Best Seller Man

Best Seller Man
Kunci yang sama


__ADS_3

"kamu lagi?"


"hah?"


"kamu kenapa selalu pinjam buku yang sama?"


"maksud ibu?"


.


.


Selesai jam kampus Topan pergi ke perpustakaan untuk mencari buku referensi tentang mata kuliah fisiologi veteriner yang membuatnya sedikit pusing dan rumit ditambah dosen pengajar yang jarang masuk kelas, tepat di koridor fakultas Topan berpapasan dengan Pahlevi dan Degas.


"oh iya wan, tolong lu kunci ruang bem ya tadi gua lupa sama degas. nih kuncinya" kata Pahlevi sambil memberikan kunci ruangan Bem yang dia maksud pada Topan.


"oke lev, nanti gua kunci sebelum ke perpus" jawab topan, pahlevi hanya mengangguk sebagai respon, sedang Degas mengernnyit


"lu mau ngapain ke perpus lagi rajin amat pak, perasaan kemarin lu udah ke perpus?" tanya Degas dirinya teringat ketika topan membawa sebuah buku ke mesjid ketika sholat asar kemarin.


"gua baru kali ini gas ke perpus, dah lah gua duluan ya keburu dzuhur" jawab Topan menepuk pundak degas pelan sambil berlalu, mengabaikan Degas yang terlihat kebingungan.


Perpusatakaan, disinilah topan sekarang dia bukan lah orang yang hobi membaca buku atau mahasiswa yang suka diam di perpus, namun karena ada beberapa mata kuliah yang kurang dia pahami jadinya dia harus mempelajari lebih dalam lagi.


Baru saja dia membuka pintu perpustakaan pandangan ibu penjaga perpustakaan terlihat kaget, memilih abai Topan langsung menuju rak buku dan mulai mencari buku yang dia butuhkan. tak begitu lama Topan sudah menemukan buku yang dia cari.


"pengantar fisiologi veteriner, kamu pinjem buku itu lagi?" tanya ibu penjaga perpustakaan sambil menunjuk buku yang dia maksud pada topan,


Topan mengernyit bingung,


"pinjem lagi? jelas-jelas ini pertama kalinya saya pinjem buku bu" jawab Topan sambil menyimpan buku tersebut di meja bersama kartu mahasiswa di atasnya.


"buku ini buku yang sama percis sekali, tadi dan kemarin kamu meminjamnya" kata ibu penjaga terlihat ragu namun dia tetap menscan barcode bukunya.


"lihat, nama kamu Topan Irawan Dirgantara kan?" tanya ibu penjaga sambil membalikkan komputer memperlihatkan nama yang dia maksud, disana sudah tertera Topan meminjam dua buku yang sama di hari yang berbeda kemarin dan sekarang.


"ini kan tadi" gumam topan, disana jelas terihat jam berapa topan meminjamnya. topan mengalihkan pandangannya pada kunci yang dia pegang.


"ini buku terakhir yang boleh kamu pinjam selama seminggu, lihat semua sudah terisi dengan buku dan penerbit yang sama kamu tidak boleh meminjam buku lagi ya" kata ibu penjaga sambil memberikan buku berserta kartu mahasiswa milik Topan. Topan masih terdiam dia seakan teringat sesuatu. Tepat ketika dia menutup pintu perpustakaan sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya.


[calling]


Raden


"wan lu dimana, pahlevi nyariin di ruangan Bem" tanya Raden to the point.


"abis dari perpus gua----


" buru ke ruangan Bem sekarang wan" kata Raden yang langsung memutus sambungan.


Mendengar nada bicara raden perasaan topan langsung tidak enak, dia langsung berlari ke ruangan bem. ketika sampai topan merasakan atmosfir yang tak biasa, tepat ketika memasuki ruangan Bem dia mellihat degas dan yang lainnya menunduk di depan Pahlevi.


"ada apa ini?" tanya Topan, Pahlevi menoleh sedang degas dan yang lainnya masih menunduk.


"gua kan nyuruh lu tadi buat kunci ruangan bem, kenapa ngga lu kunci irawan" tanya Pahlevi dengan nada tinggi. Topan mengernyit


"udah gua kunci lev, ini kuncinya" jawab Topan yakin sambil mengeluarkan kunci dan menyimpannya di meja depannya.


"kalau udah lu kunci kenapa gua bisa masuk sekarang?" tanya Pahlevi menohok. Topan terdiam benar kalau sudah dia kunci bagaimana Pahlevi bisa masuk ruangan bem yang jelas-jelas sudah dia kunci tadi.


"tapi lev gua udah kunci tadi habis dari perpus---perpus--, Topan menggantungkan perkataannya potongan ingatan yang samar tiba--tiba saja masuk sedikit membuatnya pusing. pandangannya dia alihkan pada buku yang kini dia genggam.


"kunci sekarang" pungkas pahlevi dengan tegas sambil beranjak pergi keluar ruangan bem bersama yang lainnya hingga tersisa Topan dan Raden.


"jelas-jelas udah gua kunci pintunya den" kata Topan meyakinkan Raden.


"lu yakin wan?, buku itu bukannya udah lu pinjem kemarin?" tanya Raden sambil menunjuk buku yang di genggam Topan, raden jelas ingat ketika topan mengatakan akan meminjam buku sebelum ke mesjid kemarin tepat ketika raden hendak mengajak topan sholat.


"emang ya?"


"hari ini apa yang sama yang lu terima, atau kata-kata yang sama percis yang lu denger wan?" selidik Raden. Topan terdiam mencoba mengingat kegiatan apa saja yang dia lalui seharian.


"ngga ada den----ada------gua baru inget tadi pagi Derri ngasih kunci ke gua" kata topan dia langsung merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan kunci dari sana. kini di meja itu ada dua kunci yang sama percis yang topan terima di hari yang sama juga. Raden terlihat membuang nafas berat dia kemudian menoleh kearah Topan.


"gua tebak, habis itu lu ke perpus" kata Raden, topan mengangguk.


"iya"


"abis dari perpus lu ke kelas, selesai kelas lu ketemu sama pahlevi?" tebak Raden lagi. Topan terdiam tebakan Raden tidak pernah melesat, jadi itu sebabnya ibu penjaga perpustakaan berkata kalau dirinya sudah dua kali pergi ke perpustakaan dan meminjam buku yang sama.

__ADS_1


"berarti tadi pas lu balik ke ruangan Bem lu buka kunci wan bukan ngunci pintu karena lu udah ngunci tadi" terka raden. sedang Topan dia masih diam.


"coba lu cek tas lu wan, gua yakin di dalam tas lu pasti ada buku yang sama" kata raden, Topan langsung mengecek tasnya dan betul di dalam tasnya terdapat buku yang sama percis dengan buku yang sedang dia pegang sekarang. pengantar fisiologi veteriner.


"gua sama sekali ngga inget den" kata Topan lesu. dia langsung bersandar pada dinding saking lemesnya kakinya. raden menepuk pelan pundak Topan bermaksud menenangkan.


"untung tadi pahlevi balik lagi kalau ngga fatal, apalagi kalau terjadi apa-apa di ruangan bem lu yang salah karena terakhir pegang kunci, fokus irawan" kata raden. keringat dingin mulai membasahi punggung Topan dadanya serasa sesak detak jantungnya tidak beraturan tanpa memperdulikan Raden Topan langsung berlari keluar meninggalkan Tasnya disana.


Sedang di Rooftop Gardapati Badai tengah duduk di bangku semen sendirian sebelah tangannya mengapit rokok yang sesekali dia hisap perlahan-lahan. sedang di bawah kakinya terdapat beberapa bekas batang rokok yang sudah dia injak.


"hutang apa?" gumamnya, tadi pagi Badai bertanya prihal angka 13 yang Hujan lingkari semalam, namun ntah kenapa jawabannya sedikit menganggu pikirannya ketika Hujan menjawab kalau tanggal 13 yang di maksud itu waktu dia membayar Hutang.


"kenapa? lu punya utang kal?", badai menoleh sambil menginjak batang rokok barunya.


"anggara, gua kira siapa. lu jadi ketemu kakaklu kemarin?", tanya badai sambil melemparkan rokok ke arah anggara, anggara menggeleng.


"kakak gua sibuk, semenjak orang tua kita bercerai dia jarang ngasih kabar terakhir ngasih kabar pas dia bilang dia punya adik tiri" jawab Anggara mengambil satu batang rokok dari bungkusnya sedang badai kembali menyesap rokok barunya.


" adik tiri lu, lu tau dia siapa namanya?" tanya badai tangannya terulur memberikan gasolin ke arah anggara. Anggara menggeleng,


"gua mau ngasih tau sesuatu sama lu", badai menoleh menatap lamat muka sahabat kecilnya. Tepat ketika gasolin itu mengeluarkan api anggara langsung meniupnya dan menyimpannya di meja.


" sebenarnya gua punya adik, tapi ada sebuah kejadian dimana gua kehilangan adik kandung gua karena kebodohan gua sendiri" kata anggara rokok yang tadi dia keluarkan hanya dia pegang dan kini dia masukkan kembali. badai mengernyit sambil menginjak rokoknya,


"lu punya adik?"tanya Badai kaget karena setau dia Anggara hanya punya kakak itu juga karena anggara sering menceritakan kakaknya dulu dan ini pertama kalinya dia mendengarnya. sedari dulu anggara tidak pernah bercerita prihal keluarganya lebih dalam. memilih diam badai menunggu anggara melanjutkan ceritanya. Anggara mengangguk menoleh kearah badai.


"iya, lu tau ngga pyromania" tanya anggara, badai menggeleng karena setau dia anggara tidak pernah bercerita tentang pyromania yang dia maksudkan.


"lu inget ngga dari kecil gua bahagia banget pas liat kembang api----- anggara menggantungkan ceritanya pandanganya dia arahkan pada gasolin yang tadi dia simpan di meja, putaran ingatan yang memaksa masuk membuat anggara sulit bahkan tak mampu mengatakan apapun. Badai mengangguk dia teringat tatkala melihat Anggara seakan tanpa beban ketika sahabat kecilnya itu melihat kembang api. terlihat sangat bahagia.


"kalau belum siap jangan di ceritain gar gua ngga maksa ko, ian sama yang lainnya kemana?" tanya badai sambil menepuk pelan bahu anggara. anggara mengangguk. dia cukup bersyukur punya sahabat seperti badai, yang mengerti dirinya.


"kantin, eh gimana luka lu udah di obatin dibilang ke rumah sakit juga kemarin ngeyel sih lu ah" kata Anggara sesaat setelah dia teringat kejadian malam kemarin. badai menggeleng


"ngga penting gar, gua baik-baik aja lukanya udah di obatin semalam sama bang Alkana sama A irawan juga jadi kering tinggal gua kelopek" kata badai iseng membuat anggara kesal mendengarnya.


"kapan sembuhnya kalau lu kelopek kambing" kesal anggara.


"lagi pula tawuran udah biasa kan bagi kita, kenapa lu harus sekhawatir itu gar" tambah badai sambil membuang puntung rokok terakhirnya.


"memang tapi ini pertama kalinya lu terluka parah kal, ini bukan luka yang enteng lu bisa aja buta kemarin kal atau bahkan tewas. jangan sok jadi pelindung kalau lu sendiri aja perlu bantuan kal" kata Anggara sedikit kesal.


"anak mandala, tapi gua belum update sama namanya osisnya lelet kaya keong" sarkas Anggara.


"makanan datang" teriak Heru sedang Arva, Askala dan Gardian berjalan di belakangnya. mengekori. membuat badai dan Anggara kaget sepontan menoleh.


"ayo makan, gua udah liat lawan lu siapa. pasti menang gar gua yakin iya ngga secara Anggara itukan dewanya main catur" kata Gardian sambil duduk menyender di bawah badai, sedang badai langsung bersila di bangku semen setelah menyingkirkan beberapa bekas puntung rokoknya.


"btw luka lu gimana udah baikkan?" tanya Askala. badai hanya diam dia malas menjawab pertanyaan askala.


"lu lagi ada masalah as?" tanya Anggara tat kala dia tak sengaja melihat beberapa dadu kecil di genggaman Askala, askala terdiam terlihat meremat dadu kecil itu.


"sesuatu terjadi padanya, Tuhan lagi sayang kayanya sama Askala---, kata Heru sambil membuka box pitza dia menganggantungkan perkataannya membuat semua temannya menoleh kecuali Askala.


" kenapa pantat lu kerlap kerlip tar kalau sepotong-sepotong semeru" kata anggara penasaran bercampur kesal.


"buset, pantat apaan kerlap kerlip doalu ngga bakal di kobul banyak dosanya" jawab Heru jenaka, sambil menarik potongan pitza dan mulai memakannya.


"doa orang teraniaya di kobul lah, emang gua kalen islam tapi jarang sholat" jawab anggara tak mau kalah, sedang badai hanya diam tak berniat menyanggah sama sekali.


"lu juga sholatnya magrib doang, mending lu pikirin itu skateboard lu yang di ruang BK" tambah Gardian sambil membuka botol cola dan mulai menuangkannya ke dalam gelas.


"alah lu juga jarang ke gereja, ngga kaya si arva" jawab Anggara lagi membuat Arva menoleh karena mendengar namanya disebut.


"amen" kata Arva.


"eh tapi akhir-akhir ini gua sering ke mesjid ya meskipun di luar doang" kata badai tiba-tiba, membuat semua temannya menoleh kearahnya bersamaan. Badai kembali teringat dimana Hujan memaksanya bangun untuk ikut sholat subuh berjamaah kemesjid. bukannya malah ikut sholat kedalam Badai malah menyusun sendal satu persatu di depan mesjid. tanpa sadar badai tersenyum ketika mengingat bagaimana mimik muka topan dan hujan setelah keluar dari mesjid.


"tunggu itu lukalu udah kering?" tanya Arva. badai menoleh menghela nafas sejenak kemudian mengangguk.


"baru aja gua sama Heru rencana mau bawa ke rumah sakit nanti pas pulang sekolah" kata Arva, badai menggeleng terlihat tak tertarik menjawab sedikitpun.


"lu lagi ada masalah apa as" tanya badai kearah Askala dirasa Askala tak kunjung menjawab badai melempar pandang kearah Heru seakan meminta jawaban. sedang Heru yang di tatap seperti itu oleh badai langsung menyimpan pitzanya.


"gua ngga berani ngomong tunggu dia aja yang ngomong ini menyangkut keluarga besar Ardana soalnya" pungkas Heru.


"emang kenapa" tanya Arva, Heru menoleh, pandangannya dia alihkan pada askala dan juga Gardian.


"sodara tiri gua, musuh bebuyutannya si Arva di olimpiade" kata Askala. membuat semua temannya terkesiap kaget bahkan Arva berhasil tersedak cola.

__ADS_1


"maksud lu--- /uhuk--uhuk--uhuk...


"udah gar lupain, makan dulu nih" kata Gardian menengahi sambil memberikan potongan pitza ke tangan Anggara.


"mampus, ko bisa as?" tanya badai, sambil menarik pitza dari tangan Anggara. sedang Anggara tak berkomentar sedikitpun.


"kal udah kita makan dulu aja, biarin askala tenang dulu kasihan dia shock banget pas tau soalnya" Gardian kembali menengahi sambil menarik potongan pitza kedua kalinya, yang dia kasih lagi untuk anggara.


...•••...


sedang di sebuah kafe tepatnya di meja barista, guntur tengah sibuk memilih warna cat yang cocok untuk kafenya. seperti janjinya dulu dia akan mengecat ulang seluruh kafenya kembali setelah dana yang dia ajukan cair.


"jun menurut kamu untuk di bagian barista warna yang cocok apa?" tanya guntur, menoleh ke arah Juna yang berdiri tepat di depannya.


"putih pak, bagus" jawab Juna, sambil menunjuk pallet warna di depannya. Guntur terlihat menimbang,


"jangan putih tong kalau putih nanti kelihatan kotornya terus cepet buluk" sanggah laka, yang berdiri di samping guntur.


"ijo bagiamana?" usul Laska yang duduk di samping Laka. baru aja Laka akan protes guntur langsung menggeleng.


"kalau ijo sedikit aneh" kata Guntur, sedari tadi otaknya dipenuhi berbagai pallet warna yang random hingga tiba-tiba laska mengatakan warna Ijo spontan kafe ijo langsung tergambar di imajinasinya, sedikit aneh.


"jangan ka nanti kaya tumbuhan" sanggah Regal.Laka mengangguk, begitu juga guntur.


"ungu" celetuk mahesa membuat Guntur dan yang lainnya kaget dengan pemikiran mahesa. gambaran kafe yang berwarna ungu pun langsung tergambar di otak guntur, dia spontan langsung menggeleng.


"masa kafe ungu, tar disangka clickers lagi" sanggah Juna cepat.


"terus warna apa?, gimana kalau kita nyari referensinya di mbah google" usul Laska.


mereka sudah mengabiskan berjam-jam hanya untuk memilih warna kafe yang tak kunjung mendapatkan pilihan satupun. sedang diatas tepatnya di lantai dua terdengar suara drama yang sedang di putar.


"ini mau sampai kapan kita diam merhatiin palet warna sih" tanya Mahesa. karena sedari tadi mereka tak kunjung mendapatkan warma yang mereka inginkan, meskipun sudah di bantu mesin pencarian pun tetep saja ada sanggahan sana-sini. membuat Guntur terlihat sulit memutuskan.


"gimana kalau kita----


"silahkan masuk maaf tuan mau pesen apa?" tannya Juna yang tiba-tiba memotong sambil beranjak menghampiri seseorang.


"selamat siang, saya mau bertemu dengan pak---"


"oh pak awangsa silahkan pak masuk saya kira tadi customer" kata laka berjalan menghampiri, menyambut kedatangan Juan.


"perkenalkan saya Juan kasendra Awangsa saya kemari mewakili bapak Rendra Pangestu maaf beliau belum bisa hadir karena masih dalam perjalanan bisnis di luar negri" kata Juan menjelaskan maksud kedatangannya.


"oh bukannya anda bapak kosnya adik saya ya javier?" tanya Juan tatkala dia melihat Guntur yang beranjak dan mulai menghampirinya.


"iya, kamu betul. silahkan duduk, mau minum apa?" kata guntur sambil mempersilahkan juan duduk di salah satu bangku kafe.


"saya pesan kopi----- ah ini, kopi ini tulisannya pudar saya tidak bisa membacanya maaf" tunjuk juan pada salah satu menu yang dia maksud. guntur mengangguk sambil memberikan buku menu kepada juna.


"begini-----tas itu" guntur menggantungkan perkataannya, karena tas yang tak asing diambil seseorang yang baru saja memasuki kafenya . orang itu terlihat menghampiri Juna di meja barista, baik laka mahesa dan Regal terlihat menyapanya.


"tasnya kenapa?" tanya juan bingung.


seakan teringat sesuatu, namun guntur kembali abai.


"ngga kenapa-kenapa, laka ambilkan laptop saya di ruangan sekarang" titah guntur, sedang laka langsung bergegas ke lantai dua.


"dia teman kamu jun?" tanya guntur tepat ketika Juna menyajikan kopi pesenan Juan di meja. juna mengangguk


"iya pak, namanya Raden barista juga sama seperti saya" jawab Juna. ntah kenapa guntur seakan tak asing mendengar namanya.


'raden'


...•••...


sedangkan tepatnya di pos satpam Mandala Hujan terlihat tengah fokus bermain catur dengan pak cahyo.


"skak, ah gimana sih kamu bagaimana kamu akan menang kalau baru main aja kamu udah kalah javier" cerocos pak cahyo.


"mending kalah dari pada sma kita ngga ada perwakilan lomba catur sama sekali pak" jawab hujan, karena dia sama sekali tidak bisa bermain catur, kalau saja ada salah satu murid yang mau mewakili hujan tidak akan maju.


"lawan kamu itu murid yang udah punya track record tinggi di dunia percaturan. hampir tiap lomba catur dia selalu berhasil membawa piala kemenangan" kata pak cahyo sambil sesekali menyesap kopinya. hujan mengangguk karena dia sempat melihat profil lawannya tadi, itu sebabnya banyak murid Mandala yang mundur, karena bagi mereka sia-sia saja. mereka tetep akan kalah.


"maka dari itu kamu harus benar-benar belajar dari ahlinya, seperti saya ini" kata Pak Cahyo dengan nada jumawa, apa yang dikatakan pak cahyo sepenuhnya benar hujan sempat mencari tahu tentang lawannya dia cukup kaget ketika melihat beberapa piala kemenangan yang berhasil di dapatkan lawannya, bahkan lawannya itu sempat menjadi perwakilan provinsi dalam bidang olahraga catur. sedang dirinya memegang bidak catur aja jarang.


"bapak emang pernah menang main catur" tanya Hujan, pak cahyo terlihat terdiam tangannya mengudara tak jadi meminum kopi


"jelas------tidak" jawabnya pelan diakhir. membuat hujan menghela nafas berat.

__ADS_1


'udah gua duga'


__ADS_2