Best Seller Man

Best Seller Man
pindah kos - Topan


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Namun Topan masih tertidur terlentang di kursi apartmennya. Kursi yang menjadi alas tidurnya tidak dapat menampung penuh badannya sedang salah satu kakinya menggantung pada tangan-tangan kursi dan satunya lagi menjutai kebawah. Nampaknya laki-laki itu habis selesai sholat asar terlihat dari pakaian-koko- yang rapih juga bekas air wudhu yang masih membuat beberapa rambutnya basah. Juga sarung merah kotak-kotak yang terlihat menyampir di sandaran kursi tempat topan tertidur.


Suara ponsel di depannya membuatnya mengerang akibat merasa terganggu, tanganya meraih asal ponsel itu berniat untuk mematikan ponselnya tanpa melihat siapa penelponannya, namun belum sempat dia menekan tombol off panggilan kembali muncul tertera kontak dengan nama "Raden” disana tak ada niatan untuk mengangkatnya dia mengabaikan panggilannya, menyimpan kembali ponselnya ke meja dan dia kembali tertidur. masa bodo dengan sipenelpon dia ingin tidur, setelah seminggu mengurusi bem dan juga tetekbengeknya Topan akhirnya bisa bernafas lega.


Dan mungkin disebrang sana Raden tengah bersungut-sungut memarahi topan.


Hingga tiba-tiba seseorang datang, membangunkan Topan sambil melemparkan jaket kulit ke arah topan. Membuat topan spontan memaksakan kesadarannya kembali.


Puk


“astaga IRAWAN BANGUN! GUA MIJIT BEL NGGA DIBUKA-BUKA TAUNYA LU MOLOR” katanya, kepalanya menggeleng tak habis pikir dengan kelakukan sahabatnya. Topan.


Duk.


“ck. ganggu lu” jawab Topan sambil menarik sarung yang menutupi wajahnya. kali ini Raden melemparnya dengan sarung yang topan sampirkan di sandaran kursi dengan sengaja tadi.


“BANGUN IRAWAN GUSTIIIIIIII” kata Raden setengah kesal setelah berhasil melemparkan sarung merah kotak kepada sipemilik. Namun tak ada pergerakan dari Topan, laki-laki itu malah menyenderkan punggungnya di kaki kursi,


"Masih pagi juga den" Jawab Topan sambil sesekali matanya kembali menutup karena masih mengantuk.


“masih pagi apanya IRAWAN INI SORE IRAWAN SORE” kata Raden sambil duduk di kursi yang baru saja menjadi alas tidur Topan.


“emang iya? Oh iya gua abis sholat asar kan tadi” jawab Topan santai. Sedang Raden kini tengah menahan supaya tidak merebus hidup-hidup sahabat sialannya ini.


“BANGUN WAN BANGUN GUSTI UDAH BERAPA KALI GUA BANGUNIN TETEP AJA MOLOR“ kata Raden karena melihat Topan yang sudah siap memejam kembali di bawah kakinya.


"Lu ngapain kesini sih den?" Tanya Topan bingung.


"Lu lupa katanya mau pindahan ke kos?" Jawab Raden masih sambil memukuli Topan dengan sarung merah kotak.


"Emang? Kapan gua bilangnya?" Jawab Topan laki-laki itu masih saja terpejam, Raden tau sahabatnya itu pasti kelelahan setelah mengurusi bem. Apalagi sahabatnya itu akan mempersiapkan diri untuk ikut bem universitas. Iya Topan mengiyakan ajakan dari salah satu partai yang mengajaknya bergabung.


"Rebus lu hidup-hidup dosa ngga sih wan?" Tanya Raden yang gedek dengan kebiasaan Topan yang tidur ngga tau waktu. Untung laki-laki yang terkenal anak Aphrodite itu masih mengingat waktu sholat. Tidak harus dibangunkan.


"Ngga enak gua di rebus, jarang mandi" Jawab Topan simple.


"Gustii kalau fanslu tau lu jarang mandi gua pastiin fanslu kabur semua wan" Jawab Raden. Sedang Topan hanya memandang Raden tanpa ekspresi.


"Muka gua kelihatan peduli ngga?" Tanya Topan membuat Raden murka dan saat itu juga lemparan bantal sopan mengenai muka Topan ulahnya Raden.


"Lempar aja terus gua, ngga sekalian nih kursi lu lempar ke gua" Kata topan.


"Masih untung lu ngga gua lempar sepatu, buru mandi" Kata Raden sambil melilitkan sarung merah kotak keleher Topan kemudian menyeretnya tak berprikesahabatan.


"Jahat bener ibu tiri" Kata Topan yang kini duduk tak jauh dari Raden. Kakinya dia lipat bersila.


"Bangun, mandi, buru atau lu bener-bener gua rebus" Kata Raden sambil berjalan kembali ke ruang tamu niatnya dia mau membereskan kekacauan ulah sahabatnya, namun atensinya teralihkan ketika dia melihat tumpukan buku paket yang sama di depan meja apartemen Topan.


"Ini lu yang beli semua?" Tanya Raden sambil menunjuk tumpukan buku yang MasyaAllah banyaknya di meja. Topan mengangguk sambil memegang punggunglehernya. Sedang Raden memejam siap memarahi Topan lagi.


"Kenapa" Tanya Topan polos.


"Sabarkan saya Tuhan" Kata Raden yang masih memejam. Sedang Topan kini tengah bersiap jika saja dia kembali di berikan ceramah panjang kali lebar melebihi pidato kepala sekolah SMA-nya dulu. Baru saja Raden hendak memarahi Topan marahnya harus terhenti akibat ada suara telpon.


“mamah lu nelpon nih” kata Raden sambil mengulurkan ponsel itu kearah Topan.


“buang aja, ngga penting” jawab topan sambil menepis ponsel itu hingga tak sengaja terjatuh dari tangan Raden.


“HEH, emak lu khawatir itu” kata raden lagi sambil mengambil kembali ponsel yang sempat topan tepis tadi.


"Palingan nanya 'sayang uang masih cukup kan?, alah basi" Jawab topan. Reden mematung memang kedua orangtuanya jarang banget menanyakan prihal kabar topan.


Beberapa menit setelah ponselnya mati ponsel milik topan kembali berbunyi membuat Raden yang masih sedikit mematung karena jawaban topan sepontan kaget.


"GUSTI NU AGUNG, HPLU NGAGETIN IRAWAN" Kaget Raden.

__ADS_1


"Papalu telpon nih, tadi mamah lu sekarang bapaklu" Kata Raden kembali tangannya mengulurkan ponsel yang tadi kearah topan. Topan hanya diam tak niat mengangkat panggilan dari ayah ataupun ibunya.


“biarin aja nanti juga mati" Jawab topan, membuat dirinya kembali di lempari sarung yang sudah dibulat-bulat oleh Raden. Gedek dia lama-lama sama sahabat karibnya itu.


"Apa yang mati?" Jawab Raden kesel.


"Hpnya" Jawab topan lagi. Topan masih duduk bersila di lantai sedang Raden duduk di tangan-tangan kursi.


"Oh" Jawab Raden. Mungkin dia mengira ayah topan yang mati.


"ngapain lu masuk apartment orang sembarangan sih?” kata topan mengabaikan kata-kata Raden.


“MASYAALLOH, GUSTI, GUA PUNYA TEMEN BENER-BENER YA MINTA DI REBUS” jawab Raden kali ini dia melempar bekas coklat ke arah Topan. Nampaknya itu bekas sahabatnya tadi, Topan akan ketiduran ketika dia memakan banyak coklat. Raden tau itu. Sedang topan hanya diam sambil memungut bekas coklat miliknya.


"Gigilu masih utuh makanin coklat mulu wan?" Tanya Raden.


“masih lah” jawab Topan sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapih. Raden menghela nafas sabar. Menyabarkan dirinya sendiri menghadapi sahabatnya itu.


"Ya Tuhan berikan hambamu ini kesabaran, saya tidak mau mati muda masih mau menikah" Kata raden. Sedang Topan mulai beranjak berjalan kearah dapur kemudian mengambil minum dan menyerahkannya kepada Raden.


"Minum nih" Kata Topan sambil mengulurkan gelas penuh air putih kepada sahabatnya, Raden. kemudian raden menerimanya meminumnya rakus.


"Mandi irawan, itu mau kemana lu?"tanya Raden. melihat topan malah berbalik lagi ke dapur setelah selesai mengambil minum, bukannya ke kamarnya untuk segera mandi.


"mandi lah” jawab Topan enteng setengah matanya masih tertutup nampaknya nyawanya pun belum kembali dengan sempurna.


“astagfirulloh ngapain lu balik lagi ke dapur? Mau mandi di wastapel?” tanya Raden yang melihat sahabatnya linglung.pasalnya sahabatnya itu jarang sekali mandi di kamar mandi tamu di apartemen nya.


Topan terdiam beberapa menit kemudian kakinya kembali berbalik dan berjalan kearah kamarnya berniat mandi, namun mungkin laki-laki itu masih mengantuk sehingga dia tidak menyadari kalau disetiap kamar terdapat pintu masuk.


“ah aduuh, siapa sih yang nutup pintu sembarang” teriaknya sambil memarahi pintu kamarnya yang tidak berdosa, sedangkan di ruang tamu raden sedang menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


‘begininih konyolnya kalau otak temen anda belinya second’-batin raden.


“makanya wan, pas pembagian otak tuh hadir paling depan jangan alpa” kata raden sambil tertawa namun tanganya tak berhenti membereskan ke kacauan di ruang tamu sahabatnya. Sedangkan topan laki-laki itu masih menggerutu memarahi pintu yang tak kan pernah menjawab walau sampai kapanpun.


"Pinter apanya tiap mulai matkul ngeluh mulu" Jawab Raden menggeleng tak habis pikir dengan sahabatnya.


"Itu karena gua selalu jadi tumbal tiap suruh maju kedepan yang mulia" Jawab topan sebelum benar-benar menutup pintu kamarnya.


Di kamar, topan mengambil asal baju di dalam lemarinya membawanya ke kamar mandi beserta handuknya.


Tak lama topan sudah keluar dari kamar mandi, laki-laki itu mengenakan kaos putih dan juga celana jin hitam, sedikit menata rambutnya sambil memperhatikan dirinya di dalam cermin datar di kamarnya. Pandangannya jatuh pada guratan-guratan melintang di pergelangan tanganya, pikirannya menolak mengingat kejadian tadi malam yang membuatnya sedikit harus mengungkit masa lalu yang kelam dan cukup memberikan luka yang sulit sembuh. Dia kemudian meraih kemeja kotak warna biru tua sebagai luaran untuk menutupi guratan-guratan yang ada di pergelangan tangannya, dirasa sudah selesai dengan urusannya dia langsung beranjak, menekan kenop pintu untuk melihat apa yang dilakukan sahabatnya. Raden.


Terlihat sahabatnya tengah menonton tv setelah membereskan kekacauan yang dirinya buat, topan tersenyum melihat betapa rapihnya ruangannya kini, melihat Topan keluar raden langsung berdiri.


“gua laper wan, lu mau makan apa?” kata raden sambil berjalan kedapur membuka semua lemari dapur yang isinya alhamdulillah--kosong.


“lemari dapur kosong, beli aja atau pesan antar” jawab Topan.


"Kebiasaan lu" Jawab Raden.


"Biasa makan di luar gua, yah dapur kopong" Jawab Topan sambil membuka kulkas mengambil sebotol air putih nampaknya topan sangat kehausan ,kerongkongannya kering bahkan botol air putih itu habis dalam sekali teguk olehnya seorang diri.


"Ck kasihan banget sih anaknya mamah wendi ngga pernah makan makanan rumahan" Jawab Raden. Sedang topan hanya bersandar di kulkas manatap Raden tanpa ekspresi.


"Jangan sebut nama mamah gua, tuh adanya coklat kalau mau makan gih" Jawab topan sambil menyimpan coklat di meja dapur.


“ompong gigi gua kalau makanin coklat mulu, emangnya elu makan coklat everytime" Jawab Raden.


"Dari pada nyebat everytime" Jawab topan tak mau kalah.


"Iya juga, ayolah mendingan kita ngepak barang yang mau lu bawa ke kosan biar cepet kelar. Takutnya kemagriban" Ajak Raden sambil berjalan kearah kamar topan. Topan mengangguk mengikuti Raden setelah memesan makanan delivery dari ponselnya.


"Mau bawa apa aja wan?" Tanya Raden sambil duduk di ujung kasur milik topan. Sedang topan masih bersandar di daun pintu.

__ADS_1


"Satu koper muat ngga sih?" Tanya topan lagi kali ini mulai beranjak melangkah masuk kemudian duduk bersila di karpet bulu di bawah Raden.


"Muat kalau lu ngga mau bawa apa-apa" Jawab Raden masih dalam posisi yang sama. Topan kemudian menarik koper hitam berukuran besar dari samping meja belajarnya.


"Segini, muat buat baju sama buku lu juga masuk kedalam den" Jawab topan.


"Bodo amat ya wan, ini kegedean pangestu" Jawab Raden kesel.


"Ck, yaudah ini" Katanya sambil menarik koper lain yang ukurannya sedang, Raden mengangguk kemudian mulai mengeluarkan beberapa pasang baju dari lemari topan.


"Ngga gerah lu itu pake kemeja?" Tanya raden. Topan menggeleng sambil memberskan bukunya di meja belajar.


"Ka Geo ada kabar wan?" Tanya raden di tengah mengepak baju topan. Topan kembali menggeleng.


"Di Budapest kan ya?" Tanya raden memastikan. Topan mengangguk.


"Budapest itu bekas tempat kuliah kakak perempuan lu kan, ka Aru?" Tanya Raden lagi. Topan kembali mengangguk tangannya masih sibuk membereskan buku-buku yang lumayan banyak untuk dia bawa ke tempat barunya. Kosan. Raden tau topan tidak akan menjawab dengan pasti ketika ditanya prihal kedua kakaknya, topan hanya akan mengangguk dan menggeleng. Yang raden tau kakak perempuan topan sudah meninggal akibat sebuah kecelakaan pesawat sedang kakak laki-laki nya kini tinggal di Budapest. Iya raden hanya tau sebatas itu selebihnya topan tidak pernah bercerita apapun prihal kedua kakaknya.


Suara AC bahkan terdengar sangat nyaring karena Mereka fokus kedalam kegiatan masing-masing, topan yang sibuk sedang memilih buku-buku nya dan raden yang masih mengepak baju milik topan. Hingga suara bel apartemen milik topan membuat mereka spontan berhenti. Topan kemudian beranjak membuat raden mengernyit heran.


"Nih" Kata topan sambil memberikan satu box donat yang disukai raden.


"Lu mesennya kapan wan?" Tanya raden sambil membuka box donat dengan senang hati.


"Tadi" Jawab topan, sambil menarik koper beserta baju yang sudah di bereskan raden tadi.


Ting!


Ponsel topan berbunyi menampilkan sebuah notifikasi, membuat topan mengernyit.


"Anda ditambahkan kedalam grup?" Gumam topan.


"Grup apaan?" Tanya Raden heran sambil memakan donat yang tadi topan pesan.


"Ngga tau den" Jawab topan, tangannya kemudian membuka pesan chat yang ntah dari siapa. Hingga notif teratas nya ada sebuah grup asing dengan nama "anggota kosan"


"Siapa nih yang nambahin gua" Kata topan. Membuat Raden seketika menghentikan aksi mengunyah donatnya.


"Si javair nih keknya dari seragam SMAnya anak smanman ya dia" Kata topan, sambil melihat ponselnya.


"Javair? ----gusti Javier wan bukan javair lu mah ganti-ganti mulu nama orang udah bang jafar jadi jafra sekarang javier jadi javair" Kata Raden sedang topan masih sibuk membalas chat yang isinya berempat tapi akibat si cerewet javier chatnya serasa se-provinsi.


"Ini lucu masa den, kocak displap namenya Hujan, Gempa terus yang nambahin gua Guntur" Kata topan sambil terbahak, ngga ada yang lucu padahal namun mungkin menurut topan itu lucu. Raden dari tadi memasang muka flat karena menurutnya tidak lucu.


"Ngga miror si bujang, lu juga pan Topan display namenya. Pas lah Hujan, Gempa, Topan. Abis Hujan terus Gempa terbitlah angin topan dah lah bumi gonjang ganjing langsung" Kata Raden.


"Kiamat namanya yang mulia, sekarang aja kiamat sugro udah banyak ya" Kata Topan.


"Iya wan tinggal nunggu kiamat kubro, makin eling aja gua mah sama akherat" Jawab Raden.


"Bentar ini yang Display namenya Guntur saha?" Tanya Topan lagi sedikit mengejutkan Raden pasalnya Raden tengah melow inget keluarganya tiba-tiba, gimana kalau pas kiamat kubro tiba dia jauh dari keluarga. Sedih.


"Guntur?, lah sisanya kali itu bapak kosan lu siapa namanya mas aga kan dia yang nambahin lu" Jawab Raden.


"Oh iya mas aga" Kata Topan.


"Bencana semua itu udah, kiamat sugro semua. Guntur, hujan, gempa, Topan tar siapa tau ada badai kan?" Tambah Raden.


"Ngga sekalian angin ****** beliung,halilintar,petir sama tsunami" Jawab Topan.


Tak lama mereka membereskan baju dan juga beberapa barang yang akan di bawa oleh Topan untuk pindahan mereka kini tengah bersantai di depan TV.


"Mau kapan lu pindahan?" Tanya Raden.


"Besok malam paling, ngg ada bem soalnya gua" Jawab topan matanya masih fokus melihat TV. Tanpa peduli dengan Raden yang duduk disampingnya.

__ADS_1


"Gua mah kalah sama SpongeBob" Jawab Raden. Pasalnya dari tadi Raden diabaikan karena kini tontonan sahabatnya itu SpongeBob, film kartun favorit topan. Sedang topan tak peduli dia memilih fokus dengan film kartun favorit nya.


__ADS_2