
"Lu bener sih , yaudah mulai yu keburu magrib nih" Tambah Topan.
"Abisin dulu makan lu, gua masih lapar" Jawab Raden. Topan menggeleng tak habis pikir dengan Raden. Perasaan dari tadi sahabatnya itu makan banyak tapi ko masih aja laper, mohon maaf itu perut atau karet sih. Tapi anehnya badan Raden ya segitu-gitu aja ngga gede-gede tidak memiliki perubahan. Berbeda dengan dirinya yang kalau makan banyak langsung begah terus ngga bisa gerak nantinya. Diem aja di tempat, atau bawaannya pengen tidur.
"Jadi al lu mau nyari kosan gitu?"
"Iya, gua bosen di rumah. Sepi vin"
"Lah si kembar sama kedua orang tua lu?"
"Si kembar udah keluar dari rumah,.... "
Atensi Topan kembali teralihkan oleh dua orang mahasiswa yang tadi dia lihat di depan masjid.
'Oh nyari kosan juga'- batin Topan.
"Eh wan gua denger, mamah lu nikah lagi ya?" Tanya Raden yang kini masih sibuk dengan makanan barunya. Pilus.
"Iya katanya den" Jawab Topan. Sambil memakan mie ayamnya lagi. Kalau dibuang sayang belinya pakai duit bukan daun. Pikir Topan.
"Lu pergi ke nikahannya, mamah lu kan paling manjain lu bukannya?" Tanya Raden lagi sesaat setelah selesai mengunyah pilus nya.
"Ngga. gua udah ngga mau ikut campur sama kedua orang tua gua, biarin lah mereka punya hidupnya masing-masing den" Jawab Topan. Tangannya merebut pilus milik Raden kemudian dia masukan ke dalam mie ayamnya. Raden mengangguk. Dia tau Topan sedikit sensitif kalau bicara prihal orang tua, pasalnya sahabatnya itu sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuanya semenjak kedua orang tua Topan memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing, cerai. Sedangkan Topan hanya diberikan uang jajan dan juga fasilitas yang lumayan dari keduanya, untung Topan tidak seperti dulu ketika SMA, Nakal. Kalau Topan tumbuh jadi anak nakal bisa di pastikan hidup Topan akan kacau. Maka sebab itulah Topan selalu saja sholat kalau dia merasa gelisah atau kesepian. Kalimat yang selalu Raden denger dari mulut Topan adalah 'setidaknya gua ngga ditinggal yang menciptakan gua walau gua ditinggal orang tua gua' , miris terkadang Raden dengernya suka sedih kalau Topan udah bicara seperti itu. Sisi gelap Topan tak ada yang tau kecuali Raden. Mungkin.
Setelah menghabiskan mie ayam dan juga pilus Topan dan Raden berjalan ke arah motor ninja mereka, Topan berwarna hijau sedang Raden berwarna merah. Mereka memutuskan untuk melihat kosan yang di rekomendasikan Juna terlebih dahulu.
Di perjalanan Raden dan Topan terus berbicara mereka berteriak dari motor masing-masing. Percakapan mereka yang di atas motor pun menjadi bahan tontonan semua pengendara yang lewat.
"Itu wan yang cat putih pinggir kanan lu" Teriak Raden di belakang motor Topan,
"Heuh" Teriak Topan sedikit memutar kepalanya kearah Raden yang kini dibelakangnya.
"Cat putih wan" Teriak Raden lagi mengulang, tangannya mengisyaratkan Topan untuk berbelok ke rumah ber cat putih yang hampir dia lewati. Sedang Topan yang mengerti dengan isyarat Raden dari kaca spion langsung berbelok ke arah rumah ber cat putih tersebut.
"Ini maksud gua, rumah cat putih" Kata Raden sesaat setelah mereka sampai di depan gerbang rumah bercat putih. Kosan.
"Di gembok nih, den" Kata Topan sambil membuka helm fullfacenya. Kepalanya menengadah ke atas melihat bentuk kosannya. Bentuk kosan itu berderet ada sekitar empat lantai lima sepertinya sama parkiran di bawah karena Topan melihat banyak kendaraan yang terparkir disana. Kemudian dia mendengar teriakan banyak perempuan dari lantai atas, sepertinya itu perempuan yang tak sengaja dia lihat tadi pas menengadah ke atas.
__ADS_1
"Bentar gua chat orangnya dulu" Jawab Raden. Topan mengangguk sambil duduk di atas motornya. Hingga tak berapa lama datang seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka sambil membawa kunci, nampaknya dia pemilik dari kosan itu. Ibu kos.
"Kalian yang mau cari kosan?" Tanya ibu tersebut.
"Iya bu ini teman saya yang mau nyari kosan" Jawab Raden sopan sedang Topan memandang tak minat dengan ibu kos tersebut. Rempong nih ibu sosialita pikir Topan.
"Mari masuk silakan lihat-lihat dulu sekalian saya menjelaskannya didalam" Jawab ibu tersebut. Raden dan Topan mengangguk kemudian mereka menggunakan helmnya kembali untuk memasukkan motornya kedalam.
"Disini kosannya campur, tapi sederet sederet. Lantai baris pertama sampai kedua itu diisi oleh perempuan. Sedang lantai ketiga sampai ke empat itu diisi oleh laki-laki" Jelas ibu tersebut.
"Boleh kita lihat-lihat dulu bu isi di dalam kosannya?" Kata Raden ramah sedang Topan dari tadi sudah tak minat, senyum saja dia tidak. Topan itu bukan orang yang ramah.
"Mari" Kata ibu tersebut sambil mulai menaiki tangga diikuti Topan dan juga Raden. Sepanjang dia melewati lantai satu dan dua banyak perempuan yang melihatnya membuat Topan sedikit risih sedang Raden dia malah tertawa jenaka melihat Topan yang kerisihan dilihat banyak perempuan. Hingga sampailah mereka di lantai tiga, kamar khusus laki-laki.
"Nah yang kosong ada dua kamar, semua fasilitas kamar sama. Mari masuk" Kata ibu tersebut sambil mulai memasuki kamar kosannya. Raden mengangguk sambil menarik Topan yang malah diam mematung, sudah tak minat.
Didalam ada satu kasur king size, satu buah lemari besar, TV, AC, dan juga balkon kamar, di sudut kamar ada kulkas ukuran sedang.
"Gimana?" Tanya Raden sama Topan.
"Balik aja yu" Bisik Topan.
"Mungkin kami mencari ke tempat lain dulu bu" Kata Raden sopan.
"Baik kalau begitu, silakan" Jawab ibu tersebut. Topan dengan cepat menarik Raden kebawah tidak peduli dengan banyaknya perempuan yang kini mulai keluar dari kamar kosan mereka. Hanya untuk melihat Topan.
"Gila, bisa mati berdiri gua di kosan ini" Kata Topan yang langsung menggunakan helm fullfacenya kemudian tancap gas tak peduli dengan Raden. Raden yang melihat Topan langsung pergi hanya menggeleng kan kepalanya. Alih-alih mengejar Topan dia memilih memakai helmnya santai kemudian keluar, tak lupa dia menutup gerbangnya kembali.
"Mau lihat yang pak Dadang?" Tanya Raden sesaat setelah berhenti disamping motor ninja milik Topan.
"Disana gua sendirian sama aja kaya di apartemen dong. Sepi palingan sama hantu" Kata Topan. Karena dia mau kos itu supaya dia ada teman ngga sepi-sepi banget.
"Lihat aja dulu siapa tau udah ada yang ngisi yu" Kata Raden. Topan mengangguk kemudian menstater motornya kembali.
Diperjalanan kini kedua motor ninja itu bisa beriringan, mereka melajukan motornya dengan pelan.
"Belok kiri wan" Teriak Raden dari samping. Otomatis teriakan Raden cukup jelas dia denger, Topan langsung berbelok ke kiri sesuai intruksi Raden.
__ADS_1
"Ini mah rumah den, bukan kosan" Kata Topan sesaat setelah dia berhenti dan memarkirkan motornya tepat di depan gerbang rumah dua lantai bercat coklat.
"Tau, kata pak Dadang kosan. Bentar gua telpon pak Dadang dulu" Kata Raden sambil mengeluarkan ponselnya. Topan mengangguk. Dia menyapukan pandangan ke setiap sudut di depan rumah tersebut. Rumah bergaya minimalis itu di depannya di penuhi dengan tanaman bunga yang terlihat segar. Ada dua pintu gerbang disana yang dipisahkan oleh pohon bambu hias kecil, satu untuk kendaraan satu lagi nampaknya untuk ke pintu utama.
Selang beberapa menit laki-laki paruh baya datang, nampaknya dia pak Dadang. Karena laki-laki paruh baya itu langsung mengenal Raden.
"Ini den temen kamu?" Tanya laki-laki paruh baya tersebut. Raden mengangguk.
"Dia Irawan pak, temen saya satu kampus" Jawab Raden sambil memperkenalkan Topan, Topan mengangguk.
"Irawan" Kata Topan.
Belum sempat laki-laki paruh baya itu memperkenalkan diri, atensi ketiganya kembali teralihkan dengan datangnya sebuah mobil porche panamera putih kesana. Dari mobil tersebut keluar seorang laki-laki yang cukup Topan ingat.
'Loh diakan mahasiswa tadi'- batin Topan.
'Lah kating tadi bukannya' – batin Raden.
"Permisi saya mau bertemu dengan pak Dadang, yang mana ya?" Tanya laki-laki tadi yang baru saja keluar dari mobil berwarna putih.
Topan sedikit kesal dengan pertanyaan dari laki-laki itu. Disini yang pantas di sebut 'pak' cuman satu, ya laki-laki paruh baya di depannya masa iya dia atau Raden.
"Saya pak Dadang mas, kenapa ya mas" Tanya pak Dadang.
"Oh iya perkenalkan pak saya Kelvin, begini pak, temen saya mau cari kosan katanya bapak pemilik kosan sama kontrakan mau lihat-lihat pak" Jawab laki-laki tersebut.
"Begini saja, kalian kesini lagi saja di akhir pekan nanti biar bapak kenalkan pada pemilik kosannya. " Jelas pak Dadang.
"Lah memang kosannya yang mana pak?" Tanya Topan mengernyit heran.
"Ini kosannya" Jawab pak Dadang ramah sambil menunjuk rumah di depan mereka.
"Ini kosan pak? Saya kira ini rumah" Tanya Kelvin.
"Betul ini kosan, memang awalnya rumah tapi kebetulan pemilik rumah ini sudah pindah ke luar negeri dan sekarang yang tinggal di rumah ini adiknya yang baru pulang dari New York" Jelas pak Dadang.
"Kalau mau tau lebih detail, lebih baik kalian datang lagi saja kesini di akhir pecan. Kebetulan di akhir pekan beliau tidak sibuk" Tambah pak Dadang.
__ADS_1
Topan dan Raden mengangguk begitu juga dengan Kelvin ketiganya kemudian berpamintan untuk pulang.