
Badai kini tengah berlari di gang sempit kepalanya sesekali menoleh ke belakang, nampaknya gang sempit menjadi temannya saat dia kesusahan mencari jalan keluar.
Remaja laki-laki itu terus berlari, tanpa peduli dengan apapun. Dia harus segera pergi sebelum kelima bodyguard ayahnya itu berhasil menemukannya dan menyeretnya ke sekolah. Atau lebih parah menghadap Tanu. Ayahnya.
Hingga dari kejauhan dia melihat lima orang bodyguard ayahnya, kini tengah mengejarnya.
"Sial" Umpatnya namun tak menghentikan kecepatan larinya, untung gangnya sedang sepi. Tak ada tukang nasi uduk atau tali jemuran seperti kemarin apalagi ibu-ibu pake daster bunga-bunga.
Tangannya merogoh saku blazer dan mengeluarkan ponselnya kemudian mendial nomor Anggara.
[Calling]
Anggara.
"Bantu gua, gua share loc sekarang" Katanya tatkala merasa jika di sebrang Anggara sudah mengangkatnya. Nafas dia masih tersenggal, manik matanya terus berkeliaran takutnya lima orang bodyguard tadi berhasil mengejar larinya.
Dan benar saja lima orang bodyguard ayahnya itu berhasil mengejarnya. Dengan cepat dia kembali berlari. Kali ini sambil melepaskan blazer nya dan membuang tasnya sembarang hanya untuk mengulur waktu. Kemudian dia bersembunyi di salah satu bilik yang lumayan aman menurut dirinya. Namun sial diantara kelima orang tadi ada yang berhasil menemukan dirinya.
"Mampus" Keluhnya. Tamat sudah nyawanya.
Dengan cekatan Badai menghindar tanpa menyerang atau bahkan melukai kelima orang berbadan besar itu, karena mereka tidak salah jadi disini Badai tidak harus melukai mereka. Ayahnya lah dalangnya. Orang yang memiliki predikat egois nomor satu menurut Badai.
Dia berusaha melepaskan diri, padangannya jatuh pada tas dan juga blazer yang dipegang salah satu orang berbadan besar tadi.
'Sial cepat sekali mereka menemukannya' –batin Badai. Tak heran mereka dijadikan bodyguard oleh ayahnya, mereka sangat cekatan. Dan tentunya sudah terlatih.
"Lepas" Badai terus meronta minta di lepaskan sekali lagi tanpa menyerang, kelima orang berbadan besar tadi pun tidak melakukan penyerangan lebih hanya mencekal kedua pergelangan tangan Badai.
Hingga matanya menangkap salah satu orang berbadan besar itu tengah mengangkat telpon, sial pasti mereka menelpon ayahnya. Dengan terpaksa Badai melakukan perlawanan, menendang hingga salah satunya ada yang terhuyung ke belakang.
Kembali remaja laki-laki itu mengumpat, ketika melihat sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh di depan gang sempit itu. Itu mobil ayahnya, Diam-diam dia berdoa dalam hati, semoga ini bukan hari terakhirnya.
Dia kembali melakukan penyerangan, bermodalkan ilmu baku hantam yang dia pelajari ketika tawuran. Persetan dengan apapun yang penting dirinya bisa lolos. Namun sial kekuatannya tak sebanding dengan mereka. Satu lawan lima sungguh bener-bener konyol.
Kelima orang berbadan besar ini sangat kuat dan sulit ditumbangkan apalagi dengan tangan kosong. Karena mereka memiliki pembekalan ilmu beladiri yang kuat dan tangguh berbanding terbalik dengan dirinya, bocah SMA yang hanya mengerti tawuran antar sekolah yang tentunya tak berilmu. Sedang kelima orang berbadan besar itu mau dia tonjok sampai tangannya putus sekalipun tak kan mempan, karena mereka sudah terbiasa. Penyerangan yang Badai lakukan seakan sudah terbaca.
'Sial'
Kembali remaja laki-laki itu mengumpat saat salah satu orang berbadan besar memanggulnya seperti karung beras.
"Wooy turunin gua" Teriak Badai sangat kencang bermaksud meminta pertolongan bagi siapa saja yang lewat, namun sayang disana sangat sepi.
Hingga...
DUK...
BRUK. ..
Salah satu orang berbadan besar itu ada yang tumbang karena sebuah tong sampah yang ntah dari mana berhasil menutupi penglihatannya, dibarengi dengan tendangan tiba-tiba yang muncul dari samping kiri orang itu. si penendang kemudian tersenyum remeh, dia Anggara. meloncat dari pagar sambil tersenyum.
"Sorry gua telat" Kata Anggara. Yang kemudian tanpa ampun melawan bodyguard ayahnya Badai.
"Jangan dilukai mereka ngga salah" Kata Badai. Padahal dalam hati dirinya takut sahabatnya itu yang kenapa-napa.
Hingga seruan seseorang dari kejauhan cukup mengalihkan atensi mereka semua.
"Wooooy tangkaaap" Sebuah teriakan yang berasal dari belakangnya membuat mereka semua menoleh, termasuk Badai.
DUK...
DUK..
TAK.
Tepat ketika keempat orang berbadan besar menoleh karena perintah "tangkap" Sebuah bola kasti yang ntah dari mana melayang mengenai kepala satu persatu hingga kedua bodyguard itu pingsan.
"bocor-bocor dah tu kepala" kata Anggara.
"Gimana pukulan gua udah pro ngga tuh?" Teriak Arva sambil melempar tongkat pemukul kasti,
"Sorry kita telat" Tambah Heru, keduanya kini berdiri di atap rumah bekas , cukup jauh namun pukulan dan juga lemparan Arva dan Heru tidak bisa diragukan lagi. Tepat mengenai sasaran dan tentunya berhasil menumbangkan dua orang bodyguard ayahnya. sedang sisanya lagi di bereskan anggara.
dirasa ada kesempatan kabur Badai dan Anggara kembali berlari menjauh sejauh mungkin.
"Woy disini" Teriak Gardian dan Askala di atas motornya. Dengan cepat Anggara dan Badai berlari kemudian menaiki motor milik Gardian dan Askala.
•••
Setelah melewati hari panjang yang menguras tenaga. Di sinilah mereka sekarang, duduk di pagar pembatas atap sekolah. Mereka tengah menikmati sore bersama. Memandang kedepan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kayanya kalau sekolah buka ekstrakurikuler tennis seru deh" Kata Heru random, berkata di tengah keheningan. Membuat semua atensi temannya terarah padanya.
"Lihat, lapangan disana tidak terpakai" Tunjuk nya menunjuk sebuah lapangan kosong yang hanya di gunakan oleh anak paskibra untuk latihan jika menjelang tujuh belasan.
"Dari pada tennis mending gua gunain buat main skateboard" Kata Anggara menyanggah pendapat Heru.
"Random banget sih pikiran lu berdua" Kata Arva, namun terkekeh diakhir.
"Kapan lu Olimpiade va" Tanya Badai. Menoleh ke arah Arva yang duduk disampingnya.
"minggu depan, lu semua harus dateng oke" Jawab Arva sambil menoleh. Mereka mengangguk, memang setiap dari mereka mengikuti kejuaraan. Mereka semua akan hadir mendukung satu sama lain. Walau hanya berakhir diam di tempat makan karena tidak boleh masuk. Setidaknya mereka sudah datang.
"Main basket yu" Kata Gardian. Diatap memang ada ring basket yang sengaja di buat oleh Askala.
__ADS_1
"Yo lah gua ikut" Jawab Heru sambil beranjak, dari pada dia mikirin ekstrakurikuler tennis yang ntah kapan akan terwujud.
Satu persatu pun mulai beranjak meninggalkan Badai. Arva mulai sibuk dengan fisikanya duduk di kursi lapuk sambil memecahkan rumus satu persatu. Anggara mulai sibuk dengan senar gitar –duduk disamping Arva- karena Gardian sempat berkata kalau senar gitarnya sumbang.
Badai kini berdiri di atas pagar pembatas. Hembusan angin yang menerpa baju seragamnya membuatnya sesekali memejam menahan rasa sakit yang luar biasa, karena baju seragamnya yang langsung bergesekkan dengan luka dikulitnya yang masih basah. Pandangannya membias mengingat seseorang dengan sorot mata putus asa.
"Ngapain sih lu?" Tanya Anggara. Dia sedikit kaget tadi ketika tak sengaja melihat Badai berdiri dari duduknya di pagar pembatas. Pikirannya berkecammuk kemana saja, dan berakhir dengan dugaan bahwa Badai yang ingin bunuh diri. Walau dia tepis lagi dan lagi.
"Menikmati angin" Jawab Badai asal. Pandangannya masih terarah kedepan kali ini memandang tak minat sebuah gedung tinggi disana. Perusahaan milik ayahnya.
"Turun lu serem banget liatnya gua" Kata Anggara menarik kecil celana Badai agar remaja laki-laki itu turun. Karena apabila Badai berjalan selangkah saja bisa dipastikan remaja laki-laki itu akan berakhir di rumah sakit. Atau bahkan mendahuluinya terbang ke akhirat. Bertemu sang Pencipta. Iya kalau bertemu sang Pencipta bagaimana kalau tidak?
Badai tertawa jenaka sambil meloncat dari atas pagar pembatas. Yang sukses membuat Anggara terhenyak kaget.
"Bikin kaget lu, gua kira lu mau loncat ke bawah" Kaget Anggara.
"Masalah gua emang banyak, hidup gua udah kacau tapi ngga semudah itu gua mau mati" Jawab Badai sambil bersender di pembatas pandangannya kembali terarah kedepannya. Melihat gedung-gedung pencakar langit yang terlihat seakan bisa di genggam dalam gengamannya karena saking kecilnya.
"Malam kemarin kenapa lu ngga balik lagi? " Kata Anggara yang kini bergabung dengan Badai. Menyandar di pagar pembatas atap.
"Ck gua ngga mau lu semua keseret sama masalah gua, tapi makasih tanpa kalian mungkin gua udah ngga ada" Jawab Badai. Pikirannya kembali mengingat malam dimana dirinya disiksa sang ayah karena kebut-kebutan di jalanan dan tawuran bersama sekolah tetangga. Hidupnya sudah seperti bermain undian apabila dia beruntung besoknya dia masih bisa bernafas bebas, namun apabila tidak, mungkin saja dia sudah tidak ada di dunia ini. Lenyap ntah kemana. Di telan dunia, atau bahkan menguap bersama asa yang tak mungkin pernah dia wujudkan.
"Lu harus ingat, kita semua ada buat lu. Gua, Arva, Heru, Askala dan Gardian kita bakal selalu nolong lu semampu kita" Jawab Anggara sambil merangkul pundak Badai. Membuatnya sedikit mengaduh namun tak bersuara, karena tepat mengenai lukanya. Luka cambuk dari ayahnya.
Badai terdiam, Namun mengangguk setelahnya.
Masalah yang dialami teman-temannya pun tak berbeda jauh dengannya. Jadi tidak mungkin dia menambah beban teman-temannya itu. Sudah cukup dirinya menanggung beban seorang diri. Masalahnya tidak untuk di bagi. Cukup dirinya yang merasakan pil pahit yang selalu dia telan setiap harinya. Bahkan tubuhnya sudah kebas karena menerima efek sampingnya.
"Woy kalian ngapain?" Tanya Arva di tengah membacanya.
"Biasa, kalendrika makan hati" ceplos asal Anggara namun setelahnya mengaduh karena langsung mendapatkan tendangan di kaki oleh Badai. Makan hati apanya coba? Punya perasaan aja ngga.
"Ngga papa biar ngga anemia" Kata Arva.
"HEUH??" Jawab Anggara dan Badai bersamaan.
"Yah kan makan hati, hati itu baik untuk darah" Jelas Arva.
"Y—ah ngga salah sih, tapi ngga begitu jalurnya" Jawab Anggara sedang Badai dari tadi hanya menggeleng. Otak jenius Arva memang tidak bisa di ragukan.
"Oy Gabung sini" Seru Heru. Dari kejauhan terlihat remaja laki-laki itu masih bermain basket bersama Askala dan Devano.
Atap sekolah memang mereka jadikan tempat berkumpul bersama selain gudang dan rumah Ares. Di gudang biasanya mereka hanya untuk siang hari saja apabila terik matahari mulai di atas kepala atau hujan sedang di rumah Ares bisad ibilang bascamp mereka.
Menjelang sore mereka semua akan berkumpul di atap sekolah, ntah itu bermain basket , duduk atau sekedar tiduran ngga jelas sambil main hp. yah setidaknya menikmati udara sore sebelum masalah menghadang.
"Delivery makanan lah" Seru Gardian yang masih berebut bola orange bersama Askala.
"Va pesenin gih" Teriak Heru yang kini tengah duduk bersila sambil memperhatikan Gardian dan Askala berebut bola orange. Sedang Arva malah mengacungkan buku fisikanya, menandakan bahwa remaja laki-laki itu tengah fokus membaca buku fisika.
"Yeuh, Kal pesenin makan kal" Teriak Heru lagi. Ketika melihat Badai dan Anggara berjalan kearah Arva.
"Gua aja yang pesen, mau pasen apa?" Tanya Anggara sambil mengeluarkan ponsel pintarnya. Heru dengan cepat berlari mengabaikan Askala dan Gardian yang tengah berebut bola.
"Ian , Aska Mau pesen makan nih, mau apa kalian? " Teriak Badai berhasil membuat Askala dan Gardian yang tengah berebut bola kini berlari kearah nya.
"Pitza aja udah dua yang gede, atau mau apa? " tanya Gardian, sambil menoleh kearah Askala.
"gua sih ikut aja ian" jawab Askala.
"Minumnya mending beli sendiri, ngga usah delivery. sekalian gua mau ke toko buku beli buku fisika baru buat persiapan Olimpiade nanti" Kata Arva.
"Perpustakaan sekolah kan ada" Kata Askala. Yang langsung di balas gelengan oleh Arva
"Ngga kumplit" Jawab Arva.
"Gua ikut Va, bosen gua main basket" Kata Heru sambil beranjak dari duduknya.
"Minumnya mau apa?" Tanya Arva sambil memainkan kunci mobilnya.
"cola yang gede terus sama cola yang kecil-kecil selusin" Kata Badai yang langsung diangguki oleh semuanya. Cola yang kecil selusin itu untuk dirinya kalau yang gede untuk bersama.
"Iya soalnya, air mineral masih ada dua dus tuh" Kata Gardian sambil menunjuk dua dus air mineral gelas, satu masih utuh sedang satu sudah terbuka.
"Oke gua sama Heru berangkat, makanan mau delivery apa mau kita beliin sekalian?" Tanya Arva lagi sebelum benar-benar pergi.
"Udah di pesen belum?" Tanya Askala pada Anggara. Dan dibalas gelengan Anggara sambil menunjukkan layar ponselnya yang masih hitam.
"Yaudah beli aja sekalian turun" Kata Badai yang langsung diangguki oleh temannya.
"Apa aja nih?" Tanya Arva.
"Paket pitza aja udah, ngga ribet nenteng sana sini" Jawab Anggara. Yang langsung diangguki oleh Arva dan Heru.
"Terus selain itu ada yang mau dibeli lagi?" Tanya Heru sambil menggunakan jaketnya.
"Udah deh, paling" Jawab Anggara.
"Tar bisa kita chat kalau ada yang mau dibeli lagi" Kata Badai yang langsung di angguki oleh temannya.
"Yaudah gua berangkat" Kata Arva.
"Tiati perasaan gua ngga enak" Jawab Askala berdrama. Yang sukses mendapat lemparan bola basket dari kejauhan oleh Heru.
__ADS_1
"Main lagi ayo" Kata Askala, yang langsung diangguki oleh Gardian. Sedang Badai dan Anggara memilih duduk di kursi lapuk yang ada di atap.
"Main catur yu, dari pada mikirin hidup. Rumit" Kata Anggara sambil beranjak untuk mencari kotak catur setelah mendapat anggukan dari Badai.
"Lu udah jenguk mamah lu?" Tanya Anggara. Sambil membuka catur dan mengeluarkan bidaknya.
"Belum" Jawab Badai menggeleng sendu. Berhasil menghentikan Anggara menyusun bidak caturnya.
"Bulan ini berarti lu belum ketemu mamah lu?" Tanya Anggara lagi, sambil meletakkan bidak terakhirnya. Raja.
"Iya, belum" Jawab Badai. Tangannya mengudara, menggenggam erat bidak -patih- dengan kuat.
"Eh gimana kalau lu coba nyari kosan, biar lu ngga pulang ke rumah" Kata Anggara lagi tangannya terulur membantu menyusun catur bagian Badai.
"Ngga semudah itu" Jawab Badai.
"Iya juga sih" Kata Anggara sambil mengangguk.
"Lu udah ke makam kakak lu? " Tanya Anggara lagi tangannya tak berhenti menyusun pion catur putih milik Badai.
"Udah kemarin" Jawab Badai sambil meletakkan bidak catur terakhirnya, patih.
"Syukur deh, tapi pikirin saran gua yang tadi" Kata Anggara.
"Yang mana? Nyari kosan?" Tanya Badai.
"Iya cuman itu jalan satu-satunya lu ngga ketemu sama om Tanu, dah ayo main yang kalah jajanin yang menang" Kata Anggara bersiap memulai permainan caturnya.
"Lu lah yang menang, gua mana bisa catur" Jawab Badai pesimis, pasalnya temannya itu sering memenangkan kejuaraan catur antar sekolah. Tahun kemarin saja Anggara berhasil menyumbangkan tiga piala untuk di simpan di etalase sekolah. Apalah daya dirinya yang hanya memegang bidak catur setahun sekali itu juga kalau diajak Anggara.
Sedang Anggara hanya tertawa jenaka.
Belum sempat mereka memulai permainan catur tiba-tiba saja sebuah bunyi sesuatu yang roboh berhasil mengalihkan atensi keduanya.
BRUK..
BRUK..
BRUK.
Dilihatnya kursi bekas yang tadinya tersusun rapih, menumpuk ke atas kini sudah jatuh layaknya sebuah domino. Disamping itu berdiri Askala dan Gardian sedang berpelukan mematung sambil mengerjap karena kaget.
"Ian jangan kekencengan,gara-gara lu itu kursi jatuh semua" tunjuk Askala sambil mendorong Gardian kencang.
"lu nya aja yang mager ngerjar bola ka" sanggah Gardian. Mereka terus saling menyalahkan sedang Badai dan Anggara masih terdiam menonton mereka tak berniat melerai. Hingga akhirnya mereka melihat Askala dan Gardian mulai membereskan kembali kursi itu. Barulah mereka beranjak.
"Ada-ada aja sih" Kata Anggara sambil mengambil kursi yang ada didepannya. Mengabaikan permainan catur yang baru saja akan dia mulai bersama Badai.
"Ulah ian nih" Kembali Askala menyalahkan Gardian. Gardian hanya diam tangannya dari tadi terus menumpuk kursi satu persatu.
"Ko bisa" Tanya Badai. Mengernyit heran.
"Gua lempar bolanya kekencengan, bukannya masuk ke ring malah bablas ke kursi Aska lu juga bukannya diambil malah diliatin kaya di sinetron-sinetron" Jelas Gardian. Sambil terkekeh diakhir.
"Pas pembagian otak kemana sih?" Tanya Askala.
"Alpa" Jawab Gardian simple.
"ngga sekalian omega" kata Askala ketus.
Mereka menghabiskan waktu sepuluh menit untuk
menumpuk kursi, sambil menunggu Heru dan Arva mereka kembali bermain basket. melupakan perseturuan tadi.
Satu jam setelahnya, Heru dan Arva pun sampai. Mereka terlihat sangat kesusahan membawa makanan dan minuman. Dengan cekatan Askala dan Gardian berlari membantu Heru dan Arva. Sedang Badai dan Anggara masih duduk berselonjor karena cape. Akibat bermain basket.
"Makan ayoo" Teriak Heru. Badai dan Anggara kemudian beranjak.
"Pikirin saran gua kal" Kembali Anggara mengingatkan Badai tentang "ngekos"
"Saran apa? Pindah ke apartlu? " Tanya Arva di tengah mengunyah pitzanya.
"Ngekos va, mana dibolehin sama om Tanu gila lu" Jawab Arva sambil membuka segel botol cocacola. Sedikit kesusahan karena licin akibat pitza.
"Wah boleh juga tuh kal dicoba, siapa tau ayahlu ngizinin" Kata Askala sambil beranjak mengambil dus air mineral yang tak jauh dari sana.
"Semoga" Jawab Badai tangannya mengudara bersiap membuka tutup botol cola kecil.
"Tar gua bantuin masalah kosan mah serahin ke gua" Kata Gardian sambil menarik potongan pitza dari box.
"Kalau dewi fortuna lagi di pihak gua, kalau kesialan yang di pihak gua. alamat nyamperin ajal gua bilang gitu ke bokap" Jawab Badai sambil meminum colanya.
"Tenang ada kita, kalau bokap lu ngga ngizinin kabur bareng-bareng tumbalin Askala aja" Kata Gardian yang berhasil mendapat pentungan botol cola kecil di kepalanya oleh Askala.rupanya Gardian masih dendam kesumat karena tadi.
"Makasih ya" Jawab Badai tersenyum dengan tulus.
"Geli gua liat lu tersenyum gitu" Jawab Anggara sambil terkekeh ringan.
"Kita bantu bicara ntar deh supaya lu dibolehin" Kata Arva sambil tiduran namun sebelah tangannya masih memegang potongan pitza. Mengunyahnya sambil tiduran.
Badai hanya mengedikkan bahunya acuh, setidaknya dia masih punya sahabat.
Mereka menghabiskan sore mereka bersama hingga keenamnya tanpa terasa tertidur di atap. Mereka tinggal menunggu langit menurunkan hujan agar keenamnya bangun dan melihat bahwa hari mulai gelap, agar mereka kembali pulang. Walau mereka tak tahu akan kemana mereka pulang.
__ADS_1