keluar, sepertinya pancingan ku berhasil, lagian jika pria elf itu bangun dia juga tidak akan bisa mengalahkan ku. Sekarang mari kita selesaikan urusan kita," sambil tersenyum menyeringai.


Hayabusa berdiri di hadapan Thamuz dengan sedikit membungkuk, dan tangan kanannya terus memegangi perutnya.


'System, berapa lama lagi dia akan bangun.'


Ding!


[Kurang lebih 5 menit.]


'Cih, itu masih lama. Sedikit lagi, kumohon sedikit lagi bertahanlah.'


Bukk!


Thamuz memukul Hayabusa dengan sangat cepat, sehingga Hayabusa tidak sempat menghindar.


Hayabusa terpental jauh kebelakang dan menabrak pohon.


Brukk!


"Uhuk..


"Apa kau tau apa yang kulakukan kepada penghianat? aku akan menyiksanya sampai dia memohon ampun kepada ku, bukankah itu menyenangkan melihat wajah keputusan dari orang yang kau siksa."


Hayabusa berusaha untuk bangkit kembali, walaupun tubuhnya sudah menolak. "Uhuk...uhuk... sampai matipun aku tidak akan memohon ampun kepada mu."


"Hoo... itu sangat menarik, aku jadi sudah tidak sabar untuk menyiksamu."


Woss!

__ADS_1


Thamuz melesat dengan sangat cepat ke arah Hayabusa, dan setiba di hadapannya, Thamuz langsung mencekik leher Hayabusa.


"Arkh...


"Lebih keras... menjerit lah lebih keras, aku sangat ingin mendengarnya."


Kedua tangan Hayabusa terus memegangi cengkraman Thamuz, berharap agar bisa dilepaskan. Thamuz mengerutkan keningnya melihat Hayabusa yang yang sudah tak berdaya.


"Kenapa,kenapa kau tidak menjerit. Ini sungguh sangat membosankan."


Thamuz langsung melempar tubuh Hayabusa ke arah rumah pohon.


Woss.


Tubuh Hayabusa melesat dengan cepat.Dan akhirnya menabrak rumah pohon.


Brukk!


"Arkh...


Keluar seteguk darah dari mulut Hayabusa, dia menghantam rumah pohon dengan sangat keras.


"Kenapa kau bertindak layaknya pahlawan? apa menurut mu itu keren? sadarlah, tidak ada yang namanya tokoh utama di dunia ini."


Pandangan Hayabusa mulai memudar, panca inderanya mulai melemah,tapi dia masih sedikit mendengar ucapan Thamuz tadi.


'Kenapa? entahlah aku juga tidak tau, aku juga sebenarnya tidak ingin menjadi pahlawan,aku lelah.' batin Hayabusa.


"Aku turut kasian melihatmu seperti ini, sebagai tanda rasa empati ku kepadamu, aku akan mengantarmu ke akhirat."


'Huh...kurasa ini akhir bagiku.' Hayabusa mulai menutup kedua matanya, dirinya sudah pasrah.


Thamuz mulai mengangkat kedua sabitnya ke atas, magma mulai menyelimuti sabit itu secara perlahan. Hawa di sekitar mulai memanas.


"[Slaughterous scythes]" Thamuz melemparkan kedua sabitnya ke arah Hayabusa yang masih terbaring tak berdaya. Kedua sabit itu terus berputar-putar, magma di sekelilingnya pun semakin kuat. Sabit itu melesat dengan cepat kearah Hayabusa.


Bumm!


ledakan cukup besar terjadi, tanah disekitarnya bergetar dengan hebat. Alih-alih mengenai Hayabusa, sabit itu justru terhalang oleh barier yang tiba-tiba muncul.


Mata Thamuz melebar."Ho...jadi kau sudah bangun," ujar Thamuz yang melihat sesosok elf.


"Ya, kurasa aku tidur terlalu lama," jawab sosok elf itu.


--

__ADS_1


JIKA PUNYA MASUKAN


BISA TULIS DI KOLOM KOMENTAR.


__ADS_2