
Hujan berdiri di depan mesjid, sesekali menyapa sembari tersenyum dengan ramah kepada orang yang melewatinya. dia sedang menunggu Topan yang tengah berbincang dengan seseorang yang asing di mata Hujan.
"sksd banget a, ngomong sama siapa?" tanya Hujan,
"pak RT" jawabnya singkat. Hujan mengangguk tak berniat bertanya lebih jauh. kemudian menyusul Topan yang berjalan duluan.
'tidak tau diri sekali sudah di tunggu malah ninggalin' batin Hujan dongkol.
mereka berjalan beriringan, penerangan hanya sebatas lampu jalanan yang menemani langkah mereka, tak ada siapapun, jalanan tampak sepi dan lumayan lengang karena sudah dipastikan orang-orang masih asik bergelut dengan selimut meski sebagian ada yang sudah beraktivitas di dini hari.
Hujan sesekali menoleh ke arah Topan, karena sedari tadi Topan hanya diam seakan tengah memikirkan sesuatu yang sulit di pecahkan.
Tadi pagi tepat pukul empat pagi Topan membangunkan Hujan untuk berjamaah sholat Subuh bersama di mesjid, membuat Hujan yang masih dalam alam mimpi terkesiap kaget dan langung berlari ke kamar mandi.
"imamnya hatam qur'an apa gimana, sih a" Hujan memulai cerita mengisi kekosongan keduanya, karena sedari tadi Topan hanya diam.
"emang kenapa?" respon Topan menoleh ke arah Hujan dengan kening yang mengernyit
"itu tadi bacaan keduanya panjang banget, surat apa a irawan tau? " , tanya hujan
Topan terdiam sejenak kemudian menoleh sambil menggeleng.
"gua biasa nyetor Al-ikhlas kalau sholat, tapi kemarin juga gitu ko" jawab Topan.
"lu lagi mikirin apa sih a?" tanya Hujan lagi. Topan menoleh seakan menimbang haruskah dia tanyakan ini pada hujan?, beberapa detik topan terdiam kemudian menggeleng tanganya kemudian merangkul pundak yang lebih muda.
"gua laper masa", hujan yang mendengar jawaban Topan langsung tertawa.
" nyari bubur yu, sama a gua juga laper"
Topan mengangguk.
sepanjang perjalanan mencari bubur mereka bersenda gurau topan mengesampingkan pikirannya dia takut Hujan curiga dan berakhir penasaran dengan dirinya.bahaya.
" A itu tuka--- eh a itu kerumunan apa?" tunjuk Hujan, karena tak jauh dari mereka ada kerumunan warga yang ntah mengerumuni apa. berbeda terbalik dengan hujan yang penasaran Topan justru tak ambil pusing dan memilih abai.
"gua laper" ajak Topan menarik pergelangan tangan Hujan.
" A itu kaya bang alkana deh?" tunjuya Hujan lagi. Topan kemudian menoleh karena tak begitu jelas, dia berjalan kearah kerumunan sambil menarik Hujan. Dan benar saja disana ada Gempa dikerumuni ibu-ibu dan bapak-bapak komplek. dari tatapan yang dilayangkan tidak suka kearah gempa membuat topan heran, ingin bertanya namun Hujan lebih dulu menyela.
"ada apa ini?" tanya Hujan dia mengehempaskan tangan Topan kemudian berjalan kearah gempa. sedang gempa menunduk tak memperlihatkan wajahnya.
"bang lu kenapa?" tanya Topan berjalan kearah gempa, menyusul hujan. gempa terdiam seribu bahasa bingung menjelaskannya.
"oh ini teman kalian, dia ini hampir mau maling di rumah saya" tunjuk salah satu ibu-ibu disana. Topan mengernyit, maling? anak keluarga Naraya? hey bahkan harta mereka tidak sepadan dengan harta keluarga Naraya.
"itu ngga mungkin" sangkal Hujan kesal. sedang Topan masih terdiam dia memperhatikan pakaian yang di pakai Gempa. baju itu baju yang sama terakhir kali mereka berbincang ketika hendak tidur tadi malam.
"bang ngomong, lu bukan maling" hujan mengoyangkan keras lengan Gempa, membuat gempa meringis ntah karena apa.
"bang lu kenapa?" tanya Hujan lagi, bukannya menjawab gempa malah pingsan ke arah Topan.
"astagfirulloh" teriak Topan kaget. bersamaan dengan pinsangnya gempa semua orang yang mengerumuni mereka pun bubar tak ada satupun yang tersisa apalagi menawarkan bantuan. Topan kewalahan Hujan pun sama karena gempa tak sadarkan diri.
" A gua telpon kalen dulu bentar" kata Hujan, Topan mengangguk kakinya dia selonjorkan di tanah agar gempa bisa dia tidurkan di kakinya.
"a lu ngga kuat kalau gendong bang alkana?" tanya Hujan lagi, topan menggeleng
"gila aja lu"
"si kalen kayanya masih ngebo deh jam segini, mas aga ngga enak gua a" kata Hujan, pasalnya dia sudah menghubungi badai beberapa kali namun sial nampaknya jauh di sana badai masih dalam alam mimpi dan belum mau bangun. sedang Guntur hujan masihlah sungkan dengan si pemilik kosan.
"pak didi"
"ngga punya nomornya gua a, lagi pula pak didi pasti di rumah yang satunya lagi. percuma lama , kecuali dia terbang" jawab Hujan.
"encok gua kalau gendong bang alkana, Javier" ,
"gotong deh a berdua gimana? " final Hujan,
"lu kuat?" tanya Topan, hujan terdiam seakan menimbang pertanyaan dari Topan,
"coba deh" jawab hujan,
"lu bagian kaki deh, gua bagian kepalanya. yakin?" , hujan mangangguk, tapi baru saja beberapa langkah hujan sudah berkomentar tangannya nyeri
"kalau jalan berhenti jalan berhenti gini nyampenya lusa kali ke rumah vier"
__ADS_1
"nyeri, bang alkana berat" jawab hujan pandangannya dia arahkan kesemua penjuru jalan, sepi tak ada siapapun. Hujan kemudian berlari ntah kemana membuat Topan bingung.
"bocah kemana sih, bang bangun bang udah pagi" kata Topan sambil menggoyang-goyangkan badan Gempa berharap agar gempa bangun namun nihil. hingga beberapa menit kemudian hujan datang berlari kearahnya.
"bang lu angkat bentar ke arah sana kuat?" tunjuk hujan disana ada sebuah gerobak ntah milik siapa.
"lu ngaco mau pake gerobak?" tanya Topan. Hujan mengangguk kemudian menarik Gempa dengan susah payah dari pangkuan Topan.
"ayo bang gendong gua ngga kuat" kata Hujan
"bentar gua naliin sarung dulu" jawab Topan sambil menalikan sarung kotaknya ke pinggang.
"rempong bener a"
"ini orang kecil-kecil makannya besi apa gimana sih" kata Topan namun dia langsung berjongkok di belakang gempa, bersiap untuk menggendongny.
"a kearah sini" tuntun Hujan, Topan mengehela nafas membenarkan kaki gempa yang sedikit turun kenudian berjalan, kakinya sampe sakit karena menggendong Gempa.
"kenapa ngga lu bawa gerobaknya sih kocak" kata Topan dengan susah payah. pasalnya gempa sangat berat.
"lupa a, saking bahagianya nemu ide sampe ngga kepikiran. pelan-pelan ih a nanti bang alkana kepentok" karena terlalu cape topan malah jatuh nindih gempa di atas gerobak. hujan mesem nahan tawa yang siap mengegelegar.
"kalau lu mau ketawa, ketawa aja" kesal topan.
"ngga, ayo a buru tarik gua dorong dari belakang ya" kata Hujan, topan menghela nafas kedua kalinya, pasrah. dia beranjak kemudian menarik gerobak sesuai titah Hujan. di perjalanan ponsel Hujan berdering, Badai menelponnya.
[calling Badai]
"apaan?" tanya badai disebrang dengan suara serak
"gua sharelok lu kesini buru kal" jawab Hujan di tengah mendorong gerobak.
"ngapain ngga jelas --
" bang alkana, bang alkana pingsan di--
"sharelok" ponsel pun di tutup sepihak huja dengan cepet mengirim lokasi mereka ke badai.
"gimana katanya?" tanya topan bersandar di gerobak, cape dia.
"ngga ko" jawab Topan.
"a gua udah ngga kuat, nunggu kalen aja ya a", Topan ek ngangguk apa lagi dia yang narik, Hujan aja yang dorong cape. lah topan apakabar. mereka terdiam lumayan lama.
" aneh ngag sih bang alkana menurut lu?" tanya Topan, Hujan menoleh
"maksud lu a?"
"pertama gua belum pernah liat bang alkana tidur di kasurnya, terus setiap malam gua lihat bang alkana gelisah kalau mau tidur" jawab Topan, Hujan terdiam Topan menoleh kemudian berjongkok di samping gerobak.
"ko lu bisa tau bang alkana ngga pernah tidur di kasurnya?" tanya hujan, sambil memandang fokus gempa. muka Gempa terlihat memar dan ada sedikit luka kecil yang sepertinya akan membekas di keningnya. ini sekan dejavu untuknya, pasalnya Hujan pernah mendapati gempa dalam kondisi seperti ini tapi tidak begitu separah ini.
"gua kan teman sekamarnya, masa iya tiap pagi gua ngga pernah liat dia bangun tidur" jawab Topan,
"mungkin udah bangun duluan kali a, dia kan rajin ngga kaya lu"
"serajin apa?, gua setiap sholat subuh dia udah minggat dari kasur"
"shut , a kita diliatin orang" bukannya merespon atau menyanggah perkataan Topan, hujan malah salah fokus sama orang-orang yang melihat mereka walau sekilas. ntah itu yang jalan kaki atau yang memakai kendaraan tak luput berbalik kearah Hujan dan juga Topan yang kini tengah berjongkok di samping gerobak.
"eh kasihan banget ya ganteng-ganteng mulung"
"iya masa depannya suram"
"mereke pasti adik kakak,itu pasti kakaknya sakit yg digerobak" dan banyak lagi sangkaan-sangkaan melenceng dari orang-orang yang melihat mereka.
"a kita disangka pemulung?"
"abaikan aja lah" jawab Topan, sekitar beberapa menit twedengar suara motor badai mendekat.
"lama banget lu, sampe disangka pemulung berkeluarga kita" kata hujan sambil berdiri menghampiri badai di atas mortir
"ya lu kira nyawa gua langsung kumpul gitu aja" jawab badai sewot.
"jadi ini gimana?" tanya Topan menunjuk gerobak.
"bang alkana nya mana a?" tanya badai mengabaikan omelan hujan.
__ADS_1
" tuh, aneh gua denger lu manggil aa sama gua" tunjuk Topan dengan dagunya ke arah gerobak. badai kemudian menundukkan kepalanya kearah gerobak ternyata Gempa ada di dalam gerobak. pingsan.
"yaudah a tunggu apa lagi, ayo tarik pake motor gua lu pegang gerobak ya a" kata badai.
"bisa panik juga lu ternyata" kata Topan sambil menarik gerobak kemudian naik keatas motor badai.
"kalau bang alkana sekarat masuk penjara rame-rame kita a" jawab badai, badai tahu kedua kakaknya gempa adalah pengacara terkenal bisa di hantam habis-habisan di pengadilan apalagi mereka belum berpengalaman. ngga lucu hanya karena tuduhan tak berdasar yang konyol mereka masuk jeruji besi atau mentok mentok jadi tahanan kota. badai hanya mencari aman saja dari pada berurusan dengan kedua kakak kembar gempa. mending mengorbankan tidur nyenyaknya.
"gua gimana hey" teriak hujan
"jalan lu" jawab badai, hujan kesel dia hendak berjalan sebelum tanganya di tarik topan.
"sini lu di tengah aja"
"ngga usah a si javier di depan aja" tarik Badai.
"jongkok lu, ngga kelihatan jalannya gua" kata badai.
"badan ku kegedean javier"
"awas tangan lu mau ngesen gua"
"heh minggirin palalu kesamping"
"kalau mau belok bilang kal ini gerobak takut nyangkut"
"oke a, minggir sarung lu ini ah"
"nunduk heh"
"buru kalen ini tangan gua pegel pegang gerobak"
"ini a si javier palanya ngga diem"
dan banyak lagi ocehan-ocwhan badai ke Hujan selama perjalanan sedang Topan sesekali berujar. akhirnya dengan susah payah mereka sampai di rumah ceko.
"lo itu ko gerobak sampah dibawa2 to mas?" tanya pak didi bingung, dia baru saja keluar dengan bi marni dari dalam mobil. sydah disuguhkan dengan kerucuhan tiga anak kosan yang pagi-pagi membawa gerobak sampah.
"pak bantuin, ini bang alkana pinsang", teriak hujan. dengan cepat pak didi langsung berlari ke arah Hujan.
" ya Alloh gusti nu agung, ini ko bisa se gerobak gini to mas, gimana cerintanya?" kata pak didi. hujan garuk-garuk bingung, topan abai, sedang badai dia memilih memarkirkan motor.
"nnti di jelasin di dalam pak, ayo angkut" jawab topan. pak didi dan topan pun akhirnya menggotong gempa ke dalam rumah.nampaknya mulai minggu depan Topan harus belajar pergi ke gym agar ototnya kuat.
"tidurin disini mas" kata bi marni, menepuk kursi di ruang tamu.
"iya bi, ngga mungkin saya angkat ke atas" jawab topan. tangannya sudah kebas akibat menggotong gempa.
"sakit tangan saya"
Akhirnya gempa pun di tidurkan di sofa dengan alas paha Hujan.
"ini mukanya ko babak belur gini bang alkana?" tanya badai, semua orang yang di sana spontan menoleh ke arah Hujan, seakan meminta jawaban. Hujan menggeleng kemudian menjelaskan secara detail kronologi mereka ketemu.
"bibi bikin beras kencur buat lebam nya dulu ya mas, ini pakein minyak kayu putih di hidungnya mas" titah bi marni sebelum pergi kedapur.
"gua ada jam masuk pagi nih, yang mau jaga in siapa?" tanya Topan. sambil memegang kayu putih diarahkan ke hidup gempa. badai dan hujan terdiam karena mereka juga ada sekolah.
"jagain apa?" sahutan itu keluar dari mulut guntur yang baru saja bergabung. hendak bertanya namun terpotong oleh badai yang langsung menjelaskan. guntur mengangguk mengerti walau jauh di pikirannya dia bertanya-tanya.
"yaudah saya aja yang nunggu dia sampai siuman sama pak didi dan juga bi marni, kalian mending mandi terus sekolah"
"males banget gua bawa motor " gumam Topan, sambil menatap tanganya yang memerah akibat menarik gerobak. hujan baru saja akan menawari bantuan sebalum badai menyela
"sama gua mau ngga a?" tawaran yang kuar dari mulut badai membuat Topan dan hujan kaget.
"SMA lu disebelah mana emang?" tanya Topan.
"Gardapati, sejalan sama UNRA" jawab badai,
"eh lu tau univ gua", tanya Topan lagi, masalahnya dia ngga begitu dekat dengan badai mungkin kalau huja yang tau Topan tidak akan kaget.
badai mengangguk.
sepeninggal Topan, Badai dan juga Hujan, Guntur menyuruh bi marni untuk masak sarapan dan juga pak didi untuk memanaskan mobil. sedang dirinya menunggu gempa sampai siuman.
sungguh pagi yang sangat indah bukan?
__ADS_1