
Badai berjengit kaget tatkala mendengar teriakan dari suara yang tak asing baginya, spontan laki-laki itu berbalik dan mendapatkan Anggara yang berdiri di ambang pintu menuju atap sambil menggenggam ponselnya.
"NGAPAIN KESINI SIH? " Tanya badai yang kini tengah memenatap Anggara bingung. Pasalnya tadi Anggara bilang kalau dia itu akan pulang.
"IYA, ADA YANG MAU GUA OMONGIN" Jawab Anggara sambil berjalan menuju badai yang kini tengah berdiri di ujung seakan sudah siap untuk melompat.
"APAAN?" tanya badai, tak ada niatan laki-laki itu untuk menghampiri Anggara sama sekali. Dia masih berdiri di tempat yang sama.
"Lu ingetkan gua sempat ngomongin masalah ngekos?" Tanya Anggara yang kini sudah ada di samping badai. Badai mengangguk dia masih mengingat prihal sahabatnya yang menyuruhnya ngekos agar dia tidak di jadikan samsak oleh ayahnya.
"Nah kebetulan, arva punya teman yang juga lagi nyari kosan dan katanya dia lagi nyari temen buat sekosan sama dia" Jelas Anggara membuat badai mengernyit.
"Hubungannya sama gua apaan?" Tanya badai bingung.
"Kalau lu ngekos bareng temen arva mau ngga?" Tanya Anggara.
"Yah mau-mau aja sih, tapi masalahnya bukan disana tapi di bokap gua gar mana dibolehin gua sama si Tanu" Jawab badai, boro ngekos pulang malem aja siksaan udah menanti di depan mata apalagi ngekos alamat di pulangkan kesang pencipta dia sama ayahnya.
"Ayah kamu biar jadi urusan mamah" Sautan ini muncul dari belakang punggungnya, dia wendi ibu tiri badai. Perempuan itu berjalan kearahnya seorang diri.
"Ngapain tante kesini?" Tanya badai dengan nada kesal.
"Mamah rencana mau jenguk kamu, tapi di kamu ngga ada terus mamah ketemu sama teman kamu dan teman kamu cerita ke mamah kalau kamu mau pindah ke kosan" Jawab wendi kini perempuan yang terkenal ibu sosialita itu sudah bergabung bersama Badai dan Juga Anggara bersandar di pagar pembatas.
"Mamah juga punya anak, dia laki-laki sama seperti kamu. Tapi usianya diatas kamu kalen" Tambahnya. Matanya membias seakan tengah mengingat sesuatu. Anaknya.
"Tadi malam dia sempat menyimpan pesan di HP mamah kalau dia akan pindah ke kosan" Katanya sambil menoleh kesamping melihat anak tirinya. Badai.
'Hubungannya sama gua sih apa?' -batin badai semakin bingung. Cukup permasalahan keluarganya yang bikin rumit tidak dengan ini.
"Kamu mengingatkan mamah akan dia sayang, jadi mamah akan dukung kamu kalau kamu mau pindah ke kosan. Urusan ayah kamu biar jadi urusan mamah" Seakan tau kebingungan sang anak tiri wendi memperjelas perkataannya. Badai terdiam tak berniat menjawab atau merespon kata-kata yang berstatus ibu tirinya itu.
"Masalah barang-barang motor lu sama baju serahin ke gua" Kata Anggara sambil merangkul pundak badai.
"Jangan lupain ada kita juga" Sautan itu muncul dari belakang ketiganya badai berbalik menemukan Arva, Heru, Askala dan Gardian kini berdiri di belakangnya.
"Yaudah kalau gitu mamah tinggal ya, masalah ayah kamu jangan khawatir dia aman sama mamah" Jawab wendi sebelum berlalu dia menyempatkan mengelus surai kecoklatan milik anak tirinya. Sedang badai hanya diam.
"Kalian bukannya mau balik?" Tanya Badai, kebingungan kini mulai melanda dirinya.
"Mana bisa kita balik sedang Anggara selalu pusing sendiri memikirkan bagaimana caranya lu keluar dari masalah bokaplu" Jawab Arva yang kini berdiri di samping Anggara.
"Iya tega sekali lu ngga mau berbagi sama kita gar" Tambah Askala sambil memukul kepala Anggara pelan. Lalu mengaduh setelahnya karena terkena bola basket yang selalu di bawa Gardian. Untung ngga bablas kebawah bola basket nya.
"Masalah ko di bagi-bagi, makanan yang di bagi-bagi mah" Jawab Anggara. Tertawa jenaka.
Badai tau sahabatnya itu sedikit terharu dengan kelakuan teman-teman nya. Iya Anggara cenderung menutupi masalah seorang diri, badai melihat sosok sang kakak -kia- di diri Anggara. Anggara selalu saja tertawa seperti tak punya beban masalah, dia juga sering mengeluarkan kata-kata candaan yang membuat siapa saja tertawa ketika mendengarnya. Tak ada yang tau apakah dia mempunyai masalah atau tidak Anggara cukup pintar menutupi masalah pribadinya. Namun badai tau dibalik senyum cerah sang sahabat Anggara menutupi masalah besar disana ntah apa dia tidak tau, bukan hanya anggara tapi keempat temannya pun memiliki masalah besar yang bahkan badai sendiri tidak pernah tau apa itu. Iya mereka cukup pintar menutupi masalah. Tidak transparan seperti dirinya.
Berawal dari Arva yang akan berlari dengan kencang tanpa alas kaki sehingga menyebabkan kakinya terluka, Heru yang akan berenang sampai dia membeku kedinginan , askala yang selalu memainkan rubik terus menerus dan juga Gardian yang selalu menari sampai kelelahan ditambah dirinya yang tidak menyukai bekas meskipun bekas dirinya sekalipun dia akan mengganti lagi dan lagi. Iya diantara keenamnya mungkin Anggara yang normal. Mungkin. karena tak ada keanehan dalam diri anggara.
"Intinya kita bakal cari jalan keluar bersama" Kata Heru sambil merangkul Arva karena dia kini berdiri di samping Arva.
"Iya mungkin suatu saat kita bakal mengerti kenapa Tuhan memberikan masalah yang berbeda kepada kita" Tambah Gardian sambil berdiri di samping Askala.
__ADS_1
"Dan mungkin suatu saat kita bakal tau apa jawaban dari semua masalah kita" Tambah anggara. Badai hanya bisa terdiam tak dapat berkata apa-apa lagi. Sahabatnya sudah seperti rumah bagi badai. Mereka sama mereka adalah korban dari permasalahan keluarga yang rumit.
"Makasih" Satu kata yang badai ucapkan. Tepukan di pundak dan rangkulan muncul saling menguatkan satu sama lain.
"Nyerah bukan jalan keluar apalagi lu mau bunuh diri kal" Kata Anggara sambil tersenyum ke arah badai.
"Yang mau bunuh diri siapa sih?" Tanya badai mengernyit heran dengan pernyataan sok tau anggara.
"Terus jalan keluarnya apa dong gar?" Tanya Askala.
"ya Exit lah" Jawab Anggara yang berhasil mendidihkan kepala kelimanya.
"Y--ah ngga salah sih" Jawab Arva sedang badai hanya menggeleng tak habis pikir dengan jalan pirikiran Anggara.
"Btw ini kaki gua pegal, duduk hayu" Ajak Heru. Kelimanya kemudian duduk bersila di bawah sama-sama bersandar di pembatas menghadap ke pintu masuk atap rumah sakit. Keenamnya spontan menghela nafas bersamaan.
"Oh iya jadi lupa, gua udah hubungin teman lu siapa namanya? Javier ya?" Tanya Anggara, Arva mengernyit. Javier?
"Itu yang lu bilang sama-sama mau nyari kosan pas lu ke rumah sakit" Tambah Anggara karena melihat muka bingung Arva.
"Oh yang waktu itu berhentiin mobil va yang berdua itu inget ngga lu?" Kata Heru
"Yang Heru langsung pingsan itu lo" Tambah Askala. Arva masih berpikir. Lemot.
"Oh iya, inget gua" Kata Arva setelah beberapa detik terdiam.
"Nah gua kemarin udah hubungin dia, dan lu tau dari photo profilnya dia anak Mandala tau kan lu sma mandala yang terkenal itu" Kata Anggara, membuat kelimanya mengangguk, siapa yang tidak tau sma mandala sekolah yang terkenal dengan sebutan sekolah favorit di kota itu dan lagi anak didik besutan dari sma mandala tidak pernah gagal masuk universitas terbaik.
"Iya dulu" Jawab Gardian. Rupanya disini badai hanya menjadi pihak penyimak.
"Terus hubungannya apa?" Tanya Gardian.
"Gua udah nanya sama javier ini tentang kosan dan anak ini bilang kalau dia butuh teman kosan bareng" Jawab Anggara.
"Mau ngga lu? Lupain masalah om Tanu dulu kalau mau tar gua hubungin lagi anaknya" Tanya Anggara. Badai terdiam namun mengangguk setelahnya.
"Boleh sih sekamar gitu?" Tanya badai.
"Tapi masalahnya ya itu ngga papa sama anak Mandala, dan lagi katanya di kosannya cuman ada empat samalu itu juga jadi lima paling sama bapak kosannya" Tambah Anggara.
"Masalah sekosan sama anak Mandala mah santai, yang jadi masalah gua sekasur sama dia gitu?" Tanya badai lagi.
"Kalau masalah itunya gua ngga nanya jelas, tar gua tanya lebih detail deh" Jawab anggara.
"Gimana kalau liat-liat dulu aja tempatnya, masalah mau apa ngganya kan bisa nanti" Usul Heru.
"Iya, jadi kita juga bisa kenal sama Javier gua juga belum kenal banget karena kita kenal cuman karena gua mau nolongin dia buat ngangkut orang yang ngga sengaja dia serempet di jalan" Tambah Arva menyetujui usul Heru.
"Iya kebetulan waktu itu rumah sakitnya sama kaya lu tempatnya kal" Tambah Gardian.
"Malam dia sempat ngirim kontak pemilik kosannya namanya---- bentar lupa gua" Kata Anggara tangannya kemudian membuka ponselnya mencari nomor yang dikirimkan oleh temen Arva. Javier.
"Nih, namanya mas aga" Jelas anggara. Badai mengangguk.
__ADS_1
"Coba aja chat ntar mas aganya gar" Usul Arva. Anggara mengangguk kemudian berseru setelahnya.
"Gua dapet chat lagi dari javier, katanya dia bakal pindah besok hari minggu kalau mau sekalian aja katanya ketemu di sana" Kata anggara sambil menunjukkan isi chat dari anak bernama javier ke badai.
"Kalau lu masih mikirin masalah lu, udah lupain aja dulu" Kata Heru yang lain mengangguk bersamaan.
"Lu beneran mau?" Tanya Anggara lagi memastikan. Badai mengangguk.
"Tapi gua sekasur gitu?" Pertanyaan yang sama badai lontarkan.
"Ealah lu, bentar gua tanya anaknya dulu" Kata anggara.
"Kalau sekasur emang kenapa kal?" Tanya Heru.
"Ya pikir aja sendiri" Jawab badai.
"Kalau sekasur emang kenapa va?" Tanya Heru lagi ke Arva, Arva menghela nafas sebelum menjawab.
"Ngga muat kalau sekasur her" Jawab Arva. Mendengar jawabnya Arva Heru mengangguk mengerti.
"Sekamar beda kasar katanya kal, eh katanya dia minta nomor lu mau di masukin ke grup katanya" Kata anggara
"Kirim aja" Jawab Badai sambil mengangguk. Anggara langsung mengirimkan kontak badai, beberapa menit setelah mengirim kontak ponsel badai berdering membunyikan notifikasi "anda di tambahkan kedalam grup"
"Coba buka" Perintah Askala. Badai kemudian membuka notifikasinya dan melihat isi grup chat yang tadi.
"Mana liat berapa orang di kosan lu" Serobot Gardian sambil menarik ponsel milik badai.
"Empat yan" Jawab askala sambil memukul kepala Gardian menggunakan bola basket yang alhamdulillah tidak bablas ke bawah.
Gardian langsung berseru tepat setelah melihat ponsel milik badai.
"Wiiih display namenya luar biasa bikin kaget jantung bro" Katanya.
"Apaan-apaan" Tanya Heru penasaran Sedang Arva dan anggara hanya mengernyit, badai memandang tanpa ekspresi.
"Langsung disambut oleh Hujan, gempa dan guntur" Kata Gardian membuat semuanya mengernyit.
"HAH?"
"Ini display name mereka pertama Hujan kedua Gempa terakhir Guntur oh ada lagi nih Topan" Jelas Gardian sambil menunjukkan ponsel badai kepada kelima temannya.
"Paket kumplit bencana itu sih ia" Kata Heru.
"Iya pertama Guntur terus Hujan sama Badai abis itu Gempa tar di susul sama Topan, ancur udah dunia kalau mereka bersatu" Kata Arva sedang anggara kini tengah tertawa memukul bahu badai kencang.
"Kosan lu orang-orangnya bencana semua itu" Kata anggara. Sedang badai hanya mengerjap.
"Ngga papa lah bukan gua doang berarti pembawa bencana karena banyak masalah" Kata Badai membuat semuanya terdiam spontan semuanya langsung merangkul memberikan kekuatan kepada laki-laki termuda dari keenamnya.
"Geng makasih ya sekali lagi tanpa kalian gua ngga tau bakal gimana" Kata badai. Anggara dan yang lainnya tersenyum, badai usianya lebih mudah dari keenamnya tapi masalah badai siapa sangka lebih berat dari usianya.
Badai kembali berdiri menatap langit yang kini sudah berubah menjingga di atas sana, sebentar saja badai ingin mengesampingkan masalahnya. Tuhan seakan mempersatukan badai dengan kelima temannya, mereka adalah anak-anak yang menjadi korban kerumitan masalah keluarga yang tak berujung. Sungguh dimata badai dunia seakan tak pernah berpihak padanya, hidup yang rumit serta penuh masalah dan juga rasa ingin mengakhiri hidup seakan selalu saja badai rasakan setiap harinya. Dia berharap suatu saat Tuhan memberikannya hadiah dari kerja kerasnya selama ini kerena dia masih hidup walau rasa ingin meninggalkan dunia sempat merebut akal sehatnya.
__ADS_1