
Cicicuit..... Cicicuit.....
.
.
.
Duuuk...
Suara burung yang cukup keras dan juga jatuhnya sarang burung di kepala berhasil membangunkan seorang laki-laki yang tengah tertidur di bawah pohon ntah milik siapa. Dia Gempa.
"Dimana lagi gua" Gumam Gempa. Kepalanya sedikit pusing, belum lagi ternyata diatas kepalanya ada sarang burung yang tadi jatuh. Gempa menghela nafas lelah. Sambil mengambil sarang burung dari atas kepalanya, tanpa di duga anak burung ada yang tertinggal di atas kepala Gempa.
"Kenapa mesti ada burungnya sih di sarang" Kata Gempa sambil mengambil anak burung dari atas kepalanya satu persatu dengan hati-hati,
"Untung kepala gua gede, kalau kecil jatuh mati lu semua" Gumam Gempa sambil menyimpan anak burung tersebut kedalam sarang burungnya lagi. Kemudian dia simpan di pinggir duduknya.
"Lagi" Gumamnya sambil menghela nafas berat seakan masalahnya tak pernah usai.
Cicicuit... Cicicuit....
Gempa menengadahkan kepalanya, dilihatnya induk burung tengah mencari anaknya.
"Anaklu di sini, sini ambil" Teriak Gempa. Untung saja tak ada siapapun disana kalau ada mungkin Gempa sudah di bilang gila karena berbicara dengan binatang.
"Ck, nyusahin lu jadi emak" Kata Gempa berdiri sambil memegang sarang burung bersama anak burung didalamnya.
"Diem ya, jangan takut mau gua bawa lu ketemu emak lu" Kata Gempa. Kembali Gempa menengadahkan kepalanya menimbang haruskah dia memanjat pohon dan menyimpan sarang burung kesana. Masalahnya dia itu tidak bisa manjat pohon. Boro-boro manjat pohon setinggi ini, manjat pagar sekolahnya saja kakinya sudah gemeter.
"Aduh mana gua ngga bias manjat lagi" Gumam Gempa. Namun karena melihat induk burung yang tengah kesulitan mencari anaknya, juga anaknya yang terus saja berbunyi yang nampaknya tengah kelaparan dan lagi diatas juga terlihat induk burung membawa sesuatu. Gempa memilih mengesampingkan rasa takutnya dan mulai memanjat pohon.
"Berisik lu semua, diem ntar jatuh ini" Kata Gempa yang mencoba untuk memanjat pohon itu. Satu persatu batang pohon dia injak.
"Kalau bukan karena emak lu, terus lu semua kelaperan mana mau gua manjat pohon pagi buta" Gerutu Gempa.
"Kenapa sih lu harus jatuh ke kepala gua" Tambah nya, Gempa terus saja menggerutu.
"Aduh malu gua kalau ketahuan anak kampus, apalagi anak yang gua ajar" Katanya sambil terus menginjak batang pohon satu persatu dengan pasti, hancur sudah citra dia sebagai seorang asisten dosen jika saja ada salah satu muridnya yang dia ajar melihatnya. Masa iya tar dia masuk di mading kampus 'asisten dosen manjat pohon pagi-pagi demi menyimpan anak burung' haduh tak habis pikir mau di taruh dimana muka Gempa nantinya. Manjat pohon pagi buta.
Akhirnya setelah melewati beberapa rintangan, demi mencapai puncak Gempa berhasil menyimpan anak burung kembali. Induk burung terlihat bahagia tatkala Gempa menyimpan sarang burung bersama anak burungnya disana, induk burung langsung memberikan makanan satu persatu kepada anak burung.
"Harmonis sekali mereka" Gumam Gempa sambil mengelap keringat di keningnya akibat memanjat pohon tadi. Gempa masih duduk di salah satu batang pohon disana, dia masih anteng memperhatikan induk burung yang sayang dengan anaknya.
"Mamah gua dulu juga segitu sayangnya sama gua, tapi sayang ketika papa meninggal mamah berubah" Gumam Gempa. Iya dulu sebelum sang ayah meninggal ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang siap melayani suami dan ketiga anaknya namun tepat ketika ayahnya meninggal sang ibu berubah. Ibunya lebih sering menghabiskan waktu di kantor dan sering pulang larut malam. Waktu bersama Gempa pun tersita, dulu ibunya selalu ada ketika Gempa pulang sekolah, namun kini sang ibu bahkan sangat sulit dia temui walau hanya sebentar. Jujur Gempa merindukan sosok ibunya yang dulu.
Hingga beberapa menit dia sadar sesuatu,
"INI GIMANA CARANYA GUA TURUN" teriak Gempa.
"Mana tinggi banget lagi" Katanya sambil melihat kebawah.
"Kalau loncat patah ngga ya kaki gua" Gumam Gempa sambil menimbang antara mau loncat atau tidak. Masalahnya pohonnya itu lumayan tinggi bagi Gempa yang tak bisa manjat. Akhirnya dia memutuskan untuk menuruni pohon tersebut dengan menginjak kembali batang pohon tadi yang sempat dia gunakan untuk naik. Sedikit demi sedikit, kaki Gempa sudah gemeter. Tanpa diduga karena saking gemetarnya kakinya dia menginjak ranting pohon kecil yang tentu saja tak kuat menahan berat badannya.
Krek...
__ADS_1
Itu Bunyi patahan ranting kecil yang tak sengaja Gempa injak tadi, untung kaki satunya masih diatas jadi Gempa masih bisa menahannya. Nafasnya memburu coba saja kalau tadi dia langsung menginnjakkan kaki dua-duanya disana sudah di pastikan Gempa jatuh. Sebelah kakinya kini menggantung di udara, batang pohon yang cukup gede tak bisa dia capai dengan kaki panjangnya.
"Ah sialan" Gumam Gempa. Terpaksa dia harus memeluk pohon untuk turun sedikit demi sedikit lagi sampai mencapai batang pohon satunya. Berhasil Gempa sampai di batang pohon. Kini tinggal ada tiga batang pohon dan Gempa bisa loncat dari sana itu pikir Gempa.
"Tuhan jangan ambil nyawa gua sekarang" Gumamnya, matanya fokus melihat batang pohon yang siap dia injak lagi.
Namun tiba-tiba ada seorang perempuan yang ntah siapa berteriak dari dalam rumah yang mungkin tak sengaja melihat Gempa.
"HEH KAMU MAU MALING MANGGA YA" teriak perempuan itu yang berhasil membuat Gempa kaget, pegangan pun terlepas dan injakan yang harusnya menginjak batang pohon menjadi kesamping menginjak angin. Dan
Bruk....
.
.
GEDEBUK.......
.
.
Gempa jatuh mencium papingblok. Gempa baru sadar kini dia berada di halaman rumah ntah milik siapa, saking besarnya halaman itu Gempa sampai tak sadar. Kepala, sikut dan juga tumit dan mata kakinya berdarah karena terkena papingblok, tapi dia berusaha berlari karena takut perempuan tadi keluar. Untung saja gerbang pemilik rumah tidak di kunci nampaknya baru saja keluar mobil karena gerbang nya terbuka cukup lebar.
"Guk gukguk"....
Suara anjing semakin membuat Gempa takut. Ternyata di samping gerbang ada anjing hitam besar, nampaknya itu anjing penjaga rumah.
" Kenapa harus ada anjing sih" Teriak Gempa.
"Sial banget gua hari ini" Gumam Gempa, sambil berjalan tertatih karena merasakan sakit di kakinya. Sebelah tangannya memegang pinggang, encok. Karena jatuh. Helaan nafas yang ntah keberapa kali keluar lagi dari mulutnya. Kini dia sudah cukup jauh dari rumah yang tadi.
"Coba aja gua bawa ponsel, atau paling tidak bawa dompet" Gumam Gempa, mungkin untuk nanti kedepannya Gempa akan tidur mengantongi satu buah ponsel dan juga uang cash. Takutnya seperti sekarang, masih syukur dulu pak Darma berhasil menemukannya lah sekarang, Gempa bahkan bingung dimana dia.
"Taksi jam segini ko susah ya? Tapi emang taksi mau numpangin gua yang udah kaya gembel gini" Pikir Gempa. Masalahnya piyama yang dia pakai acak-acakan rambutnya udah kaya sarang burung, tubuhnya luka-luka, jalannya pincang mana ngga pake sendal lagi. Sudah lengkap seperti gembel yang coba bunuh diri namun gagal.
Gempa masih terus mengerutu, hingga dia mendengar teriakan.
"Woy awas woy" Teriakan itu muncul dari belakangnya. Karena kaget Gempa malah diam.
Bruk...
.
.
Duk...
.
.
Gempa tertubruk motor ntah milik siapa, karena terhuyung kedepan tanpa sengaja tangannya tertarik stang motor satunya yang mau belok kearah kiri.
"Aduh" Teriak Gempa kemudian dia mengeluarkan kata-kata toxic nya di akhir karena kesal. Tadi dia baru saja keluar dari maut dan sekarang dia malah tertubruk motor ditambah keseprempet motor ntah milik siapa, paket lengkap pikir Gempa. Sayang paket lengkapnya tidak enak.
__ADS_1
Gempa kini terduduk di samping jalan, sedang kedua orang yang ntah siapa itu masih saja cekcok saling menyalahkan satu sama lain.
"Gara-gara lu dia jadi ketubruk"
"Ko gua sih, lu yang nubruk gua yang di salahin"
"Elu kaya emak-emak naik motornya, ngesen kanan belok kiri kan gua kagok yang di belakang lu"
"Mikir dikit kak, kalau gua belok kanan mau kemana nubruk motor orang. Lagian motor gua udah mepet kiri ya berati gua mau belok kiri"
Kedua orang yang ntah siapa itu terus saja cekcok tanpa memperdulikan Gempa yang kini mulai pusing, dikepalanya kini ada kupu-kupu yang beterbangan juga ada peri-peri kecil yang terlihat menertawakannya. Hampir aja Gempa tak sadarkan diri. Kedua orang yang cekcok tadi langsung menghampiri Gempa.
"Kak lu masih sadarkan?" Tanya si anak SMA yang ntah siapa.
"Sadarlah gua tubruknya juga ngga kenceng kalau kenceng bisa amblas lu juga kena yang depan gua" Jawab laki-laki satunya lagi. Gempa bisa melihat namun tidak jelas, yang satu pakai baju seragam SMA dan satunya lagi pakai baju blazer biru tua,anak kuliahan. Gempa sedikit tak asing dengan warna blazer yang di kenakan laki-laki itu.
"Bentar, perasaan lu keserempet stang doang ka ko sampe berdarah-darah gini" Tanya si anak SMA.
"Lah iya, perasaan gua tubruk doang dari belakang ko jidat lu berdarah gini ngga nyungsep ke aspal perasaan lu tadi" Tambah si anak kuliahan.
Sedang Gempa masih pusing, tak kuat bicara kakinya lemes tak bisa digerakan. Pinggangnya pun sakit karena terhantam trotoar jalan.
"Lu juga salah sih, ada trotoar jalan di aspal" Kata laki-laki kuliahan yang masih aja sempet-sempetnya nyalahin Gempa.
'Gua mana sadar orang gua abis lari tadi'- batin Gempa gedek.
Iya Gempa tidak sadar keluar rumah tadi Gempa berlari di aspal bukannya langsung naik ke trotoar jalan. Salah dia juga sih.
"Eh kak darahnya makin banyak" Kata si anak SMA panik.
"Lu cari kendaraan bukannya malah panik diem aja" Cerocos si anak kuliahan.
"Angkut motor gua aja kak kita cari puskesmas atau rumah sakit" Jawab si anak SMA.
"Kejengkang nanti dia, lu mikir dong" Jawab si anak kuliahan.
"Bonceng tiga kak, kakak ini di tengah lu diujung atau mau naik motor punya lu kak" Jawab si anak SMA lagi.
Gempa sudah hamper tak sadarkan diri.
"Yakali boti, kaya terong-terongan. Tunggu lu disini, gua mau berentiin mobil siapa tau masih ada orang baik mau nolong" Jawab si anak kuliahan kemudian beranjak. Karena lama si anak SMA pun meninggalkan Gempa sendirian disana, Gempa bisa melihat kedua laki-laki tadi kini tengah memberhentikan mobil dan nampaknya tengah bernegosiasi terlihat dari kedua laki-laki itu berbicara bergantian dengan panik. Hingga selang beberapa menit sebuah mobil berhenti tepat di depan Gempa terduduk.
"Ayo angkat bantuin gua bocah" Teriak si anak kuliahan tadi. Kemudian si anak SMA mengangguk dan mulai membopong Gempa kedalam mobil.
"Yah pingsan si Heru" Teriakan itu muncul dari laki-laki yang duduk di samping pengemudi ntah siapa Gempa memilih abai rasa sakitnya cukup membuatnya tak dapat berkutik, walau untuk menyingkirkan kepala laki-laki yang kini pingsan di sampingnya.
"Nih pegang gini, biar darahnya ngga turun ke mata. Gua di belakang sama bocah SMA pake motor" Kata si anak kuliahan menyuruh Gempa memegang tisue agar darah di keningnya tidak turun kebagian matanya. Gempa pun baru sadar ternyata luka di keningnya akibat jatuh dan mencium papingblok cukup parah.
"Sadar ya kak, jangan pingsan dulu bisa repot kita" Kata laki-laki yang sepertinya anak SMA juga yang duduk di samping pengemudi.
Gempa mengangguk, mencoba menyadarkan dirinya sendiri yang mulai kesakitan.
"Cepetan va gua ngeri kalau dua-duanya pingsan" Kata laki-laki tadi. Si pengemudi yang di panggil 'va' tadipun menambah kecepatan mobilnya.
Sekitar setengah jam lebih mereka sampai di rumah sakit, pintu mobil yang di duduki Gempa sudah terbuka bersama beberapa suster dan juga si anak kuliahan yang berdiri di samping blankar.
__ADS_1
Tepat ketika Gempa sampai di dalam dia langsung tak sadarkan diri. Bersama teriakan laki-laki ntah siapa.