
..."SORRY BOSS, GUA NGGA SUKA BEKAS"...
Seorang laki-laki kini tengah menikmati paginya bersama asap rokok yang mengepul keluar dari mulut nya. Di depannya dua gelas minuman dingin berperasa asam yang tersisa masing-masing tinggal setengah gelas. Laki-laki itu terus saja memainkan rokok barunya, karena rokoknya yang tadi sudah dia injak di bawah kakinya bergabung bersama bekas rokonya yang lain. Dua bekas bungkus rokok dihadapannya itu cukup menarik perhatian semua orang yang berlalu lalang di depan warung itu.
"Ngga masuk kamu kal?" Tanya bu Rima. Pemilik warung dimana laki-laki itu duduk.
"Ngga bu, males" Jawab laki-laki yang dipanggil kal tadi. Tangannya menekan pemantik untuk diarahkan ke ujung rokoknya kembali, ntah itu untuk rokok yang keberapa.
Kalendrika Badai Andraka. Kerap disapa Kalen karena namanya yang sangat sulit di ucapkan atau terlalu panjang?. Laki-laki jurusan IPA yang badungnya ngga ketulungan, sikapnya yang cuek membuat remaja laki-laki itu tak pernah peduli dengan apapun. Garis rahang tegas dan juga rambut berwarna coklatnya cukup kontras dengan retina mata hitam dan juga kulit putih nya, Hidup yang serba ada membuat anak yang genap berusia 15 tahun itu leha-leha disetiap harinya.
Bu Rima, hanya menggeleng mendengar jawaban yang sama yang selalu Badai utarakan.
"Bu duluan ya" Katanya sambil menginjak puntung rokok terakhirnya kemudian berlari kearah motor matic hitam yang terparkir di depan warung. Tak lupa menyimpan uang berwarna merah di samping gelas minumnya.
"Uang kamu yang kemarin masih sisa banyak kal" Teriak bu Rima. Sedang Badai laki-laki itu seakan tak peduli memilih melajukan motor matic hitamnya meninggalkan warung bu Rima.
Rupanya selama di perjalanan knalpot motor matic yang kemarin dia modivikasi cukup menarik perhatian para polisi lalu lintas. Badai yang melihat pergerakan polisi di belakangnya seketika langsung menambah kecepatan motornya. Sambil berteriak.
"SIALAN" teriaknya, teriakannya bahkan mampu menggantikan lampu hijau di depannya menjadi merah seketika.
Kejar-kejaran pun terjadi antara polisi lalu lintas dan juga Badai. hanya gara-gara knalpot motor matic miliknya dia berhasil membuat gaduh di jalanan. Dia tak peduli lagi dengan nyawanya kecepatan full yang dia lakukan sebenarnya sudah cukup mengantarkannya pada ajalnya di pagi hari.
"Minggir woy" Teriaknya lagi karena motor bebek di depannya berhasil menghalanginya. Bahkan kakinya menendang pinggir motor bebek ntah milik siapa itu, karena menghalangi jalannya. Sampai si pemilik bebek hilang konsentrasi dan menyenggol kaca spion mobil di pinggir nya.
Badai terus mengumpat tanpa mengurangi kecepatan motor ,tangannya terus menerus menekan klakson motor agar semua kendaraan di depannya menyingkir.
Pandangannya teralihkan tatkala melihat kaca spion, pemilik motor bebek yang tadi kini ada di belakangnya bersama motor polisi.
"Ko dia jadi di kejar juga?" Gumam Badai mengernyit bingung, karena tadinyakan cuman dia yang di kejar.
Kedua motor berbeda type itu masih terus kejar-kejaran bersama polisi lalu lintas. Keributan di jalan raya akibat kedua motor itu pun cukup menarik semua pengendara untuk di jadikan tontonan pagi-pagi.
"Polisi sialan" Gumam Badai matanya menangkap motor bebek di belakangnya yang berbelok ke kanan.
"Anak SMA Mandala rupanya" Pikir Badai. Gara-gara terus di kejar Badai membelokkan motornya masuk trotoar untuk berputar arah, kemudian masuk kedalam salah satu gang sempit yang kiranya cukup untuk motor maticnya. Badai tak peduli bagaimana ujung dari gang sempit ini yang dia pikirkan bagaimana lolos dari kejaran polisi lalu lintas yang terus saja membunyikan serine polisinya. dia kira dia buronan.
Di pertengahan gang Badai mengurangi kecepatan motornya karena tidak konsentrasi Badai hampir menabrak tukang jualan nasi uduk yang mau di jajakan di pinggir jalan besar. Untung saja dia sigap menarik rem tangannya berhasil motor maticnya berhenti tepat di depan gerobak nasi uduk tapi mukanya harus rela mencium tembok rumah ntah milik siapa.
'pagi-pagi gua udah ciuman sama tembok' -batin Badai.
"Aduh tong, hampir saja makanya kalau di gang itu jangan Kenceng-kenceng bawa motornya untung saja tidak menubruk" Cerocos bapak tukang jualan nasi uduk sambil membantu Badai. sedang Badai masih terdiam mencium tembok.
"Maaf pak, saya kira kosong" Jawab Badai sambil menekan benjolan di keningnya akibat terpentok tembok rumah.
"Bentar bapak mundur dulu, biar kamu bisa lewat tong" Kata si bapak penjual nasi uduk. Sambil menarik kembali dorongan nya kemudian membelokkan sedikit ke arah rumah ntah rumah siapa.
Badai kembali menstater motornya kemudian melewati tukang nasi uduk dengan hati-hati. Badai itu jarang sekali masuk gang, ini pertama kalinya dia masuk gang yang sangat sempit. Daerah rumahnya semuanya jalanan umum tidak ada gang sesempit ini.
Motornya kembali melaju dengan sangat pelan, mungkin hari ini termasuk hari sial bagi Badai. Karena kini remaja laki-laki itu terjerat tali jemuran yang di pasang membentang ntah ulah siapa.
"Sial" Gumamnya sambil menarik baju yang menutupi daerah mukanya.
Sedang ribet dengan banyaknya jemuran ntah milik siapa, ponsel di saku celananya berbunyi menampilkan nama "Anggara" Disana.
[Calling]
Anggara.
"Paan" Jawab Badai sewot.
"Santai bos q, dimana lu kal?" Kata orang di sebrang.
"Di akherat" Jawab Badai asal.
"Buset udah sampe akherat aja lu, makan-makan dong dirumah lu" Tanya Anggara, yang di dijawab umpatan dari mulut Badai.
"sinilah gudang, gua sama yang lain di gudang lagi nyebat" Kata Anggara.
Belum sempat Badai menjawab, teriakan ibu-ibu cukup membuatnya kaget spontan dia langsung berbalik. Betapa kagetnya dia ketika melihat ibu-ibu pakai daster bunga-bunga warna merah berdiri sambil menggenggam sapu ijuk, seakan sudah siap menggebuknya.
'siapa tuh' -batin Badai.
"Mampus , emak-emak" Kata Badai sambil menaiki motornya kembali tidak peduli dengan jemuran yang sudah dia rusak tadi.
"Heh kemari kamu anak nakal, gustiii itu baju baru aja di cuci sudah kotor lagi, kemari kamu" Teriak ibu-ibu itu sambil berlari mengejar Badai. Karena tidak terkejar ibu tadi melemparkan sapu ijuk nya ke arah Badai dan berhasil tepat mengenai kepala Badai. Kumplit sudah harinya, berawal dari kejar-kejaran polisi karena knalpotnya kemudian mencium tembok rumah dan berakhir dengan terkena bantingan sapu ijuk milik ibu-ibu ntah siapa.
"Sial banget gua ketemu emak-emak pagi hari" Katanya, ntah sudah berapa kata sial dia ucapkan umpatan-umpatan juga kata-kata toxic turut andil dalam sambatan nya. Dirinya kini tengah duduk di depan minimarket dengan tiga botol air putih ukuran mini yang sudah kosong.
Sedang enak ngadem, ponselnya kembali berdering dengan nomor tak dikenal.
'ko hati gua ngga enak ya' - batin badai tepat ketika dia mendapat panggilan dari nomor ngga di kenal.
Sebelum mengangkat panggilan Badai menghirup nafas dalam kemudian menggeser ikon warna hijau.
__ADS_1
[Calling]
+6281234xxx
"KALENDRIKA" teriak orang di sebrang, membuat badai seketika terdiam kemudian melotot horor.
'mampus, angin terbangkan saja lah gua sekarang' -batin Badai.
"Iya ayah" Jawab Badai, ternyata nomor tak dikenal itu ayahnya sendiri, Tanu. Sebelum orang yang dipanggil ayah menjawab, Badai sudah menjauhkan ponselnya dari telinga.
"KAMU BOLOS LAGI, PAK YANTO TADI TELPON AYAH KATANYA KAMU NGGA MASUK LAGI KALENDRIKA" teriak ayahnya disebrang sana.
"Apa ayah? ngga denger, signalnya jelek keresek-keresek apa ayah? yaah matiiii" Jawab Badai sambil mengarahkan ponselnya ke jalan raya.
Badai terdiam memandang jalanan di depannya, keningnya mengernyit heran. Pandangannya jatuh pada gedung sekolah swasta yang tak asing didepannya. Helaan nafas keluar dari mulut remaja laki-laki itu, dia baru sadar rupanya gang sempit itu mengantarkannya pada sekolah nya. Setelah selasai minum dan juga mengistirahatkan tubuhnya Badai mengendarai motor maticnya memasuki area sekolah.
Di koridor Badai menjadi pusat perhatian, karena kebetulan dia masuk tepat pas jam istirahat pertama dimulai. Baju dan rambut yang acak-acakan, dasi asal tersampir di leher kemudian celananya yang kotor cukup menarik perhatian semua murid di sekolahnya. Dan jangan lupakan jidat birunya. Namun dasarnya Badai, remaja laki-laki itu tidak perduli memilih abai. Badai berjalan kearah kelasnya di lantai dua, pintu yang awalnya tertutup dia tendang dengan kencang menimbulkan bunyi nyaring sampai ke kelas di lantai satu. Spontan semua atensi siswa terarah kepadanya.
Kedatangan Badai membuat sebagian murid keluar dengan serentak karena kebiasaan Badai yang suka masuk kelas seenaknya juga perangai Badai yang cukup menyeramkan membuat dirinya ditakuti semua murid di sekolahnya.
Posisinya yang selalu mendapatkan peringkat utama paralel membuat murid lain segan terhadapnya. Ditambah jabatan sang ayah sebagai pemilik saham terbesar di sekolah itu, membuat Badai seakan dihormati oleh siapapun. Kecuali.
"Yuhuuuuuu, orang ganteng datang" Teriak seorang laki-laki sambil melajukan skateboard nya ke arah Badai. Dia Anggara Ivano Dewangga. kerap disapa Anggara.
Anggara adalah teman dekat Badai. Laki-laki penyuka skateboard, yang hampir semua skateboard nya menumpuk di ruang BK. karena seringnya disita oleh guru bk.
"Gila bos, lu jadi bahan gibahan lagi tiap koridor" Kata Anggara sambil menekan ujung skateboard nya.Kemudian dia angkat dan disimpan dimeja milik Badai.
"Ngapain lu kesini?" Tanya Badai.
"Santai ngga usah di gasin dong, gua kesini mau nyapa lu lah wahai sahabat karibku" Kata Anggara. Remaja laki-laki yang berstatus sebagai teman dekat Badai.
"Emang lu punya sahabat?" Tanya Badai sarkas.
"Jahat banget lu ngga ngakuin gua sahabat" Jawab Anggara dramatis.
"Lu babu gua bukan sahabat gua Gar" Kata Badai. Tangannya merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebungkus rokok yang lumayan mahal dari sana.
"Mau nyebat?" Tanya Anggara. Dan dijawab gelengan oleh Badai.
"Buat lu, ganti yang kemarin" Jawab Badai. Yang dijawab dengan gerakan mulut "oh" Namun tak bersuara.
"Gimana semalam lu berhasil lolos?" Tanya Anggara lagi, Badai terdiam pikirannya menolak mengingat kejadian semalam dimana dirinya selalu berakhir di tempat yang sama. kantor polisi.
"pake duit apapun lancar" kata Anggara.
"nyawa gua yang ngga lancar" jawab Badai.
"Gila kal sensasinya emang beda kalau tawuran sama anak sekolah Mandala" Kata Anggara mengalihkan topik, sambil membuka ponselnya mengecek siapa tau ada yang menggirimnya pesan. namun tidak ada hanya ada operator yang setia mengirimi laki-laki penyuka skateboard itu pesan. miris sekali. Badai mengangguk sambil berujar.
"katanya siapa tuh yang sekarang udah insyaf ketua gengnya, jadi anak OSIS kan?"
"iya, Abi" kata Anggara membenarkan perkataan badai sambil menyimpan ponselnya kembali.
"tawuran lagi hayu, sekolah tetangga nantangin" kata Anggara sambil memperlihatkan grup chat miliknya. disana ada beberapa screenshot yang dikirim oleh salah satu anggotanya. percakapan salah satu siswa sekolah tetangga yang mengajak tawuran.
"ngga niat ngotorin tangan dulu gua, tar dia nangis minta permen lagi atau balon gara-gara tawuran sama gua" kekeh Badai.
mereka terdiam beberapa detik.
"Main hago lah hayu" Ajak Anggara tiba-tiba. Yang spontan diangguki oleh badai.
"tumben lu ngga ngurusin pou lu atau ngga apaan sih moy ya?" tanya Badai.
"males pou ngga bisa main berdua, lagian pou gua udah gede" jawab Anggara.
'hubungannya apa?' -batin Badai.
Mereka memang selalu menghabiskan waktu istirahatnya bermain hago, atau sekedar duduk-duduk ngga penting di kelas. Badai biasanya hanya memejamkan mata sedang Anggara akan sibuk dengan virtual petnya. yang terkadang membuat dia pusing sendiri.
Jika ke kantin mereka memilih nanti pas masuk karena kalau mereka ke kantin sekarang, bisa di pastikan kantin senyap sunyi dan tenang dalam sekejap. Semua murid yang tadinya berjubel bakalan hilang ntah kemana karena takut dengan kehadiran Badai. Terkadang dia juga suka heran kenapa mereka takut sama dirinya padahal dirinya juga manusia yang sama makan nasi, bukan paku ataupun kaca apalagi aluminium.
Sedang asyik main hago berdua tiba-tiba.
Prang....
Ctash....
Duk....
Kaca jendela pecah sebuah bola kasti mendarat dengan mulus di samping kepala Badai, hingga remaja laki-laki itu terjatuh ke bawah dalam posisi tengkurep. ponselnya bahkan terbanting ntah kemana.
"Si fisika sialan" Geram Badai dengan nada kesal, karena siapa lagi yang bisa memukul tanpa meleset mengenai target kalau bukan Arva yang kerap disapa laki-laki fisika karena seringnya dia mengikuti Olimpiade fisika.
__ADS_1
Berbeda dengan Badai yang mengumpat, Anggara dengan cepat melongokan kepalanya kebawah tepatnya ke lapangan outdoor disamping sekolah mereka. Disana berdiri empat orang laki-laki dengan satu yang memegang tongkat pemukul bola kasti, dia Arva Agilla Prawira-Arva- laki-laki fisika yang menyukai kasti dengan segala pemikiran ajaibnya. Sedang di sampingnya ada Anugrah Gardian Pradipta -Ian- dan juga Askala Danu Ardana -Aska- kedua remaja laki-laki yang menyukai basket dengan segala keunikannya. Terakhir di ujung berdiri si pelempar jitu dan penembak jarak jauh, dia Gelangga Semeru Brajaya -Heru.
Cat rambut ungu dan hijau milik Arva dan Heru yang mencolok, sangat jelas terlihat dari lantai dua. Arva, remaja laki-laki itu mengacungkan finger heart nya kearah Badai sambil tersenyum remeh sedang ketiga laki-laki di sampingnya melempar tawa jenaka seakan hal yang di lakukan temannya itu sudah biasa terjadi.
Di lantai dua Badai beranjak kemudian pergi menemui Arva, Gardian, Askala dan juga Heru yang ada di lapangan outdoor disusul dengan Anggara di belakangnya.
Rupanya suara pecahan kaca yang di sebabkan oleh Arva membuat semua guru dan murid lain kaget, apalagi melihat Badai yang berlari dari lantai dua kearah lapangan outdoor.
"Bagaimana gift dari gua, berbeda dari yang lainkan?" Tanya Arva kedua tangannya bertumpu pada tongkat pemukul kasti.
"Spesial pake daging ngga, pengucapan Congratulations kita" Tambah Heru, si pemilik rambut hijau.
"Ah tapi masih belum lengkap" Kata Gardian, membuat Badai mengernyit bingung.
BUK...
Sebuah lemparan bola basket berhasil memembuat Badai terhuyung kebelakang, oknum pelempar hanya ketawa. Dia Askala remaja laki-laki yang tadi memutar bola basket di salah satu tangannya. belum sempat kata-kata Toxic keluar dari mulut Badai, teriakan seorang guru perempuan berhasil mengalihkan atensi mereka, bu Disa berjalan bersama Pak Yanto di sampingnya.
"KALENDRIKA, ANGGARA, ARVA, ASKALA, GARDIAN, HERU" teriak bu Disa, dia adalah salah satu guru BK yang terkenal killer. bahkan dia adalah musuh utama Anggara karena selalu merampas skateboardnya.
Mereka berenam melempar pandangan seakan saling mengkode satu sama lain,
"service nyawanya kakak" kata Gardian. bergaya seperti sales yang sedang menjajakan jualannya. karena keenamnya akan kalah jika berhadapan dengan guru bk, terutama bu disa.
"berhadapan sama tuh guru sama aja kaya ketemu malaikat Ijroil, serem bos" kata Anggara.
"LARI" teriak mereka berbarengan. Mereka berlari mencar ntah kemana sedang kedua guru itu menggeleng melihat kelakuan keenam anak yang terkenal badungnya ngga ketulungan kalau mereka ngga ingat banyaknya piala yang keenamnya sumbangkan mungkin keenamnya sudah di keluarkan dari sekolah. Oh iya jangan lupakan juga orang tua mereka termasuk pemilik saham di sekolah swasta itu. kalau sudah seperti itu semua guru hanya bisa menggeleng tak mampu apa-apa.
Mereka kini berkumpul di gudang bekas di sekolahnya, nafas keenam remaja laki-laki itu tersengggal-senggal karena berlari. Sama seperti murid pada umumnya mereka takut terkena hukuman apalagi berhadapan dengan bu Disa.
"Gimana pukulan gua tepat sasaran kan?" Tanya Arva memulai percakapan dari keterdiaman mereka karena cape tadi.
"Bagus banget, jidat Kalen langsung benjol akibat tengkurep?" Jawab Anggara sambil mengacungkan jempolnya kearah Arva.
"terjun bebas ajalah gua besok" Kata Badai sambil memandang temannya satu persatu. dia tak habis pikir dengan ke lima temannya.
"Yaelah kal baperan amat, itukan ucapan selamat wilujeng dari kita karena kemarin lu juara satu angkatan" Kata Heru.
'otak hasil kredit gini nih,wilujeng selamat lagi' -batin Badai gedek.
"Dimana-mana kalau ngucapin selamat ngasih kado atau bunga apaan kek gitu hadiah, bukannya di lempar bola kasti sama basket" Kesal Badai, pikiran ajaib temannya memang tak pernah terjangkau oleh logika siapapun juga.
"Lu berempat jangan tambah beban deh si Tanu udah bikin gua sakarotul maut tiap hari" Cerocos Badai.
"Tuna, Tanu bokap lo itu kal" Kata Askala sambil memukul kepala Badai.
"Dah lah bodo, gua ngantuk ngadepin lu semua yang punya otak ajaibnya level dewa" Kata Badai sambil merebahkan tubuhnya di atas meja di sudut gudang.
"malam lu kemana? kita nungguin lu dirumah Ares" Kata Gardian yang kini sudah duduk di kursi tak terpakai.
"gua langsung di tarik masuk sama bodyguard nya si Tanu ke mobil. takut berubah jadi labu kali tu mobil, kalau kemaleman gua balik" Jawab Badai sambil memejam.
"jadi gembel lu kalau kemalaman balik kal, cinderela kan berubah jadi babu" kata Arva sambil terkekeh.
"lagian kesel gua, bokap udah kaya monster kelakuannya. masih untung kalau bokap tiri lah ini bokap kandung" jawab Badai tertawa hambar,netranya mulai menatap langit-langit gudang yang catnya bahkan sudah terkelupas. dia selalu mendoktrin dirinya agar selalu kuat semenjak masalah itu terjadi.
"ayah kandungku jauh lebih jahat dari ibu tiriku, harusnya ibu tiriku yang jahat bukan ayah kandungku" kata Anggara dramatis yang berhasil mendapat lemparan sepatu dari Badai.
Askala terkekeh di samping Gardian sambil berujar
"tapi untung lu masih bisa bernafas"
"Nafas mah masih bisa, gerak kaga" Jawab Badai, waktu dimana dirinya berakhir di rumah sakit kembali terputar diotaknya.
"kal bokap lu main tangan semalem?" Tanya Arva. Yang kini mulai memainkan gitar milik Anggara yang sengaja di simpan di gudang.
"Kaga lah, kan gua berhasil juara satu angkatan. Kalau gua juara dua baru ajal gua bakal cepet tiba, besok nih kalau gua tawuran bokap gua berubah jadi monster lagi" Jawab Badai berapi-api.
"yaudah jangan tawuran lah lu, biar bokap lu ngga berubah kaya power rangers" kata Arva.
"power rangers mah pembela kebenaran bokap gua mah musuhnya power rangers" jawab badai saking kesalnya dengan sikap sang ayah.
"lagian kalau ngga tawuran ngga seru hidup gua melempem melempem aja, lempeng aja kaya jalan toll. jalan tol aja ada macetnya" tambah badai.
"pengumpamaan lu ribet banget ampe jalan tol segala" kata Anggara.
"Gar gua nginep di rumah Ares lah nanti, dirumah bete bokap gua bawa istri barunya" Kata badai sesaat sebelum benar-benar terpejam.
"gua temenin deh" Jawab Anggara.
"gua ikut/gua juga/ikut gua juga"
Dari Keenam anak itu Badai memang mempunyai masalah tersendiri yang cukup pelik. Tapi Badai mempunyai cara tersendiri untuk bahagia walau bukan bersama keluarganya, Badai punya tempat sendiri untuk pulang walau bukan kembali ke rumahnya.
__ADS_1