Best Seller Man

Best Seller Man
masa lalu Hujan


__ADS_3

Decitan Suara blankar yang bergesekan secara langsung dengan lantai, juga pekikan orang-orang di luar. membuat mata yang tadinya terpejam seketika terbuka.


"Dimana gua?" Gumam hujan. Retina matanya menangkap warna putih langit-langit khas rumah sakit yang sangat familiar di indra penglihatnya.


"Rumah sakit?" Gumamnya lagi, pandangannya jatuh pada selang infus yang kini menempel di tangan kanannya.Tanganbya terangkat kearah perban yang kini mengelilingi kepalanya.


"Apa yang terjadi?" Hujan terus saja bergumam, kepalanya sedikit merasa pusing karena baru saja siuman.


"Er kamu udah siuman?" Tanya laki-laki yang baru saja masuk sambil berjalan cepat kearah blangkar pasien milik hujan. Dia Juan. Kakak tiri Hujan. Hujan mengangguk namun penglihatannya masih sedikit buram wajah sang kakak pun tidak begitu jelas dia lihat.


"Apa yang terjadi ka?" Tanya Hujan pada sang kakak yang kini mulai menekan tombol agar dokter sesegera mungkin memeriksa kondisi sang adik. Hujan.


"Kamu katanya pingsan, kejatuhan rak buku di perpustakaan Er" Jelas Juan sambil duduk di kursi samping kanan blangkar hujan. Hujan mencoba mengingat apa yang dibicarakan sang kakak namun nihil dia tidak ingat dengan kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu. Semakin dia mengingat kepalanya semakin sakit dia rasakan.


Baru saja hujan akan bertanya lagi, sekelebat ingatan mulai memasuki alam bawah sadar hujan. Menuntun Hujan untuk kembali memejamkan mata tanpa di pinta.


Flashback//

__ADS_1


Hujan kecil selalu terbangun dikala malam hari, merengek dengan manja kemudian memeluk sang ibu tiri -Risma- dan sang ayah -Aldi- yang baru saja datang sehabis seharian bekerja.


"Apa yang ayah bawa?" Tanya hujan kecil sambil merengek dipelukan sang ayah.


"Ayah membawa mainan sayang" Jawab Aldi sambil memberikan mainan robot-robotan berwarna merah dan beberapa mobil-mobilan yang selalu dijanjikan sang ayah.


"Ibu viel sendilian di lumah, ka Juan pelgi" Kata Hujan sambil berjalan memasuki pelukan hangat sang ibu, melepas pelukan dari sang ayah. Risma adalah ibu tiri Hujan, namun kasih sayang Risma sangat besar kepada Hujan. Sama mungkin bahkan lebih dari ibu biologis Hujan.


"Kakak kamu kemana?" Tanya Risma sambil mengusap kepala Hujan. Hujan menggeleng namun tangannya menunjuk pada sebuah pintu keluar yang tadi ayah dan ibunya masuki. Juan memang bukanlah anak baik-baik dari awalnya Risma juga terkadang kewalahan dengan tingkah laku anak sulungnya. Juan. Sikap nakal Juan semakin menjadi ketika dia tahu sang ibu -Risma- kembali menikah dengan Aldi -ayah hujan-. seberapa banyak Risma memberikan alasan kepada Juan, Juan tetap tidak menerima Aldi sebagai ayah tirinya. Juan sangat membenci Hujan. bahkan tak menganggap Hujan sebagai adik tirinya. Risma bahkan tidak tau apa yang Juan lakukan di luaran sana. Juan akan pulang ke rumah setelah jarum jam menginjak angka enam -pagi- dan akan pergi lagi di kala jarum jam menginjak angka enam kembali -sore-. setiap ditanya Juan selalu bungkam, sedang Aldi-sang suami- hanya bisa memberikan kata-kata penyabar pada dirinya.


"Kak Juan bilang, aku bukanlah adiknya dan ibu bukan ibuku" Jawab Hujan sesekali terisak tatkala mendengar bentakan yang selalu di lontarkan sang kakak yang mengatakan jika dirinya bukanlah adik kandung dari mamahnya -Risma- melainkan anak yang di bawa ayahnya -Aldi- ketika mereka menikah. Risma tanpa sadar menitikkan air matanya. Hujan masih kecil namun perlakuan dari anaknya sudah di luar batas. Hati Risma sedikit teiris mendengar fakta yang diucapkan oleh anak kandungnya sendiri.


"Sayang kamu tetep adiknya meskipun tiri, kamu anak ibu dan ayah walau bukan ibu yang lahirin Vier tapi ibu sayang sama kamu" Jelas sang ibu. pecah sudah tangisan hujan dia meraung dipelukan sang ibu. sang ayah -Aldi- kemudian memeluk mereka berdua secara bersamaan.


"kamu anak yang kuat vier" kata Aldi air mata laki-laki itu menggenang di pelupuk matanya, sekali berkedip saja airmata itu akan lolos keluar membasahi pipi tirusnya.


"Ibu dan ayah halus beljanji jangan tinggalin viel ya" Kata Hujan sambil mengucek kedua matanya. gatal karena habis menangis.

__ADS_1


"Iya" Jawab keduanya.


Tanpa mereka tau itulah percakapan terakhir mereka sebelum maut memisahkan. Besoknya ketika sang ibu dan sang ayah hendak pulang dari kantor kecelakaan yang tak diinginkan pun terjadi, akibat seorang anak remaja yang ntah datang dari mana tiba-tiba menubrukkan tubuhnya pada mobil milik ayah Hujan. Hingga mobil ayah Hujan oleng dan menabrak trotoar jalan, kedua orang tua hujan pun tewas sebelum dibawa ke rumah sakit.


Mulai dari situ Hujan trauma. Hujan benci ketika seseorang mengiyakan sebuah janji, nyatanya ayah dan ibunya meninggal tanpa memenuhi janjinya. Pikiran alam bawah sadarnya selalu teringat bagaimana janji yang selalu diutarakan kedua orang tuanya setiap pulang kerja, ntah kenapa selalu membawanya pada sebuah mimpi nyata yang mengantarkannya pada sebuah kecelakaan cukup parah setiap tanggal 13.


kepergian sang ibu dan ayahpun memberikan dampak penyesalan yang mendalam kepada Juan. Akibat dirinya yang tidak menerima sang adik tiri berujung dengan potongan cerita pahit yang selalu ingin Juan lupakan dalam hidupnya.


Semenjak kepergian sang ibu laki-laki yang memiliki nama lengkap Juan Kasendra Awangsa itu mulai berubah, Laki-laki yang biasanya hanya menjadikan rumah sebagai tempat perhentian sementara kini mulai menjadi tempat terakhirnya, rasa benci Juan terhadap sang adik kalah oleh rasa tanggung jawab yang besar akan sang adik tiri. Dari pada meneruskan sekolahnya Juan lebih memilih bekerja dan membesarkan sang adik seorang diri yang masih dalam usia belia. Untunglah ayah dari anak yang melakukan hal gila pada orang tuanya itu bertanggung jawab hingga sekarang dan mengangkat Hujan juga Juan sebagai anak angkat.


Walau rasa benci Juan terlalu kuat mengakar-apalagi ketika dia tahu jika anak dari ayah angkatnyalah yang menjadi penyebab orang tuanya kecelakaan-, Juan memilih mengalah dan mengesampingkan egonya demi sang adik apalagi ketika melihat sang adik yang tidak tau menau prihal-anak ayah angkatnya-itu senang dan mau menerima ayah angkat mereka sebagian ayah pengganti dari Aldi ayah biologis Hujan.


Anak dari ayah angkatnya pun diberikan hukuman yang setimpal dari perbuatannya. Walau Juan tidak tahu seperti apa rupa dan nama anak sang ayah angkat. Karena sangat dilindungi media. Bahkan kematian kedua orang tuanya pun diberitakan resmi karena kecelakaan lalu lintas akibat terlalu cepat dalam berkendara. Namun semua itu bohong berita yang keluar palsu, semua itu semata hanya untuk menutupi status anak dari ayah angkatnya itu sebagai tersangka dari penyebab kecelakaan kedua orang tuanya. Jika adik tirinya membenci seseorang yang mengiyakan sebuah janji, maka Juan membenci seseorang yang berbohong.


End//


"AYAH, IBU VIER IKUT" Teriak hujan spontan bangun dari tidurnya. Tubuhnya bergetar, penuh peluh, air matanya keluar sambil sesekali terisak.

__ADS_1


__ADS_2