Best Seller Man

Best Seller Man
pohon jambu


__ADS_3

Badai kini tengah tiduran di atas motor satu kakinya menjuntai kebawah sedang satunya lagi di atas kepala motor, dibawahnya berserakan kaleng soda kosong dan beberapa ada yang masih utuh, kepulan asap rokok mengudara mampu membangun kan burung yang sedang tertidur di dalam sangkarnya saking kuatnya dia menghembuskan asap rokoknya, laki-laki andraka itu masih lengkap memakai pakaian seragam khas Gardapati.


"gua ngga salah liat ko" gumamnya. Hari dimana Topan menggoreng telur gagal, dimana sebelumnya badai berpapasan dengan topan sebelum topan kebawah untuk menggoreng telur. badai tanpa sengaja melihat Topan berlari ke kamar mandi dengan terburu awalnya badai hanya akan abai sebelum dia mendengar suara pintu yang di tutup nyaring setelah beberapa detik disusul dengan rintihan dari arah kamar mandi karena penasaran badai bermaksud melihatnya namun baru saja melangkah Topan keluar dari kamar mandi dengan luka di pergelangan tangannya. badai bahkan melihat dengan jelas bercak darah yang keluar dari luka di pergelangan tangan Topan, waktu itu Topan nampaknya tidak sadar dengan keberadaannya.


Badai bukan lah anak kemarin sore yang tidak tau apa yang topan lakukan selama di kamar mandi, dia bukan lah anak polos yang dapat di bodohi atau di suap hanya dengan permen dan balon. Badai tau apa yang Topan lakukan. Semua praduganya di perjelas dengan pisau cutter yang badai temukan di kamar mandi nampaknya Topan lupa mengambilnya. Bahkan Topan belum sempat membersihkan darah yang berceceran dari arah tanganya.


Menghela nafas sejenak badai merasa bodoh ketika dia dengan suka rela membersihkan darah yang berceceran di lantai waktu itu.


"A irawan ngga kelihatan orang yang punya masalah" gumamnya satu tangannya memegang sebuah cutter yang dia temukan di kamar mandi waktu itu.


"orang yang ngga kelihatan punya masalah belum tentu ngga punya masalah", dengan tiba-tiba suara orang yang badai kenal menyahut dari belakangnya. Membuatnya terlonjak kaget hampir terjatuh dari atas motornya.


"anggara, bikin kaget lu. gua kira penunggu pohon jambu air" ujar badai sambil beranjak bangun dari motornya, jantungnya hampir saja turun ke kaki karena ulah sahabatnya yang datang tiba-tiba. Setelah pulang sekolah Anggara tiba-tiba saja mengajak Badai bertemu dengan kakaknya.


"ya habis lu, gua suruh tunggu di lobby malah di bawah pohon jambu. Jauh lagi gua kira lu ninggalin gua" ujar Anggara bersungut-sungut. Tadi ketika dia turun ke lobby dia langsung mencari badai, namun dia sudah mencari hampir ke setiap sudut lobby sahabatnya itu tidak ada disana, anggara sudah menerka jika badai meninggalkannya. Namun tepat ketika keluar tak jauh dari gerbang kantor anggara melihat seseorang yang tiduran di atas motor di bawah pohon jambu. Kekesalannya dia telan kembali tatkala semakin dekat penglihatannya semakin jelas dia badai dari seragam Gardapati yang sahabatnya kenakan.


"tadi gua di usir sama satpam, gara-gara gua nendang mesin minuman" jawab badai seraya tangannya menaruh cutter di belakang saku celana seragamnya.


"ko bisa" tanya Anggara penasaran, namun tak ada jawaban dari sahabatnya membuat Anggara mengernyit dia mengikuti kemana arah pandang badai.


"itu kakak gua, tadi dia mau kesini tapi tiba-tiba dapet telpon" kata anggara, dia menjelaskan ketika anggara hendak keluar dia berpapasan dengan kakaknya yang nampaknya juga akan keluar, hingga kakaknya mengantarkannya bermaksud berkenalan dengan badai, namun kakaknya malah mendapat telpon yang nampaknya penting hingga membuat kakaknya berbalik, kembali tidak jadi menemui badai. Badai mengangguk sekenanya. Karena fokusnya masih pada laki-laki yang tengah berjalan menjauh memunggunginya.


'ko gua kaya pernah lihat postur tubuhnya' pikir badai. Dia mencoba mengingat postur tubuh laki-laki itu namun nampaknya badai hanya bertemu sekali atau dua kali karena nyatanya dia tidak dapat mengingat siapa orangnya.


"gimana bisa lu di usir satpam?" tanya anggara mengulang pertanyaan yang belum sempat badai jawab tadi karena teralihkan dengan sang kakak.


"tadi kan gua udah bilang, gua nendang mesin minuman. Karena haus gua beli minum, uang gua udah masuk ke mesin tapi minumannya ngga keluar ya gua tendang aja eh keluar selusin" jelasnya sambil menunjuk kaleng soda yang berserakan dibawah dengan dagunya, tadi ketika badai menunggu anggara yang tengah bertemu kakaknya dia kehausan tak jauh dari sana tepatnya di sudut samping pintu keluar terdapat mesin minuman. Dia langsung memasukkan uang namun setelah memilih, minumannya tak juga keluar karena kesal bercampur haus badai menendangnya yang tak sengaja malah keluar beberapa kaleng minuman dari sana karena itu, satpam langsung masuk dan menyeretnya keluar. Berakhirlah dirinya di bawah pohon jambu air.


"karena itu" tanya anggara memastikan. Badai terdiam karena beberapa alasan


"bukan, gua ngga tau kalau mesin minuman itu rusak jadi tambah rusak pas gua tendang" jawab badai, yang spontan mengundang tawa anggara. karena rasa dahaga yang ngga bisa di tunda dia tidak sadar jika terdapat kertas yang menempel di mesin minuman "mesin rusak".


"oh iya, nama kakak lu siapa?" tanya badai, kini posisi laki-laki remaja itu duduk menyamping menghadap sahabatnya seraya memetik buah jambu air yang dapat dia jangkau. Sebenarnya badai ingin bertanya itu jauh sebelum sekarang, tepatnya ketika anggara menceritakan keluarganya dulu, namun dia tahan mengingat anggara yang tertutup dengan kehidupan keluarganya berbeda dengan dirinya yang bahkan hampir setiap hari layaknya tom n jerry secara live. Bersama sang ayah.


"nama kakak gua----, perkataan anggara terpotong karena bunyi notif ponsel dari arah sakunya. Dengan cepat dia langsung melihat pesan yang masuk ke hpnya, matanya langsung membola. dari reaksi sahabatnya badai sudah bisa menerka


"ada apa?" tanya badai yang sesekali mengigit jambu airnya.


"gawat tanggal 12 anak Nuansa ngajak balapan, dan lu harus tau syaratnya lu ga boleh megang rem motor dia nantangin askala buat turun" ujar anggara panik,


"fuuuuh--- mampus, besoknya kan askala tanding basket" kata badai sambil memuntahkan jambu air karena terdapat semut di dalamnya.


anggara mengangguk.


"kita ke ares sekarang" ajak anggara yang langsung diangguki badai, sebelum melepas standar dua motornya dia menyempatkan memetik buah jambu air yang dapat dia jangkau.


...•••...


Hujan baru saja menstandar motorny di depannya kini sebuah kafe yang bisa di katakan lapuk dan usang, karena sebagian badan kafe yang termakan lumut. Hujan mengernyit, tidak salah kan sang kakak mengajak bertemu di kafe seperti ini?.


"ken-ca--n kafe? Heuh?" eja Hujan, namun penuh tanya diakhir. Tulisan itu di gantung dengan rafia berwarna biru yang sangat kontras dengan papan namanya nampaknya sebagian hurufnya ada yang hilang karena terlihat spasi yang cukup jauh di papan nama itu. Helaan nafas keluar dari mulutnya. Dari sekian banyaknya tali kenapa harus rafia?


"yang hilang huruf apa?" lirihnya, kakinya bahkan tidak sampai hati menginjakkan ke dalam. pandangannya menyapu ke setiap sudut halaman kafe, kafe itu sangat berbanding terbalik dengan toko bunga yang terlihat asri dan indah di sampingnya, enak di pandang sedang kafe yang ada di depannya tak ubahnya seperti kafe usang yang lapuk termakan usia. kotor dan terlihat berdebu.

__ADS_1


"kenapa harus bersanding dengan toko bunga?" gumamnya. Karena demi apapun kafe ini sangat mengganggu pandangan.


"javier",


Hujan langsung menoleh pandanganya langsung bertemu dengan sang kakak yang baru saja keluar dari mobilnya. namun atensinya malah teralihkan dengan mobil yang terparkir di samping mobil sang kakak -juan.


'ko mobil itu seperti tidak asing' pikir Hujan tatkala pandangannya jatuh pada mobil pajero putih disana.


"hei lihat apa? Ayo masuk" tanya sang kakak juan bahkan mengikuti arah pandang sang adik namun mengernyit tatkala arah pandang adiknya jatuh pada mobilnya.


"oh itu mobil kantor, kenapa?" ujar Juan, menjelaskan. Dia mengira Hujan melihat mobil yang baru saja dia gunakan. Hujan mengangguk asal walau dia tak mengerti maksud kakaknya, tepat ketika dia mengikuti langkah Juan yang mulai memasuki kafe tak sengaja kakinya menginjak sesuatu.


"a?" lirihnya tatkala dia melihat benda yang dia injak ternyata sebuah huruf yang nampaknya hilang dari papan nama- a.


'oh ternyata jatuh rupanya lemnya kurang kuat'


"Vier, kenapa? ada masalah, kamu dari tadi diem aja?" tanya Juan, karena semenjak masuk adiknya itu terlihat diam tak berkomentar apapun. Hujan menggeleng sambil berujar


"kak disini memang tidak ada pelanggan ya?" tanya Hujan pandanganya dia arahkan kesetiap sudut kafe yang kosong tanpa pengunjung hanya mereka berdua, tidak mungkin kan kakaknya itu menyewa kafe usang hanya untuk berdua? Di luar nalar sekali.


"ntahlah, kafe ini milik kolega kakak" jawab Juan, seraya mengacungkan tangan memanggil pelayan.


'yakin dengan kafe seperti ini bakal dapet untung' pikirnya mengingat suasana kafe yang nampak sunyi dan terkesan menyeramkan siapa yang ingin masuk ke kafe usang yang siap roboh ini? yang ada mereka takut terkena reruntuhan kafe natinya. Hujan bergidik membayangkan jika saja dirinya dan sang kakak mati konyol karena terkena reruntuhan kafe usang ini. Terlalu larut dalam bayangannya Hujan tak menyadari sedari tadi Juan bertanya.


"Er? Mau pesen apa?" tanya Juan mengulangi pertanyaan karena sedari tadi adiknya itu terus memperhatikan sudut kafe. seakan ditarik kekenyataan Hujan terkesiap.


"oh--- iya ka?---- ini" tunjuk Hujan pada menu di depannya.


'kencan---a, kencana?' pikir Hujan.


"iya, ini milik kolega kakak ntah lah apa alasannya om rendra menyuruh kakak bekerja sama dengannya" jawab Juan. Bukan hanya sang adik yang terlihat heran bahkan dirinya sempat berdebat dengan ayah angkatnya -Rendra- kenapa sang ayah angkat menyetujui bekerja sama dengan kafe usang dan lapuk ini. apalagi kalau di lihat lebih dekat karyawan disini benar-benar terlihat luar biasa menganggur karena saking tidak adanya pengunjung. Ditambah ketika dia melihat laporan pemasukkan pengeluaran kafe ini yang sangat mengenaskan, sebenanya apa yang melatar belakangi sang ayah angkat menyetujui kerjasama mereka.


"hah? ayah rendra yang menyuruh?" tanya Hujan, juan mengangguk, dia memang tidak memanggil-Rendra- ayah angkatnya dengan panggilan ayah walaupun rendra selalu menegur Juan karena enggan memanggilnya ayah. Juan hanya memanggil ayah pada ayah kandungnya, dan itu bukan kepada Aldi ataupun Rendra.


"lupakan, kakak mengajak kamu bertemu karena kakak kangen sama kamu dan juga ingin membicarakan tentang tanggal 13----


"bentar kak, tanggal 13 aku ada lomba" ujar Hujan memotong perkataan kakaknya tatkala Hujan mengingat jika lomba caturnya jatuh pada angka 13. Juan terlihat kaget bagaimana mungkin sedangkan di tanggal itu pasti akan terjadi sesuatu pada adiknya, Juan menggeleng


"kamu tau kan, tanggal 13 itu----


"aku tau kak, tapi cuman lomba ini satu-satunya alasan supaya aku tidak ikut study banding pada pak cahyo. kamu lebih memilih aku kecelakaan ketika study banding di kota orang atau disini?" tanya Hujan, juan terdiam bagaimana bisa sang adik melontarkan pertanyaan itu dengan ringan seakan tanpa beban sedang jauh disana maut mengintainya karens nyawa sang adik bisa kapan saja ditarik keluar.


"pilihan yang sulit kenapa kamu menanyakan itu pada kakak yang jelas-jelas tidak akan mengizinkan keduanya" jawab juan dengan nada kesal, pilihan yang di pertanyakan sang adik tadi benar-benar tak ada bedanya, keduanya sama saja mengantarkan sang adik kembali terbaring di rumah sakit seperti bulan-bulan sebelumnya.


Jauh di lubuk hatinya, ingin rasanya dia membunuh anak remaja yang menjadi penyebab kedua orang tua mereka meninggal, karena kejadian itu mengantarkan sang adik pada penyiksaan mendalam yang perlahan merusak tubuh adiknya. Juan terus menerus berterima kasih kepada sang pencipta yang menciptakan tubuh adiknya dengan kuat jika tubuh itu buatan manusia mungkin tubuh adiknya sudah tak dapat juan bayangkan seperti apa rupanya. Karena kurang lebih hampir sembilan tahun sang adik mengalaminya.


"13" gumam juan,


"kak kita duduk di angka 13" ujar Hujan sambil melihat nomor meja disana. Juan menghela nafas semenjak adiknya mengalami kecelakaan maut di tanggal 13 Juan sangat membenci angka 13.


"kakak akan ikut melihat kamu lomba nanti" ujar Juan. Hujan terperangah kaget.


"kak kamu akan mempermalukan dirimu sendiri karena melihatku dengan kekalahan! aku tidak mau!" jawab Hujan pandanganya dia arahkan pada pelanyan yang membawa pesanan mereka.

__ADS_1


"memang perlombaan apa dan dimana?" tanya Juan seraya menyesap kopi pesenannya.


"catur ka di SMA Gardapati" jawab Hujan seraya memakan roti pesanannya, Juan hampir saja menyemburkan kopi dari dalam mulutnya untung dapat dia tahan dan berhasil menelannya.


"Gardapati?" tanya Juan mengulang perkataan Hujan dia seakan memastikan pendengarnya tidak salah. Tangannya bahkan mengudara memegang cangkir kopi.Hujan mengangguk dengan mulut penuh roti.


"iya gardapati" jawabnya sambil menyedot kopi membantu mendorong roti agar cepat sampai kerongkongannya.


Juan terdiam karena beberapa alasan seraya menaruh cangkir kopinya. Hujan tidak tau jika Juan masih memiliki adik kandung karena juan ataupun ibunya -Ana- tidak pernah bercerita sebelumnya. Keduanya sepakat untuk tidak membuka luka lama mereka.


"kak Juan" ujar Hujan sambil menggoyangkan jari tangan sang kakak. Juan terkesiap


"kakak akan datang melihat mu lomba, inget jangan sampai kamu mempermalukan kakak ya" ujar juan sambil tersenyum berbanding terbalik dengan pikirannya dia hanya menutupi keterkejutannya dengn mengukir senyum agar Hujan tidak curiga. Decakan malas yang keluar dari mulut Hujan menjadi respon jawaban untuk sang kakak.


"kak harus berapa kali aku bilang jangan----a irawan?"ujar Hujan tatkala pandangan jatuh pada seseorang yang sangat Hujan kenal-Topan. Topan terlihat tengah memasuki kafe bersama temannya. Juan mengernyit tidak mengerti maksud sang adik


'jangan a irawan?' pikir Juan.


"A irawan" teriak Hujan, membuat Juan yang tengah memakan red velvetnya tersedak karena Hujan yang tiba-tiba saja berteriak.


"Javier lu ngapain?" tanya Topan seraya berjalan kearah meja Hujan.


"ketemu kak juan, lu ngapain a di kafe lapuk gini?" tanya hujan. Topan menunjuk seseorang yang berjalan ke meja barista.


"nganter Raden, eh bang Juan apa kabar bang?" jawab Topan seraya menyapa Juan dengan ramah dan sopan. Hujan cukup kaget, memang gaji dari kafe lapuk gini masih layak? Pikir Hujan.


"gua sih dari pada kerja di kafe gini mending jadi ojol a" ujar Hujan yang langsung mendapat cubitan di tanganya dari Juan. Topan mengangguk, dia cukup setuju dengan apa yang di lontarkan Hujan.


"oh iya lu nanti ngga usah ke bang Alkana biar gua sama Mas Rayga yang nginep di rumah sakit" kata Topan seraya menarik kursi disana. Hujan terlihat akan melayangkan protes sebelum atensinya kembali teralihkan dengan keluarnya seseorang dari arah pintu yang bertuliskan "staff only". telunjuknya mengudara mengundang tanya Topan dan juga Juan hingga keduanya menoleh bersamaan.


"Pak Rayga/Mas Rayga" keduanya melontarkan nama yang sama namun dengan nada yang berkebalikan dimana Juan terlihat biasa saja berbanding terbalik dengan Topan yang terdengar kaget. Laki-laki yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh.


"loh Irawan? Javier?"


...•••...


Hujan sampai di kamarnya terlihat kesal karena Topan dan Guntur melarangnya ikut menginap di rumah sakit. Kemarin ketika Gempa dibawa oleh bapak-bapak komplek Guntur langsung membawa gempa ke rumah sakit, karena Gempa tak kunjung sadar setelah hampir satu jam dikhawatirkan ada penyakit dalam ataupun geger otak yang di lontarkan dramatis dari salah satu bapak komplek yang ikut menggotong gempa.


"padahalkan gua bisa sekolah dari rumah sakit" ujarnya kesal karena baik topan dan guntur melarang hujan karena takut telat masuk sekolah besoknya ditambah adanya sang kakak yang juga tak menyetujui adiknya ikut menginap dirumah sakit.


"menyebalkan", karena terlalu lama menggerutu tak terasa matanya memejam hingga kesadarannya di paksa kembali ketika badai memasuki kamar kos mereka.


"lu juga di suruh pulang? Atau lu ngga ke rumah sakit langsung balik?" tanya Hujan sambil bersila di atas tempat tidur matanya sesekali terpejam menahan kantuk.


"kesana tadi, cuman di suruh pulang" jawab Badai seraya menyimpan tas di kursi belajarnya. Tadi setelah dari Ares badai menyempatkan ke rumah sakit bahkan badai menolak untuk bermalam di rumah Ares bersama sahabatnya karena bermaksud menginap di rumah sakit namun tepat ketika sampai Topan dan Guntur langsung menyuruhnya pulang karena Badai masihlah pelajar yang memerlukan waktu yang cukup untuk tidur dan sekolah. Hujan mengangguk mengerti hingga sebuah barang yang badai simpan di meja cukup mencuri perhatiannya. Cutter.


"itu cutter punya lu?" tanya Hujan sambil menunjuk cutter yang baru saja di simpan badai di meja. Badai terdiam beberapa saat pandangnya dia arahkan pada cutter yang tadi dia simpan, sebelum mengangguk dengan kaku dan tak yakin. Menghindari pertanyaan semakin jauh dari mulut Hujan badai langsung pergi keluar kamar mereka.


"gua ke kamar mandi dulu" ujar badai sambil berlalu dia melemparkan buah jambu air pada Hujan yang langsung mengundang teriakan Hujan karena mengenai kepalanya.


Hujan menggerutu sambil beranjak dia ingin memastikan cutter yang dia lihat, pasalnya cutter ini cutter yang sama yang dia temukan di kamar mandi tempo hari.


"aneh, ada orang mengoleksi cutter" pikir Hujan seraya mengigit jambu air yang Badai lemparkan tadi. Didepannya ada dua cutter yang sama percis seperti yang hujan temukan.

__ADS_1


__ADS_2