Best Seller Man

Best Seller Man
ambisi yang salah


__ADS_3

Tanpa takut Badai membuka pintu utama, hingga terlihatlah Tanu yang tengah berkacak pinggang. Helaan nafas keluar dari mulut Badai. Telinganya sudah siap mendengar seberapa panjang dan lebarnya ayahnya memarahinya. Tubuhnya sudah siap menerima luka baru yang dihasilkan dari sang ayah. sudah biasa.


PLAK.....


Suara tamparan menggema diseluruh isi ruangan, suara nyaring juga bekas merah yang mencetak di pipi Badai menambah luka sayatan di pipinya semakin parah. Luka sayatan yang tadinya mengering kini kembali basah.


"Tadi ayah sedang rapat, dan gara-gara kamu kembali berulah ayah hampir kehilangan orang yang sangat penting" Kata Tanu yang menjadi dalang penamparan sang anak. Sedang Wendi dari tadi hanya bisa menangis tak bisa menghentikan Tanu yang tengah dikuasai emosi. Begitu juga Farhan, setiap Badai disiksa Farhan hanya bisa diam menyaksikan. Tak mampu berbuat apa-apa.


"Jangan main-main dengan peringatan ayah Kalendrika" Kata Tanu dengan keras. Badai bahkan sampai berpikir jika saja rumahnya tidak sebesar ini mungkin saja suara tamparan tadi dapat membangunkan siapapun itu. Saking kerasnya.


"Kamu mau buat ayah malu?" Tanu yang kalut tak dapat berpikir jernih. Emosi yang menguasai segalanya seakan menutupi sosok yang bahkan selalu dia banggakan kepada semua koleganya. Iya saking sayangnya Tanu tidak mau anaknya dipandang buruk oleh siapapun. Setitik kesalahan saja Tanu tidak mau. Makanya setiap Badai melakukan sedikit kesalahan Tanu akan menghukumnya. Berawal dari hukuman ringan berakhir hukuman berat. bertujuan agar badai merasa jera. Anaknya harus tumbuh dalam kesempurnaan tanpa kesalahan sedikitpun dan juga anaknya selalu di berikan sesuatu yang baru apapun itu.


Hingga tanpa disadari Badai selalu membenci sesuatu yang bekas. apapun itu.


Apa yang dilakukan sang ayah memang berbuah manis mungkin bagi Tanu. Karena Badai tumbuh menjadi laki-laki remaja yang perfeksionis. Dia tidak menyukai hal yang berbau bekas meskipun itu hanya gelas minum sekalipun. Dia akan merasa jijik jika dia memakai sesuatu yang bekas. Ntah itu gelas minum, sendok atau bahkan rokok. Dia akan mengganti gelas secara terus menerus walau dia hanya meminumnya sekali begitu juga yang lain. Nilai Badai selalu sempurna karena sedikit saja nilai Badai turun cambukan maut sang ayah akan menanti. Namun berbeda dengan jiwa Badai.


Badai masihlah remaja yang suka main dan selalu ingin mencoba segala sesuatu. Mencari kesenangan diluar sana dan juga perhatian dengan melakukan kegiatan-kagiatan yang bisa membuat Tanu jangar dan jengah. Berawal dari pukulan yang badai dapatkan hingga berakhir dengan cambukan.


"Sudah cukup ayah?" Tanya Badai, raut mukanya tak ada ketakutan sama sekali.


"Kamu berani melawan ayah kalendrika ?" Tanya Tanu.


"Sudah mas, sudah kasihan kalen lukanya bahkan belum kering" Kata Wendi sambil berjalan kearah Tanu mencoba meredakan emosi sang suami.


"Diam kamu ini urusan saya dan anak saya" Jawab Tanu, sambil mengambil cambuk dari meja di belakangnya.


"Kamu mau bikin ayah malu sampai kapan kalendrika?" Tanya Tanu, tangannya sudah siap akan mencambuk anak semata wayang nya yang selalu dia banggakan kepada koleganya dikantor.


Ctas...


Ctas..


Tanu terus mencambuk anaknya tanpa ampun. Berharap sang anak takut dan kesakitan? Tidak bahkan tubuh Badai sudah kebas.


"Sampai ayah cape sampai ayah memperlakukan aku sebagaimana mestinya" Jawab Badai. Anggaplah Badai adalah anak badung dia bahkan berani melawan ayah kandungnya.


Ctas..


Ctas..


"Kalen manusia ayah, kalen bukan Tuhan yang Maha Sempurna" Jawab Badai.

__ADS_1


Ctas..


Ctas..


"Sudah, Tanu kasihan anak kamu" Kata Farhan sambil berjalan kearah Tanu. Mencoba menarik cambuk yang dipegang oleh Tanu. Sedang Wendi dari tadi hanya menangis tak ada yang bisa dia lakukan. Bisa dibilang dia adalah orang baru di rumah itu.


"Biarkan saja om, mungkin ketika saya ngga ada ayah bisa tenang hidupnya. emosi ayah menjadi stabil ngga harus khawatir anaknya melakukan kesalahan" Jawab Badai sambil memejam, luka cambuk milik sang ayah sukses membuat tubuhnya mati rasa.


"Berani kamu melawan ayah" Kata Tanu dengan emosi. Sambil kembali mencambuk sang anak. Sedang Badai kini sudah mulai tak sadarkan diri bersama cambukan terakhir sang ayah dan juga pekikan suara samar yang didengarnya kesadarannya pun hilang.


"Om apa yang om lakukan?" Itu anggara orang yang tadi berteriak seiring dengan hilangnya kesadaran Badai.


"Angkut kalen ke mobil gua her" Kata Arva menyuruh Heru. Sedang Heru yang melihat kondisi Badai masih saja terdiam, Heru itu fobia darah. Dan seluruh tubub Badai kini sedikit penuh darah.


"Heru, astaga gua lupa lu kan fobia" Kata Arva sambil mendudukan Heru tangannya mengacak rambutnya kasar. Sedang disana Angara masih saja beradu mulut dengan Tanu. Tanu yang terdiam melihat anaknya yang seperti itu, ucapan terakhir Anggara cukup membuat Tanu sadar.


'Mungkin om harus berobat ke psikiater, ayah mana yang tega dan rela mencambuk anaknya'


Sebuah perkataan sekaligus cambuk imajiner untuk ayah Badai.


Sedang badai kini sudah berada dimobil Arva bersama


"Sory kal kita telat" Kata Gardian. Sambil melihat Badai yang kini terpejam sempurna sambil bersender pada Askala.


"Cuy Heru sudah sadar ?" Tanya Arva , melihat Heru yang malah pingsan karena melihat darah. Dan kini temannya itu ada di mobil Arva seorang diri.


"Mana gua tau, itu anak gua bawa ke mobil lu tadi" Jawab Askala.


"Anggara udah kelar belum sih adu bacot sama om Tanu?" Tanya Gardian. Sedang Arva hanya mengedikkan bahunya, tidak tau.


Mereka tadi sama-sama di kantor polisi namun orang tua atau wali mereka sudah datang duluan sedang Badai terakhir. Dan lagi yang paling di cecer sama polisi itu Badai, makanya badai sangat ditangguhkan tadi ketika dikantor polisi. Tepat ketika mereka sampai rumah kelimanyapun menyusun rencana untuk kabur tentunya untuk menolong Badai. Namun mereka datang terlambat karena mereka datang ketika Badai sudah tak sadarkan diri.


"Tuh Angara " Tunjuk Askala tatkala melihat Anggara keluar dari rumah badai sambil berlari kearah mobil Arva.


"Cabut ayo " Kata Anggara.


"Om Tanu gimana gar? " Tanya Gardian yang penasaran dengan kelanjutan pertengkaran Anggara dan ayah badai. Fasalnya Gardian tau Anggara tadi hanya bermodal caci mencaci jika ayah badai bermain tangan Anggara tamat di dalam. Heru yang harusnya diandalkan bisa membantu malah pingsan karena darah. Sedang Arva harus menggotong badai membantu Askala dan Gardian. Sungguh tidak sesuai rencana.


"Ngga tau, di amanin tante Wendi sama om Farhan. Bodolah ayo cabut" Jawab Anggara.


"Kerumah sakit ya gar gua duluan" Kata Arva sambil mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Badai. Sedang Anggara langsung berlari kearah motornya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya gua lupa Heru fobia darah" kata Askala sambil melemparkan kunci motor kearah Anggara.


"besok-besok kalau ada kaya gini lagi Heru suruh nunggu aja" kata Anggara sambil menstater motornya kemudian menyusul Arva.


Mobil Arva sampai di parkiran rumah sakit, dengan cepat Gardian berlari kedalam untuk mencari bantuan. Hingga beberapa menit setelah kepergian Gardian motor Anggara sampai dengan Askala.


"Heru masih pingsan?" Tanya Askala sambil berjalan kearah mobil Arva.


"Iya " Jawab Arva sambil keluar dari mobil. Tepat ketika Arva keluar Gardian muncul bersama beberapa perawat sambil mendorong blankar.


"Buru gotong kalen sini" Kata Gardian sambil membuka pintu mobil belakang dengan cepat Askala Anggara dan juga Arva membantu menidurkan badai di atas blankar.


"Gua ikut badai kedalam " Kata Anggara sambil memberikan kunci motornya kepada Askala.


"Parkirin motor gua ka" Teriak Anggara sambil berlari mengejar perawat yang sudah membawa badai tadi.


Sepeninggal badai, Gardian langsung berjalan kearah mobil Arva , sedang Askala berjalan kearah motor Anggara. namun baru saja membuka pintu mobil Arva berhasil membuat Askala dan Gardian mematung.


"Ian, Aska Heru gimana masih pingsan " Teriak Arva. Dia kaget ketika dia membuka pintu mobil ternyata disana ada Heru yang masih tak sadarkan diri.


"Lah iya Heru " Kata keduanya.


"Bentar gua kedalem lagi bawa kursi roda " Teriak Gardian sambil berlari masuk kedalam lagi. Beberapa menit menunggu, Askala dan Arva baru tersadar. Mereka sudah jadi tontonan semenjak mereka sampai karena berbuat gaduh selain itu mereka berhenti tepat didepan pintu rumah sakit membuat siapa saja akan kesusahan keluar masuk rumah sakit. Belum lagi mobil dan motor milik Arva dan anggara menghalangi mobil lain termasuk ambulance yang tepat di belakang mobil Arva.


"Buru sini dudukin " Teriak Gardian sambil membawa kursi roda.


"Kursi roda dari mana itu ian ?" Tanya Askala bingung.


"Ngga tau gua asal ambil aja tadi " Kata Gardian sambil membuka pintu mobil dimana Heru pingsan.


"Sini bantuin ini anak kabanyakan dosa jadi berat " Kata Gardian. Sepertinya meskipun dalam situasi apapun Gardian masih sempat mengata-ngatai temannya itu.


"Yeuh dosa lu juga banyak " Jawab Askala sambil membantu Gardian.


"Biar adil kita punya banyak dosa, sana dorong ian sekalian tungguin nnti kita nyusul yu ka" Kata Arva, yang kemudian diangguki oleh Devano.


Sepeninggal Gardian, Arva dan Askala menghela nafas.


"Maaf dek mobil sama motornya menghalangi " Kata satpam disana. Membuat Askala dan Arva berbalik bersamaan kemudian tersenyum canggung. Sambil mengangguk.


"oh iya maaf pak" Jawab keduanya.

__ADS_1


__ADS_2