
Guntur kini tengah terdiam seorang diri, di balkon kamarnya sambil menikmati secangkir kopi. Ditangannya sebuah benda touchscreen yang menampilkan logo perusahaan milik keluarganya. Bagaskar grup.
"Yah beginilah hidup kalau mengikuti keinginan orang tua, lempeng aja kaya garis horizontal" Gumam Guntur sambil menekan logo perusahaan. Dan terpampanglah sebuah grafik saham milik keluarga Bagaskar disana.
Kini hanya dirinya yang ada, sang kakak -Ceko- sudah tidak ada bersamanya. Mau bagaimana lagi, dirinya menjadi tumbal karena sang kakak memilih pergi mencari jalan hidupnya sendiri. Sedang dia masih aja stuck di tempat.
"Curang banget ka pergi ngga ngajak- ngajak, gua duluan sih ya yang pergi" Gumam Guntur. Sambil terus menerus menggeser-geser benda touchscreen itu tak minat dengan telunjuknnya. Memang salahnya dulu ketika dia memilih meninggalkan sang kakak ke New York akibat sebuah kasus, tanpa disangka kakaknya pergi tanpa kabar setelah cekcok dengan ayah mereka. Kabar sang kakak yang pergi pun membuat Guntur shock dulu itu, dan di tahun kedua dia mendapat telpon dari nomor tak dikenal ternyata itu nomor milik kakaknya, Ceko. Yang memberitahukan kalau kini sang kakak tinggal di Vienna, Austria.
Mengingat Ceko dia jadi teringat dengan rumah yang selalu dijadikan sang kakak tempat bernaung ketika kakaknya di usir oleh ayah mereka. Rumah yang menjadi saksi tangis sang kakak dan juga amarah sang kakak kepada orang tua mereka. Rumah yang selalu menjadi tempat mengadu kakaknya dan rumah yang selalu menjadi tempat kakaknya kembali ketika lelahnya mulai datang.
Guntur beranjak menyimpan, tabnya di nakas kemudian keluar kamarnya.
"Bi pak Didi mana bi?" Tanya Guntur pada bi Marni yang tengah melicin pakaian di depan TV.
"Ko ngelicin pakaian disini bi? Kan ada tempatnya" Tanya Guntur lagi yang tak habis pikir dengan pembantu setiap bagaskar itu.
"Biar bisa sambil nonton TV mas, pa Didi di depan mas aga" Jawab bi Marni sambil tersenyum, sedang Guntur hanya menggelengkan kepalanya kemudian kedepan menghampiri pak Didi.
Didepan terlihat pak Didi tengah mengelap mobil, padahal mobil itu sudah bersih dan tidak kotor. Tapi masih saja supirnya itu lap dengan sepenuh hati membuat Guntur tertawa tak bersuara melihat kelakuan supirnya itu.
"Pak antarkan saya ke rumah Ceko" Kata Guntur sambil berjalan menghampiri pak Didi.
Rumah Ceko, itu sebutan untuk rumah miliknya dan juga Ceko. Dulu rumah itu adalah rumah rahasia mereka berdua tak ada yang tau siapapun itu. Rumah yang di beli secara kredit oleh kakaknya hasil ngamen di kafe-kafe dan juga bushking di jalanan kota. Dan kini rumah itu sudah menjadi miliknya karena sang kakak sudah pergi dan mungkin saja tidak akan kembali. miris sekali.
Kembali takdir bermain disini. jika saja suatu saat nanti takdir membawa sang kakak kembali. Guntur akan sangat bahagia, namun jika tidak ntah bagaimana hidupnya nantinya . Mungkinkah suatu saat nanti dirinya yang menjadi pewaris keluarga Bagaskar? apakah Guntur senang? jawabannya tidak. hidup dalam kendalian orang tua itu tidak enak. faktanya kini ayahnya berkuasa atas dirinya.
Lalu bagaiman dengan sang kakak? Bahkan sampai sekarangpun orang tua mereka tak ada yang menyesal dengan perginya sang kakak. Terkadang Guntur selalu berpikir sang kakak pergi karena mengejar impianya, lalu apa mimpinya? Apa cita-citanya sebenarnya? Mengikuti keinginan kedua orang tuanya? atau hidup dalam kendali orang lain? bahkan dia sendiri ingin bebas.
"Mas aga, jadi berangkat?" Tanya pak Didi yang berhasil membuat Guntur kembali sadar dari kecamuk pikirannya yang selalu saja mampir di otaknya.
"Jadi pa ayo" Jawab Guntur sambil memasuki mobilnya. Tangannya merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel kemudian mendial nomor seseorang disana.
[Calling]
Ceko.
"Hallo, Ceko" Jawab penerima telpon di sebrang sana.
"Ini gua ka, aga" Jawab Guntur, nampaknya sang kakak masih menggunakan nama 'Ceko' disana terbukti ketika sang kakak menjawab telpon nama Ceko yang terucap. Setidaknya dia tidak lupa dengan namanya sendiri walau dia lupa dengan kata Bagaskar mungkin. Pikir Guntur. Karena biasanya orang disana menyebut nama keluarga di akhir ketika menjawab telpon. Harusnya dia mendengar "hallo, Bagaskar" Namun yang terdengar justru 'Ceko'.
"Kenapa nelpon dini hari?" Jawab Ceko disebrang. Terdengar suara grasak grusuk disana sepertinya sang kakak tengah berjalan menjauh.
"Gua mau ke rumah yang dulu lu kredit ka" Jawab Guntur.
"Udah lunas, sembarangan" Jawab Ceko. Membuat Guntur terkekeh.
"Iya intinya gua mau kerumah itu sekarang" Kata Guntur. Yang tak peduli dengan status rumah kredit mereka jadi rumah lunas.
__ADS_1
"Oh, jadi lu dini hari bangunin gua tidur cuman mau bilang gitu?" Jawab Ceko dengan nada kesal. Mungkin sang kakak baru saja tidur dan mungkin kini merasa terganggu.
"Iya, siapa sih yang ngurus itu rumah namanya lupa gua ka" Tanya Guntur. Karena rumah itu masih jadi tanggung jawab sang kakak . Selepas kakaknya pergi ke Vienna rumah itu dia titipkan kepada orang di sekitar sana yang menjadi kepercayaan kakaknya dan Guntur lupa namanya karena sudah lama.
"Oh pak Dadang, rumahnya sedikit jauh dari rumah gua. Cari aja beliau itu salah satu pemilik kontrakan disana" Jawab Ceko. Masih dalam mode sabar namun juga kelewat kesal dengan sang adik.
"Bilang adik ka Ceko gitu?" Tanya Guntur.
"yaiyalah ga masa bilang pembantu" Jawab Ceko kesal.
"Maksudnya ka, gimana lagi adik terus minta kunci terus gimana?" Tanya Guntur, maklum Guntur sudah lama tidak kesana.
"Udah gitu aja ga, bilang mau liat rumah udah gitu doang" Jawab Ceko.
"Oh makasih ka" Jawab Guntur.
"Iya, tempatin sana saying tuh rumah tar dihuni makluk lain" Jawab Ceko kemudian memutus obrolan ditelpn panggilan mereka.
"Nelpon mas Ceko yo mas?" Tanya pak Didi di tengah menyetirnya.
"Iya pa, pak kenal sama pa Dadang ngga?" Tanya Guntur sambil memasukan ponselnya kembali.
"Nda mas, kenapa to mas?" Tanya pa Didi lagi.
"Itu kunci rumah punya ka Ceko, di orang yang namanya pak Dadang katanya pemilik kontrakan terus rumahnya juga ngga jauh dari rumah ka Ceko" Jelas Guntur.
Setengah jam sudah mereka sampai di Rumah Ceko, rumah dua lantai dengan design minimalis. Di depannya itu terlihat sangat rapi dan terawat. Sedang pak Didi kini tengah mencari rumah orang yang bernama 'Dadang' yang katanya juragan kontrakan disana. Selang beberapa menit terlihat dari kejauhan pak Didi berjalan bersama laki-laki paruh baya yang nampaknya lebih tua dari pak Didi.
"Nah ini to pa, mas aga anak majikan saya" Kata pak Didi ibu jarinya terarah kepada Guntur. memperkenalkan Guntur kepada laki-laki paruh baya disampingnya.
"Ini mas aga, pak Dadang" Tambah pak Didi lagi sambil berbalik memperkenalkan laki-laki paruh baya yang ternyata orang yang Guntur cari. Dadang.
"Rayga Guntur Bagaskar" Kata Guntur menyebut lengkap namanya, sambil tersenyum sedikit membungkuk kepada laki-laki paruh baya didepannya.
"Saya Dadang orang yang dipercayai mengurus rumah oleh mas Ceko, mas Rayga ini adik dari mas Ceko?" Tanya pak Dadang dengan ramah.
"Iya saya adik dari Ceko" Jawab Guntur sambil mengangguk, kemudian pak Dadang mengeluarkan satu rentetan kunci, nampaknya itu kunci rumah Ceko. Pikir Guntur.
"Mari mas biar lebih enak saya jelaskan di dalam saja" Jawab pak Dadang sambil mulai membuka kunci gerbang rumah ceko.
"Oh iya pak, silakan duluan saya tidak tau soalnya" Jawab Guntur mempersilakan laki-laki paruh baya itu berjalan terlebih dahulu.
Kini mereka mulai memasuki ruang tamu rumah Ceko, nampaknya sang kakak benar-benar merawat rumah Ceko dengan baik, terlihat dari sopa yang nampaknya masih baru dan juga interior yang sedikit di poles dengan warna yang baru.
"Mas Ceko sering sekali meminta saya mengganti cat luar dan dalam juga jika ada perabot, kursi meja atau pun sesuatu yang rusak saya diharuskan melapor pada beliau" Jelas pak Dadang. Membuat Guntur menganga lebar. Rupanya segitu sayangnya sang kakak pada rumah Ceko. Guntur hanya bias mengangguk.
"Oh iya, ini saya jelaskan. Untuk kunci-kunci nya" Tambah pak Dadang.
__ADS_1
"Ini untuk gembok pagar, ini untuk kunci utama, ini untuk kamar kedua, pertama dan ini untuk kamar studio milik mas Ceko terus terakhir ini kunci pintu belakang" Jelas pak Dadang panjang lebar sambil menunjuk satu persatu kunci yang di maksud. Guntur mengangguk untuk yang kedua kalinya.
"Boleh saya lihat-lihat pak" Kata Guntur.
"Ngga usah minta izin kepada saya mas, ini rumahnya mas Ceko rumah kakaknya mas Rayga" Jawab pak Dadang tersenyum ramah.
"Panggil saya aga saja pak" Jawab Guntur sambil beranjak. Anak bungsu keluarga Bagaskar itu berjalan menyusuri setiap sudut rumah Ceko. Di lantai pertama ada dapur yang menyatu dengan ruang keluarga sebelah kiri dapur ada kamar studio milik kakaknya. Ceko. Di samping kanan dapur ada kamar mandi lantai satu.
Di lantai dua ada dua kamar satu milik dirinya dan satu lagi kamar milik Ceko. Di depan dua kamar itu ada kamar mandi lantai dua. Dan satu buah pintu menuju balkon. Di balkon ada satu set tempat duduk yang mengarah ke jalan raya.
"Enak nih deket kemana-mana ngga jauh ke jalan ngga kaya rumah utama" Katanya. Memang dibandingkan rumah keluarga Bagaskar rumah Ceko itu hanya sepertiga dari sana. Selain itu letak pintu utama dan gerbang pun bisa di katakan dekat berbeda dengan rumah Bagaskar yang cukup menguras tenaganya ketika tak menggunakan kendaraan hanya untuk mencapai gerbang depan.
"Tapi kalau gua sendirian disini, serem juga sih" Pikir Guntur.
"Apalagi jarang di tempatin, mana ada dua kamar tambah kamar studio punya kak Ceko" Tambahnya. Dia terus bermonolog seorang diri. Pikirannya melayang kepercakapan terakhir sang kakak sebelum menutup telpon. 'Mahkluk lain' mungkin maksudnya ghaib? Hantu? Bias saja karena terlalu lama kedua kamar itu ada yang menempati, tidak lucu kan jika nanti ketika dia menempati rumah ini ada yang memainkan alat music milik sang kakak. Guntur bergidik ngeri. Rupanya dirinya terlalu banyak menonton film horor mungkin selama di New York. Terbukti pikiran horornya mulai memasuki otaknya , bulu kudukny sedikit meremang. Padahal ini pagi hari. Jam set sembilannan.
"Mas aga" Kata pak Didi sambil menepuk pundak Guntur pelan.
"PAK DIDI BIKIN SAYA KAGET, kenapa pa? " Kata Guntur. Tangannya masih memegang dadanya kaget. Dia kira makhluk lain yang dibilang Ceko. Sialan Ceko. Pikir Guntur.
"Ealah, mas kenapa to?" Tanya pak Didi tak kalah kaget karena teriakan anak majikannya itu.
"Ngga pa. Pa saya rencana mau tinggal disini. Tapi ko kalau saya tinggal sendirian serem juga ya, nanti ceritanya berubah jadi cerita horror, apalagi sudah lama tidak di tempati" Kata Guntur.
"Takut apa to mas?" Tanya pak Didi yang kini mulai bergabung dengan Guntur di balkon rumah Ceko.
"Takut hantu pak, gimana ya pak? Bapak sama bi Marni tinggal sama saya saja gimana?" Pinta Guntur.
"Eh jangan mas, rumah utama gimana to mas ada-ada saja mas ini" Jawab pak Didi.
"Buang aja pa, ngga guna ngga ada penghuninya. Orang tua saya baliknya sebulan sekali saja jarang pak" Kata Guntur sambil memandang kedepan, jalan raya. Guntur baru sadar rupanya balkon rumah Ceko menghadap jalan raya.
"Bagaimana kalau di kosin aja mas" Usul pak Didi. Guntur terdiam usul pak Didi sepertinya bisa dia ambil. Kos. Satu kata yang kini ada di otak anak bungsu Bagaskar.
'Kalau gua jadiin kos kosan ka Ceko marah ngga ya, kan lumayan duitnya buat ka Ceko juga' Pikir Guntur.
"Kayanya kalau di jadiin kos- kosan bakal laku mas, soalnya ngga jauh dari sini dua apa tiga kiloan deh mas ada sekolahan bedanya di belokannya saja yang satu swasta satu lagi negeri mas. Terus yo mas kalau mas aga jalan lurus kearah sana lagi sekitaran sana ada kampus mas universitas terkenal mas" Jelas pak Didi. Rupanya otak bisnis supirnya itu jauh lebih berjalan dari pada dirinya. Salahkan dirinya yang terlalu sering tenggelam pada masa lalu sampai otaknya cukup kesulitan dalam berpikir.
"Boleh pak, nanti saya bilang ke ka Ceko dulu,soalnya kalau sekrang mungkin kak Ceko sudah tidur" Jawab Guntur.
"Pagi tidur mas? Mas Ceko kerjanya malam?" Tanya pak Didi penasaran, Guntur tersenyum terkadang sikap penasaran supirnya itu membuatnya sedikit merasa tidak sendiri.
"Bukan pa ya, Indonesia lebih cepat enam jam dari Vienna waktunya. Jadi kalau disini jam 9nan disana jam 3an lah pak dini hari" Jelas Guntur, tangannya masih saja menghitung mundur angka dari sembilan takutnya dia salah memberikan informasi kepada supirnya itu.
"Oh begitu to mas. Semua mas? " Kata pak Didi sambil mengangguk mencoba mengerti jawaban dari anak majikannya itu.
"Tidak semua pa, misal Korea sama indo lebih cepat 4 jam Korea pak dari indo, kalau indo jam 10malam di Korea jam 12malam sama kaya Vienna-indo lebih cepat 6 jam" Jelas Guntur. Dengan detail. Mengapa dia mengambil contoh Korea karena Guntur pernah menginjakkan kaki di negara itu. Setidaknya kalau supirnya bertanya yang lain Guntur masih bisa menjawab.
__ADS_1