Best Seller Man

Best Seller Man
takdir


__ADS_3

Seorang anak laki-laki berlari masuk menerobos persidangan yang sedang berlangsung.


" Tunggu kakak saya tidak bersalah, kakak saya tidak bersalah pak. Saya mohon mah pah kakak tidak salah aku yakin mah" Kata anak laki-laki itu kemudian matanya menatap dirinya sambil berujar lirih.


"Tolong kakak saya, dia tidak salah" Katanya.


"HAAAAAH, mimpi itu kembali lagi" Gumam Guntur, nafasnya cukup tersenggal, juga peluh yang cukup untuk membasahi piyama pemilik laki-laki itu. Mimpi itu yang selalu berhasil membuat Guntur ketakutan akan sebuah penyesalan.


"Gua tau gua salah, andai saja gua dulu jujur" Kembali laki-laki itu bergumam.


"Andai saja, mungkin kali ini gua ngga pernah ngerasa bersalah" Kata "andai" Seakan menjadi sambatan Guntur kala mengingat masa lalu yang cukup membekas di ingatannya. Dengan spontan pikirannya kembali mengulang potongan cerita pahit yang bahkan dia sendiri tak ingin mengingatnya lagi. Masa SMA.


"Ra lu udah tenang di alam sana kan?" Kata Guntur.


"Fatal banget kayanya kesalahan gua, dia sekarang apa kabar ya?" Kata Guntur lagi, pandangannya jatuh kepada jam dinding kamarnya yang masih menunjukkan pukul lima pagi.


"Lari pagi enak kayanya, dari pada kepikiran masa lalu" Katanya sambil beranjak dari kasurnya memasuki kamar mandi.


Tak butuh lama Guntur sudah siap dengan pakaian olahraganya dia berencana akan berjalan-jalan sekitaran komplek rumahnya.


"Loh mas Aga mau kemana?" Tanya bi Marni yang baru saja masuk dengan sekantong belanjaan, nampaknya pembantunya itu baru pulang dari pasar.


"Jalan-jalan bi sekitaran sini sambil lari pagi" Jawab Guntur menghentikan jalannya kemudian membuntuti bi Marni ke dapur.


"Mas dari pada jalan mending sepedaan to mas, lebih seru" Usul pa Didi yang baru saja masuk sepertinya habis mengantar bi Marni.


"Sepedanya mana pak masih di toko" Jawab Guntur sambil tertawa.


"Ini disimpan kemana aja bi?" Tanya Guntur sambil membuka kresek belanjaan pembantunya.


"Ngga usah mas aga, biar bibi saja. Mas aga katanya mau keluar mau jalan santai" Jawab bi Marni sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya mas, biar saya saja yang membantu Marni nanti" Tambah pak Didi. Guntur tersenyum kemudian mengangguk.


"Saya berangkat ya pa, bi" Kata Guntur,


"Oh iya, cariin sepeda ya pa dua nanti temenin saya sepedaan" Tambah Guntur pada pa Didi sebelum benar-benar pergi.


"Sekali goes saya langsung encok nanti mas" Jawab pa Didi, membuat Guntur tertawa jenaka.


Guntur keluar menikmati udara pagi, cuacanya memang sedikit mendukung , nampaknya langit menghendakinya untuk menikmati kota yang di juluki kota macet itu. Dia berjalan seorang diri pikirannya masih berkecamuk dengan rasa bersalah yang ntah kenapa selalu membuat dia menyesal.


Penyesalan. Mungkinkah waktu akan mempertemukan mereka kelak? Ini masalah waktu dan takdir. Ntah indah ataupun pahit keduanya seakan menjadi simalakama bagi seorang Rayga Guntur Bagaskar. Guntur hidup berdampingan dengan penyesalan yang seakan tiada akhir, penyesalan mendalam yang bermula dari keegoisan keluarganya yang tak ingin anaknya terbawa kasus temannya sendiri.


"Andai saja gua dulu bisa nyanggah, gua bisa ngomong gua bisa ngelawan gua bisa bela lu andai saja" Gumam Guntur di tengah berjalannya. Ntahlah kata andai sudah dia sebutkan berapa kali hari ini, keluhan sambatan semuanya penuh dengan kata 'andai' yang dia utarakan. Guntur dulu bukanlah anak seperti sekarang , orang tuanya melotot dikit saja Guntur sudah takut, berbeda dengan Ceko, kakaknya. Laki-laki dengan nama lengkap Galaxy Ceko Bagaskar itu bahkan berani melawan sang ayah demi sebuah cita-citanya. Sedang dirinya sepertinya hidupnya selalu dalam kuasa sang ayah. Sampai sekarang.


"Ck kapan sih mereka mati? Astaga jangan begitu ga biar bagaimanapun mereka orang tua lu" Gumamnya, dia menghentikan jalannya tatkala hidungnya mencium aroma bubur ayam yang khas.


"Jadi lapar perut gua" Katanya sambil menyapukan pandangan mencari penjual bubur ayam, hingga matanya melihat seorang pedagang bubur ayam di ujung jalan. Dengan cepat Guntur berjalan kearah pedagang itu.


"Wah rame" Gumam Guntur. Belum sempat Guntur memesan tiba-tiba atensinya teralihkan dengan motor yang sangat Guntur kenal.


"Ah yang punya motor Bebek gini kan banyak" Tambahnya lagi memilih abai kemudian memesan.


"Pak buburnya satu ya" Kata Guntur kemudian duduk di samping remaja laki-laki yang sibuk dengan ponselnya. Fokus Guntur teralihkan pada blazer yang diikat oleh dasi tepat di samping mangkuk remaja laki-laki itu duduk.


'Aneh-aneh aja anak zaman sekarang, masih ada tas kan?'-batin Guntur tak habis pikir dengan kelakuan remaja laki-laki di sampingnya.


"Eh seriusan jadi beneran ada bos baru di kantor gua?"


Kembali atensi anak bungsu keluarga Bagaskar itu teralihkan, fokusnya kini pada pulpen yang tengah seorang perempuan pegang sambil menelpon.


"Iya lagi gua catet" Kata si perempuan. Mata Guntur sesekali melihat pulpen yang bermotif batik berwarna coklat yang tengah digunakan perempuan itu menulis ntah apa.

__ADS_1


Tak. Bunyi mangkuk yang beradu dengan meja cukup mengembalikannya pada realita.


"Ini mas buburnya" Kata pedagang itu.


"Makasih pak" Katanya. Kemudian Guntur mulai menyuapkannya sesendok.


'Enak' -batin Guntur.


"Bosnya masih muda?" Kembali dunia Guntur teralihkan oleh pulpen yang masih saja di gunakan si perempuan ntah siapa. Hingga tak berapa lama perempuan itupun beranjak memasukan semua barang-barangnya kedalam tas. Pandangan Guntur tak lepas dari pulpen yang si perempuan itu simpan di saku tas.


.


.


Guntur kini kembali memakan bubur ayamnya dengan tenang, tanpa disadarinya remaja laki-laki disampingnya sudah pergi ntah kemana. Tak perlu waktu lama untuk Guntur menghabiskan bubur ayamnya satu tusuk satenya dia ambil kemudian berniat membayar bubur ayamnya.


"Berapa pak?" Tanya Guntur sambil mengeluarkan uang lima puluh ribu dari sakunya , karena dia hanya membawa uang lima puluh ribu itu sisa uangnya kemarin pas dia membeli air mineral di bandara. Nampaknya kini dia harus sedikit membawa uang cash takutnya seperti sekarang dia tergoda dengan makanan pinggir jalan. Sedang dompetnya penuh dengan kartu yang bahkan tak akan berguna ketika digunakan jajan seperti sekarang.


"Lima belas ribu mas" Jawabnya. Guntur kemudian menaruh uang lima puluh ribu disana.


Kini laki-laki dewasa itu tengah berjalan ke arah pulang, sambil menggenggam pulpen bermotif batik berwarna coklat di tangan kanannya.


"Cuma pulpen ngga bikin dia miskin kan?" Pikir Guntur.


Guntur sesekali menyapukan pandangannya melihat aktivitas orang-orang. Nampaknya kemacetan mulai memanjakan penglihatannya. Lihatlah motor dan mobil seakan seperti tengah mengantri sesuatu yang berharga. Bunyi klakson pun turut memeriahkan paginya juga teriakan pedagang asongan yang nampaknya sudah mulai bekerja mencari sesuap nasi untuk hari mereka.


Pandangannya kembali teralihkan dengan pemilik motor yang tadi -motor Bebek- di bagian stangnya tergantung dasi yang tadi dijadikan tali untuk melilitkan blazer. Di belakangnya ada pemilik motor ninja hijau yang tengah bersungut-sungut marah karena macet dan di samping motor itu ada pemilik motor matic dengan helm bogonya yang tengah mengunyah sesuatu ntah apa. Sedangkan di depan ketiga motor berbeda type itu ada mobil porche panamera putih ntah milik siapa juga.


"Woy buruan, gua mau BEM lagi ada acara di kampus gua" Teriak si pemilik motor ninja hijau.


"Sabar dong, ini bukan jalan milik sendiri saya juga mau OSIS" Jawab si pemilik motor Bebek.

__ADS_1


Sedang si matic hanya diam focus dengan kunyahannya ntah tengah memakan apa. Dan mobil di depan ketiga motor berbeda type itu dari tadi tengah membunyikan klaksonnya berharap mobil di depannya terbang mungkin. Karena mau sebanyak dan sekeras apa pun si pemilik mobil putih membunyikan klakson faktanya mobil depannya tak juga berjalan.


"Indah sekali pagi ini" Gumam Guntur


__ADS_2