Best Seller Man

Best Seller Man
pindah kos -gempa


__ADS_3

Sebuah mobil phorche panamera berhenti tepat di depan rumah megah, Gempa turun dengan mengenakan pakaian formal yang sudah tak rapih lagi, namun tak dapat dipungkiri semua itu tak membuat laki-laki itu terlihat jelek. Gempa sampai di depan rumahnya belum sempat menginjakkan kaki di teras rumah, sebuah mobil mewah yang terparkir apik di depan rumah mengalihkan atensinya, dia tau itu mobil milik salah satu kakak kembarnya.


Kakinya melangkah pelan memasuki rumah besar milik keluarga Naraya, sambutan hangat dari pembantu nya cukup membuatnya merasa tidak kesepian walau hanya sendirian.


"Sore mas alkana" Kata bi Sumi, tat kala melihat anak bungsu keluarga Naraya sampai di ambang pintu.


"Sore bi, oh iya bi---ka arsa atau ka Arta yang ada dirumah? " Tanya gempa mengingat mobil yang digunakan kedua kakak kembarnya itu sama sehingga tak bisa menebak siapa yang tengah ada di rumah keluarga Naraya kini.


"Mas Arsa sama mas arka tadi ada di rumah mas alkana" Jawab bi sumi lagi.


"Loh tumben cuman satu doang mobilnya" Kata Gempa,


"Tadi mas Arka sama mas arsa naik mobil masing-masing padahal mas alkana, mungkin lagi keluar salah satunya" Jawab bi sumi menjawab kebingungan dari gempa, gempa mengangguk. Memilih abai kemudian gempa melangkahkan kakinya ke arah tangga untuk pergi ke kamarnya.


Gempa berjalan kearah kamarnya, sebelum membuka pintu kamarnya, Gempa menyempatkan melihat kamar salah satu kakak kembarnya, Arsaka. Dari luar kamar itu sepi terlihat tidak ada kehidupan di dalam kamar itu,


'Dikamar kak Arka kali ya' -batin Gempa karena kamar Ardasa terlihat sangat sepi dari luar.


Karena penasaran gempa memilih untuk melihat isi kamar sang kakak- Ardasa- tanganya terulur membuka pintu kamar kakaknya, menyembulkan kepalanya mengedarkan pandanganya kesetiap sudut kamar sang kakak namun tak ada tanda-tanda kakaknya disana, bahkan suara shower pun tak ada. Kamar itu memang jelas terlihat tak berpenghuni lemari kaca dan juga beberapa perabotan di kamar sang kakak pun terlihat tak tersentuh. Gempa menautkan kedua alisnya bingung. Bisa jadi Ardasa ada di kamar Arsaka yang letaknya dibawah tepatnya disamping kamar orang tuanya. Karena hanya kamar kakaknya -Arsaka- yang berada di bawah.


"Tumben" Gumam gempa. Kembali memilih abai dia menekan kenop pintu kamarnya kemudian memasuki nya. Alisnya kembali bertaut seakan tak usai pertanyaan yang muncul di otaknya, kini pandangannya jatuh pada sebuah koper yang terlihat sudah rapih di samping meja belajarnya. Gempa kemudian membuka isi koper itu di dalamnya sudah penuh baju-baju yang tersusun rapih miliknya. Dan juga beberapa keperluan yang sekiranya gempa butuhkan. Ah iya dia ingat hari ini dia akan berniat berangkat ke tempat kos, dia tadi siang mengirimkan pesan kepada kedua kakak kembarnya agar membantunya membereskan beberapa pasang baju dan keperluan untuk hidup di tempat barunya. Kosan.


"Orangnya kemana?" Tanya gempa, koper itu pasti kedua kakaknya yang membereskan. Hanya saja kenapa hanya kopernya saja sedang kedua kakaknya seakan hilang di telan udara, tak terlihat batang hidungnya sekalipun hanya mobil yang terparkir apik di depan rumah itu juga hanya satu. Mungkin mobil satunya lagi di gadaikan karena gagal memenangkan klien di pengadilan? Pikir Gempa melenceng.


Mengingat sebuah koper secara spontan berbagai kenangan mulai mengisi otaknya kini, dulu gempa sempat membantu sang ayah membereskan beberapa baju untuk dibawa sang ayah ke Budapest. Karena pekerjaan sang ayah harus pergi keluar negri meninggalkan keluarganya. Gempa adalah anak yang sangat dekat dengan sang ayah, sang ayah-David- adalah sosok yang menjadi panutan untuk ketiga anaknya. Dulu David selalu berusaha menyempatkan waktu untuk ketiga anaknya walau kesibukan selalu saja melanda ayah tiga anak itu.


"Pah kenapa papah pergi terlalu cepat?" Gumam Gempa pandangan jatuh pada bingkai foto keluarga yang sengaja dia pajang disana. Gempa kemudian berjalan kearah kasur menelentangkan tubuhnya sambil memandang langit-langit kamarnya, sendu.


Flashback


Gempa berjalan sambil tersenyum ramah bersiap untuk membuka kamar sang ayah, dia berniat untuk membantu sang ayah menyiapkan perlengkapan untuk keberangkatan nya ke Budapest.


"Curang ko ka Arsa sama ka Arka sudah disini" Kata gempa yang melihat kedua kakak lembarnya kini sudah ada di kamar sang ayah. Sedang David hanya tersenyum melihat keberadaan anak bungsunya.


"Sini sayang bantu ayah" Kata mamahnya sambil membuka lebar pintu kamarnya.


"Bukannya kamu ada OSIS ya?" Tanya Ardasa sambil menumpuk beberapa baju milik sang ayah. Gempa mengangguk namun setelahnya di memejam siap menerima ceramah panjang lebar dari kakak kembarnya, Arsaka.


"Iya ada--


" Bukannya OSIS dulu kan kalau masalah bantuin papah bisa kakak yang kerjain sama Arsa, kamu itu ketua OSIS Alkana harus menjadi contoh baik untuk para anggota OSIS lain. Bukannya malah membolos" Kata Arsaka.


'Sudah kuduga' -batin gempa.


Gempa diam menunduk kemudian memilih abai dengan lontaran kata-kata yang sudah dapat dia duga sebelumnya, kakinya berjalan menghampiri sang ayah yang tengah menyender di kepala ranjang.


"Pah apa lama?" Tanya Gempa sambil menarik kursi untuk duduk di samping ayahnya. David menghela nafas sebentar kemudian mengangguk.


"Iya lama, ada sekitaran lima bulan papah di Budapest" Jelas sang ayah sambil mengelus rambut gempa sayang.


"Jangan berangkat saja pah" Kata gempa, ntah kenapa dia ngga mau ditinggal sang ayah pergi, padahal itu bukanlah hal baru bagi gempa ketika di tinggal pergi sang ayah keluar negri.


"Ada sesuatu yang harus ayah selesaikan disana, dan lagi ayah kan kerja nanti kamu makan apa sama kakak kamu kalau ayah diam saja" Jawab David, tersenyum teduh kearah putra bungsunya. Putra bungsunya ini memang memiliki jiwa manja yang mengalahkan sifat kedua kakak kembarnya.


"Mah, nanti kalau papah pergi alkana sama siapa?" Kata gempa memelas berharap sang ibu mau membujuk sang ayah agar tidak berangkat pergi esok hari.


" Sayang. papah kamu pergi ada urusan pekerjaan, kan ada mamah sama ada kakak kembar kamu" Kata sang ibu,


"Iya sih mah, hanya saja kenapa Alkana ngga rela" Jawab Gempa tangannya terulur meminta sang ayah agar masuk kepelukan nya.


"Pah peluk" Kata gempa. Ntah kenapa ada rasa sedih dari setiap kata-kata yang dia lontarkan itu. Pelukan hangat ayahnya dia rasakan bersamaan dengan buramnya penglihatannya karena memendam tangis yang siap pecah. Sungguh alkana akan sensitif kalau menyangkut sang ayah apalagi sang ayah akan pergi meninggalkan nya.


Tak hanya gempa, si kembar pun berhambur memeluk sang ayah memeluk David erat seakan itu hari terakhir mereka berjumpa dengan sang ayah. Tak ada yang tau bukan bisa saja memang itu yang terakhir mereka merasakan pelukan ayahnya. Sedang sang ibu -Ana- tersenyum melihat betapa sayangnya ketiga anaknya kepada suaminya. David kemudian mengkode sang istri agar -Ana- juga bergabung ikut memeluk nya.


"Kenapa kamu menangis sayang?" Tanya ibunya tat kala melihat gempa kini mulai terisak di pelukan ayahnya.


"Alkana, papah hanya sebentar tidak bertahun-tahun dulu saja ketika papah berangkat satu tahun lebih kamu tidak menangis seperti ini" Tanya Arsaka, sedang Ardasa kini tengah menenangkan gempa yang terisak di pelukan ayahnya.


"Kak ntah kenapa aku sangat sedih" Jawab Gempa yang masih terisak.


"Dih cowo ko mewek" Kata Ardasa yang berhasil mendapatkan tendangan di tulang keringnya ulah sang adik. Gempa.


"Cowo juga manusia kali ka bisa nangis bukan robot yang tak punya air mata" Jawab gempa.

__ADS_1


"Itu yang istrinya adudu kan robot" Kata Ardasa.


"Nangis?" Tanya Arsaka, Ardasa menggeleng


"Itu menggeleng ngga tau atau tidak sa?" Tanya Arsaka.


"Keduanya, aku kan bukan penggemar adudu ka" Jawab Ardasa.


"Bodoamat, sini ka aku gadai siapa tau laku keras" Jawab sang adik yang sudah berhenti menangis, Ardasa tersenyum kemudian memeluk sang adik. Setidaknya film kartun yang tak sengaja dia tonton bersama kembarannya bisa membuat tangis reda sang adik. Arsaka menggeleng tak habis pikir dengan jawaban kembarannya -Ardasa- otak kembarannya itu memang ajaib saking ajaibnya mungkin manusia ajaib yang bakal mampu mengerti jalan pikir kembarannya itu. Sedang orang tuanya -David dan Ana- terharu bukan karena jokes milik anak kembarannya yang berhasil meredakan tangis putra bungsu mereka melainkan karena melihat kebersamaan ketiga anaknya yang akur dan saling menyayangi satu sama lain. Semoga kebersamaan itu nyata dan tidak pernah jadi ilusi.


End//


Nyatanya kini kebersamaan itu hanyalah ilusi, hanya sebuah gambaran imaji yang diciptakan oleh pikiran alam bawah sadar gempa. Karena semua itu hanya tinggal kenangan saja. Sang ayah kini sudah tiada. Gempa masih ingat malam dimana ayahnya akan pulang ke Indonesia sang ayah menjanjikan akan berangkat liburan bersama ke pulau Bali untuk mengganti kebersamaan yang sang ayah tinggalkan karena pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Bukan main senangnya gempa waktu itu, senyuman laki-laki remaja itu bahkan tertahan sampai di sekolah. Gempa memanglah siswa yang terkenal ramah dan sopan apalagi sang ayah akan pulang gempa tak bisa mengibaratkan betapa senangnya dirinya ketika mendengar sang ayah akan pulang dari Budapest.


Hingga tepat istirahat kedua, gempa melihat pak darma ada di area sekolah untuk menjemputnya. Mengernyitkan dahi bingung gempa bertanya.


Senyum yang dia pancarkan seketika memudar di gantikan dengan keterkejutan hebat yang membuatnya kesusahan walau hanya bernafas. Sang ayah dinyatakan tewas karena pesawat yang ayahnya tumpangi jatuh kemudian meledak menghantam bukit.


"Rest in the peace mr Naraya"


Gempa pulang, di sepanjang halaman rumahnya sudah banyak karangan bunga duka cita yang dikirimkan untuk ayahnya. David. Berbagai kata penenang juga dia dengar sepanjang dia masuk ke rumah.


"Papah kamu sudah tenang dialam sana, yang kuat Alkana"


"We are really sorry to hear that. May he get a beautiful place up there"


"Your father has been a more peaceful place right now. It’s okay"


"It’s part of God’s plan"


dilihatnya sang ibu langsung berlari memeluknya kemudian menyuarakan kata penenang disana. Selain sang ibu kedua kakak kembarnya juga sudah rapih dengan jas dan baju serba hitam.


"Ini mimpi kan mah" Tanya gempa jujur dia masih tidak mau menerima kenyataan bahwa sang ayah yang dia tunggu-tunggu kini sudah tiada. Iya yang datang kerumah hanya nama sang ayah dan juga foto sang ayah yang sudah dipenuhi oleh karangan bunga duka cita.


"Sayang, ini bukan mimpi ayah kamu---


Ana bahkan tak mampu meneruskan perkataannya. Sang kakak -Arsaka- kemudian memeluk pundak sang ibu guna menguatkan. Sedang Ardasa memeluk sang adik yang sudah melemas tak mampu menopang berat badannya. Tepat saat itu kehidupan Gempa berubah.


Tok..


Tok..


Tok..


"Siapa?" Tanya Gempa dari dalam.


"Kakak alkana" Jawab Arsaka dari luar kamar sang adik. Gempa kemudian berjalan kearah pintu.


"Habis dari mana ka?" Tanya gempa tangannya masih menggenggam kuat knop pintu kamarnya. Sungguh secara naluri gempa sangat merindukan ayahnya hanya saja kalau dia terus terpuruk semua itu bukanlah jalan keluar baginya.


"Kamu kenapa?" Kaget Arsaka ketika melihat raut muka sang adik yang terlihat menyendu ntah karena apa.


"Tidak Kenapa-kenapa, memang kenapa?" Tanya gempa lagi, sang kakak -Arsaka- menunjuk muka sang adik.


"Muka kamu kelihatan habis bersedih" Jawab Arsaka. Gempa spontan memejamkan mata mencari alesan masuk akal untuk menjawab pernyataan retoris sang kakak.


"Mungkin karena bangun tidur kali ka" Jawab Gempa, jawaban gempa tidak sepenuhnya bohong. Dia memang baru saja bangun dari tidurannya tadi. Arsaka mengangguk kemudian menyodorkan kantung kresek. Gempa menautkan alisnya bingung. Kresek apa?


"Apa ini ka?" Tanya gempa bingung namun tetap dia ambil kresek yang di sodorkan Arsaka.


"P3k, tadi kakak lupa kalau di rumah p3k kosong makanya tadi kakak sama Ardasa beli dulu keluar" Jawab Arsaka. Gempa mengangguk namun terdiam setelahnya.


"Ini kakak ngga disuruh masuk?" Tanya Arsaka yang kini masih berdiri di depan kamar gempa. Nah kan lupa.


"Masuk ka, ka Arsa mana ka?" Tanya gempa mengingat kakak kembar satunya lagi tak ada.


"Dibawah lagi makanin kiwi" Jawab Arsaka, kakinya melangkah mengekori sang adik kemudian duduk di kursi belajarnya.


"Ini kalian yang membereskan ka?" Tanya gempa sambil menunjuk koper merah tua yang lumayan besar disana. Arsaka mengangguk kemudian kembali mengambil kresek yang masih di pegang sang adik kemudian measukkannya dalam wadah.


"Kakak simpan disini ya" Kata Arsaka sambil menaruh p3k itu kedalam koper dan menyimpannya bersama keperluan adiknya. Gempa mengangguk kemudian atensinya teralihkan dengan datangnya Artaka bersama sahabat karibnya. Kelvin.


"Lah ngapain lu kesini?" Tanya gempa pada Kelvin yang kini berjalan menghampiri nya.

__ADS_1


"Yang nyuruh gua buat bantuin beres-beres buat pindahan siapa ya" Jawab kelvin. Gempa terdiam namun tersenyum setelahnya iya dia yang mengirim pesan kepada kelvin untuk membantunya membereskan keperluan pindahan ke kosan nya. Karena ini pertama kalinya dia ngekos.


"Lupa vin" Kata gempa yang berhasil mendapatkan lembaran tas milik kelvin dan berujung gempa mengumpat karena kesal.


"Muka lu kelihatan sedih banget kenapa?---jangan terlalu dipikirin lah yang hilang bisa beli baru atau ngga itukan pemberian pak kenan lu minta lagi aja kalau dia jalan-jalan ke luar negri" Kata kelvin sambil duduk di samping gempa, gempa mendelik kesal ke arah kelvin.


"Maksudnya apa vin?" Tanya Arsaka yang kini berdiri di samping Ardasa.


"Itu ka, kan Alkana kehilangan pulpen dari dosen tercintanya jadi dia sedih terus" Jawab kelvin yang berhasil mendapatkan lemparan bantal dari Gempa.


"Lah" Ucap Ardasa dan Arsaka bersamaan.


"Bukan gitu, ---- gua ngga sedih ini tuh habis bangun tidur vin. Lagian ngga ada sangkut pautnya sama tuh pulpen, cuman ya ko bisa ilang jatuh dimana coba?" Kata gempa.


"Ada yang ngambil kali" Jawab Ardasa.


"Pulpen dicuri?" Kata Gempa memastikan, dan mendapat anggukan sebagai jawaban dari pertanyaan nya.


"Bisa jadi" Jawab Kelvin membenarkan jawaban dari Ardasa.


"Ada yang mau nyuri pulpen?" Tanyanya lagi,


"Ada lah, pulpen di kantor kakak aja suka ilang-ilangan tanpa jejak--


" Iya kemudian setelah berhari-hari kembali lagi tak bertuan eh pulpennya udah habis aja" Tambah Ardasa.


"Itumah kamu yang ngambil Sa" Tuduh Arsaka pada Ardasa.


"Kamu ka yang tau tuh pulpen ilang berarti yang niat ngambil kamu ka" Jawab Ardasa tak mau kalah,


"Kamu lah, kenapa pulpennya ilang pas kamu ke kantor sa" Jawab Arsaka.


Si kembar memang selalu memperdebatkan hal sepele tidak hanya masalah pulpen yang menjadi masalah ghaib sang adik dimana pulpennya yang tiba-tiba ilang. Sikembar juga sering berdebat hal-hal tak penting seperti letak sepatu di rak, dan cara memakan kiwi dimana yang satu dengan kulitnya dan satu lagi tidak. Atau bahkan ketika mereka menonton TV mereka selalu memperdebatkan kenapa polisi datang terakhir setelah pemeran utama mati atau terluka. Dan banyak lagi sampai merebus mie saja diperdebatkan suka berkuah dan tidak. Sungguh hal sepele bukan.


"Pulpen ngga penting kali ka" Jawab Gempa.


"Terjawab sudah oknum yang suka mengambil pulpen kemudian di kembalikan setelah habis itu kamu kan sa" Kata Arsaka yang masih memperbedatkan prihal pulpen.


"Lupakan" Gumam Gempa, atensinya kini teralihkan dengan bunyi notifikasi di ponselnya.


"Grup?" Bingung Gempa.


"Grup apaan al?" Tanya Kalvin sambil penasaran terus melihat isi ponsel gempa. Sedang gempa menggeleng kemudian membuka notifikasi di ponsennya.


"Oh grup anak kosan--- eh ini siapa aja" Kata gempa


"Grup apaan al?" Tanya Arsaka rupanya perdebatan mereka sudah usai prihal pulpen.


"Grup kosan ka" Jawab Gempa sambil memperlihatkan isi grup chat miliknya pada sang kakak.


"Lah ini ko display namenya gini sih?" Tanya Ardasa.


"Gini gimana ka?" Tanya kelvin.


"Liat deh, ---ini masa liat ada Badai, Hujan, Guntur terus Topan ko kaya aneh ya" Kata Ardasa. Gempa langsung mengambil alih ponsel miliknya dan benar saja display name milik teman kosannya memang aneh.


"Tapi ka kan aku juga Gempa" Jawab gempa. Ketiganya langsung melempar pandang kepadanya.


"Lah iya, al. Ko kaya perkumpulan bencana alam gitu ya" Kata kelvin.


"Ngga papa sih, yang penting anak-anaknya ngga bawa bencana" Kata Arsaka.


"Aku kenal sama mereka ka, mereka baik-baik orangnya mas aga juga baik pemilik kosannya" Jawab Gempa, Ardasa dan Arsaka mengangguk.


"Eh vin, ini blazer universitas kita kan ya?" Tanya gempa memastikan tatkala melihat foto profil milik irawan.


"Iya al bener anak UNRA , eh dia yang katanya mahasiswa seribu pesona" Jelas kelvin.


"Seribu pesona, ngga sekalian sejuta pesona nanggung banget" Jawab Ardasa sedang Arsaka hanya menggeleng.


"Mungkin takut ngutang kali kalau sejuta" Jawab Arsaaka yang membuat ketiga orang yang mendengarkan bingung dengan jawabannya.


"Memang ya otak premium sama otak hasil gratisan beda, heh ngerti nga sih yang diucapin sama Arka?" Tanya Ardasa. Gempa dan kelvin menggeleng. Sedang Arsaka malah tertawa.

__ADS_1


'Kembaran gua perasaan makan nasi sama kaya gua' -batin Ardasa.


__ADS_2