
Universitas Ranajaya
seorang laki-laki tengah kesusahan membuka loker miliknya, dalam hatinya dia berjanji tidak akan mengganti lagi sandinya jika lokernya terbuka. pikirannya penuh imajinasi tak masuk akal mencari cara agar lokernya terbuka.
"ck, tidak mungkin kan gua rusak nih loker pake kampak" gerutunya kesal, pasalnya sudah sepuluh menit dia berdiri di depan loekrnya, jaket yang tadinya dia gunakan pun kini hampir dia injak karena dibiarkan tergeletak di sekitar kakinya begitu saja. tangaya kembali meminit angka random yang ada di kepalanya. jika itu sebuah kata sandi ATM mungkin kartu itu sudah di blokir dan tidak bisa di gunakan lagi.
"ahhhrg... sial" tanganya memukul keras loker miliknya, kombinasi beberapa angka yang sering dia jadikn sandi sudah dia coba dan hasilnya nihil. maslahnnya di dalam loker itu ada bahan ajar yang akan dia pakai untuk di kelas nanti. tidak mungkin dia mengkope ulang semua bahan ajar yang dia sampaikan, ribet itu memakan waktu yang lama.
"Sandinya apa sih?" gumamnya, dalam hati dia memaki dirinya sendiri yang bisa-bisanya melupakan kata sandi loker.
"Si Kelvin mana sih aduh tuh bocah lama banget" Gerutu Gempa. Dia masih berjuang mencoba memasukkan digit kata sandi yang kira-kira sering dia gunakan. Namun nihil tetap salah. Hingga, teriakan seorang perempuan membuat Gempa kaget.
"Maling lu ya?" Teriak perempuan yang kini berdiri di loker paling ujung.
"Jelas-jelas ada nama guanya dari mana malingnya" Jawab gempa kesal. Perempuan itu kemudian berjalan menghampiri gempa dan mengeja nama yang tertempel di depan loker.
"Alkana"
"Iya nama gua Alka-- loh elu kan yang waktu itu teriakin gua maling" Jawab Gempa kaget. pasalnya perempuan yang kini berdiri di samping nya adalah perempuan yang dulu membuat dirinya tertubruk motor Topan dan keserempet stang Hujan. iya gempa masih lah kesal dengan perempuan tak dikenal itu. memang salah dia tapi kan bisa ngga baik-baik bicaranya jangan asal meneriaki nya maling.
"Loh, elu kan yang mau maling mangga gua" Jawab perempuan itu.
"gua jelasin, waktu itu gua ngga lagi mau maling mangga lu cuman gara-gara kejadian random gua. gua malah nyangkut di pohon mangga ngerti?" jelas Gempa.
"ko bisa?"
"ngga bakal ngerti hanya orang tertentu yang paham oh iya satu lagi mba kalau malam pagar di kunci jangan di biarin terbuka ada maling bahaya" final gempa sambil mengambil jaket miliknya yang hampir terinjak perempuan asing itu, dan tentunya meninggalkan banyak tanya bagi si perempuan.
"ayo vin"
" Sori lu nunggu lama al,ini obat yang lu cari" kata Kelvin yang baru saja datang dengan kotak obat di tangan kanannya. tadi Gempa menyuruh kelvin membeli obat buat lebam sebelum ke kampus, karena lebam di bagian keningnya berbekas masih untung ketutupan sama poni jadi tadi guntur ngga curiga pas mau berangkat. soalnya gempa paling males mencari alasan yang masuk akal untuk di jelaskan, seperti halnya pada Topan yang gempa yakini anaknya mungkin sekarang masih menyimpan seribu tanya yang siap ditanyakan kepada dirinya.
"udah ketemu buku yang lu cari?" tanya kelvin, gempa mennggeleng sambil berjalan mendahului Kelvin. Kelvin yang kebingungan hanya mengedikkan bahunya acuh kemudian menyusul gempa.
"jadi lu mau kope ulang lagi bahan ajar?" tanya kelvin, Gempa hanya mengangguk sebagai respon. pikirannya masih mempertanyakan apa kata sandi lokernya yang dia lupakan.
'apa ya'
"mau dimana? jangan di kantin soalnya pasti berisik lu kan ngga bisa kalau berisik al" tambah kelvin sambil berpikir dimana tempat yang pas untuk sahabatnya ini membuat ulang bahan ajarnya sekalian mengobati lebam di keningnya.
"di gazebo belakang fakultas sastra aja yu, sepi sekalian gua mau ngobatin lu" usul Kelvin lagi,
"boleh,tumben baik" jawab gempa.
"perasaan kalau lu luka gua juga yang obatin, nyari pacar makanya al bair diobatin pacar lu" jawab kelvin jenaka yang berhasil mendapatkan lemparan jaket hitam milik gempa.
"ngga perlu kan masih ada lu vin" jawab gempa
"maksud, lu nunggu gua mati gitu?"
"bisa jadi"
di perjalanan menuju fakultas sastra tanpa di duga gempa melihat Topan yang tengah berjalan dengan temannya menuju fakultas kedokteran hewan.
'Irawan' batin gempa.
"Al lu liat cowo yang berdua itu yang lagi berjalan di ujung koridor arah FKH? " tanya Kelvin sambil menunjuk laki-laki yang memakai kaos hitam dengan blazer yang di sampirkan di pundak.
gempa mengangguk sebagai respon.
" nah ternyata dia itu yang gua bilang bakal di gadang-gadang jadi mentri periode ini al, inget ngga lu?" Tanya Kelvin antusias, matanya masih tertuju pada dua laki-laki yang sedang berjalan di koridor mengarah ke fakultas kedokteran hewan.
"yang mana vin? lupa gua" Tanya Gempa bingung tak beda jauh pandangannya masih mengarah pada Topan yang tengah berbincang dengan temannya.
"yang itu yang---eh btw ko lu kaya janjian ya sama si anak FKH itu sama-sama hitam" tambah Kelvin dengan pikiran konyolnya. matanya tertuju pada gempa secara bergantian dan Topan. gempa mengikuti arah pandang kelvin mengarah ke kemeja hitam yang dia pakai dan jaket yang dia sampirkan di pundak. Kalau di pikir tak beda jauh sama-sama memakai warna hitam bedanya gempa memakai kemeja sedang Topan memakai Kaos.
"ngaco lu" jawab Gempa, sambil menggeplap kepala kelvin dengan jaket.
mereka memang sekosan dan sekamar tapi mereka tidak sedekat itu sampe janjian pake baju samaan.
"masa lu ngga inget sih, itu lo yg gua pernah cerita temen Ale, anak FKH yang punya fansnya sekampus. nah orangnya tuh itu" Jawab kelvin sambil menunjukan kearah Topan.
"oh, irawan?" tanya Gempa memastikan
"lah tau dari mana lu namanya? katanya ngga kenal dulu" jawab Kelvin penasaran ditambah kaget.
"dia sekosan sama gua sekamar lagi" jelas Gempa sambil menunjuk Topan.
"GILA Demi APA?"
Teriakan kelvin mampu membuat siapa saja menoleh kearah mereka termasuk Topan yang tengah berjalan dengan temannya.
'bang alkana' batin Topan.
Disini lah mereka sekarang, gazebo belakang fakultas sastra. Kelvin masih terus bertanya prihal gempa yang mengenal si anak Femous FKH, sedang Gempa sudah mulai mencurat coret kertas kosong dengan bagan bahan ajar yang akan di sampaikan di kelas nanti.
"lu belum cerita ke gua Naraya" kesal Kelvin.
Seakan tak peduli dengan sang sahabat Gempa fokus membaca ebook di laptop sedang tangannya tak henti menuliskan beberapa materi di buku, disampingnya ada kelvin yang meminta jawaban atas pertanyaan yang tidak penting bagi seorang Alkana gempa Naraya.
"dari pada ngoceh nanya yang sama terus mending lu obatin jidat gua vin" kata gempa, sedari tadi jidatnya nyutnyutan karena mendegar Kelvin mengoceh tidak berguna.
"ck lu aja sendiri" jawab Kelvin kesal, namun tanganya mulai membuka tutup salep dan mulai mengoleskannya ke jidat gempa.
__ADS_1
"pelan atuh"
"dikata homo kita ntar al" kata kelvin pasalnya sahabat yang dijuluki asdos tampan fakultas hukum itu tidak dekat dengan perempuan mana pun dia hanya dekat dengan kelvin dan kedua kakak kembarnya. gempa memilih acuh karena sebentar lagi dia harus ngisi kelas lagi, pandangannya fokus menuju laptop menelaah ebook yang sedang dia baca. karena kesal tak di anggap kelvin menekan memar gempa dengan keras membuat sang empu meringis kemudian menatap kelvin dengan sengit.
"pelan"
'minta di bacok punya sahabat' batin gempa. sedang kelvin nyengir serasa tidak ada dosa.
"bisa strees muda gua sih ini jadi asdos nya pak kenan" kesal gempa, membanting pulpen silver miliknya hingga memantul dan jatuh kemudian terinjak oleh dirinya sendiri.
"ah sial" emosi gempa
"emang stress tua al? bukannya kebanyakn anak muda yang stress" tanya Kelvin ngaco. gempa menatap kelvin lekat jika ini sebuah komik mungkin di kepala gempa sudah ada pertigaan yang menggambarkan betapa kesalnya dia. pusing bercampur kesal jadi satu dan sekarang rasanya ingin memakan teman sendiri.
'oh tuhan apa kesalahan saya sampe engkau memberikan sahabat sepertinya' pikir gempa.
•••
parkiran SMA Gardapati
seorang remaja laki-laki tengah tiduran di atas motor matic,tasnya dia biarkan tergeletak tak jauh darinya, kakinya sesekali menendang kunci motor yang belum dia cabut, sedang matanya menatap tak minat banyaknya siswa siswi yang tengah berjubel di gerbang memadati area sekolah. disana juga terlihat anak OSIS dan beberapa guru yang tengah menymbut kedatanganan para siswa siswi gardapati sambil sesekali menegur siapa saja yang melanggar aturan.
"membosankan" gumamnya pelan.
"kal lu ngapain masih disini ayo ke kelas keburu gerbannya di tutup"
badai mendongak melihat ke sumber suara yang dia kenal. dia Nudi temen sekelas badai.
"ngga salah lu ngajak gua?"
baru saja Nudi hendak menjawab, kedatangan seseorang membuatnya urung dan memilih pergi.
"tumben ngomong sama anak OSIS kan lu anti OSIS" kata Anggara, sedang badai malah memejamkan mata, tak berniat menjawab sahabatnya.
"nyusul Arva ngga lu?" tanya Anggara sambil duduk di salah satu motor ntah milik siapa di samping motor badai.
"olim?" tanya badai matanya masih memejam
Anggara mengangguk,
"iya"
"liat nanti deh" jawabnya sambil membuka mata perlahan netranya mulai menikmati mentari pagi yang cukup indah untuk di pandang.
"anak-anak pada di rumah Ares, kesana yu" ajak Anggara. badai mengangguk, bangun dari tidurannya kemudian menyalakan motor, sedang anggara langsung duduk di belakang jok motor badai.
Rumah Ares itu tempat mereka berkumpul selain sekolah, letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Rumah dua tingkat kecil yang mereka sewa bersamaan dulu ketika masuk sma Gardapati, mereka namai dengan markas Ares, kenapa dinamakan Ares? simple karena dewa Ares dewa perang dan kesukaan mereka berkelahi bukan? dan terbentuklah nama Ares.
"kebiasaan Ian nih" kata Anggara
"fanboy ngga jelas" kata badai, menggeleng sambil menekan kenop pintu di ekori anggara.
pertama kali yang badai lihat ada Heru yang lagi makan pizza sambil mainin HP di ruang tamu. kemudian ada askala yang lagi main game ditambah teriak-teriak ngga jelas di lantai sambil tiduran. dan terakhir ada Gardian yang lagi karokean lagunya psiko milik redvelvet. benar-benar sebuah kesibukan pagi yang tak berguna. badai terdiam perhatikan memperhatikan sejenak sahabatnya. setelah itu dia membawa kakinya menaiki tangga ke arah balkon.
Balkon rumah Ares lumayan sedikit luas, disana ada satu buah meja kecil yang diatasnya diisi makanan cemilan dan juga beberapa buah coklat di bawah meja ada dua kardus minuman gelas yang ditumpuk rapi dan di samping meja ada gitar yang sering dimainkan anak Ares. terutama gardian yang suka meng-cover lagunya redvelvet.
melemparkan tasnya asal. badai kemudian duduk bersila menyandarkan tubuhnya pada pembatas balkon.matanya melirik gitar yang menganggur.
"gimana kosan lu, betah?" tanya Anggara mengambil duduk di depan badai.
"yah gitu, betah ngga betah"
"beneran sekamar sama anak Mandala?" tanya anggara lagi. badai mengangguk fokusnya kini keaarah gitar yang tengah dia petik ramdom.
"gimana anaknya?" tanya anggara penasaran.
tangan badai terhenti dia biarkan di badan gitar fokusnya kini dia alihkan ke arah sahabatnya.
"cerewat ,jadi mudah kenal humble juga terus dia anak OSIS" mendengar jawaban badai anggara sampe bergeming tangannya mengudara yang awalnya mau mengambil cemilan di meja kecil di samping badai, karena setau dia badai jarang sekali bisa mendeskripsikan seseorang sampai seperti itu. bahkan dipikirannya tadi badai akan acuh dengan pertanyaannya namun ternyata salah.
"woy lagi ngapain kalian berdua" tanya Heru yang datang sambil. bawa pitza sisa tinggal beberapa potong, yang ditanggapi dengan keacuhan badai yang fokus kembali ke gitar dan anggara yang melanjutkan mengambil cemilan di meja. Heru kemudian bergabung duduk bersila di samping Anggara.
"dikacangin, btw mau ke olimnya Arva ngga?"
"ikut aja sih gua" jawab anggara, sedang badai mengedik acuh.
"jam berapa sih mulainya si arva?"
pertanyaan itu keluar dari Askala yang kini berdiri di ambang pintu menuju balkon.
"bentar lagi nih kayanya" jawab Gardian sambil merangkul pundak askala.
"nunggu di tempat biasa kan? ngga mungkin kita kedalem aula kan?" tanya badai sambil menyimpan gitarnya. fokusnya kini teralihkan ke ponselnya yang menyala menampilkan grup chat dengan nama "bencana bersaudara" grup yang dibuat oleh guntur dan di ubah oleh tangan kreatif Hujan.
[Bencana bersaudara grup]
[ bang Topan]
bang Alkana pinjem baju kemeja hitam
Hujan sedang mengetik....
[Mas Guntur]
__ADS_1
di saya ada wan di lemari bawah, tanya pak didi saja.
saya di kantor soalnya.
hujan sedang mengetik...
[Badai]
emang lu mau ngapain bang?
[Hujan]
Emang mau ngapain ka? pake kemeja mau ke hajatan?
[bang Alkana]
gua di depan Hukum lagi bikin bahan ajar sama kelvin, emang cukup?
[bang topan ]
otw bang, buat rapat bem bareng univ nih, katanya harus rapih pakeannya. kejauhan mas saya di kampus minjem bang alkana aja cukup ko bang badan kita sama.
"iya siap-siap yu, banner udah siap kan yan?" tanya Anggara, Gardian mengangguk. badai sedikit terhenyak kaget ketika anggara tiba-tiba bersuara.
"di motor gua udah beres"
"kenapa kal?" tanya Heru, badai menggeleng kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Ayo cabut" kata badai sambil beranjak yang diangguki oleh Heru dan Anggara.
"yaudah hayu nunggu apa lagi" kata Askala sambil menarik Gardian.
Akhirnya setelah diskusi mereka memutuskan untuk menggunakan dua motor dan satu mobil milik arva yang di kemudikan oleh Heru. mereka membawa spanduk besar dengan tulisan yang dicetak jelas dengan nama "ARVA AGILLA PRAWIRA" yang mereka pegang membentang di atas motor sedang Heru membuntuti dari belakang. kegaduhan pun tidak dapat di hiraukan lagi banyak pengendara motor dan mobil protes mereka emosi dan kesal karena jalanan terhambat sedang anak ares tidak peduli yang penting mereka happy, mereka itu gambaran dari kata bebas yang sesungguhnya. sekutar set jam mereka sampai di lokasi olim tempat Arva lomba.
" penuh eng, Arva lagi upacara pembukaan" kata Anggara yang tadi turun duluan untuk melihat situasi di dalam.
"bocah dimana sih olimnya?" tanya Askala.
"aula katanya" jawab Gardian.
"Heru mana sih" tanya badai sambil memberikan lagi banner ke tangan Anggara.
"bocah kejebak macet kayanya, bentar gua samperin dulu. turun lu ka" jawab Gardian tanpa persetujuan anak Ares yang lain Gardian langsung memacu motornya kembali.
"tunggu dulu deh paling lima menitan sampe sepuluh menitan nyampe dia" kata Askala sambil memasukkan hpnya kedalam saku,tadi dia berniat menghubungi Heru namun urung karena mendapatkan notifikasi grup jika Heru kejebak macet.
badai dan Anggara mengangguk.
benar saja selang sepuluh menit lebih dua puluh detik terdengar motor Gardian mendekat kearah mereka bersama Heru.
"naik bonceng tiga aja kita ka" kata Gardian yang di akhiri dengan tawa. sedang badai dan Anggara hanya menggeleng.
"cabe-cabean dong ian"
"sini Heru sama gua aja, di depan nih muat lu kan kecil" kata badai sambil menunjukan space di depan nya, Heru sedikit meringis yakali dia kaya bocah duduk di depan.
"boleh tuh, cuman pegel doang lu ntar her" kata anggara tak kalah ngakaknya di belakang badai. sedang Askala dan Gardian sudah ketawa2 dari tadi mereka menertawakan diri mereka sendiri. untuk sebuah tawa bagi mereka itu sesederhana namun sayang masalah mereka tidak sesederhana tawa mereka.
"kita hebohkan olimpioade Agilla" tambah Anggara.
"udah lama kita ngga denger kata Agilla ya" kata Heru yang diangguki oleh ketiganya. iya mereka sudah lama tidak mendengar kata Agilla di persahabatan mereka. yang mereka kenal hanya Arva.
"gua punya ide" kata badai. dan percayalah ide badai selalu di luar nalar orang normal.
motor mereka mulai memasuki gerbang dengan santai,menyapa pak satoam yang tengah berjaga.
"pagi pak"
"pagi" jawab pak satpam ramah.
awalnya biasa saja namun tepat ketika badai memacu gas kuat kekacauan pun terjadi, bagaimana tidak bukannya pergi mencari parkiran mereka malah langsung membelokkan motornya kearah koridor kelas. aksi kejar-kejaran pun terjadi antara pak satpam dan dua motor anak badung yang menghebohkan acara olimpiade, membuat semua pasang mata mengarah ke mereka termasuk Arva yang malah tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya tampan. mereka berhenti tepatnya di tengah2 aula pembukaan Olimpiade yang tengah berlangsung hidmat sambil membentangkan spanduk Arva. sedang di ujung koridor pak satpam terlihat kecapean sambil bersender pasrah di dinding, mengejar anak Ares bukan lah hal yang tepat untuk menghentikan mereka.
•••
BAGASKAR GRUP
"terlihat sebuah mobil dengan palt nomor xxx menghalangi jalannya lalu lintas kendaraan menuju ke bip.
seorang laki-laki dewasa baru saja mematikan TV yang tengah menampilkan berita pagi, dia guntur. sudah sekitar setengah jam dia menunggu sekertaris ayah nya untuk mengajarinya tentang perusahaan. tapi sudah setengah jam lebih orang yang di maksud belum juga menampakkan batang hidungnya, membuat guntur bosan berdiam diri di ruangan yanv asing baginya. dia pun memutuskan untuk berjalan2 mengelilingi ruangan itu.
"maaf saya telat"
guntur yang sedang melihat pemandangan dari jendela besar di ruangan itu berbalik, pandangannya bertemu dengan laki-laki seusianya yang kini tengah berdiri tak jauh darinya.
"ah tidak apa-apa" jawab nya. Laki-laki di depannya kemudian mengulurkan tangan, sedikit membuat guntur mengernyit.
"perkenalkan saya Septian Ardana sekertaris tuan ferdinan"
'ah sekertaris ayah'
"saya Rayga Guntur Bagaskar anak bungsu pak Ferdinan, panggil saja Rayga" katanya sambil mengnyambut uluran tangan laka.
"jadi kita mulai dari mana pak? "
__ADS_1