Best Seller Man

Best Seller Man
HUJAN


__ADS_3

..."KALI INI GUA PERCAYA YANG KATANYA MITOS ANGKA 13"...


BUGH....


"Aduh sial, mimpi lagi" katanya sambil mengacak kasar surai hitamnya, laki-laki itu terbangun dengan keringat yang membasahi hampir seluruh badannya. dia Hujan.


"Akh kepala gua" katanya lagi kini tangannya beralih memegang kepala yang terantuk laci nakas terbuka, nampaknya semalam dia lupa menutup kembali laci nakas miliknya.


"Sial" Keluhnya, sambil berdiri namun nampaknya nyawanya masih belum juga datang, Laki-laki itu masih terpejam. Kantuk masih menguasainya.


Diatas nakas ponselnya berdering menampilkan pesan dari temannya.


[chat]


Gilang


Dimana lu pak?


[chat]


Hujan


Otw Kamar mandi lang


Sebuah isi pesan yang menyadarkan Hujan dari keterdiamannya. Spontan laki-laki itu langsung melihat jam wekker nya.


"Mampus telat" katanya sambil berdiri dengan cepat berlari kearah kamar mandi.


Tak beberapa lama laki-laki itu keluar sambil berlari menuruni tangga, mengabaikan teriakan sang kakak yang berlari menyusulnya sambil menggunakan apronnya.


"Telat"teriaknya, satu kata yang keluar dari mulut sang adik berhasil memberhentikan lari sang kakak yang berniat mengejar. Memilih kembali lagi ke dapur berkutat dengan panci dan penggorengan.


Hujan melajukan motor bebeknya dengan kecepatan diatas rata-rata masabodo dengan polisi yang berjaga dia tidak peduli bahkan dengan berani dia menerobos lampu merah.


Sungguh sebuah contoh yang buruk.


"Hancur citra gua" gumamnya setelah dia berhasil menerobos lampu merah tanpa mengurangi kecepatan laju motornya. Matanya sesekali melihat spion takutnya ada polisi yang mengikutinya, dia bernafas lega ketika tak ada tanda-tanda polisi di belakangnya. Meskipun ada, Hujan tak peduli toh dia sudah biasa main kucing-kucingan dengan polisi lalu lintas di pagi hari. Satu yang tidak bisa Hujan pedulikan, polisi tidur. Karena dia akan mengurangi kecepatan motornya apabila banyak polisi tidur.


Tepat di belokan arah ke sekolahnya sebuah motor matic berwarna hitam menyalip nya dengan cepat ditambah suara knalpot yang nyaring membuat gaduh di jalanan. Hujan dengan segera mengurangi kecepatan motornya namun sialnya motor matic yang tadi menyalip nya itu bersama motor polisi di belakangnya.


"Sial" Umpatnya. Sambil menambah kecepatannya kembali , tanpa di duga si motor matic menendang bagian samping motornya dan menyebabkan motor bebek miliknya oleng karena konsetrasinya buyar .Tanpa di duga dia menyenggol kaca spion milik mobil mewah yang berjalan di sampingnya.


"Mampus" Katanya, tanpa peduli dengan teriakan orang di dalam mobil, Hujan malah semakin menaikan kecepatan motornya apalagi ketika dia melihat polisi yang dibawa si motor matic kini dibelakangnya.


"Konyol" Gumamnya.


Setelah main kejar-kejaran dengan pihak polisi lalu lintas akibat si motor matic akhirnya Hujan sampai kesekolahnya sekitar setengah jam. Dari semenjak keluar parkiran remaja laki-laki itu terus mengumpat dengan seribusatu sumpah serapah spesial untuk si oknum pemilik motor matic, karena ulah orang tadi Hujan sampai harus mengikhlaskan nyawanya habis di tengah jalan karena kebut-kebutan.


Javier Hujan Adinata, disapa Javier atau Hujan. Remaja laki-laki yang memiliki postur tubuh tinggi dengan warna kulit sawo matang. Retina mata berwarna coklat cukup kontras dengan rambut hitam legamnya yang tertata rapih. Dia adalah seorang ketua Umum di SMA Mandala salah satu SMA Favorit di ibu kota.


Hujan berlari ke ruang OSIS disana sudah ada Yusril,Gilang dan Nara


"telat lu pak" kata Gilang, laki-laki ini memang sangat akrab dengan Hujan. Hujan yang mendengar pertanyaan sekertarisnya hanya mengangguk, memilih membuka pintu ruangannya. Ruang ketua OSIS. Gilang yang melihat sikap temannya hanya mengedikkan bahunya acuh. Sudah terbiasa, memilih kembali mengobrol dengan Nara dan Yusril.


Sedang di dalam ruangan Hujan masih berpikir tentang mimpinya tadi malam. Dimimpinya dirinya nanti akan terkena jatuhan buku di perpustakaan. Ntah dirinya tidak tahu di perpustakaan mana, dengan cepat Hujan melihat kalender di mejanya.


"10, tiga hari lagi" gumamnya. Sambil memutar kursinya kesana kemari, hingga suara pintu yang terbuka membuat atensinya teralih.


"kenapa ril?" tanya Hujan mengernyit bingung dengan keberadaan Yusril yang kini ada di ruangannya, masalahnya laki-laki itu hanya menyembulkan kepalanya tanpa berkata apapun. Membuat Hujan kaget bercampur bingung dengan kelakuan temannya itu.

__ADS_1


"bagian jaga lu Er di tungguin Gilang tuh" Jawab Yusril. Hujan yang mendengar perkataan Yusril sontak kaget dia lupa hari ini bagian dia jaga gerbang. Dia merutuki dirinya sendiri yang lupa dengan tugasnya itu. Dengan cepat dia meraih blazer OSIS yang tersampir di belakang kursi.


Di depan gerbang sudah ada Gilang yang berjaga bersama pak Cahyo, Pembina OSIS. Gilang yang melihat keberadaan Hujan yang berlari, langsung mendekat sambil mengulurkan buku berisi tulisan anak-anak yang melanggar peraturan sekolah.


"Selamat pagi ketua umum" Kata Gilang menoleh kearahnya sambil membenarkan letak topi OSIS, namun matanya terarah ke tangan kanan Hujan. Hujan yang mengerti dengan kode Gilang langsung melepas dasi yang tadi dia lilitkan di pergelangan tangannya.


" Jangan lupa nanti kumpul dulu sebelum masuk kelas" Kata Hujan sambil membaca deretan nama-nama sipelanggar peraturan sekolah. Dan tak lupa memasukkan dasinya kedalam saku celana, bahaya kalau sampe terlihat Pembina OSIS karena Hujan itu ketua umum di OSIS. Otomatis harus memberikan contoh yang baik untuk siswa yang lain. Berterimakasihlah kepada Gilang yang berdiri di samping Hujan sehingga focus Pembina hanya pada Gilang yang tengah memarahi siswa yang melanggar peraturan.


Bel berbunyi tandanya semua siswa dan siswi sudah harus memasuki kelas, begitu juga anak OSIS. Mereka semua kecuali yang berjaga gerbang sudah memasuki ruang OSIS.


"Ada berapa orang yang melanggar peraturan sekolah?" Tanya pak Cahyo, pembina OSIS angkatan Hujan.


"Saya lihat sudah mulai sedikit pak" Jawab Hujan sambil memberikan buku bersampul batik yang berisi nama anak-anak yang suka melanggar peraturan sekolah.


"Bagus, perketat terus ya di gerbang depan dan juga gerbang belakang" Kata pak Cahyo sambil memberikan buku itu kembali kepada Hujan.


"Di belakang sudah ditambah satu orang jadi yang jaga belakang ada empat pak termasuk anak kedisiplinan" Jawab Hujan.


"Bagus, pastikan di OSIS angkatan kamu tidak ada yang melanggar satu pun" Kata pak Cahyo sambil menepuk pelan pundak Hujan.


"Saya permisi pak mau ada rapat OSIS dulu" Jawab Hujan sambil membungkuk sedikit dan pergi.


Sesampainya di ruang OSIS Hujan langsung masuk, menemukan Yusril dan juga Radika di dalam, sedang yang lain nampaknya sudah masuk kedalam ruang rapat.


"Udah masuk semua pak" Kata Yusril.


"Gilang mana?" Tanya Radika.


Hujan mengangguk kemudian dagunya terarah kebelakang dimana Gilang berlari kearah ruang OSIS.


"Loh Harsal mana?" Kata Gilang yang baru sampai.


"Udah mabar aja pagi-pagi" Jawab Gilang menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan Harsal.


"Anak nolep memang beda" Jawab Yusril sambil berjalan memasuki ruang rapat diikuti Gilang, Radika dan Hujan.


"WOY ANAK ADAM" teriak Gilang bar-bar.


"PANAS BOS NYALAIN AC NYA" Kata Yusril. Sedang Radika dari tadi mencari remot ac yang ntah dimana mereka simpan. Lupa.


Kondisi di dalam ruang rapat itu sangat luar biasa disiplin , semua anak OSIS pada asik sendiri-sendiri ada yang mabar PUBG ada yang asyik yutuban ada yang sibuk rebahan sambil main HP ada juga yang lagi makan di atas meja. Hujan yang baru datang langsung nyalain speaker terus nyolokin ke hpnya terputarlah lagu Nestapa (Hareudang) yang lagi viral-viralnya.


Anak OSIS bukan berarti mereka rapih dan disiplin, justru mereka jauh dari kata itu. Hujan, Radika dan Harsal adalah ketua umum, ketua satu dan ketua dua yang bisa di katakan bobrok luar dalam, Radika anak yang suka ngevlog "daily activities" bareng Yusril dan sudah mempunyai subscriber seribu lebih, sedang Hujan adalah anak yang suka ngirim podcast gabut yang biasanya berisi cerita horror yang ngga penting-penting banget. Terus Harsal biasanya disebut anak nolep yang hobinya main game sampai ngga tau siang malam. Namun jangan salah ketiganya termasuk remaja tampan yang membuat semua gadis berebutan. Selain itu nama ketiganya selalu terpampang apik di banner sekolah, juara satu, dua, tiga paralel angkatan.


"Gila siapa yang makan remot AC woy?" Teriak Radika tak masuk akal.


"Miskin banget apa remot AC ampe dimakan" Jawab Yusril sambil menggeleng sedang Hujan dari tadi joget sambil ngangguk-ngangguk bareng anak OSIS lain.


"Woy gua punya sepatu roda" Teriak Gilang dari ujung pintu. Spontan semua atensi langsung terarah ke Gilang. Remaja laki-laki itu berjalan dengan mobil-mobilan kecil di bawah sepatunya.Yang tidak tahu dia dapatkan dari mana.


"Remuk itu mobil-mobilan lu injek lang" Kata Hujan menggeleng melihat kelakuan sekertaris nya.


"Bodo yang penting gua punya sepatu roda" Kata Gilang sambil tetap menginjak mbil-mbilan itu.


BRUK..


"GILANG KUSUMA BIN DADANG" teriak Harsal karena terkena jatuhan tubuh Gilang. Karena Gilang Harsal jadi kalah main gamenya.


"Gua udah ngekill banyak banget sialan lu, jadi gua yang kalah kan" Cerocos Harsal sambil menggebuki brutal tubuh Gilang padahal kalau tidak terkena jatuhan tubuh Gilang Harsal bisa jadi menang, sedang yang lain hanya tertawa.

__ADS_1


"Ke dua kali-kali sal" Kata Radika yang masih mencari remot AC di sekitar tong sampah kecil di ujung ruangan.


"Ck, gara-gara anak bapak DADANG gua jadi kedua" Kesal Harsal sambil menunjuk Gilang.


"HEH BAPAK GUA JANGAN DI BAWA-BAWA PAK SUHENDAR" teriak Gilang nyaring.


"LU JUGA SAMA PAK DADANG" teriak Harsal tak kalah nyaring dari Gilang. Yang awalnya mereka hanya cekcok mulut berakhir dengan mereka adu panco. ngga jelas memang.


"Gua pilih Harsal" Kata Hujan sambil menyimpan uang lima puluh ribu di meja.


"Gua Gilang, kali ini Gilang pasti menang" Jawab Yusril sambil melakukan hal yang sama, menaruh uang seratus ribu di meja kemudian mengambil uang lima puluh milik Hujan.


bukannya merelai mereka malah taruhan, siapa yang menang adu panco. Sebuah contoh ketua umum yang baik bukan?? Sedang Radika masih sibuk mencari remot AC yang belum juga ketemu.


Waktu lima belas menit yang diberikan sekolah untuk mereka evaluasi, mereka gunakan untuk melakukan hal yang tidak jelas dan tidak berfaedah.


Letak ruang OSIS yang terletak di ujung sebelah kiri pinggir lapang basket outdoor membebaskan kegiatan anak OSIS dalam aktivitas tidak pentingnya. Suara speaker OSIS yang menggelegar tidak begitu terdengar dengan jelas ke sekitar ruang kelas, apalagi ruang guru yang tempatnya di ujung sebelah kanan. Gedung ruang guru berdiri sendiri tidak menyatu dengan ruang kelas.


"Yah cemen lu lang, masa kalah sama Harsal anak nolep" Kata Yusril yang tak rela uang seratus ribu nya masuk ke kantong saku milik Hujan.


"Wes tingkatin terus kekuatan lu sal kalau perlu nge gym sekalian" Kata Hujan sambil memijat pundak Harsal.


"duitnya gua pake buat traktir lu semua beli cilok di depan" Teriak Hujan sambil mengacungkan uang seratus ribu hasil menang taruhannya tadi. Semua anak OSIS berseru hore namun seketika hening.


"Mampus lima belas menit udah lewat" Teriak Gilang yang tersadar dari kekalahan adu panco sama Harsal.


Dengan cepat semua anak OSIS membereskan ruangan rapat dan juga pakaian yang tentunya jauh lebih rapih dan disiplin, baju di masukkan ke dalam celana dan juga dasi yang terpasang rapih.


"KETEMU" Teriak Radika sambil mengacungkan remot AC dari bawah kolong meja.


"Telat lu rad, udah mau masuk kelas kita" Kata Hujan sambil menarik Radika keluar dari ruang rapat.


Hujan, Radika dan Harsal itu satu kelas mereka kelas XI IPA 1 yang mana isinya anak unggulan semua. Intinya semua yang masuk kelas itu termasuk anak yang punya IQ di atas rata-rata.


"Mampus rad udah ada pak Saepul di kelas" Kata Harsal yang spontan berhenti membuat Radika dan Hujan bertabrakan.


"Kalau mau rem kira-kira dong sal" Kata Hujan kesal hampir saja dia menggelinding ke bawah.


"Serahin semuanya sama ketua umum kita, silakan bapak Javier Hujan Adinata atau kita sapa Bapak Hujan. Waktu dan tempat di persilahkan" Kata Radika.


Hujan hanya berdecak, kemudian berjalan paling depan untuk memasuki kelas diikuti dengan Radika dan Harsal. Tangannya kemudian mengetuk pintu dan terdengar suara "masuk" Dari pak Saepul guru biologi di kelas mereka.


"Permisi pak" Kata Hujan membungkuk sopan sambil tersenyum ramah yang tertunya diteriaki oleh kata "palsu" Dari hati dua ketua OSIS di belakangnya.


"Kalian kenapa telat kan sudah lewat lima belas menit" Kata pak Saepul berdiri sambil melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan kirinya.


"Saat nya beraksi" Bisik Radika.


Hujan menutup matanya kemudian menghela nafas.


"Begini pak, tadi kami membahas prihal anak-anak yang melanggar peraturan sekolah serta konsekuensi yang di dapat untuk sipelanggar. Dan juga penambahan anak OSIS di gerbang belakang agar semakin di perketat penjagaan agar tidak ada yang berani membolos lagi pak. Dan terakhir baru evaluasi anak OSIS termasuk saya sebagai ketua umum juga harus dievaluasi. Jadi itu yang menyebabkan diskusi kami panjang dan alot" Tutur Hujan tanpa gugup dan salah sedikitpun dalam pengucapan.


Applaus untuk ketua umum kita yang pintar berbohong.


"Bener pak, apalagi sekarang kelas tiga sudah memasuki fase sibuk pak ntah itu untuk les atau pelajaran tambahan lainnya. Sudah di pastikan untuk sekolah apalagi belajar mereka malas, karena sudah les ditambah sekolah biasa, tidak menutup kemungkinan pak mereka untuk membolos " Tambah Radika.


Hujan dan Radika memang sangat pintar bicara pas lah kalau misal cita-cita mereka jadi pengacara sudah dipastikan mereka akan menang ketika di persidangan . Selain karena banyak bicara cara bicara yang terkesan belibet untuk di tangkap indra pendengar cukup membuat pusing si lawan bicara mereka. Sayangnya tak ada dari keduanya yang bercita-cita menjadi pengacara ataupun berkecimpung di ranah hukum. Keduanya masih sibuk memikirkan hari esok, apa yang harus mereka lakukan agar tetap bahagia. Sedang Harsal laki-laki gamer itu hanya bisa mengangguk, karena dia tak pandai bicara seperti Radika dan Hujan.


Berkat kepiawaiannya bicara seorang Javier Hujan Adinata ketiganya dipersilahkan untuk duduk dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2