
badai kembali menghentikan motornya, menatap belokan jalan yang tak asing dia lihat. Tadi dia kembali menengok sang ibu di rumah sakit jiwa, niatnya langsung pulang atau ke Ares berkumpul bersama teman-temannya, namun rencananya harus gagal karena sebuah pesan dari grup chat kosan yang hampir membuatnya kesal karena notif ponsel yang tak henti.
dia menyapu pandangan melihat nama jalan yang hendak dia bagikan ke grup hingga pandangannya jatuh pada sebuah nama jalan 'Diambang kematian', badai mengernyit ragu namun tetap mengirimkan pesan itu ke grupnya. kembali menyalakan mesin motornya dia berniat akan menemui hujan di SMA Mandala karena dia kurang tau letak fakultas yang di maksud Topan di grup.
namun setelah beberapa kilometer dia kembali berhenti, karena dia melihat belokan yang sama lagi seperti tadi, mengernyit heran kemudian dia menyalakan ponsel berniat melihat maps di internet.
"aneh, nyasar ya gua? " gumamnya. mapnya sesuai dan tak ada keanehan namun ntah kenapa badai merasa kalau dia tadi melewati jalan yang sama, kembali dia menyapu pandangan seingat dia ada nama jalan yang aneh dan iya ada nama jalan yang sama 'diambang kematian'.
"ini tanda2 gua mau mati apa gimana sih. atau tanda perkenalan dari malaikat maut" badai kembali bergumam ngaco. dia pun memutuskan untuk bertanya sambil ngopi di warung, karena tak jauh dari sana terlihat sebuah warung kecil yang penuh pengunjung.
"permisi, bu kopinya satu ya" pesannya, kemudian dia duduk di bangku kayu panjang menyatu bersama bapak-bapak yang juga tengah ngopi. Karena bosan dia membuka room chatnya bermaksud menghubungi hujan, namun tepat ketika dia menyalakan ponsel muncul panggilan dari Hujan.
[Calling Javier]
"dimana lu kal? " pertanyaan pembuka yang pas ditengah kebingungan dia sekarang.
"diambang kematian, ini gua nyasar kayanya" jawab badai.
"mau mati lu? ini gua udah nunggu setahun di Mandala" jawab Hujan di sebrang dramatis. badai mendengus baru juga sejaman dia udah rewel.
"nama jalannya di ambang kematian Hujan, baru juga sejaman lebay banget lu" badai menjawab dengan nada kesal.
"A irawan chat mulu nanyain lu tadi katanya chatnya ngga di bales"
"males scroll kalau butuh telpon" jawab badai, hening.
"bentar" sambil berteriak badai menyimpan ponselnya , dia berjalan kearah jalanan bermaksud mengecek jalan yang sama. aneh pikirnya.
"wooy kaleng" teriak Hujan dari arah ponsel badai membuat semua pengunjung warung melihat kearah ponsel badai. badai mengangguk meminta maaf karena ulah hujan. ibu-ibu yang tengah bergosip minyak goreng naik jadi spontan diam bapak-bapak yang tengah membicarakan janda komplek pun langsung diam. kembali duduk badai langsung meneguk kopinya.
"ini A irawan chat katanya----pip badai mematikan ponselnya. dia memutus panggilan sepihak.
Selepas dia memutus panggilan sepihak nya dengan Hujan, dia menggeleng tak habis pikir dengan jalan yang baru dia lewati,
" apa karena gua udah tua, jadi pelupa 15 tahun tua terus 20 atau 3 tahun apa? Bao" gumamnya. karena setiap menengok sang ibu di rumah sakit jiwa badai selalu melewati jalan yang sama, dan baru kali ini dia nyasar?
"apa tadi gua salah belok?" katanya dia mengeluarkan sebatang rokok kemudian melemparkan bungkusnya sembarang ke meja. tanpa dia sadari dia jadi bahan tontonan setiap pengunjung warung. kembali mendengus dia menoleh karena melihat kejanggalan. bapak-bapak di sampingnya semua melihat kearahnya.
"rokok pak" tawar badai kaku. sepontan bapak-bapak tadi pun menggeleng bersamaan.
"itu rokok? ko beda sama yang di jual di warung"
"rokok apaan ya itu"
sedikit percakapan bapak-bapak yang ditangkap oleh indra pendengar badai.
kembali ponsel badai menampilkan notifikasi. Hujan kembali memenuhi pesan badai dengan umpatan karena menunggu lama ditambah tadi dia mematikan panggilan sepihak. Badai abai memilih fokus dengan maps di hpnya mencari letak Rumah sakit Jiwa Angkara, dia terus memperkecil pencarian hingga
"gocha" gumam badai. ternyata dia salah belok harusnya dia belok kearah kiri dia belok ke arah kanan.
"warteg Bahari, ini dia salah disini gua makanya sekarang gua nyasar ke daerah aneh" tambahnya.
"permisi dek, dari kota ya?" tanya bapak-bapak di samping badai. badai mengangguk kaku sambil berpikir 'emang ini bukan kota?'
"pasti kesasar ya? ngga bisa balik?" tebak ibu-ibu yang tadi bergosip minyak goreng. badai mengangguk kembali.
"itulah makanya ini di sebut daerah diambang kematian" kata ibu-ibu yang keluar dari warung sambil membawa kresek putih penuh sayuran.
"tinggal lurus saja dek, nanti nemu pertigaan di ujung belok kiri lurus nanti ketemu rumah sakit jiwa angkara dari situ sudah deket ke daerah kota de" badai kembali mengangguk sambil bergumam
"oh, pantesan".
" Terima kasih ya pak, bu, nanti saya coba ikutin jalannya" jawab badai sambil menyimpan uang seratus ribu di meja samping rokoknya dan kopi.
"ini uang untuk kopinya ya bu, saya permisi" tambahnya. dia beranjak kemudian berjalan kearah motornya. Badai kembali melajukan motornya tanpa peduli dengan teriakan ibu-ibu dan bapak-bapak di warung.
"dek kembaliannya ini dek"
"dek rokoknya ketinggalan"
sekilas jalanan ini memang terlihat sama namun ketika mengambil jalan lurus badai masuk ke gang besar di dinding gang banyak karikatur-karikatur nyeleneh yang nampaknya di buat anak-anak disana.
"nyindir negara ngga nanggung-nanggung sih ini" gumamnya. selama berkendara badai tak henti-hentinya bergumam dia dapat menerka anak-anak disana mendapatkan hak kebebasan berpendapat lewat karikatur nyeleneh cenderung aneh yang di gambar di sepanjang dinding.
"oh itu dia" kembali badai bergumam tat kala oandanganya melihat jalan Raya yang macet dengan kendaraan.
...•••...
SMA Mandala.
Sudah sekitar dua jam lebih Hujan menunggu badai dia merutuki ponselnya kesal karena panggilannya diputus sepihak oleh badai.
"SKAKK" Hujan berjengit kaget, gara-gara badai dia lupa kalau dia tengah main catur bersama pak cahyo. Tadi ketika motor hujan hendak keluar area sekolah tiba-tiba dia ketemu pak Cahyo yang sedang duduk di ruang satpam. kebetulannya ada agenda pembicaraan yang berniat hujan sampaikan ke pak Cahyo, sambil main catur Hujan berdiskusi masalah OSIS yang akan studibanding ke daerah Yogyakarta yang katanya kotanya anak sastra. Jujur Hujan sendiri tidak mengerti yang namanya catur bukan ranah dia kalau kata hujan. makanya sedari tadi Hujan kalah terus.
kembali ponselnya berdering kali ini panggilan dari "a Irawan."
[Calling Topan]
"bentar A si kaleng rombeng belum sampe"
"Assalamualaikum, dimana?" tanya Topan.
"masih di SMA si kaleng belum sampe, waalaikumsalam. masih diambang maut, eeh kematian lah apalah itu namanya" jawab Hujan.
__ADS_1
"gua sama Bang Alkana nunggu di depan fakultas Hukum, tunggu aja jangan sampe bonceng tiga, ngga lucu"
Hujan tertawa ngga kebayang mereka bonceng tiga naik motor bebek pula.
"iya"
"katanya kamu ngga ikut ya Vier? kenapa? " tanya pak Cahyo di sela main catur nya. Hujan tau arah pembicaraan Pak Cahyo-studybanding. dia menyimpan hpnya kemudian menatap langit yang bersiap menjingga. dia tengah mencari jawaban falid yang bisa jadi alasan kuat.
"ngga kenapa-kenapa pak ada halangan aja mau izin" jawab Hujan, tangannya menarik bidak catur mengalihkan raja ke samping.
"sayang lo padahal kamu itukan ketua umum banyak ilmu yang bisa kamu petik di Yogyakarta sambil study banding" , hujan mengangguk apa yang pak Cahyo katakan tidak salah hanya saja waktunya yang kurang tepat. kenapa harus tanggal 13 bulan depan? dari semua tanggal kenapa malah milih tanggal 13?
"mungkin nextnya pak saya ikut"
'kalau bukan tanggal 13' tambahnya dalam hati.
"SKAKK"
"astagfirulloh pak kaget" jawab Hujan padahal dia masih bisa jalan tadi ko udah skakk lagi. tidak salah pak Cahyo selalu jadi guru pembimbing catur di Mandala.
"permisi pak kopinya" Bu kantin memotong keterdiaman keduanya.
"makasih ya bu" jawab Pak Cahyo.
"ngopi ngga kamu vier?" tanya pak Cahyo, sambil menyesap kopinya. hujan menggeleng dia bukan anak sekarang yang hobinya pasang status di tempat kopi. lambungnya ngga kuat, minum jahe merah aja lambungnya kadang-kadang suka kumat.
"boleh tau bapak alasan kamu ngga mau ikut study banding, banyak yg menyayangkan lo Vier" tanya pak Cahyo setelah dia menyimpan gelas kopi.
'masa iya pak gua jawab, kalau tanggal 13 nanti gua celaka pas banget lagi perjalanan kalau tamat hidup gua gimana? tamat juga cerita ini'
"kakak saya mau ada acara lagian itu bukannya bertepatan de--'" jawab Hujan
"loh Juan mau nikah? atau mau tunangan, sama org mana padahal mau bapak jodohin sama anak bapak" kata pak Cahyo langsung memotong.
"bukan pak bukan mau--- Hujan eh" hujan menoleh melihat siapa orang yang berteriak di depan gerbang Mandala sambil memanggil nama dia yang nampaknya tengah beradu mulut sama pak satpam.
"sebentar ya pak" kata hujan sambil beranjak meninggalkan pak Cahyo sendirian ngopi.
"nah itu anaknya pak, eh lu cepet sini. baca chat kaga lu katanya tangan A irawan luka" kata Badai sambil manarik Hujan menjauh dari gerbang.
"konyol banget lu punya otak, terus kita jalan? motor gua kan di dalem sekolah. motor lu mana pea ko make helm doang?" tanya Hujan kesal. Badai terdiam dia memegang kepalanya dia lupa tidak melepas helm bogonya. motornya???
"aduh gua lupa motor gua di halte Mandala buru lah A irawan parah tanganya katanya" kata badai sambil berlari meninggalkan hujan.
"woiiy" teriak Hujan
"gua tunggu di halte kunci motor gua tinggal di motor" teriaknya tanpa menoleh dan terus berlari tanpa memerankan larinya.
"KAMBING" umpat Hujan. hujan kemudian mengecek ponselnya dan benar saja ada beberapa panggilan dari Gempa tadi dia mengheningkan ponselnya karena kesal.
"heh kaleng, ayo" teriak hujan dari atas motor. badai mengangguk kemudian menyuruh Hujan duluan karena badai mendadak lupa jalan takut nyasar lagi kaya tadi.
"LU TAU KENAPA A IRAWAN TANGANYA LUKA" teriak Hujan di tengah menyetir motornya nya.
"APA SARIAWAN? LU SARIWAN?" jawab Badai ngaco.
"KEHUJANAN? EMANG BISA? HUJAN PAKU APA GIMANA?" kata Hujan tambah ngaco.
"PAKU?" saut badai.
"LU NELEN PAKU TERUS SARIAWAN? LU DEBUS" tanya badai lagi.
"KETABRAK BUS?"
mereka terus saut sautan di atas motor bayangkan dua motor beda type yang dulu bikin rame jalanan karena kejar-kejaran sama polisi kini kembali bikin rame karena saut-sautan di jalan. romantisnya mereka bukan.
Kurang lebih satu jam setengah mereka sampai di depan Fakultas Ranajaya. setelah melewati kemacetan ibu kota yang mengerikan.
"kal ini langsung masuk aja?" tanya Hujan, badai menggeleng.
"kemarin yang antar A irawan sama jemput bang Alkana kan lu kambing, gua kan ada kumpul OSIS" kata Hujan sambil dorong badai. karena kemarin ada kumpul OSIS jadi hanya Badai yang memberanikan diri kembali jemput Topan yang sialnya Topan pun sedang rapat BEM dan berakhir menjemput Gempa yang ada di gedung Asisten dosen.
"gua lupa, aduh HUJAN" jawabnya, membuat semua mahasiswa yang lalu lalang disekitar mereka spontan melihat ke langit sambil menengadahkan sebelah tanganya.
"TERUS KEMANA KALEN?"
"bukan kesini nganternya gua ke gedung apaan lupa kemarin, jangan teriak-teriak kaya hutan" jawab Badai, dia kembali memutar ingatan ketika tadi dia mengantar Topan.
"oh gedung BEM, gedung putih eh coklat ah apalah itu catnya lupa gua, gituan lah ngga tau gua" tambahnya. yang dibalas tatapan datar dari Hujan.
"terus ini gimana? nanya gih fakultas hukum dimana, A irawan ngelawak kali ya dikira Ranajaya segede SMA yang gampang tinggal teriak kaya lu tadi" gerutu Hujan sambil mendorong badai agar anak itu turun dari motor matic nya.
"tadi gua panik--buset lu dorong gua mulu ampe nyukruk Hujan" teriak badai gara-gara dorongan Hujan badai sampai nyukruk ke bawah sampe lesehan. hujan abai memilih memendarkan pandanganannya melihat beberapa gedung fakultas di Universitas Ranajaya mencari gedung bercat putih yang dimaksud badai barusan.
"eh kita jadi bahan tontonan Hujan" kata Badai sambil menendang ban motor bebek milik Hujan.
"aduh, bodo amat lu tanya buru katanya A irawan terluka" jawab Hujan. badai mendengus sambil beranjak. namun tak ada satupun yang bisa di tanya seakan semua sibuk.
"HEH HUJAN KO LU PINTER BANGET KAN ADA HP, TELPON LAH BURU" teriak badai dari kejauhan setelah berputar-putar mencari orang yang mau ditanya.
"oh iya" baru aja mau menelpon badai berteriak
"KAK TEMANNYA BANG ALKANA KAN YA?" tanya badai sambil berlari kearah salah satu mahasiswa.
__ADS_1
"eh lu bukannya bocah yang sekosan sama alkana" tebaknya. Badai mengangguk.
"gua Kelvin, lu siapa? kenalan dulu kita" kata kelvin sambil mengulurkan tangan kearah badai. baru aja badai akan menjabat tangan, Hujan berteriak sambil berlari
"BADAI BUR---- eh abang kan yang suka sama bang Alkana kan ya?" tunjuk Hujan.
"kosakata lu bocah benerin, iya gua yang suka bareng Alkana, Kelvin" jawabnya.
"kita nyari fakultas hukum dimana ya bang?" tanya Hujan lagi. sedang badai dari tadi diam mematung.
"oh fakultas hukum, tuh gedungnya paling khas kita mah" tunjuk Kelvin pada salah satu gedung bertingkat dengan logo Hukum di atasnya.
"yaudah tunggu apa lagi ayo katanya A irawan luka" tarik Hujan sambil narik lengan badai mereka meninggalkan Kelvin yang kebingungan.
'ini gua harus bersyukur apa ngga sih kenal orang kaya hujan' pikir badai.
Tak lama mereka mencari gedung fakultas yang tadi di tunjuk Kelvin kini mereka sudah sampai dan mulai mencari Gempa dan Topan seperti biasa Hujan akan menyuruh Badai untuk mencari. ntah kenapa badai mau mau aja di suruh.
"KALENDRIKA" badai menoleh, lagi sibuk mencari orang yg bisa dia tanya sambil terus menggerutu karena fakultas hukum lumayan ramai dan sibuk.
"bang alkana, a irawan mana bang?" tanya Badai berlari kearah Gempa, Gempa menunjuk kearah tangga disana Topan tengah duduk sendirian.
"tuh anak ilang" tunjuk gempa. badai tertawa kecil sambil berjalan beriringan dengan gempa.
"lama banget lu gila, sama si Javair" protes Topan tatakala keduanya sampai di depan Topan.
"sorry A gua kesasar tadi terus gelut dulu sama satpam Mandala gara-gara beda seragam" jawab badai. gempa terkekeh ringan. menggeleng tak habis pikir.
"nemu dimana bang bocah?" tanya Topan.
"didepan fakultas kaya org ilang" jawab gempa sambil memberikan botol minum ke Topan.
"BADAI GUA CARIIN EH BANG ALKANA A IRWAN" teriak Hujan sambil berjalan kearah Ketiganya. ketiganya spontan langsung nutup kuping.
"ini kampus bukan Hutan, berisik banget lu" jawab badai.
"lu kemana aja lama banget ini gua ampe lumutan sama bang Alkana" Topan kembali protes kali ini sambil berjalan kearah hujan.
"A katanya tangan lu luka karena ke tubruk bus?" tanya Hujan sambil memperhatikan Topan. Topan mengernyit bukan hanya Topan, gempa pun bingung.
"ke tubruk bus sih?" beo Badai.
"lah lu kan tadi yang bilang di motor badai sama gua" tunjuk Hujan. badai bingung coba mengingat kapan dia bilang Topan ke tubruk bus.
"ke tubruk bus itu? badan lu ngga kenapa-kenapa kan a" tanya Hujan sambil menunjuk setengah bus putih yang biasa digunakan untuk mengantar jemput dosen setiap fakultas.
"A ko bisa separah ini? beneran ke tubruk bus?" ini bukan pertanyaan Hujan melainkan badai yang langsung menarik tangan Topan.
"ketumpahan air panas tadi pas dilokan" jawab gempa.
"udah diobatin?" tanya Hujan, gempa menggeleng sambil berujar.
"dia ngga mau katanya ribet buka jaket"
"ini ko kaya luka sayatan yang kesiram air panas" ko badai bisa tau, karena dia pernah ada di posisi Topan luka lama yang belum kering malah di tambah luka baru jadi makin parah.
"sok tau bocah" jawab Topan sambil menarik lengan bajunya sampai bawah. Hujan meringis gempa pun sama.
"A ini darah?" tanya Badai lagi. Topan mengangguk santai seakan itu biasa saja.
"tunggu A jangan-jangan lu vampir yang melepuh karena sinar matah---" belum juga selesai ngomongnya, kepala hujan langsung di tutup blazer sekolah sama Badai.
"ngaco"
"bawel bocah"
tanpa mereka sadari keempatnya jadi bahan tontonan semua mahasiswa mulai dari Hujan dan Badai datang dengan seragam yang beda sekolah sampe saat mereka ketemu Topan dan Gempa. tidak ada yang menarik mungkin bagi mereka namun tanpa mereka sadari anak-anak yang berkumpul di bawah tangga fakultas hukum adalah orang-orang yang berpengaruh mulai dari Hujan anak Mandala yang terkenal dengan prestasi sekolahnya kemudian Badai anak Gardapati yang terkenal dengan sekolah elitnya dan ada Topan dan Gempa yang jelas mereka dua mahasiswa yang sangat berpengaruh di Ranajaya.
Badai sadar dari tadi dia menjadi bahan tontonan semua mahasiswa namun dia memilih abai apa lagi melihat Hujan, Topan dan Gempa yang tidak merasa risih sama sekali ntah kenapa bersana mereka Badai merasa punya keluarga padahal mereka baru saja bertemu.
"udah ayo A biar cepet di obatin pas nyampe kosan, bang Alkana sama Lu kal" kata Hujan sambil berjalan duluan.
"bang lu bisa naik motor?" tanya badai menoleh kearah gempa yang masih duduk di tangga. Gempa mengangguk membuat Topan dan Hujan mengernyit ntah kenapa.
"bisa... bisa langsung ketemu Tuhan kal kita" jawab Gempa.
"gua bawa helm satu, kudu pake helm ngga sih?" tanya Hujan yang selalu menaati peraturan berserta tektek bengeknya.
"ngga usah kita motong gang aja---
" yakin motong gang tar nyasar kaya lu tadi" potong hujan.
"soalnya kemarin gua waktu jemput bang Alkana sama nganter A irawan lewat jalan motong gua kan ngga punya helm dua kecuali mau kejar-kejaran sama polisi---
" gua jadi keingetan dulu gua pernah liat anak SMA dikejar polisi sampe rame jalanan" potong Topan. ntah kenapa dia inget banget penyebab dia telat ngospek karena dua motor yang buat macet lalu lintas.
"siapa A? ---
" tunggu---
ntah kenapa ketiganya seakan tengah memproses sesuatu,
"jangan-jangan---
__ADS_1
"kalian ngalangin jalan irawan, Javier, Kalen" kata gempa, membatalkan otak mereka yang seakan hampir mendapatkan jawaban dari proses yang begitu panjang dan lama mereka mematung di Koridor kampus.