Best Seller Man

Best Seller Man
TTS


__ADS_3

Topan duduk seorang diri di ruangan Bem, setelah memarkirkan motornya Topan langsung berlari ke sekre hanya untuk mengecek jadwal piket. tidak penting sih namun selalu Topan lakukan.


pandangannya terfokus pada homescreen ponselnya yang belum pernah dia ganti semenjak dia membeli ponsel itu. Disana dirinya tersenyum bersama kedua kakaknya dia masih inget foto itu ketika dia merayakan kelulusan kakak tertuanya karena mendapatkan juara satu paralel.


"foto ini---sangat mengerikan" gumam Topan, sambil menatap homescreen ponselnya.


Putaran masalalu terputar secara otomatis di kepala Topan. Riang, Tawa dan canda yang dulunya tercipta kini hanya sebuah ilustrasi tak kasat mata yang membawanya pada banyangan masa lalu yang menakutkan.


"semua itu sangat transparan namun tampak tak nyata" gumamnya. gambaran-gambaran pertengkaran ntah kenapa kini mulai muncul di ingatan, bersamaan dengan gambaran seorang anak yang tersenyum bahagian dengan sebuah buku gambar dipelukannya. sebelum pertengkaran itu muncul ada seorang anak kecil yang tersenyum bahagia walau hanya di berikan sebuah buku gambar.


kedipan mata tak sengaja memberinya rasa lega karena keluar air mata dari kelopak matanya. jujur saja dia merindukan keluarganya dia merindukan kedua kakaknya. Geovan dan Arunika.


"kak Geo apa kabar? , ka Aru maaf" tambahnya.


Topan terkekeh sumbang kepergian Arunika benar-benar merubah segalanya. terutama bagi Topan dan Geovan semua itu bermula dari kedua orang tuanya.


"irawan kangen ka"


Flashback.


seorang anak kecil berlari kegirangan menyambut kedatangan kakaknya , sambil membawa buku gambar untuk diperlihatkan kepada sang kakak.


“kak lihatlah aku menggambar keluarga kita, ini aku, kak Geo, kak Alu dan ini olang tua kita ka” telunjuk kecilnya menunjuk satu persatu gambar yang dia buat. Gambar itu dia tiru dari potret keluarga mereka ketika kelulusan Arunika.


“kak Aru, Irawan nakal dia dari tadi mencoret-coret dinding. Ujung-ujungnya Geo yang dimarahin sama mamah” Adu seorang laki-laki yang berjalan lesu kearah keduanya karena setiap adiknya itu berulah selalu dia yang berujung disalahkan . Sedangkan sang kakak -Arunika- yang terlihat kelelahan hanya tersenyum sambil merangkul kedua adiknya masuk kedalam rumah mengajak keduanya duduk di kursi ruang tamu.


“gambarnya bagus kakak pajang dikamar kakak ya,” kata Arunika setelah mereka duduk dengan sikakak yang berada di tengah2 kedua adiknya.


"bagus apanya itu kepala ko segitiga gitu” sanggah Geovan sambil menunjuk gambar adik bungsunya yang menurutnya tidak berbentuk. Arunika menggeleng tak habis pikir kedua adiknya tidak pernah akur.


“namanya juga baru belajar. Mana mamah Geo? kalian berdua aja dari tadi? udah makan kan?” tanya sang kakak. matanya berpendar mencari keberadaan mamahnya. pertanyaan beruntun Arunika membuat Geovan mengerjap mencerna satu persatu pertanyaan itu. sedang si kecil -Irawan- hanya menyimak percakapan yang tua.


“kami udah makan ka, tadi pas Geo pulang mamah menitipkan sinakal ini padaku sebelum mamah pergi kebutik, "jawab Geovan sambil menunjuk Irawan-sinakal.


Dan dibalas juluran lidah oleh sibungsu - Irawan.


Arunika mengangguk sambil kembali melihat gambar sibungsu.


“ini bagus kakak suka. cita-cita kamu ingin menjadi pelukis?” tanya sang kakak kepada adik bungsunya tanganya tak berhenti mengelus rambut halus milik si bungsu sedang adik keduanya- Gaeovan dari tadi cemberut kesal semenjak kehadiran sibungsu, dirinya jadi di nomor duakan.


Irawan- sibungsu itu mengangguk lalu menggeleng membuat sang kakak mencubit pipinya karena gemas.


“kalau cita-cita kamu ingin menjadi apa Geo?” tanya sang kakak menoleh kearah Geovan membuat Geovan spontan menjawab.


“Dokter Geo ingin seperti kakek, kak! dokter Geo bukankah itu sebutan yang bagus” jawab Geovan pasti.


"wah Geovan pengen seperti kakek ya jadi dokter. terus kamu mau jadi apa irawan? " kata Arunika sambil mencubit gemas pipi sang adik, Irawan terdiam tak menanggapi dengan muka polosnya. Sedang Geovan hanya cemberut sedikit menatap kesal kepada sangat adik.


End


"kak Geo yang mau jadi dokter malah gua yang jadi dokter----- hewan" gumamnya.


"takdir gini banget ya"


Semua kenangan masa lalu itu selalu berhasil membawanya pada penyesalan yang bahkan tak berdasar. Penyesalan yang membuatnya enggan mengingatnya. hari dimana dirinya hancur sehancur-hancurnya rapuh serapuh-rapuhnya. penyesalan itu ibarat seperti pisau kecil yang tumpul menyayat sedikit demi sedikit batinnya. menyakitkan.


"kenapa lu?" tepukan di bahunya membuat Topan terlepas dari lamunan. tanpa sadar dia menekan asal ponselnya, mengabaikan pertanyaannya, Topan berpura-pura fokus pada ponselnya.


"lev daun yang suka dimakan koala apa namanya?" tanya Topan berbalik ke arah si penanya, sambil membaca teka-teki silang yang tanpa sengaja dia tekan asal tadi.


"lu lagi main teka-teki silang dari tadi?" tanya pahlevi, orang yang menyadarkan topan tadi adalah pahlevi si penepuk bahu. Topan mengangguk asal masih berpura-pura fokus dengan ponselnya.


'yang download ini teka-teki silang siapa sih?' batinnya.


menghela nafas Pahlevi berjalan kearah kursinya sambil berujar


" gua kira lu kenapa, kata anak-anak lu diem mulu dari tadi mana terus ada yang bilang lu ngomong sendiri lagi" jawab Pahlevi menarik kursi kemudian mengambil duduk disana.


"lagi ngerjain TTS, El Pueblo de Nuestra Señora la Reina de los Ángeles, itu apaan lev?" Tanya Topan.


"LA" jawab Pahlevi yang sedang memainkan ponselnya.

__ADS_1


"apaan LA lev Lentang agung? ngapain wan mau ke lenteng Agung? " tanya Derri dari ambang pintu. baru aja topan mau menjawab namun urung karena melihat kedatangan teman-temannya.


"kenapa nih calon bapak mentri" kirana masuk bersama Viola di sampingnya. sedang Topan hanya diam, pandangan jatuh pada laki-laki terakhir yang masuk dia Biru.


"eh bang gua tebak lu mau ketemu Irawan?" tanya Derri,


Biru mengangguk.


"wan ikut gua bentar yu" ajak biru. Topan mengangguk meninggalkan ponselnya yang masih dalam aplikasi TTS online.


"itu anak dari tadi ngisi TTS yang keisi cuman eucalyptus?" gumam Pahlevi menggelengkan kepala tak habis pikir dengan Topan.


Topan berjalan mengikuti kakak tingkatnya, sepanjang perjalanan tak ada yang memulai obrolan. Jujur baru kali ini Topan bertemu secara langsung dengan Biru. yang dia tau, dulu hanya nama Jenggala Marcello Albiru atau yang kerap di sapa Biru adalah mentri luar negri yang hobinya demo. berbeda dengan Jafar yang easygoing dan santai Biru ternyata lebih lugas dan terkesan kaku.


mereka berakhir di salah satu gazebo samping fakultas sastra.


"lu udah denger pasti, jafar udah nemuin lu?" tanya Biru dia menyodorkan sekaleng soda yang sering topan minum.


'soda lagi'


"gua bingung mau ngajak kemana makanya tadi puter-puter, tadinya gua mau bawa lu makan di kantin fakultas tapi kejauhan" tambah Biru.


"ngga laper gua bang, makasih soda nya" jawab Topan mengacungkan soda di tangan kanannya. Biru mengangguk.


"jadi gimana wan? mau ke partai gua apa mau ke Jafar?" tanya Biru lagi, pertanyaan staright forward dari Biru membuat topan bergeming. tanganya menarik segel minuman kaleng sambil berujar.


"gua liat dulu nanti ya bang, lagi pula orang kaya gua mana pantes masuk bem univ bang"


menjeda perkataannya sebentar menarik pandangannya kearah kaleng soda topan kembali berujar


"mageran" jawabnya.


"gua tunggu keputusan lu akhir minggu ini ya wan, gua harap lu mau gabung di partai gua sama Ale" final Biru.


"yaudah bang nnti gua pikirin" jawab topan, Biru mengangguk kemudian beranjak.


"gua duluan ya ada kelas habis ini"


'siapa yang ngajuin gua jadi mentri sih' pikirnya.


"Irawan" , Topan berbalik sambil berujar


"den yang unduh teka-teki silang di HP gua lu?" tanya Topan, pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut Topan membuat Raden bingung.


raden mengangguk sambil berujar.


"emang kenapa wan?" tanyanya.


"Makasih" jawab Topan. Raden memilih diam namun menggangguk ragu. maksud makasih yang keluar dari mulut sahabatnya itu apa Raden terkadang tidak mengerti jalan pikir Topan.


"ngajak ke mesjid ya" tebak Topan,


" iya, ke mesjid dulu yu sebelum kelas" ajak Raden, topan mengangguk sambil mengulurkan kaleng soda yang sudah dia buka. dia beranjak


"romantisnya" kata Raden diakhiri tawa. Topan bergidik sambil menggeleng.


"terus pake ost film Korea apaan tuh yang suka di tonton cewe-cewe di kelas kalau ngga ada dosen" tambah Raden lagi. sedang Topan hanya diam tak berniat meladeni fantasi gila milik sahabatnya.


"ost sinetron ajal" ceplos topan. Raden langsung merenggut sambi meminum soda yang tadi topan sodorkan raden kembali berujar.


"harusnya lu kasih ke cewe bukannya ke gua"


"yu katanya mau ke mesjid"


"wan itu bukannya bang Alkana?" tunjuk Raden, Topan mengikuti arah telunjuk Raden. dan benar disana ada gempa bersama orang yang pernah Topan temui tempo lalu.


"sama bang siapa sih yang waktu itu samaan nyari kosan?" tanya Raden lagi.


"ngga tau gua, biarin aja lah ayo ke mesjid"


•••

__ADS_1


Disebuah perusahaan seorang laki-laki tengah berkutat dengan buku Hitam yang lumayan tebal, sesekali dia mengacak rambutnya kasar. tak jauh darinya duduk seorang laki-laki setengah baya yang tengah memperhatikannya.


"ah ini apa sih pusing pak" teriak Guntur. sambil membanting buku itu asal. membuat septian terhenyak kaget.


"itu data pemasukan sama pengeluaran, pak ferdianan selalu menyalin ulang semua data kedalam satu buku--"


"gunanya buat apa kan ada komputer jauh lebih aman lah buku kena air aja luntur ini tulisan" kesal guntur sedari tadi dia pusing masalahnya tulisan ayahnya benar-benar membuat dia meradang.


'ini tulisan apa rumput bergoyang sih' pikir guntur.


"beliau takut kejadian dulu keulang lagi. makanya beliau menyalinnya sendiri semua buku-buku itu adalah rahasia perusahaan" tambah Septian sambil berjalan kearah pintu dia berujar


"yaudah istirahat saja dulu, nanti di lanjutlagi. saya mau keluar sebentar"


Guntur memandang pintu yang sudah tertutup,


"kejadian dulu, iya yang ayah pedulikan hanya perusahaan"


semua ini seakan tiba-tiba bagi guntur. seakan sang ayah tak mau tahu semua yang guntur alami selama di New York.


"dia kira gua di New York shoping kali ya"


Karena seakan kedua orang tuanya tak mau tahu prihal perkembangan kesehatan guntur, mereka menutup mata dan menulikan telinga ketika guntur mengaku kalau dirinya adalah seorang cleptomania. kalau bukan karena dukungan sosok Ceko, mungkin guntur sudah hancur dan berakhir di jeruji besi. Bahkan tepat ketika dirinya mengijakkan lagi kakinya di bandara kemarin dirinya sudah tak mengharapkan pelukan hangat atau bahkan sapaan kerinduan dari kedua orang tuanya.


"egois, besar kan saja perusahaan yang ayah banggakan" gumam guntur, dia kmudian beranjak keluar dari ruanganya.


Guntur berjalan seorang diri memperhatikan banyaknya karyawan milik sang ayah dengan kesibukan masing-masing yang berbeda, hingga pandangannya jatuh pada seorang perempuan yang terduduk di depan pintu keluar tangga gawat darurat. masih betah memperhatikan gerak gerik perempuan itu tanpa sadar kakinya membawanya mendekat. si perempuan yang baru saja menyadari keberadaan guntur terhenyak kaget.


"maaf Pak saya menghalangi jalan anda" katanya sambil membungkuk kemudian berjalan menjauh.


Guntur mengernyit tatkala melihat sebuah kertas yang sepertinya tertinggal milik perempuan yang tadi, hendak berbalik mengejar namun telat perempuan tadi sudah keluar lewat pintu exit sebelah utara. Dikejar pun percuma.


"CV" gumamnya tatkala dia melihat kertas itu.


"gimana tadi lancar?"


"degdegan gua baru pertama kali interview"


"sama, untung ngga telat"


"iya, sia-sia kalau telat"


itu adalah percakapan dua orang perempuan yang baru saja keluar dari lift. Guntur menerka mungkin saja perempuan yang tadi itu hendak interview juga namun telat. dilihatnya lagi kertas CV yang dia pegang,


"semesta davinka darmawangsa" ejanya, membaca nama di CV yang dia pegang.


guntur kemudian melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam saku celana kemudian kakinya dia langkahkan ke arah lift hendak kembali lagi ke ruangan yang tadi.


"eh gua denger katanya hari ini ada anaknya pak ferdianan"


"yang mana?"


"ko yang mana emang pak ferdinan punya berapa anak?"


"setau gua satu deh dulu sempat di bawa katanya kesini"


"dua sih menurut kabar"


"tapi kalau dua, ko---


" dua"


Jawaban itu keluar dari laki-laki berkecamata hitam yang tengah bersender di dinding lift tampilannya sedikit acak-acakan, rambut tidak disisir, kemeja yang lecek serta tidak di masukkan. Jauh dari kata rapih.


"apa?" katanya tatkala melihat semua pasang mata melihat kearahnya sambil sesekali laki-laki itu mengembangkan permen karet miliknya dia kembali berujar


"jangan pernah membicarakan orang, ngga baik" finalnya karena bersamaan dengan terbukanya pintu lift laki-laki itu pun keluar,


•••


Sedang di sebuah ruangan, seorang remaja laki-laki sedang duduk dengan santai bersama empat orang temannya, mengabaikan laki-laki setengah baya yang kini menatap sengit mereka. Akibat aksi ajaibnya kemarin badai bersama anak ares harus berhadapan dengan kepala sekolah SMA Nuansa. SMA yang dipakai untuk olimpiade fisika Arva.

__ADS_1


__ADS_2