Best Seller Man

Best Seller Man
INTERAKSI


__ADS_3

Sesampainya di kamar kos hujan langsung menidurkan tubuhnya. Memejamkan mata sejenak merasakan hembusan nafas yang keluar secara perlahan dari hidungnya. Ini pertama kalinya dia ngekos, menjauh dari sang kakak semoga pilihan tepat untuk hujan melupakan masa lalunya. Pun juga semoga penyakitnya tidak tambah parah. Dan justru berangsur membaik.


"Woy bangun" Mendengar suara orang yang dia kenal hujan kemudian bangun dan menemukan badai yang kini tengah bersandar di daun pintu.


"Hah, paan?" Tanya hujan.


"Itu tempat gua, minggir" Kata badai sambil berjalan kearah hujan. Hujan sedikit berdecak sambil berjalan menduduki kasur satunya lagi. Dia manatap Badai kesal.


'Kemusuhan kita' batin Hujan.


"Lu anak Gardapati?" Tanya hujan, badai mengangguk.


"Kenapa? Karena anak Gardapati anak badung? atau karena tukang tawuran? " Tanya Badai. Hujan menggeleng dia hanya memastikan saja, memang sih anak-anak SMA Gardapati memang terkenal anak tukang tawuran dan badung.


"Kalau lu memang nganggap nya begitu ngga salah ko, lu anak Mandala kan? Anak alim dan sekolah nomor satu" Tambah badai sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


'Aneh kenapa gua banyak bicara sama dia' batin badai padahal mereka baru saja ketemu. Mungkin.


Hujan mengangguk, karena itu memang benar sekolahnya.


"Ko lu mendadak bisu?" Tanya badai lagi.


"Yah kan memang benar tadi kata lu" Jawab hujan, mengangguk dan sesekali melihat ponselnya karena disana terdapat sebuah notifikasi dari sang kakak. Juan.


Mendengar jawaban hujan badai memilih diam. Sedang hujan kini mulai memasukan pakaiannya kedalam lemari, lemari yang kosong tinggal sebelah kanan otomatis Hujan mengisi lemari itu.


Keheningan mulai tercipta dari keduanya badai yang nampakanya masih sedikit canggung dan hujan yang fokus dengan kegiatan membereskan bajunya.


"Gua mau mandi, mau lu dulu apa gua?" Tanya badai beranjak dari tempat tidur kemudian menarik handuk miliknya.


"Lu dulu deh gua masih beresin ini,tunggu kamar mandinya dimana? " Bingung hujan, karena memang disana hujan tak melihat pintu kamar mandi.


"Diluar, kamar mandinya satu doang" Jawab badai sebelum benar-benar beranjak.


"Bakal betah ngga ya sama orang kaya dia" Gumam hujan, masalahnya mereka benar benar beda, terlepas dari sekolah mereka. Hujan tak yakin karena ini baru pertama kalinya hujan sekamar dengan orang asing. Selang lima menit badai keluar dari kamar mandi remaja laki-laki itu langsung berjalan menghampiri Hujan yang tengah memberikan buku-bukunya.


"Sana,kamar mandinya yang pintu tengah" Jelas badai, hujan mengangguk sambil berjalan kearah lemari kemudian menarik baju secara asal, untuk dibawa kekamar mandi.


"Buset beda banget meja belajarnya" Gumam badai sambil melihat isi meja belajar milik hujan yang penuh dengan buku dan juga beberapa proposal OSIS. Sedang dirinya hanya ada tas yang tergeletak disamping kursi. Sedang di atas meja belajar kosong hanya ada satu buah laptop. Pandangan badai jatuh pada topi dan juga blazer OSIS milik hujan.


"Anak OSIS" Gumamnya lagi.


"Beda banget sama gua" Tambahnya yang di akhiri dengan kekehan tawa, badai kemudian beranjak bermaksud keluar.


"Mau kemana lu?" Tanya hujan ktika melihat badai yang tengah berdiri hendak pergi.


"Cepet banget mandi lu, udah?" Tanya badai balik. Hujan mangangguk.


Sambil menarik jaket denim yang dia cantelkan di pintu badai berujar


"Nyari makan, ikut ngga lu?"


"ngga ah males, udah makan gua. Eh kal Motor modip di depan punya lu?" Tanya hujan. Badai mengangguk sebagai jawaban.


"Kaya ngga asing ya" Sambung hujan, Karena ntah kenapa hujan pernah melihat motor itu. sedang badai hanya mengedikkan bahunya tak peduli memilih menarik kenop pintu dan meninggalkan hujan.


Dikamar satunya topan masih sibuk membereskan baju-bajunya, sedang gempa memilih duduk di kursi belajar fokusnya pada printer yang terpasang tunggal di kamar mereka. Printer tersebut terlihat baru bahkan bekas sobekan plastik pembungkus printerya pun masih terpasang. Sebenarnya tak ada yang aneh dari printer tersebut hanya saja cukup menarik bagi gempa.


"Bang lu kuliah apa kerja?" Tanya Topan basa basi dari pada diem, saking heningnya bunyi suara AC jauh lebih nyaring dari pada suasana di dalamnya. Tadinya topan ingin menanyakan prihal kabar gempa yang pernah topan tubruk namun itu terdengar seperti pertanyaan retoris yang jelas sudah terjawab di depan matanya.


"Gua? Kuliah---

__ADS_1


"Tunggu, itu blazer kampus lu wan UNRA?" Tanya Gempa sambil menunjuk blazer biru tua yang dia maksud. Topan terdiam memperhatikan arah telunjuk Gempa. Kemudian mengangguk.


"Iya bang UNRA, emang kenapa?"


"Berarti lu- gempa langsung beranjak dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kopernya.


" Itu blazer lu juga bang?" Tanya Topan pas ngeliat Gempa mengeluarkan blazer yang sama dengan punya Topan. Gempa pun mengangguk. ntah kebetulan atau tidak ternyata mereka di Universitas yang sama. Universitas Ranajaya.


"Lu jurusan apa bang?" Tanya Topan antusias


"Jurusan Hukum gua, lu wan jurusan apa?" Tanya Gempa.


"Gua jurusan FKH bang, biasa anak hewan" Jawab Topan. Melihat ada dua lemari dan dua kasur dikamar mereka Topan hendak bertanya, namun gempa keburu berujar.


"Kalau bisa gua ngga mau deket pintu wan"


"Oh oke bang berarti gua yang dekat ke pintu" Kata Topan.


"Btw kamar sebelah adem banget, biasanya si javair berisik" Tambah Topan, gempa mengedikkan bahu acuh kemudian menggeleng. Memilih mengeluarkan buku-bukunya dan mulai menyusunnya rapih di meja. Tak sengaja kakinya menyentuh sesuatu.


"Bang lu semester berapa?" Tanya Topan lagi, sambil mulai membereskan bajunya kedalam lemari.


"Akhir wan, lu?" Tanya gempa, sambil merogoh sebuah kardus yang tadi tak sengaja gempa senggol dengan kakinya. Itu kardus printer.


"Dua bang jalan tiga" Jawab Topan. Gempa kembali mengangguk.


"Lu kenapa milih ngekos?" Tanya Gempa yang malah fokus dengan kardus printer ditanganya. Ntah kenapa printer ini cukup menarik buat dilihat. Topan menarik fokus menatap gempa. Seakan mencari alesan yang masuk akal karena tidak mungkin topan menjawab dengan kata kesepian.


"Biar deket aja sih bang, lu kenapa?" Tanya Topan balik. Gempa terdiam kemudian menaruh kembali kardus printer.


"Ngga jauh beda" Jawabnya. Kemudian mulai kembali menyusun buku-bukunya. alasan klise namun ya itu selalu jadi alasan kenapa seseorang memilih kos bukan? .


Keheningan lagi-lagi mengambil alih keadaan, Topan yang sibuk dengan baju-bajunya dan gempa yang sedang membereskan buku-bukunya.


"Ini kan printer dulu ya bang?" Tanya Topan sambil menunjuk printer jadul yang terpasang di kamar mereka, gempa mengangguk kemudian berujar.


"Iya zaman gua sma kali ya apa SMP" Jawab gempa. Sedang Topan malah terdiam tak sengaja usia printer dikamar mereka mengingatkannya pada kakak kandungnya. Arunika.


'ka Aru'


"Woy ngelamun" Kata gempa sambil memukul tangan Topan, Topan sedikit terhenyak kala lepas dari lamunan.


"Kenapa" Tanya gempa khawatir. Topan menggeleng sambil menyimpan koper miliknya. Kelemari paling atas.


Brak...


"Allohhuakbar" Teriak topan kaget. pasalnya pintu kamar mereka dibuka dengan keras si pelaku penyiksaan pintu kini tengah tertawa terbahak-bahak.


"Si bocah" Kata topan tatkala melihat hujan yang tengah tertawa melihat kondisi muka topan dan gempa.


"bikin gua jantungan lu" Kata gempa. Sedang hujan masih tertawa sambil masuk kedalam kamar yang lebih tua.


"Lagi pada ngapain bang, ka?" Tanya hujan sambil duduk di kasur ntah milik siapa.


"Masih beres-beres er" Jawab gempa sambil menunjukkan buku-bukunya dan beberapa alat tulis yang tengah gempa bereskan.


"Temen lu mana, siapa sih namanya? Si kalen" Tanya topan sambil berjalan kearah hujan. Kemudian mengambil duduk disana. Hujan terdiam mengingat percakapan terakhir yang tadi. Sebelum berujar.


"Nyari makan katanya ka"


"Eh lu masih sma kenapa milih ngekos?" Tanya gempa yang sudah selesai menyusun buku-bukunya dan kini mulai membereskan bajunya. Melipat nya dengan rapih. Sangat berbeda dengan topan.

__ADS_1


"Kak Juan ada kerjaan keluar kota, sedang kerjaan gua telat" Jawab hujan sambil beranjak bangun menghampiri gempa.


"Sama aja alesannya biar deket" Jawab topan. Sedang gempa hanya mengangguk. Mungkin alasan jujur dari ketiganya hanya Hujan.


"Menyusun buku, mbereskan baju, menyimpan koper. Ka ini tempelan apaan" Tanya hujan tat kala selesai membaca satu persatu sticky note yang menempel di atas laptop milik topan.


"Oh itu, iseng doang" Jawab topan.


Namun ntah kenapa jawaban Topan membuat gempa berpikir, karena semua yang di bacakan hujan tadi adalah kegiatan yang topan lakukan barusaja.menyimpan koper.


"Ka irawan buku lu ko banyak yang sama gini?" Tanya hujan lagi ketika matanya ta sengaja melihat beberapa tumpukan buku yang sama di bawah meja belajar topan.


"Punya temen gua" Jawab topan, ntah kenapa gempa melihat raut gelisah dari muka topan.


...•••...


Di halaman, tepatnya di teras guntur tengah duduk sendirian, disampingnya ada kudapan yang dibuat Bi Marni. Kue lumpur kentang. Belum juga suapan pertama suara deru motor yang masuk membuat guntur menyimpan kembali kudapannya. Fokus guntur kini pada laki-laki yang tengah turun dari motor, dia orang yang tadi ada di rumah Ceko.


"Mas rayga?" Guntur mengangguk.


"Saya Juan, kakak hujan. Bisa tolong berikan kunci ini kepada javier ngga, saya buru-buru soalnya di tunggu temen" Kata Juan sambil menunjuk seorang perempuan yang tengah duduk di kursi pengemudi. Belum sempat guntur menjawab. Kunci sudah Juan simpan di meja kemudian laki-laki tadi -Juan- pergi berpamitan pada guntur.


"Ini motor bebek kaya kenal deh" Gumam guntur sambil beranjak kemudian berjalan mengelilingi motor bebek yang nampaknya dia kenal.


"Mas aga Bagaimana rasa kudapannya? "Tanya pak didi. Guntur terdiam beberapa saat.


"Kalau mau ambil saja pak" Jawab guntur.


"Wah boleh mas?" Tanya pak didi memastikan. Guntur mengangguk.


"Wah kue lumpur buatan bi Marni selalu enak to mas. Ngga pernah gagal, iya kan masl" Kata pak didi. Guntur hanya tersenyum karena dari tadi dia belum mencicipi kudapan miliknya itu.Bagaimana dia bisa tau kue itu enak atau ngga.


"Lanjutkan lagi yo mas saya kedalem dulu" Kata pak didi sambil beranjak mengambil satu buah kue lumpur dan memakannya sambil berjalan. Guntur mengangguk kemudian mengambil kembali kue lumpur yang belum sempat dia cicipi. Namun nampaknya makannya akan terganggu lagi ketika dia melihat mobil putih porche panamera parkir di depan rumahnya, seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut.


"Bapak kos alkana kan?" Tanya laki-laki itu yang ternyata salah satu kakak kembar Gempa. Guntur mengangguk sambil menyimpan kembali kudapan miliknya.


"Saya Ardasa kakak kandung Alkana, bisa minta tolong" Guntur mengangguk pandangannya jatuh pada kunci yang tengah di pegang oleh Ardasa. Helaan nafas keluar dari mulut guntur.


"Tolong berikan ini kepada adik saya ya, saya buru-buru kembaran saya cerewet di mobil" Kata Ardasa sambil menunjuk mobil audi hitam yang terparkir tak jauh dari sana, masih dapat dijakau oleh pandangan guntur. Guntur mengangguk.


"Oke makasih, oh iya ini kartu nama saya siapa tau butuh pengacara, makasih ya mas" Kata Ardasa sambil menyimpan dua kartu nama di meja. Guntur kemudian mengambil dua kartu nama itu


" Ardasa Panca Naraya, Arsaka patra Naraya. Oh keduanya pengacara" Gumam guntur. Fokusnya kembali teralihkan dengan datangnya badai yang mengendarai motor matic dengan knalpot luar biasa brisik.


"Mobil sama motor siapa ini mas?" Tanya badai, sambil menunjuk mobil dan motor secara bergantian.


"Javier sama Alkana" Jawab guntur. Badai mengangguk.


"Dari mana kamu kalem?" Tanya guntur, sembari mengambil duduk ditempat semula.


"Kalen mas, abis beli minum" Jawab badai sambil menunjuk sekardus air mineral yang tengah dia bawa. Guntur sedikit kaget.


'Buset itu buat sekosan' pikir guntur.


"Kedalem dulu mas" Kata badai. Guntur mengangguk.


"Gimana mas rasanya enak to kue lumpurnya" Tanya pak didi. Sebelum menjawab guntur mengehela nafas.


"Iya rasanya kaya lumpur ya pak" Jawabnya sambil memasuki rumah dan meninggalkan pak didi bersama kue lumpur yang belum sempat dia cicipi sama sekali.


"loh ko kaya lumpur" tanya pak didi heran.

__ADS_1


__ADS_2