
Badai baru saja sampai di tongkrongan warung milik bu Rima seperti biasa anak Ares udah pada disana sepertinya dari pada kesekolah anak ares lebih milih nongkrong di warung sambil ngopi sama nyebat. Baru aja sampai kepulan asap rokok milik salah satu anak ares sudah menyambut kehadiran badai.
'kenapa temen gua semua udah bosan hidup ya' pikir badai.
"kal baru nyampe lu tumben?" tanya anggara yang baru saja mengambil asbak dari dalam warung.
"deket soalnya gar jadinya santai ya ngga kal" kata Askala sambil menaruh rokok kedalam asbak yang baru saja diambil anggara. sedang badai dia masih duduk di atas motornya seakan ngga peduli. kepalanya masih sedikit pusing gara-gara Hujan menelponnya dini hari tadi. Tidurnya sedikit terganggu.
"prinsip lu itu mah, deket bukannya on time malah lelet sikambing" sanggah Arva. Askala yang mau nyomot gorengan langsung kaget, tapi bukan karena sanggahan Arva melainkan karena badai yang tiba-tiba tidur di kursi warung.
"astagfirulloh, lu kenapa kal?" tanya anggara kaget. sedang badai dia memilih menelungkupkan badannya di kursi panjang. matanya langsung terpejam seketika.
"anak bapak Tanu kenapa? " tanya Arva, yang langsung mendapat gelengan dari anggara
"tumben banget lu 5 L kal" tanya arva lagi,
" 5L apaan va? " celetuk Askala.
"Lemah, Letih, Lunglai, lesu" jawab Arva. anggara menggeleng sedang Askala menghitung jari seiring Arva menyebutkan kata tadi
"itu mah 4 kambing, katanya 5. L satu lagi apaa?" tambah Askala.
"Lapar" jawab Badai asal,
"lu kenapa lesu banget, udah makan lu? dikosan ngga ada yang ngasih makan apa gimana lu? " tanya anggara sambil nyomot gorengan yg ngga jadi di ambil askala.
"goreng-" askala yang akan protes karena gorengan kembali terpotong dengan bangunnya badai.
"ngga usah banyak tanya kaya wartawan lu" jawab badai.
ingatannya kembali mengulang tepat dini hari Hujan menelponnya untuk membatu mendorong Gempa yang ntah bagaimana bisa keluar lagi dengan kondisi muka yang penuh memar. badai tak banyak tanya memilih langsung menarik gerobak yang ntah hujan dapatkan dari mana.
'aneh, semalam ko gua ngga liat a irawan ya' pikir badai. bukan keanehan gempa yang badai pikirkan melainkan Topan yang tiba-tiba menghilang ntah kemana, karena biasanya Topan akan pergi ke mesjid untuk sholat subuh bersama Hujan. memilih abai badai menggeleng mengusir rasa curiga yang semakin dalam tertuju pada Topan.
'janga-jangan..... ah udah lah bodo amat'
pandangannya dia alihkan pada Arva.
"eh gimana olimnya kemarin, kita kan malah disidang" tanya Badai, sambil duduk bersila di kursi panjang bekas dia tiduran tadi. matanya masih merem melek karena ngantuk.
"aman dia selalu juara pertama, ngalahin si musuh bebuyutan" jawab askala sambil mengeluarkan gitar dari sarungnya. dari pada berantem karena gorengan sama nggara dia lebih memilih memainkan gitar.
"cuci muka gih kebelakang" saran anggara, badai menggeleng kemudian menidurkan kembali badannya.
" gitarnya sumbang itu" ujar aggara
"sini gua benerin" ucap Arva singkat kemudian beranjak dan duduk di samping Askala. merebut gitar yang baru saja di keluarkan Askala.
"siapa sih anak mandala namanya lupa mulu gua va?" tanya Askala, membiarkan Arva mengambil alih gitarnya.
"Radika harvian Asegra" jawab Arva namun matanya fokus ke senar gitar.
__ADS_1
"keren juga ya namanya, oh iya Askala sodara tiri lu udah tau siapa?" tanya anggara, Askala menggeleng.
"bodo ah, ngga penting" jawabnya singkat.
"ian dimana?" tanya Badai, sepertinya dia baru menyadarinya sedari tadi kalau Gardian tidak ada disana.
"di ares masih molor" jawab Anggara ditengah mengunyah gorengannya.
"ngga balik emang?" tanya badai, anggara menggeleng. Arva yang tengah membenarkan gitar sumbang langsung terdiam seakan mengingat sesuatu.
"masih ngurusin penceraian bonyoknya dia?" tanya Arva yang kemudian melanjutkan kegiatannya lagi-membenarkan senar gitar.
"mana gua tau, dia itu ibarat Arab gundul susah dibaca" jawab Askala sambil melempar rokok ke arah Badai. badai menggeleng dia malah kembali menguap.
"emang lu bisa baca qur'an? sok sok an tau Arab gundul?" tanya Anggara tanganya menyuapi badai gorengan. yang spontan langsung di tolak dengan umpatan oleh badai.
"emang Arab gundul quran ya" tanya badai pemasaran.
"ko jadi bahas Arab gundul sikambing" kesal Arva sambil meletakkan gitarnya dan mulai menyicipi kopi yang baru saja di hidangkan bi Rima.
"semalam dia cerita bokapnya udah jarang pulang terus nyokapnya mau balik ke rumah neneknya katanya" tambah Arva sambil menyesap sedikit demi sedikit kopinya karena panas.
tak.
suara baki yang beradu dengan meja kayu membuat fokus mereka teralihkan,
"jangan di tinggal atuh ntar kalau kenapa-kenapa bagaimana" kata Bi Rima sambil kembali menghidangkan sepiring gorengan yang masih hangat.
" kopi kali ya" jawabnya.
"yaudah yu ke ares, tar amit-amit ian bunuh diri lagi kaya di sinetron-sinetron gitu" tambah Askala drastis tanganya langsung narik Arva ke arah mobil.
"dia ngga sebodoh itu buat ngahirin hidup disaat dia masih suka rokok dan kebebasan. lepas askala" jawab Arva sambil menarik tangannya dari pegangan Askala.
"lu berdua kaya homo kalo di lihat-lihat" celetuk Anggara yang masih mengunyah gorengaan.
"rokok aja yang sering lu isep tiap jam udah termasuk nyicil nyawa ke neraka" kata Badai sambil meraih gelas kopi yang baru saja dibawa bi Rima.
"harapan gua, gua pengen masuk surga. tapi kondisi dan Teman-teman nyeret gua ke neraka" ujar Anggara menunjuk badai dengan sepotong gorengan. badai bergumam sambil beranjak
"yaudah besok gua ganti ngsep vape"
"sama aja samsul"
"Anggara, Badai, Arva. Ian gimana, ngga bisa di hubungin nomornya" teriak Askala khawatir
"mati kali"
"apanya?"
"hpnya masa orangnya"
__ADS_1
"ayo ke ares sekarang" ajak Arva.
"motong komplek" usul Anggara. ketiganya mengangguk. badai mulai menjalankan motornya duluan.
mereka mencari rute tercepat, karena jarak rumah ares ke warung bu rima cukup jauh sekitar tiga kilo meter.
"ck si nenek" decak badai dia menggerem mendadak motornya, kembali menguap padahal kopi sudah dia tandaskan tadi, akibat ulah Hujan badai hanya tidur satu jam kurang.
"gua gotong aja apa ya itu nenek" pikirnya.
badai menoleh melihat lampu yang mulai berwarna kuning, menghela nafas, kakinya dia hadangkan agar orang di belakangnya tidak nyelonong seenaknya karena di depannya ada nenek yang berjalan cukup lambat sedikit membuat badai kesal, ingin rasanya dia menggendong nenek itu. dan
melemparnya.
"ck" badai berdecak tidak mempedulikan omelan pengendara motor di belakangnya.
ting, sebuah notifikasi masuk di ponselnya karena kesal menunggu nenek itu menyebrang badai membuka pesan itu, kantuk badai seketika hilang dengan cepat dia memutar motor melawan arus dan membelah kendaraan di belakangnya, dia bahkan mengabaikan teriakan teman-temannya dan protesan dari semua pengemudi di belakangnya.
Badai terus memacu motornya, mengabaikan rambu lalu lintas dan teriakan pengendara lain di jalanan, tadi Qian mengiriminya pesan ada yang ingin dokter ibunya itu bicarakan mengenai kondisin sang ibu. semenjak kejadian badai yang selalu bertengkar hebat dengan ayahnya dia jarang menemui ibunya, dia tidak mungkin datang dalam kondisi yang buruk karena dokter Qian sudah mewanti-wanti badai untuk tidak datang dalam kondisi yang kacau sebab bisa memperparah pasien alias sang ibu. tapi sudah dua kali Qian menyuruh Badai menemuinya.
"maafin gua ian, ibu gua lebih penting semoga lu ngga krnapa-kenapa ya kalau lu mati jangan hantuin gua ya" monolognya.
sekitar satu jam setengah badai sampai di parkiran rumah sakit,
Rumah sakit Jiwa Angkara orang sana sering menyebutnya rsja, rumah sakit jiwa yang terletak di sudut kota namun lumayan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Suasana di rumah sakit itu sangat sepi udaranya masih segar agar semua pasien disana tidak cepet setres ditambah pelayanannya pun sangat baik, dokter dan psikolog nya pun sangat bersahabat.
badai terdiam di atas motornya menyiapkan dirinya untuk melihat perkembangan ibu kandungnya yang katanya semakin buruk. baru saja badai akan beranjak tiba-tiba dia melihat seseorang yang dia kenal.
"tante Wendy" gumam badai, tatkala dia melihat wendy ibu tirinya berdiri di samping mobil seperti tengah menelpon seseorang. badai masih bergeming pandangannya fokus memperhatikan ibu tirinya sampai wendy masuk mobil dan keluar dari parkiran.
"ngapain dia?" gumam badai, memilih abai dia memilih masuk karena sang ibu jauh lebih penting . belum sempat tanganya menyentuh tombol lift seseorang menepuk pundaknya, spontan badai menoleh menemukan seorang perempuan yang kini tengah tersenyum ke arahnya.
"dokter Qian habis dari mana" tanya badai,
"istirahat apalagi makan siang pastinya. ah iya kamu sudah membaca pesanku, ada yang ingin aku bicarakan" jawabnya sambil memijit tombol lift. Badai mengangguk.
"apa itu dok? mengenai ibu kah?" tanya Badai penasaran
"iya ada yang aneh akhir-akhir ini dari ibumu, dia sering menyebut kata-- Qian menjeda perkataannya mencoba mengingat sebuah kata tak jelas yang coba di dengar dari ibu badai.
"ntahlah katanya kurang jelas seakan dia ingin menyampaikan sesuatu kepadamu" sambung Qian kini keduanya mulai memasuki lift. badai mengernyit
"apa itu dok?" tanyanya.
"ntahlah akupun tidak begitu mendengarnya jelas. aku tidak enak jiga kita membicarakan nya disini bagaimana jika--- perkataan Qian terpotong karena pintu lift terbuka.percakapan keduanya tak berlajut dj dalam lift karena posisi jarak mereka berjauhan. tepat di lantai tiga Qian keluar bersama badai.
" ah iya aku akan keruanganku sebentar kamu mau masuk duluan atau menungguku seben--- perkataan Qian kembali terpotong kali ini dengan dering telpon ntah dari siapa. sepanjang jalan pun Qian menelpn badai bisa menerka seortinya itu suami dari dokter Qian. Badai memilih abai namun tak dapat di pungkiri percakapan dokter Qian dengan suaminya terdengar sangat jelas oleh indra pendengarnya.
"javier" monolog badai. dia tak sengaja mendengar nama pasien yang di ucapkan oleh dokter Qian yang nampakanya pasien milik suaminya.
"nama javier kan banyak, tapi aga sedikit langka sih" gumamnya.
__ADS_1
"kamu masuk duluan ya, ada sesuatu yang harus aku tunjukan aku akan mengambilnya di ruangan ku sebentar oke" kata Qian, badai terkesiap kaget dengan cepat dia mengangguk, matanya menatao nanar kearah pintu kayu di depannya dengan sebuah papan nama "NARULINA RAYASA ANDRAKA".