Best Seller Man

Best Seller Man
ANEMIA?


__ADS_3

"murid Gardapati kembali membuat keributan di jalan kali ini mereka ---, bip.


kemesraan ini janganlah cepat berlalu--- bip


neng stasiun balapan ----bip


akang haji--bip.


ck, decakan kesal keluar dari mulutnya, dia guntur. sedari tadi dia terus memindah-mindah chanel radio mobilnya berharap ada berita pagi yang menarik selain dari SMA Gardapati yang seakan menjadi langganan berita paginya.


"Gardapati lagi" gumam guntur


"itu sma nya badai kan mas" kata Gempa yang tak sengaja mendengar guntur bergumam.


jika kemarin gempa memilih istirahat kali ini dia menguatkan dirinya pergi ke kampus.


Kejadian kemarin kembali terulang, kali ini dirinya bangun di depan emperan toko, bajunya kotor dahinya luka dan ada sedikit robekan di sikutnya. yang menemukannya kali ini Badai yang tak sengaja ketemu ntah hendak dari mana. dengan cepat badai langsung menolong Gempa yang kebetulan sudah siuman dan membutuhkan pertolongan. Gempa ingat badai sempat berteriak "jangan pingsan dulu bang gua sendirian" iya sebelum gelap menjemput -gempa pingsan.


Tadi tepatnya ketika Gempa siuman dia teringat jika dirinya ada mengisi kelas pak kenan yang selalu di sibukkan dengan tour ke luar negrinya, terkadang gempa selalu penasaran sebenarnya apa yang dosennya itu lakukan selama di luar negri karena hampir setiap bulan pak kenan selalu di kabarkan izin ke luar negri. sesibuk itu kah?


Gempa masih sedikit lemas dia tak mempunyai kekuatan untuk mengemudikkan mobilnya seorang diri, kebetulan guntur menawarkan bantuan untuk mengantarnya ke kampus, karena waktu itu yang ada di kosan sudah tinggal guntur sedang yang lainnya sudah berangkat semua. Gempa menimang cukup lama sedikit ragu dengan tawaran si pemilik kos. apalagi Guntur yang tadinya mau diantar pak didi pun tak jadi dia memilih mengemudi sendiri sambil mengantarkan gempa ke kampus, menambah rasa tidak enak dirinya, namun karena waktu kepepet dan telponan juga chatan dari pak kenan sudah berbaris sampai memenuhi wallpaper hpnya Gempa pun mengiayakan ajakan Guntur. dengan berat hati.


Tebakannya tak pernah menghianati nya, benar saja dia sudah bisa menerka sedari awal jika mereka akan dipenuhi kecanggungan, sedari berangkat sampai sekarang hanya suara radio yang terdengar. karena selama perjalanan mereka terdiam, Hening.


Gempa memilih melihat keluar jendela sedang Guntur fokus menyetir, mungkin dinding kecanggungan diantara keduanya masihlah kuat dan kokoh sehingga sulit dirobohkan apalagi ini pertama kalinya mereka satu mobil jadi deru suara mobil mengambil alih situasi hingga suara ponsel milik Gempa membuat dinding kecanggungan roboh.


“Pak Kenan ” gumam Gempa sambil melihat layar ponselnya, disana tertera nama sidosen traveler -Fabian- sebagai sipenelpon. Rupanya gempa tak berniat mengganti nama si dosen dari semenjak nomor itu dikirim, nama Fabian tetap menjadi nama kontan pak Kenan.


Merasa tidak enak dengan Guntur, gempa langsung menolak panggilan Pak kenan sambil merapalkan kata maaf berharap ujian Hukum perdata nya tidak mendapatkan C apalagi E hanya karena tidak mengangkat panggilannya.


'Kenan, ko gua kaya ngga asing ya sama namanya' pikir gempa.


'ah nama kenan kan banyak,mungkin kenan yang lain kan?' pikir Guntur.


“ah iya saya boleh tanya ngga? kenapa tiap pagi kamu suka di temukan pingsan ya diluar padahal kan kamu di kos kan semalam? ” tanya Guntur penasaran,


'sial' Gempa mengumpat tertahan.


“itu mas-----, saya mau nyari makan keluar pagi-pagi, terus jalan kaki eh malah nyasar, ngga sengaja ke serempet motor gitu mas" jelas Gempa asal bahkan dia tidak menoleh sedikitpun kearah guntur menghindari pertanyaan yang semakin meluas dari bapak kosnya.


sedari tadi Gempa sudah bisa menebak Guntur cepat atau lambat akan menanyakan prihal dirinya yang pingsang sampe terluka lumayan parah. jadi dia sudah menyiapkan jawaban masuk akal untuk dia utarakan ketika pertanyaan itu keluar dari mulut si pemilik kosnya.


“kenapa ngga pake mobil kan itu jauh” tanya Guntur. disela memyetir mobilnya. karena ntah kenapa gempa selalu di temukan di komplek sebelah yang lumayan jauh dari kos.


'semalaman dia nyari makan, mungkin? ' pikir guntur. karena ngga mungkin kalau pagi-pagi yang kata gempa tadi, mau sepagi apa Gempa berangkat, sampe jalan ke komplek sebelah yang jaraknya lumayan jauh.


komplek sebelah dan komplek guntur itu di pisahkan oleh beberapa ruko kecil di jalan raya yang lumayan padat.


'aneh dia ngga cape apa?' mulut guntur menolak penasaran. dia mencoba abai dengan jawaban aneh gempa. namun pikirannya malah semakin meluas tidak dapat tertampung akal sehat.


'atau jalan Alkana cepat? Alkana Vampir? 'pikiran sampan diluar nalar Guntur mulai terdeteksi kritis.


'sudahlah' finalnya tanpa jawaban.


"irit uang mas tanggal tua" jawab Gempa tak yakin dengan jawaban yang baru saja dia lontarkan.


‘orang kaya Alkana masih irit uang? tanggal tua?' –batin Guntur yang spontan langsung liat tanggal di jam tanganya.


"'tanggal tua ya" Guntur membeo, sambil menganguk kaku karena dia tak mengerti arti tanggal tua, gimana bisa guntur tau tanggal tua jika setiap harinya uang hampir mengalir layaknya air. jadi ngga ada kata tanggal tua bagi guntur. memilih kembali mengabaikan dia kembali fokus dengan jalanan yang cukup ramai di depan.


"sepertinya bakal macet" ucap guntur. berdialog dengan pikiran sendiri membuatnya pusing pagi-pagi karena tak ada yang menjawab selain dirinya.


“Mas aga lulusan dari New York ya?” tanya Gempa mengalihkan topik pembicaraan.


ckiiit,


mendengar pertanyaan gempa guntur spontan mengerem mendadak membuat motor yang di belakangnya langsung melayangkan protes dibarengi dengan suara nyaring klakson yang mulai bersahutan.


"lo kenapa mas?" tanya gempa bingung kalau dia tidak memakai sitbelt sudah di pastikan jidatnya nambah membiru karena terkena dasboard mobil milik guntur.


"ada----- ayam eh kucing maksudnya al, nanya apa tadi?" jawab Guntur, pegangan tanganya ke stir mobil menguat. dahinya mulai di penuhi peluh. detak jantunganya mulai tidak beraturan dia berharap Gempa tidak penasaran terlalu jauh dengan dirinya bahkan protesan pengendara motor pun tak dia dengar.


spontan gempa langsung melongokan kepalanya kedepan.


'ayam? kucing ghoib? mas aga punya indra ke tujuh' pikir gempa. karena di depannya kosong tidak ada ayam ataupun kucing yang di maksud guntur.

__ADS_1


"mas aga jalan mas kita di marahin orang" kata Gempa. guntur mengangguk kemudian mulai melajukan mobil kembali.


"tadi apa Al" tanya guntur lagi.


"oh itu, mas aga lulusan dari universitas di New York? universitas apa mas kalau boleh tau?" tanya Gempa, jujur dia hanya ingin tau tapi tidak begitu penasaran dan hanya dijadikan alasan untuk mengalihkan topik gempa yang tadi. pikirnya.


'universitas? rumah sakit jiwa iya, karena tiap hari gua ketemu psikiater mr Wilson' kembali guntur membatin.


"itu---- e e e Tobroson-maksud iya Tobroson university iya itu maksud saya Tobroson" jawab guntur ragu. berterima kasihlah kepada pak didi yang menyimpan obat sakit matanya di mobil. untung bukan insto atau rohto atau apalah itu yang familiar. ngga lucu kan kalau terlontar secara spontan Insto University?


"oh itu universitas terfavorit di new york ya mas? ambil jurusan bisnis mas? " tanya Gempa lagi, guntur mengangguk asal menghela nafas dia sedikit bersyukur karena gempa tidak tau universitas apa saja di New york.


'semoga aja ada nama universitas Tobroson' batin guntur.


"wah keren dong mas lulusan universitas terbaik di New York pasti mas aga cumlaude nih" kata Gempa diakhiri tawa candaan, guna memecah canggung karena semenjak gempa bertanya prihal universitas Guntur hanya mengangguk saja tidak ada sanggahan atau respon ucapan disana.iya karena dari tadi guntur hanya membatin.


'iya lulusan mencuri terbaik dengan ipk 4' pikir guntur. kembali guntur mengangguk. perjalanannya ntah kenapa terasa sangat lama.


"ah maaf ya mas kalau saya banyak tanya" tambah Gempa yang merasa tidak enak dengan respon guntur. guntur menggeleng.


"ngga papa ko, santai aja Al. soalnya itu udah lama jadi saya sedikit lupa tentang universitas saya" jelas guntur.


'lupa? almamater sendiri' pikir gempa namun gempa memilih mengangguk saja.


"dimana fakultas kamu Al?" tanya guntur karena mereka sudah sampai di depan universitas Ranajaya.


"oh iya di hukum mas, eh maksudnya Fakultas Hukum" ralat Gempa. Guntur mengangguk dan mulai memasuki gerbang universitas.


"loh itu irawan ko ada di Fakultas saya ya mas?" tanya gempa, tatkala matanya melihat Topan yang berdiri di samping kelvin-sahabatnya.


"memang kalian beda fakultas?" tanya guntur.


"beda mas dia hewan, maksud saya fakultas kedokteran hewan. jauh kalau dari Hukum mas" jelas Gempa.


"ada perlu mungkin" jawab guntur sambil menginjak pedal rem mobilnya, disambung dengan gempa yang langsung membuka kenop pintu mobil, sambil berujar


"makasih mas aga"


guntur mengangguk.


Gempa yanh keluar dari dalam mobil membuat Topan dan Kelvin bergeming.


"lah bang" bingung topan.


"ini anaknya ada" tunjuk kelvin, yang membuat gempa kaget.


"emang kenapa?" tanya gempa bingung.


" bang ko ke kampus?" tanya Topan kaget.


"terus ko bisa sama mas aga? gua kira lu ngga bakal ke kampus bang kaya kemarin" tanya Topan lagi.


"iya kata ini bocah katanya lu sakit, nih suratnya" tambah kelvin sambil menunjukkan sebuah surat dalam sebuah amplop putih. gempa kemudian menoleh kepada Topan meminta penjelasan. Topan mengedikkan bahu awalnya memilih abai namun kemudian dia berujar


"ini idenya si javair bang, eh javier tadi kan lu pingsan tuh belum siuman. terus si vier bilang buat surat sakit aja buat bang alkana tar di alpain soalnya udah dua hari" jelas topan sambil mengacungkan dua jarinya.


"dikata gua anak SD pake surat sakit sama izin segala, alpa pula" jawab Gempa, sambil membuka isi surat nya.


"itu yang nulis si javier terus di tandatangan sama di kalen gua bagian ngasih doang ke fakultas lu" jelas Topan.


gempa mengerjap kemudian tertawa lebar ketika membuka surat bikinan Hujan.


"ini semenjak kapan nama ayah gua Haryono" kata gempa sambil tertawa tak henti.


" lah nama ayahlu berubah nama jadi lokal al" sanggah Kelvin. Gempa masih tertawa menggeleng ngga habis pikir dengan ide javier.


"ya asal aja kali yang penting ada surat" duga Topan. karena tadi Topan bener-bener malas jadi ketika dua anak SMA bikin surat sakit dia memilih abai dan diam di trotoar jalan sambil menunggu mereka selesai.


"tapi makasih nih buat idenya vier sama kalen udah bikinin gua surat sakit kaya anak SD" tambah Gempa masih dalam tawanya.


"jadi lu kesini cuman ngasih surat ini doang wan?" tanya gempa, Topan mengangguk.


"kemarin juga gua kesini tapi ngga ketemu bang kelvin, ngga kenal siapa orangnya suruh ngasih surat dokter kalau sakit" jelas Topan. gempa mengangguk paham.


"lu emang sakit apa al? ko bisa pingsan sih?" tanya Kelvin, gempa yang tadinya tengah tertawa sekejap langsung terdiam.

__ADS_1


"biasa lah" jawab gempa ambigu, otaknya berputar mencari jawaban masuk akal.


'biasa' batin Topan. sedang Kelvin bingung dengan kata biasa maksud Gempa. kelvin pun sempat menaruh penasaran terhadap sahabatnya yang hampir tiap ke kampus di mukanya selalu saja ada luka besar atau kecil di dahi, namun kelvin menunggu Gempa terbuka padanya menceritakan penyebab kenapa gempa selalu saja terluka setiap ke kampus.


"kurang darah, anemia gua kambuh" tambahnya berharap kelvin tak bertanya terlalu jauh lagi. namun ternyata harapan menghianatinya.


'semenjak kapan gua anemia' pikir gempa.


"lu ada anemia al?" tanya kelvin, gempa mengangguk asal. Topan bingung.


"tapi semenjak kapan lu anemia seumur-umur lu ngga pernah kurang darah?" tanya kelvin


" nanti gua cerita vin, ini udah jam segini gua ada ngisi kelas, gua duluan ya vin, wan" kata gempa sambil berjalan dengan cepat kearah fakultas.


"itu lu mau ke toilet bukan ke kelas alkana" teriak kelvin. gempa langsung terhenti kemudian mengubah arah jalannya.


"jadi tadi pagi bang alkana pingsan gara-gara anemia? masa setiap hari anemia? kurang makan ati nih pasti" monolog Topan.


'heuh makan ati?' pikir kelvin bingung.


mereka- Kelvin dan topan- terdiam beberapa saat saling memikirkan sesuatu, secara bersamana mereka menggeleng kemudian saling menoleh memandang masing-masing. topan tersenyum kemudian berujar


"eh iya bang gua juga duluan ada kelas, makasih ya bang"


"loh dia kan anak fkh itu?" rupanya Kelvin baru menyadari jika sedari tadi orang yang berbicara dengannya adalah Topan. orang yang sempat membuat kelvin penasaran dulu karena istilah "


Bagaskar Grup


Sedang di sebuah perusahaan, guntur kini tengah saling tatap dengan seorang laki-laki yang pernah dia lihat. Tadi tepat ketika Guntur sampai di ruangannya dia di kagetkan dengan keberadaan laki-laki seusianya yang berdiri di samping septian-sekertaris ayahnya.


'Laki-laki ini bukannya yang kemarin di lift itu ya' rupanya kebiasaan guntur adalah membatin. Guntur memperhatikan laki-laki didepannya ini dari atas sampai bawah, lumayan rapih tidak seperti kemarin yang berantakan.


'mungkin karena masih pagi kali ya, jadi masih rapih' guntur meneruskan membatin nya


"nah perkenal kan ini anak saya Laka Ardana dia diberikan tanggung jawab memegang Kencana oleh tuan Ferdinan" jelas Septian. guntur mengerjap lamban. mencerna maksud dari sekertaris ayahnya yang tiba-tiba memperkenalkan seseorang padanya. seakan tau kebingungan dari mimik muka guntur Septian kembali berujar.


"tadi malam tuan Ferdinan menghubungi saya pribadi, beliau memberikan sebuah printah kepada saya jika anda akan di tugaskan bersama putra saya -Laka- memegang kencana" finalnya.


"kencana?" beo guntur. septian mengangguk.


"kencana adalah nama sebuah kafe yang dibangun oleh bagaskar grup dan masih belum begitu terkenal, tugas anda adalah melebarkan sayap kencana kafe keseluruh negri" jelas Septian.


'enteng sekali dia berucap, melebarkan sayap? dikata burung elang apa yang gampang' Guntur menganga lebar bagaimana tidak penyakit mentalnya saja belum sembuh betul ditambah beban yang lumayan besar apalagi cafenya bukanlah kafe tersohor yang mudah orang lain tau.


'OH TUHAN' jerit hatinya.


"mari saya jelaskan lebih detail" ajak septian membawa guntur kesebuah ruangan.


guntur terkagum-kagum melihat sebuah miniatur gedung perusahaan Bagaskar, gedung yang sedikit mencolok berbeda dari yang lain, terlihat jelas dari desain sedikit condong ke depan dengan warna cat yang di dominasi hitam dan putih.


"kenapa gedungnya condong?" tanya guntur bingung.


"ya karena mau rubuh tadinya, akibat kabakaran yang hampir merusak setengah gedung" jawaban itu bukan keluar dari septian melainkan dari laka. yang berhasil mendapatkan injakan dari sepatu mahal Septian -sang ayah.


guntur terdiam. dia teringat tentang kebakaran yang hampir membuat sang ayah depresi berat , tahun dimana keluarga bagaskar rugi total dan hampir bangkrut.


'oh itukan----'


"itu, anda lihat bangunan kecil disana?" tunjuk laka. guntur mengikuti arah telunjuknya, namun nihil guntur tak melihat apapun, yang terlihat hanya atap ruko yang berjejer sama.


"kalau belokan arah ke SMA Adik kakak pasti tau sih, disana letaknya tepat di belokan ujung banget sih kalau dari sini" jelas laka.


"heuh SMA adik kakak? emang ada? perasaan ngga ada nama SMA adik kakak?" tanya guntur bingung.


"Mandala Gardapati kan sebelum ke dua SMA itu ada belokan", guntur ber oh ria.


"ini, ini coba lihat kafe kecil ini" tunjuk laka lagi kali ini mengarahkan telunjuknya kepada miniatur kafe yang sangat kecil yang nampaknya berdiri diujung jalan, sama seperti yang laka deskripsikan tadi. guntur mengangguk.


"ini kafe kencana" tambahnya.


"begini saja besok anda ikut saya saja, kita pergi langsung ke kafe kencana" ajak Laka. Septian mengangguk sambil menoleh meyakinkan Guntur. guntur mengangguk sedikit ragu.


'kenapa ngga sekarang?' pikirnya.


"kalau sekarang tempat kerja anda belum di bersihkan, soalnya manager yang lama baru keluar lima bulan yang alu" tambah laka seakan tau isi pikiran guntur.

__ADS_1


__ADS_2