Best Seller Man

Best Seller Man
GEMPA


__ADS_3

..."SAKING HEBATNYA GUA PUNYA ILMU TELEPORTASI"...


"Tuan muda hilang lagi" Teriak nyaring dari salah satu rumah mewah di kawasan perumahan elit, membuat kaget seisi rumah.


Seorang laki-laki kini tengah tertidur, dengan tenang tanpa terganggung dengan kebisingan jalan. Tunggu kebisingan jalan? Iya karena laki-laki ini tengah tertidur di trotoar jalan raya dengan menggunakan piyama biru kesayanganya,


"Eh itu anak SMA Gardapati ya yang pake motor matic"


"Wah gila sih, berani banget ngelawan polisi tuh anak"


"Oh pantes anak Gardapati sih"


"Ya ampun, anak sekarang bikin geleng-geleng kepala"


Dan banyak lagi.


Hingga beberapa menit setelah kericuhan dari pengendara, kelopak mata laki-laki itu terbuka. Dia mengerjap, menyesuaikan penglihatannya. Kemudian menghela nafas. Hal serupa kembali terjadi.


'lagi?' -batin laki-laki itu.


"Dimana ini?" Katanya sambil terbangun. Masalahnya ini tentu bukan di kamarnya. Karena semenjak kapan di kamar banyak kendaraan umum berlalu lalang.


"Itu bukannya anak SMA Mandala ya yang di kejar polisi sama anak Gardapati"


"Iya kalau dari pakaiannya sih anak SMA Mandala"


Laki-laki ini terduduk, namun pandangannya jatuh pada dua motor yang tengah kejar-kejaran yang masih dapat di tangkap indra penglihatannya. Walau lumayan jauh.


"Jam berapa ini?" Tanyanya lagi. Sambil memegang kepalanya yang sedikit sakit. Namun laki-laki ini tak kunjung berdiri. Nyawanya masih belum ngumpul semua. Hingga.


"Eh orang gilanya bangun" Teriak salah satu bocah yang tak sengaja lewat di trotoar itu.


'disebut orang gila gua' -batin laki-laki itu.


"Ganti jalan aja, ayo takut di kejar" Jawab anak satunya lagi.


"Jalan satu-satunya kesini gimana dong"


"Bangun orang gila nya bangun lari ayo lari"


Percekcokan anak kecil yang ketakutan karena dirinya membuat kesadarannya sedikit kembali walau tidak sepenuhnya.


"Saya bukan orang gila ya bocah" Katanya. Ternyata selain menghalangi dirinya juga menakuti semua orang yang mau lewat. Iya, disangka orang gila baru. Karena pakaiannya masih bagus.


"Kalau bukan orang gila situ apaan dong" Tanya anak itu lagi.


"Oalah Mas Alkana" Teriak seseorang membuat laki-laki yang dipanggil Alkana itu spontan berbalik, dilihatnya seorang laki-laki paruh baya yang kini tengah menetralkan nafasnya karena berlari. Raut wajah cemas dan juga khawatir yang menyatu dari mimik muka laki-laki paruh baya itu.


"Pak Darma" Bisiknya penglihatannya tidak begitu jelas karena baru bangun dari tidur.


"Mas seisi rumah sekarang lagi nyari mas Alkana" Kata pak Darma sambil berjalan kearah laki-laki itu.


"Pak saya dimana?" Tanya laki-laki itu.


"Mas Alkana di trotoar jalan raya yang sering mas Alkana lewatin kalau ke kampus" Kata pak Darma sambil membantu laki-laki itu bangun. Sedang laki-laki itu hanya diam tak merespon.


'Jalan raya, setidaknya gua ngga berakhir di jurang'- batin laki-laki itu.


Diam-diam laki-laki itu bersyukur. Keanehan yang menerpa hidupnya selalu membawanya pada kematian tak terduga. Tidak lucu kan jika dia tiba-tiba ada di surat kabar dengan headline meninggal di jurang karena tidur berjalan. Sungguh itu sangat konyol.


"Ayo mas kita pulang, yang lain pasti khawatir dengan mas Alkana. Oalah baju mas Alkana sedikit kotor" Cerocos pak Darma, karena baju Alkana sangat kotor mungkin karena terlalu lama tertidur di trotoar jalan.


Alkana.Laki-laki itu dan pak Darma kini memasuki sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari laki-laki itu tertidur tadi.

__ADS_1


"Mas Alkana malam pegang kunci ya" Tanya pak Darma sambil menyetir.


"Saya ngga tau pak, yang saya inget semalam saya pulang larut banget" Jawab Alkana. Yang di jawab anggukan dari pak Darma.


Alkana Gempa Naraya, disapa Alkana atau Gempa. Laki-laki yang genap berusia duapuluh dua tahun mengambil jurusan Hukum di salah satu universitas bergensi. Selain itu karena kepinterannya dia juga salah satu asisten dosen yang sangat terkenal.


"Tadi mas Arsa sampai hampir cek cok sama mas Arta" Jelas pak Darma, mendengar nama sang kakak gempa langsung kaget


"Terus pak? Eh tapi hubungannya apa?" Jawab Gempa.


"Itu mas Arsa kan tadi harus nya pagi-pagi dia menyelidiki ke TKP tapi karena mas Alkana ilang jadi mas Arsa lebih milih mencari mas Alkana dulu dari pada ke TKP" Jelas pak Darma. Gempa hanya mengangguk.


Ardasa dan Arsaka atau sering Gempa panggil Arsa dan Arka adalah kedua kakak kembarnya, mereka termasuk kembar identik, sangat mirip tak bisa dibedakan. Keberadaan Ardasa dan Arsaka selalu mengingatkannya pada serial film kartun favoritnya Upin dan Ipin. Bedanya kedua kakak kembarnya dibedakan dari letak tahi lalat di samping matanya, berbeda dengan Upin dan Ipin yang dilihat dari rambutnya. Botak dan tidak. Dan lagi dari cara berpakaian keduanya, Arsaka jauh lebih rapih dari pada Ardasa.


Apabila di tilik lebih dekat perbedaan sifat dari kedua kakaknya terlihat sangat kontras. Sifat Ardasa yang memiliki pemikiran sumbu pendek sedang Arsaka memiliki pemikiran yang panjang. bijak, dan juga dewasa. Tak heran Ardasa lebih mudah tersulut emosi dari pada Arsaka padahal keduanya sama. Kedua kakaknya hanya berbeda lima menit saja. Namun sifat dan sikap keduanya sangat berkebalikan.


Sekitar lima belas menit mereka sampai, baru saja mobil berhenti belum sempat membuka pintu, pintu mobil belakang dimana Gempa duduk sudah terbuka. Menampilkan seorang laki-laki degan pakaian khas kantor yang sedikit acak-acakan. Dia Arsa salah satu kakak kembar Gempa.


"Alkana" Teriaknya.


"kak Arsa-"


Belum selesai Gempa meneruskan perkataa nya pelukan hangat dari sang kakak yang tiba-tiba membuatnya terdiam. Memang setiap Gempa hilang dari rumah Ardasa pasti akan memeluknya, dia hanya takut kehilangan adik semata wayangnya itu. Walau punya adik yang berbeda dari yang lain Ardasa sangat sayang dengan adiknya. Dia bahkan rela kehilangan salah satu kasusnya sebagai pengacara demi mencari sosok adik yang dia sayangi itu.


"Kamu kemana? Dimana pak Darma menemukan kamu? Kenapa pakaian kamu kotor? Ada yang sakit? " Tanya Ardasa bertubi-tubi. Sedang sang adik hanya mampu mengerjap pertanyaan bertubi-tubi sang kakak membuatnya kebingungan untuk memberikan jawabannya. Yang mana yang harus pertama dia jawab.


"Tadi saya nemuin mas Alkana di trotoar, bajunya kotor mungkin karena terlalu lama tertidur di trotoar jalan raya" Jelas pak Darma yang baru saja keluar dari mobil. Pak Darma adalah supir dari keluarga Naraya.


"Jalan raya, trotoar. Ya ampun Alkana" Teriak Ardasa kaget. Terkadang Ardasa tak habis pikir kenapa sang adik bisa seaneh ini. Dari keluarga Naraya memang Gempa lah yang paling aneh. Ntah dari gen apa keanehan sang adik bahkan dirinya dan kembarannya Arsaka tidak seaneh adiknya ini padahal gen mereka sama.


"Alkana"


"Kak Arka" Katanya sambil berbalik dan menemukan Arsaka kakak tertuanya, baru keluar dari mobil yang bahkan masih sangat jauh terparkir. Sedang sang kakak kini tengah berlari kearah adiknya itu. Hal yang sama di lakukan oleh Arsaka, memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan sang adik. Bagaimana tidak khawatir jika hampir setiap hari adiknya selalu ditemukan hilang dari tempat tidur. Penyakit aneh yang mendera sang adik membuat sang kakak kewalahan untuk memastikan adik tersayangnya tetap baik-baik saja.


"Nyari kamu lah, kamu sendiri kemana? Dari mana? Ada yang lecet ngga?" Tanya Arsaka sambil menggoyang-goyangkan tubuh sang adik, sedang sang adik hanya bisa menggaruk kepala tak gatal. Masalahnya ini bukan sekali dua kali dirinya seperti itu namun kedua kakak kembarnya itu selalu saja mengkhawatirkannya.


"Kamu ngga jadi ke TKP sa?" Tanya Arsaka yang melihat kembarannya masih berada di rumah kediaman Naraya.


"Jadi ka, nanti. Aku sudah bilang sama yang lain untuk izin mencari adikku dulu" Jelas Ardasa sambil mengacak rambut adiknya.


"Yaelah ka, aku udah dewasa udah gede bentar lagi wisudaan masih aja diperlakuin kaya gini" Kata Gempa sambil menyingkirkan tangan Ardasa . Kakak keduanya.


"Kamu jangan kaya kakak kamu, tadi dia seenak jidat mau mengundurkan diri dari kasus yang sedang dia pegang. Hanya gara-gara pagi-pagi dia disuruh ke TKP terus ngamuk denger kamu ilang" Jelas Arsaka sambil memukul pundak Ardasa.


"Terus ka" Tanya Gempa kepo.


"Ya tadi kan kamu hilang, mana bi Sumi nangis lagi. Bilang kamu ngga ada di kamar, ya shock lah, kamu juga ka kalau di posisi aku bakal kaya gitu" Sanggah Ardasa.


"Bi Sumi juga nelpon aku kali sa, bilang Alkana ilang makanya aku cepet datang. Bedanya otak aku masih waras ngga konyol kaya kamu sa" jawab Arsaka. Sedang Gempa, sang adik hanya tertawa. Sikembar memang tidak pernah akur. Pikir Gempa.


"Ya namanya juga kaget" Jawab Ardasa tak mau kalah.


"Tiap hari juga pas kamu denger Alkana hilang kaget sa" Sanggah Arsaka.


"Yah masa denger adik ilang bahagia, lawak bener" Jawab Ardasa lagi.


Kedua kakaknya memang sudah tidak tinggal serumah dengannya karena tahun ini kedua kakaknya genap berusia dua puluh lima tahun. Sedang adat kebiasaan keluarga Naraya jika anaknya sudah berusia dua puluh lima tahun anaknya harus mandiri, keluar dari kediaman Naraya.


"Ini bukan sekali dua kali kak aku alamin" Kata Alkana


"Ya tapi kan" Ucap kedua kakaknya bersamaan.


"Udah ah, aku mandi dulu ada tugas kuliah" Kata Gempa sambil melangkah meninggalkan kedua kakaknya yang terdiam dengan seribu sumpah serapah tertahan di tenggorokkannya untuk sang adik tercinta. Bagaimana tidak kedua kakaknya benar-benar kalang kabut mencari adiknya itu tapi dengan santainya adiknya itu berkata seperti itu. Masih sempat memikirkan tugas kuliah, disaat nyawanya sudah tak bisa di tebak kapan lepas dari badannya.

__ADS_1


Arsaka adalah seorang pengacara terbaik begitu juga Ardasa, sikembar memilih ikut jejak sang ayah menjadi seorang pengacara. Keluarga Naraya hampir semua berkecimpung di ranah hukum, termasuk si kembar. Setelah menuntaskan magang dua tahun di kantor Advokat, si kembar langsung di angkat menjadi pengacara. Arsaka termasuk pengacara hukum bisnis, sedang Ardasa termasuk pengacara hukum pidana.


Arsaka dan Ardasa sendiri selalu bisa memenangkan klien dipersidangan dengan bukti yang valid, tanpa menjatuhkan salah satu pihak. Keduanya bekerja dalam ruang lingkup yang sama sebagai penasehat hukum, tapi keduanya sudah sepakat untuk tidak saling bertemu ketika di meja hukum. Alias tidak saling melawan dan menjatuhkan satu sama lain ketika di persidangan.


"Mas Arsa sama mas Arka mending masuk aja kedalam dari pada berdiri di luar" Kata pak Darma yang melihat keterdiaman sikembar yang baru saja di tinggal adiknya ke dalam.


"Saya mau berangkat ke kantor pak" Jawab Arsaka sambil berlari kearah mobilnya.


"Saya mau ke TKP" Jawab Ardasa yang juga melakukan hal yang sama, memasuki mobil.


"Oalah, sudah biasa" Kata pak Darma. Yang ditinggal seorang diri oleh si kembar. Arsa dan Arka.


Sedang di dalam kamar Alkana masih terdiam, bohong kalau dia tidak kepikiran dengan penyakit anehnya itu. Dia hanya selalu bersikap biasa saja agar kedua kakak kembarnya itu tidak khawatir dengan dirinya.


Cling!


[Chat]


Kelvin


Dimana bos? Pak Kenan absen lu suruh ngisi kelas.


Masih ingat dengan dirinya yang seorang Asdos? Iya dia seorang asisten dosen yang terkenal tampan dan mempunyai banyak penggemar bukan hanya fakultas hukum. Pak Kenan adalah Dosen mata kuliah hukum Perdata, dan dari sekian mahasiswa jurusan hukum ntah kenapa Gempa harus jadi orang terpilih sebagai asisten dosen si Hukum Perdata. Ntah dirinya harus senang atau menangis. Sebenarnya kesalahan apa yang dia perbuat dimasa lalu sampai dia menjadi asisten dosen seorang Fabian Kenan Balaga.


Tak perlu lama dalam membereskan keperluannya. Dia hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit laki-laki yang genap usia dua puluh dua tahun di tahun sekarang itu sudah rapih dengan kemeja warna biru navynya. Sambil berjalan menuruni anak tangga dia memainkan kunci mobilnya santai.


"Loh mas Alkana sudah mau berangkat?" Tanya Bi Sumi pembantu di keluarga Naraya.


"Iya bi, aku makan di kampus aja" Jawab Gempa ramah, anak bungsu keluarga Naraya itu memang terkenal dengan keramahannya.


"Hati-hati mas Alkana terkena macet" Kata bi Sumi yang baru saja menonton berita kalau jalanan kota tengah macet-macetnya.


"Udah biasa bi, udah resiko hidup di kota macet" Jawab Gempa sambil terkekeh.


Gempa memasuki mobilnya, dengan tenang dia melajukan mobilnya dengan kecepatan ringan. Bersenandung ria seakan apa yang menimpa hidupnya sudah biasa dia lalui. Bahkan efek nya pun sudah turut dia rasakan.


Sekitar setengah jam Gempa sampai, dia langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian keluar dengan santai, matanya menatap kearah lapangan yang tak jauh dari fakultasnya. Pandangannya jatuh kepada laki-laki yang berdiri di tengah lapang, ntah siapa.


Belum sempat kakinya melangkah teriakan membahana dari seseorang membuatnya spontan menutup telinga. Disertai kata-kata toxic yang tidak pantas diucapkan seorang asisten dosen.


"ALKANA LAMA BANGET ORANG GANTENG KESEPIAN SENDIRIAN" teriaknya yang dengan spontan seluruh pasang mata menatap mereka, Gempa sedikit malu. Gempa yang melihat kehadiran sahabat gilanya itu hanya bisa merotasikan matanya jengah. Kelvin selalu membuatnya berpikiran bahwa, membunuh orang itu legal dan tidak dosa.


"Lu sendiri ngapain diem disana ngitungin daun yang jatuh?" Kata Gempa. Dagunya menujukkan letak Kelvin berdiri. Di dekat pohon yang tak jauh dari lapangan.


"Habis dari perpustakaan gua" Jawab Kelvin sambil menunjukan buku hukum internasional yang baru saja dia pinjam dari perpus.


Gempa hanya mengangguk, memang lapangan itu bersebrangan dengan perpustakaan kampus mereka.


"Pak Kenan ada chat lu ngga? Suruh ngisi kelas?" Tanya Kelvin.


"Kaga, tuh dosen traveller kan sukanya yang dadakan. Dikira otak gua otak Albert Einstein apa" Jawab Gempa sedikit kesal. Pasalnya dosen yang terkenal hobinya bepergian itu selalu saja memberitahunya dengan mendadak ntah itu bagian staf yang menelponnya atau lewat sahabat gilanya ini. Kelvin. Lalu untuk apa dia mempunyai nomor dosen itu kalau dia saja tidak pernah di hubungi sama sekali. Untuk koleksian? Mohon maaf, pak Kenan bukanlah orang penting yang harus dia koleksi nomor ponselnya, karena pak Kenan bukan dosennya. Sungguh Gempa ingin bertanya tepat di hadapan si dosen. Pak gunanya bapak save nomor saya untuk apa? Namun dia masih sayang nyawa juga kuliahnya.


"Pak Kenan emang paling the best" Jawab Kelvin. Sambil tertawa.


"The best, kepala lu kotak" Jawab Gempa sinis, dia kepalang kesal dengan dosen hukum perdata itu. Sedang Kelvin hanya tertawa tak henti. Ingin rasanya Gempa memasukan batu atau apalah itu kedalam mulut Kelvin.


"Adudu dong gua" Jawab Kelvin sambil berpikir.


"Sabar gua punya sahabat ajaib kek lu" Kata Gempa sambil berlalu.


"I love u tooo Alkana" Jawab Kelvin jenaka sambil berlari menyusul Gempa.


"Jijik" Teriak Gempa.

__ADS_1


__ADS_2