Best Seller Man

Best Seller Man
PROLOG


__ADS_3


...SEHARUSNYA TAKDIR MEREKA JANGAN BERTEMU!...


.......


.......


.......


Seorang laki-laki berjalan menuruni tangga dengan cepat sambil menggenggam kunci motor dengan gantungan snopy bermagnet.


"Heh Irawan mau kemana lagi?" Tanya Gempa, Laki-laki yang tengah menonton TV sambil bersantai di ruang keluarga.


"Mau jemput Malam, gua lupa udah gua jemput apa belum sih?" Tanya Topan bimbang, karena dirinya merasa belum menjemput Malam namun disisi lain sudah. Sedang Gempa hanya menggelengkan kepalanya. Bukan, itu bukan jawaban dari apa yang Topan tanyakan melainkan itu respon dari isyarat "sudah biasa".


"A irawan habis dari mana?" Pertanyaan ini keluar dari laki-laki SMA yang muncul dari arah dapur sambil menggenggam setoples kue kering. Badai.


"Kamar" Jawab Topan singkat.


"Pantesan, lu sadar ngga sih A. Lu turun tangga udah berapa kali?" Tanya Badai sambil mengambil duduk di samping Gempa.


"Ngga tau lupa gua kal" Jawab Topan.


"Coba hitung berapa kali A lu di tanya dengan pertanyaan yang sama dari bang Alkana" Tanya Badai, namun tangannya tak berhenti memasukkan kue kering kedalam mulutnya. Sedang Gempa dari tadi hanya diam menyimak, acara TV yang dia tonton menjadi tidak menarik lagi. Tangannya sudah siap akan mematikan TV namun dengan cepat Badai menarik remotnya.


"Lihat sinetron yang sedang bang Alkana tonton sudah selesai" Kata Badai dagunya terarah keacara TV yang sudah menayangkan acara yang berbeda. Sedang Topan dari tadi hanya mematung, bingung. Korelasenya apa dengan acara TV,pikirnya.


"A saran gua lain kali kalau habis menjemput Malam langsung pergi keluar atau kemana kek gitu jangan pergi ketempat yang sama lagi" Jelas Badai. Dari tadi memang badai memperhatikan Topan dan juga Gempa, namun karena sifat badai yang terkesan cuek badai memilih abai. Toh mereka sudah biasa seperti itu.


"Jadi?" Tanya Topan bingung.


"Bang lu udah jemput Malam coba liat di kamarnya dia lagi tidur" Kata Badai, sedang Gempa hanya menggeleng. Melihat kelakuan Topan yang selalu seperti itu. Mendengar apa yang dikatakan Badai Topan langsung berlari kearah kamar Malam dan bener saja anak kecil berusia satu tahun itu sudah tertidur dengan nyenyak di kamarnya.


"Syukurlah" Kata Topan sambil menutup dengan pelan pintu kamar Malam seakan takut membangunkan anak kecil itu.


"Selalu seperti itu" Kata Gempa, sambil beranjak dari duduknya. Namun jalannya kembali terhenti tatkala melihat Topan akan memasuki kamar lagi.


"A jangan masuk lagi" Ini teriakan dari Badai yang spontan membuat jalan Topan terhenti dengan tangan yang mengudara di kenop pintu.


"Iya wan, nanti lu balik lagi mau jemput Malam" Tambah Gempa sambil terkekeh.


"Iya, sini aja bang nonton spongebob" Kata Badai. Topan terdiam sesaat kemudian menuruni tangga berjalan kearah Badai yang sedang menonton TV dengan setoples kue kering di pangkuannya.


Beberapa jam lalu


Gempa tahu, hari ini jadwalnya Topan menjemput Malam makanya Gempa pulang lebih awal untuk memperhatikan Topan, dia bahkan mengabaikan jika hari ini ada jadwal dosen pembingbingnya ngajar. Padahal dia sudah menanti-nanti hari dimana dia bisa bertatap muka secara langsung dengan dosen pembingbingnya itu, tapi demi Topan Gempa memilih pulang. Selain itu pesan dari Guntur cukup teringiang di telinganya "jangan biarkan Topan sendirian". Agak mistis sih tapi memang iya. Topan kalau sendirian bisa kacau.


Tepat sekali ketika sampai di depan rumah, Gempa melihat motor ninja berwarna hijau tandanya Topan sudah pulang dari kampus dan bisa Gempa pastikan Topan kini sedang di kamarnya bersiap menjemput Malam dari rumah Guntur.


Sambil menunggu, Gempa duduk di kursi dapur sambil menikmati sereal yang sengaja dia beli ketika pulang dari kampus. Gempa melihat Topan yang keluar dari kamarnya sambil memainkan kunci snopy bermagnet.


"Bang Alkana tumben udah balik?" Tanya Topan sambil berjalan ke arah pintu.


"Iya, dosbing gua ngga ada" Jawab Gempa bohong.


“oh gua jemput Malam dulu ya bang” kata Topan berjalan kearah pintu sambil memainkan gantungan kunci miliknya. Gempa mengangguk walau mungkin Topan tak akan pernah melihatnya karena laki-laki itu kini sudah pergi.


Gempa sesekali melihat jam di pergelangan tangannya menunggu kedatangan Topan dari menjemput Malam, untuk melarang Topan agar tidak memasuki kamarnya lagi. Namun sayang kegiatan dari Badai yang terus saja menyimpan gelas di tempat yang sama berhasil mengalihkan atensinya dari memperhatikan Topan.


"Udah pulang lu kal?" Tanya Gempa.


"Iya bang udah" Jawab singkat Badai kemudian berlalu.


Tanpa gempa sadari Topan sudah memasuki rumah bersama Malam tepat ketika atensi Gempa teralihkan ulah badai.


Gempa bosan menunggu Topan, sesekali dia melihat pintu utama menunggu kedatangan topan menjemput Malam. Karena tak kunjung datang Gempa berniat menonton tv, tangannya sudah siap menekan tombol power namun pergerakannya terhenti karena kaget. Dia kecolongan ternyata Topan sudah ada di rumah dan kini keluar dari kamarnya, helaan nafas pun keluar dari mulut Gempa.


‘lagi’-batin Gempa


"Mau kemana lagi lu?" Tanya Gempa sambil menekan power kemudian menaruh remot di meja depannya.


"Jemput Malam" Jawab Topan sambil berjalan keluar, belum sempat Gempa mencegahnya -untuk jangan pergi- suara air galon dari arah dapur mengalihkan atensinya. Badai kembali minum dengan gelas barunya. Hingga suara gesekan gerbang menyadarkan Gempa, Topan sudah pergi berniat menjemput malam yang jelas kini tengah tertidur di kamarnya, karena faktanya Topan sudah menjemput Malam. Memilih mengabaikan Gempa kembali menonton acara TV nya.


"Bukannya A Irawan udah jemput malam ya bang?" Tanya Badai dari arah dapur. Ntah apa yang sedang di lakukan remaja laki-laki itu, Gempa memilih abai.


"Iya sudah" Jawab Gempa. Benar saja beberapa menit setelahnya Topan kembali memasuki rumah.


"Udah gua jemput ternyata bang" Katanya sambil berjalan lagi menaiki tangga. Belum sempat Gempa mencegahnya atensinya kembali teralihkan dengan beberapa gelas yang ada di bawah meja ruang keluarga. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah Badai.


"kalen jangan simpen gelas di tempat susah, pantesan tadi gua nyuci gelas dikit banget" Kata Gempa sambil mengambil beberapa gelas dari kolong meja.


"Iya bang itu bekas malam nobar sama Javier" Jawab Badai.

__ADS_1


"Nonton apa, bola?" Tanya Gempa sambil berjalan kearah dapur dengan beberapa gelas dalam genggamannya.


"Iya bang, bang ini sereal punya siapa di kulkas? Gua makan ya. lapar" Kata Badai sambil menunjukkan sereal yang tengah dia makan dengan beberapa sendok bekas di depannya.


"Makan aja,oh iya sisa uang lu sebagian ada di gua dari bu Rima" Kata Gempa.


"Oh iya bang biarin ajalah" Jawab Badai.


"Kalau butuh lu ambil uangnya ada di kamar gua sama Irawan" Kata Gempa.


‘oh iya Irawan’- batin Gempa.


Mengingat nama Topan dengan cepat Gempa kembali lagi ke ruang TV, Gempa berharap Topan belum keluar dari kamarnya agar dia bisa melarang Topan untuk pergi lagi menjemput Malam. Karena lama gempa menunggu sambil menonton acara TV sinetron anak SMA yang ntah apa judulnya dia tidak tau. Dengan sesekali dia melihat kearah tangga menunggu Topan menuruni tangga . Dan benar saja Topan kembali menuruni tangga untuk ketiga kalinya.


End/


"Kalendrika" Teriak Gempa dari arah dapur.


"Iya" Jawab Badai dari arah TV.


"Sudah berapa kali lu minum siang ini?" Tanya Gempa lagi.


"Enam bang" Jawab Badai.


"Jangan disimpan di atas kulkas, nanti jatuh gelasnya" Kata Gempa sambil mengambil enam gelas ukuran sama dari atas kulkas di dapur mereka. Terkadang Gempa harus mempunyai kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi teman-temannya yang sangat ajaib. Sedang di ruang TV Badai dan Topan tengah menikmati tontonan mereka. Spongebob.


"Jadi gua udah turun tangga tiga kali?" Tanya Topan pada Badai sambil mengambil kue kering yang ada di pangkuan laki-laki itu yang kini tersisa tinggal setengah.


"Iya A irawan, konyol bener hiduplu" Jawab Badai.


"Mana inget gua, halah lu juga sama. konyol" Kata Topan.


“setidaknya gua ngga kaya lu pelupa bang” jawab Badai karena tak terima disebut sama.


"jangan saling mengejek kalau sama-sama punya penyakit aneh" Kata Gempa yang kembali dari arah dapur selesai mencuci gelas bekas Badai.


“iya bang” jawab keduanya. Badai dan Topan.


“habis dari mana bang?” tanya Topan.


“cuci gelas bekas kalen, wan coba catet deh setiap lu ngelakuin sesuatu biar inget” jawab Gempa. Mendengar kata “kelen” Topan langsung melempar pandang ke arah Badai seakan berkata “lu juga sama konyolnya kaya gua”. Sedang badai memilih abai spongebob berhasil mengalihkan atensinya. Karena bagi badai dulu hidup dia udah kaya di film kartun mau disiksa segimana rupa pun tetap saja hidup.


"di catet dimana lagi, dapur? Kan udah penuh dinding kamar kita sama kertas tempelan bang " Jawab Topan kesal, karena memang dinding kamar mereka sudah penuh. selain dari tempelan milik Topan, jadwal matkul sama tugas sehari-hari ikut memenuhi dinding kamar mereka. Siapa saja yang masuk kamar Topan dan Gempa semua orang akan beranggapan kalau kamar mereka terbuat dari kertas saking penuhnya tempelan tempelan kertas di dinding, warna cat biru asli yang di poles di kamar mereka sudah tak terlihat. Gempa yang mendengar jawaban Topan cuman bisa mengangguk membenarkan pertanyaan sekaligus pernyataan Topan.


“ngga papa kal biar viral” jawab Topan sambil memindahkan acara tv yang tengah di tonton mereka.


"ko dipindahin A acaranya?" Tanya Badai tangannya dengan cepat merebut remot yang sedang di pegang Topan bersiap memindahkan kembali acara tvnya.


"Lagi iklan tadi gua liat" Jawab Topan yang malah merebut lagi remot dari Badai.


"Ih A IRAWAN" Teriak nyaring Badai. Membuat Gempa dan Topan seketika menutup telinganya karena pengeng.


"Budeg telinga gua KALENDRIKA" Jawab Topan ngegas sambil mukul Badai menggunakan belakang remot.


"Bocor nih pala cogan" Kata Badai sambil memegang bagian belakang kepalanya yang tadi terkena pukul remot oleh Topan.


"Dari pada berebut remot mending sini remotnya" Kata Gempa sambil menarik remot dari tangan Topan. Kemudian dia memindahkan chanel TV ke salah satu siaran kesukaannya. Upin dan Ipin.


"Kaga ada yang bener emang gua punya abang" Kata Badai sambil menguyah kue kering yang kini sudah hampir habis.


"Bang dari pada lu rebutan remot kaya kita, mending lu urusin skripsi lu yang belum kelar kelar deh" Kata Topan sambil menarik lagi remotnya dan memindahkan serial TV nya lagi.


"Mampus malah diingetin, gedek gua sama dosbingnya masa iya gua cuman di read doang" Kata Gempa dengan nada kesal. Karena sudah seminggu Gempa menghubungi dosen pembimbingnya itu namun tak kunjung mendapat balasan, yang berubah hanya centang biru pada aplikasi pesan chatnya.


"Yah mending gua bang ngga inget apa-apa,ngga usah skripsi-skripsi" Jawab Badai yang dari tadi masih ngemilin kue kering.


"Mikir aja lu kaga kal" Jawab Topan yang kini mulai fokus ke serial TV nya.


“nanti lu,Javier sama Irawan juga ngerasain gimana susahnya dan menyebalkannya seorang dosen pembimbing” jelas Gempa muka kesalnya sangat kentara tatkala menyebutkan dosen pembimbing. Sedang badai hanya mengedikkan bahunya.


"YAH IKLAN SEMUA" Teriak Badai lagi yang berhasil mendapat lemparan bantal dari dua sisi, Topan dan Gempa.


Drt...drt...drt...


"HP SIAPA YANG BERGETAR" teriak Badai membuat Topan dan Gempa berjengit kaget. Spontan keduanya langsung mengecek HP masing-masing.


"Eh Javier tumben nelpon" Kata Gempa sambil memperlihatkan ponselnya pada Badai dan Topan dengan nama "Hujan" Sebagai si penelpon. Mereka sepakat akan menamai kontak ponsel masing-masing dengan nama tengah mereka kecuali Topan.


"Angkat aja siapa tau penting" Jawab Topan.


"Tumbenan si Javier kaga belajar" Kata Badai.


"Ada buku yang ketinggalan kali bang" Jawab Topan.

__ADS_1


"Dia ngga pelupa kaya lu A, udah bang Alkana angkat aja dulu" Jawab Badai.


Gempa langsung mengangguk kemudian menggeser ikon berwarna hijau.


[Calling]


Hujan.


"Kenapa er?" Tanya Gempa memulai percakapan di telponnya. Namun malah terdengar suara orang berantem disebrang sana.


"Lu aja yang ngomong Rad,"


"lu aja lah"


"Lu Rad buru, eh ini udah tersambung"


"Hallo Er" Ucap Gempa lagi memastikan.


"Buru Rad ngomong tar keburu abis pulsanya"


"Ini gua Radika, bang Alkana Javier di rumah sakit" Kata Radika di sebrang sana.


"Apa, ko bisa?" Jawab Gempa kaget.


"Udah bang kalian cepet kesini nanti gua kasih tau" Jawab Radika.


"Iya Rad kita otw" Jawab Gempa kemudian langsung menutup telponnya sepihak.


"Kenapa bang?" Tanya Badai. Yang langsung diangguki Topan.


"Vier di rumah sakit kata temennya" Jawab Gempa. Jawaban Gempa membuat Badai dan Topan mengernyit bingung. Spontan mereka melempar pertanyaan yang sama.


"Hari ini tanggal berapa?" Tanya keduanya. Topan dan Badai.


Gempa yang ditanya seperti itu langsung melihat ponselnya.


"13" Jawab Gempa. Matanya membulat kaget Gempa melupakan Hujan, harusnya tadi Gempa mengecek tanggal seperti yang biasa dia lakukan sebelum berangkat kampusnya. ntah kenapa tanggal 13 selalu saja transparan di kalender mereka.


"Lah iya sekarang tanggal 13" Tambah Badai yang spontan langsung mengecek ponsel milik Topan, memastikan jika sekarang benar tanggal 13.


"Udah, mendingan kita cepet kerumah sakit Irawan, Kalendrika lu duluan ke mobil gua ngambil kunci mobil dulu di kamar" Kata Gempa sambil beranjak.


"Bang Alkana ambilin jaket yang di cantolin di belakang pintu ya, yang warna abu" Kata Topan. Yang di balas anggukan Gempa.


"Gua juga bang masa masih pake seragam gini" Tambah Badai, memang remaja laki-laki itu masih memakai baju seragam kumplit tanpa dasi dan sabuk.


Gempa berjalan memasuki kamar Topan dan dirinya kemudian mengambil kunci mobil dan juga jaket milik Topan setelah itu dia masuk ke kamar Hujan dan Badai untuk mengambil jaket milik badai.


Sementara itu di luar Topan dan Badai masih membicarakan Hujan,


"Asli A kalau itu badan bukan buatan Tuhan udah ancur kali" Kata Badai sambil berjongkok di depan Topan. Sedang Topan tengah bersender di pintu mobil dia masih takhabis pikir dengan Hujan.


"Pikiran lu sama kaya pikiran gua kal" Jawab Topan membenarkan apa yang di utarakan Badai. karena diapun berpikiran yang tak jauh beda dengan Badai.


"Gila sih A, masa hidupnya cuman buat celaka. Serem banget" Tambah Badai ngeri. Sambil berdiri dari jongkoknya.


"Iya kal, gua aja merinding pas tau pertama kali" Jawab Topan tatkala mengingat pertama kali dengan keanehan Hujan. ada manusia kaya gitu? itulah pertama kali yang terlintas di benak Topan saat pertama kali tau keadaan Hujan.


"Bang alkana lama ya?" Tanya Badai karena dia sudah pegal menunggu.


"Tar gua susul ben"-


"Tuh" tunjuk Badai dengan dagunya. menunjuk Gempa yang sedang mengunci pintu rumah mereka.


"Ayo masuk" Kata Gempa sambil memasuki mobil.


"Bentar bang, Mas Aga ngga dikasih tau dulu. Javier di rumah sakit?" Tanya Badai sambil membuka pintu belakang mobil.


"Oh iya, mas Aga. Nanti aja deh kalau udah nyampe kita kasih tau" Final Gempa.


Mereka sudah sepenuhnya masuk mobil namun Gempa ntah kenapa tak kunjung menyalakan mesin mobilnya.


'ko ada yang kurang ya'- batin Gempa.


"Kok kaya ada yang ketinggalan ya" Kata Topan. Dia memang pelupa tapi tidak lupa sepenuhnya. Pikiran alam bawah sadarnya masih bisa mengingat.


"Iya tapi apa ya bang" Jawab Badai mengangguk namun bertanya-tanya dalam hati.


"ASTAGA MALAM" teriak Gempa.


“biar gua yang gendong bang” kata Badai sambil membuka pintu mobil. Dengan cepat Badai kembali kedalam rumah.


...SEBUAH SKENARIO BENCANA...

__ADS_1



__ADS_2