
Badai kini tengah duduk bersama dengan dua polisi di depannya, mukanya babak belur dengan luka sayat di pipi kanannya. Sudut bibirnya robek, rasa anyir sesekali dia rasakan tatkala tak sengaja lidahnya menyentuh bagian ujung bibirnya. Meskipun seperti itu ntah kenapa tak ada raut penyesalan dari muka Badai. bebal.
"Bagaimana kalau kita ambil jalan keluarnya saja pak" Kata Farhan, orang yang dipercayai ayahnya untuk menjemput Badai dari kantor polisi.
"Maaf kami tetap harus menahan anak ini sampai besok pak" Jawab polisi itu kekeuh.
"Maaf, apakah anda ayah dari anak ini?" Tanya polisi satunya lagi.
Farhan menggeleng, terdiam setelahnya pandangannya jatuh pada Badai yang dari tadi bungkam.
"Bukan, saya wali dari anak ini pak. Ayahnya sedang sibuk tidak bisa di ganggu" Jawab Farhan.
'Bohong' -batin Badai, dia tau ayahnya tidak akan mau menjemput dia di kantor polisi. Orang tua mana yang tidak malu menjemput anaknya di kantor polisi, ayahnya pasti malu.
Badai hanya tersenyum mengejek. Sesekali dia berdesis, ketika dia mengangkat bibirnya dia akan merasakan sakit di bagian pipi yang terkena sayatan.
" lebih baik om pergi, mending saya disini saja mungkin saya bisa tenang" Jawab Badai tanpa ragu. Membuat dua polisi di depannya terhenyak kaget. Orang mana yang ingin tinggal di jeruji besi, pikir si polisi itu.
"Apa maksud kamu kalen, pak saya akan berikan berapapun uangnya pak saya akan tebus" Jawab Farhan sambil memohon kepada dua polisi di depannya.
"sudahlah, jangan terlalu berlebihan om. mungkin dengan tinggal disini hidup saya damai benarkan pak polisi" jawab Badai membuat Farhan menggelengkan kepala nya tak habis pikir dengan jalan pikir anak temannya itu.
"Kami harus bertemu dulu dengan orang tua dari anak ini pak" Jawab salah satu polisi disana.
"Tapi-
__ADS_1
" Saya ibunya " Teriak seorang perempuan yang baru saja masuk, dengan balutan dress mahal yang mampu membuat siapapun tercengang dengan harganya. Dia Wendi. Ibu tiri Badai. sedang Badai hanya bisa berdecih apalagi melihat pakaian yang dikenakan perempuan itu.
'mau ke kantor polisi apa mau fashionshow' -batin badai.
"Anda ibu dari anak ini? " Tanya polisi itu tatkala melihat Wendi sampai di depan mereka. Wendi mengangguk, berbeda lagi dengan badai yang langsung menolak dengan gamblang.
"dia-
"Bukan dia bukan ibu saya pak" Jawab Badai. Membuat kaget polisi yang ada disana.
"Saya ibunya " Jawab Wendi lagi. Kedua polisi itu hanya bisa terdiam sambil berbalik secara bergantian melihat kepada Wendi dan juga Badai. Badai yang terus membantah dan Wendi yang terus berkata kalau dia ibunya. yang mana yang benar?
"IBU SAYA ADA DI RUMAH SAKIT JIWA" teriak Badai membuat semua orang yang ada disana terarah kepadanya.
Wendi terdiam terhenyak kaget, dia baru tahu fakta bahwa ibu Badai di rumah sakit jiwa. Semuanya terdiam tak ada yang membuka mulut satupun sebuah pengakuan yang membuat siapapun tercengang. Ntah harus iba atau kasihan.
"Baiklah, untuk kali ini kamu saya bebaskan. Tapi jika kamu membuat keributan di jalanan dan juga tawuran lagi kamu saya tahan" Final polisi itu.
Akhirnya Badai dibebaskan, dia pulang bersama Wendi dan juga Farhan.
Selama perjalanan badai hanya terdiam. Ponselnya dari tadi berdering nampaknya itu panggilan dari teman-temannya namun tetap badai abaikan.
"Kita ke rumah sakit dulu, kalen harus diobati" Kata Wendi kepada Farhan. Farhan hanya mengangguk. Jauh dilubuk hatinya Farhan sebenarnya khawatir dengan kondisi Badai. Bisa di bilang Farhan adalah orang yang di percaya Tanu untuk mengurus Badai ketika dia tidak ada. Jadi Farhan sudah tau semua tentang Badai. Dimulai dari dia suka tawuran, kebut-kebutan di jalanan sampai berakhir dijeruji besi. Ini kesekian kalinya dia menjemput Badai di kantor polisi. Seakan sudah biasa Badai rasakan Farhan bahkan tidak melihat raut penyesalan dari wajah Badai. Dulu Farhan kira Halilintar akan tumbuh menjadi anak yang pendiam, dan juga anti social. Namun dia salah Halilintar justru tumbuh menjadi anak badung di luar batas yang bahkan tak ada duanya.
"Ngga usah, toh ini udah biasa kan? " Jawab Badai, sambil bersandar bahkan rasa sakit yang dia rasakan tidak setara dengan rasa sakit hasil cambukan sang ayah ketika nilai Badai turun.
__ADS_1
"Luka sayat kamu harus diobati sayang" Jawab Wendi. Dia memang ibu tiri bagi Badai namun Wendi mulai menyayangi Badai apalagi ketika dia melihat secara langsung jika Badai sering disiksa oleh Tanu akibat hal sederhana. nilai yang turun. Terkadang Wendi tak habis pikir dengan pikiran Tanu, kenapa dia tega menyiksa anaknya sendiri hanya karena peringkat parallel badai turun. Efek jera mungkin bagi Badai namun itu salah menurut Wendi. badai tidak harus diperlakukan seperti itu.
"Ngga seberapa dengan apa yang selalu ayah lakukan" Jawab Badai. Matanya sesekali terpejam merasakan rasa sakit yang menguar dari seluruh tubuhnya. Wendi terdiam apa yang diutarakan anak tirinya itu benar. Bahkan ketika Badai dicambuk pun dia tetep diam tak ada perlawanan, raut mukanya tetep sama seakan tak merasakan sakit dari hasil cambukan Tanu. mungkin karena efek sudah biasa?
"Yaudah kita langsung pulang, kamu mamah obati aja ya dirumah" Kata Wendi tersenyum kearah badai.
Badai menggeleng.
"ck,lagian nanti juga kering sendiri" Jawab Badai.
"Tapi sayang-
" Sudahlah, tante ngga usah pura-pura baik" Jawab badai lagi sesaat sebelum dia terpejam. Dari pada dia harus mendengarkan perkataan dari ibu tirinya lebih baik dia tidur. Walau faktanya dia tidak bisa tidur. Orang mana yang bisa tidur dalam kondisi seperti badai? Bahkan untuk tidur nyenyak barang semenit saja sepertinya sulit.
Jawaban Badai membuat Wendi terdiam. Memang sejak dirinya menikah dengan Tanu, Badai tidak pernah mau menerima dirinya. Wendi tidak tau apa sebabnya, yang dia tau Badai sangat sayang kepada ibu biologisnya dan juga kakaknya. baru tadi Wendi tau sebuah fakta jika ibu biologis Badai ternyata di rumah sakit jiwa. Karena semenjak dia berhubungan dengan Tanu, ayah satu anak itu tidak pernah bercerita perihal sang mantan istri.
Perjalanan dari kantor polisi pun tidak memakan waktu lama, mereka sudah sampai di depan rumah.
"Itu mobil Tanu" Kata Farhan, sambil menunjuk salah satu mobil silver yang terparkir apik di depan rumah. Wendi terlihat sangat khawatir begitu juga Farhan. Namun berbeda dengan Badai dia nampak tenang dan tak berekspresi sama sekali.
'Welcome ajal goodbye Dunia-batin Badai sebelum membuka pintu mobil.
Melihat Badai yang sudah keluar , dengan cepat Farhan dan Wendi pun keluar menyusul Badai.
"Kalen tunggu" teriak Farhan namun Badai memilih membuka kenop pintu dan berjalan memasuki rumah.
__ADS_1