Best Seller Man

Best Seller Man
Kejanggalan


__ADS_3

"ngga gua bukan pembunuh, bukan gua bukaaaan------Aaahrg"


Topan terbangun dengan nafas tersenggal-senggal dan peluh yang hampir membasahi seluruh badannya seakan dia selesai berlari marathon, kepalanya terasa ngilu bercampur pusing akibat mimpi yang terasa nyata. Mimpi buruk yang mengurung dirinya pada sel penyesalan tak berdasar. Dirasa jantungnya tidak kunjung tenang Topan langsung merogoh bagian dalam bantalnya. Mengambil sebuah obat dengan terburu kemudian dia menelannya tanpa bantuan air.


"mimpi, itu cuman mimpi wan" Gumam Topan menenangkan dirinya, membantu detak jantungnya agar kembali normal. Pandangannya dia edarkan kesekitar kamar kosannya. Hingga tanpa sengaja dia melihat Gempa yang tertidur di depan pintu kamar mereka. Topan mengucek matanya guna memperjelas penglihatannya memastikan kalau itu benar Gempa.


"astagfirulloh, bang Alkana ko lu tidur disana bang" tanya Topan kaget, kesadarannya seakan ditarik paksa karena dia berusaha beranjak bangun untuk segera menghampiri Gempa.


"bang" kata Topan sambil menggoyangkan bahu Gempa.


"gua dimana?" tanya Gempa, sambil berusaha bangun dari posisi tengkurepnya.


"di kamar bang" jawab Topan tangannya terulur membantu gempa untuk duduk. gempa menoleh sambil memperjelas penglihatannya


"irawan, ko gua disini ya?" tatkala dia berhasil duduk sambil bersandar pada dinding dengan bantuan Topan.


"lah ko lu nanya----" perkataan topan menggantung membuat gempa menoleh


"bang kepala lu ko lebam gitu lu habis kejedot apa gimana bang itu?" kaget Topan tatkala dia melihat kepala Gempa yang sedikit membiru seperti kepentok sesuatu yang keras.


"pala gua pusing banget wan, sakit" jawab Gempa sambil meringis pelan.


"tunggu disini gua bawain obat dulu ke bawah bang" kata Topan dia buru-buru mengeluarkan kunci dari saku celananya.


"tunggu, lu sakuin kunci kamar wan?" tanya gempa sambil mencekal lengan topan, di tengah pusing menyerang atensinya justru pada kunci yang kini di pegang topan.


"sepertinya iya bang, semalam gua ngga inget apa-apa pas kita sampe gua langsung tidur nih gua aja ngga ganti baju sama sekali" jawab Topan sambil menunjukkan baju yang sama terakhir kali mereka sampai semalam.


"tuh bang buktinya jendela aja masih kebuka"kata Topan dagunya terarah pada jendela kamar mereka yangasih terbuka lebar, spontan gempa langsung menoleh mengikuti apa yang topan maksud.


'berarti gua cuman keluar lewat pintu, jadi kalau pintu terkunci gua tetep di dalam' pikir Gempa.


"bang, jangan diam aja gua khawatir. tunggu bentar gua kebawah sekalian cari bantuan" kata topan dengan nada khawatir dia melepas cekalan gempa sambil beranjak, keluar dari kamar mereka dengan terburu.


Sepeninggal Topan gempa mencoba beranjak bangun namun dia tidak menyadari tepat di atas kepalanya ada sebuah printer, rasa pening yang bercampur nyeri dia rasakan tepat ketika kepalanya beradu dengan mesin printer. dengan spontan kedua tanganya memeluk kepalanya sambil meringis pelan hingga dia tak sengaja melihat sebuah foto yang nampaknya jatuh dari printer tersebut.


"mas Rayga kan itu sama siapa?" Gumam gempa sambil kembali mencoba beranjak dia mengambil foto itu.


"galaxy ceko bagaskar dan Rayga Guntur Bagaskar" gumamnya tatkala dia melihat tulisan di belakang foto tadi, dalam foto itu terlihat ada dua orang laki-laki. Guntur, sedang satu lagi sangat asing di pandangannya. mereka sedang merayakan natal bersama terlihat dari pohon natal yang di hias indah dari background foto mereka.


"natal" gumamnya lagi ntah kenapa foto itu mengingatkannya pada mendiang ayahnya dia sangat ingat tepat ketika dia merayakan natal dan tahun baru bersama sang ayah itu adalah perayaan tahun baru dan natal yang terakhir sebelum sang Ayah bener-bener meninggalkannya. Gempa cukup lamat larut dalam lamunan, hingga sebuah panggilan masuk pada hp milik topan membuyarkan lamunannya seketika.


Dirasa takutnya penting Gempa beranjak bermaksud memanggil topan ke bawah, namun nampaknya sipemanggil keburu memutus panggilan dan terlihat meninggalkan pesan disana.


"Ayah Pangestu,------Pangestu? " gumam gempa ketika mengeja nama sipemanggil, gempa merasa tidak asing dengan nama itu. memilih abai dan dirasa tidak akan ada lagi panggilan masuk gempa berjalan kembali ke arah kasurnya namun baru saja dia akan duduk kembali di kasurnya sebuah panggilan kembali masuk pada hp Topan membuat Gempa kembali beranjak lagi. tapi baru saja berdiri dari duduknya hp Topan kembali mati. membuat Gempa mengumpat tertahan.


menghela nafas sejenak Gempa tetap berjalan kearah hp Topan yg ada di atas meja belajarnya.


"Mamah wendi--- wendi ko kaya pernah denger ya" gumamnya dia seakan mengingat sesuatu dengan nama wendi. tepat ketika gempa akan kembali ke arah kasurnya lagi dengan tak sengaja dia melihat sebuah botol obat di atas kasur milik Topan.


"irawan sakit?" gumam gempa


...•••...


Hujan baru saja memasuki ruangan osis belum sempat bokongnya menyentuh kursi. pintu ruang osis kembali terbuka dengan datangnya Gilang yang langsung menyodorkan sebuah proposal padanya.


"alasannya apa lagi?" tanyanya,


"masih sama----budget" jawab Gilang. Hujan menghela nafas sebelum kembali berkata


"jangan sampai Harsal tau, nnti gua coba ajuin lagi" pandangannya dia alihkan pada proposal yang sampai saat ini tak kunjung mendapat tanda tangan dari kepala sekolah dengan alasan yang kurang Hujan terima. mungkin ini sudah ke sepuluh kalinya Hujan mengajukan proposal extra kulikuler Game dan robotic yang di ajukan Harsal namun sepuluh kali juga Hujan mendapatkan penolakan dari pihak kepala sekolah.


"harus sampe berapa kali ini proposal gua ajuin sih, seratus?" kata Hujan kesal. Dia memijit keningnya sambil menghela nafas berat, pikirannya benar-benar bercabang kemana-kamana karena kurang lebih seminggu lagi penerimaan siswa baru SMA mandala sudah di mulai yang bersamaan dengan pekan olahraga sekolah.


"proposal apa itu? " tanya Radika diambang pintu masuk, sambil menunjuk proposal di meja Hujan.

__ADS_1


"masih sama, menurutlu proposal apa yang ngga kelar-kelar dari minggu lalu" jawab Gilang. mendengar jawaban Gilang nampaknya Radika langsung bisa menebak


"gua ada usul, tapi sedikit nepotisme" kata Radika sambil berjalan ke arah meja Hujan.


"nepotisme gimana rad?" tanya Gilang bingung. sedang Hujan hanya mengernyit tanpa merespon.


"gini gimana kalau kita pake cara orang dalam, anak misalnya--- shuut lang jangan memotong gua belum selesai" imbuh Radika jari telunjuknya mengudara kearah gilang tatkala gilang terlihat akan memotong perkataannya.


"gini tum lu coba minta bantuan anaknya, agar bapaknya mau nanda tanganin proposal pengajuan nya Harsal menurut gua itu cara satu-satunya supaya proposal itu disetujui"


"lu tau emang siapa anaknya pak kepsek rad?" tanya Gilang. Radika terlihat berpikir sejenak sebelum sebuah suara menyauti mereka dari arah pintu masuk


"Gelangga semeru Brajaya biasa di panggil Heru kalau di sekolahan"


"lu tau Ril?" tanya Radika, yusril yang baru saja bergabung mengangguk dia berjalan kearah Hujan sambil berkata


"jelas lah gua tau, anaknya sekolah di SMA Gardapati salah satu musuh gua dulu pas tawuran jadi gua tau banget pasti"


"nah kebetulan tuh lu kan ada temen kosan anak gardapati tum" kata Gilang sambil menoleh kearah bangku hujan disampingnya. sedang Hujan terlihat hanya menyimak tanpa merespon sedari tadi pandangannya jatuh pada sebuah kalender dimejanya, tanggal 13.


"nah pas banget tuh, kenapa ngga lucoba aja usul radika" kata Yusril.


"tum, udah lu jangan segitu khawatirnya ini bukan nepotisme ko ini tuh cuman cara jitu supaya pak Abiyaksa mau nandatangin proposal lu" kata Radika sambil tangannya menepuk pelan pundak hujan. Hujan mendongak sebentar sebelum atensinya dia alihkan pada seseorang yang baru saja masuk dia Harsal dengan cepat Hujan menyembunyikan proposal itu di bawah laptopnya.


"kalian udah dari tadi ngumpul disini? gua ke kantin tadi" Harsal berseru dari ambang pintu membuat Radika, Gilang dan Yusril terdiam seketika. seakan sebuah video yang di pause tepat ketika Harsal masuk kedalam ruang osis.


"kalian pada kenapa?" tanyanya. tak ada yang menjawab satupun sorakan ramai di lapang basket yang jauhpun cukup menjadi back sound keterdiaman mereka, membuat Harsal mengernyit bingung hingga Yusril yang tidak tahan dengan keheningan memcoba mencari topik.


"lang turnamen basket bentar lagi lu yang rajin latihannya lah jangan sampe gua marahin lu, males banget gua adu urat sama teman sendiri" kata Yusril sambil melempar kertas yang sedari tadi dia lipat-lipat yang dia temukan di meja Hujan.


"wih lu jadi kapten basket ya ril, selamat ya gua ikut seneng" kata Radika sambil memaksa menarik tangan Yusril agar berjabat tangan denganya. suasana ruang osis sedikit mencair hanya saja sedikit canggung. tapi tidak sehening tadi.


Pembicaraan keempatnya berlanjut menceritakan tentang Basket dan Gilang yang jarang latihan hingga keadaan ruang osis sedikit demi sedikit kembali normal. sedang Hujan dia masih belum merespon sedari tadi pikirannya bener-bener penuh mulai dari proposal milik harsal yang tidak kunjung di acc, penerimaan murid baru yang tinggal seminggu lagi ditambah ada pekan olahraga sekolah yang sebentar lagi akan dilaksanakan, menghela nafas sejenak pandangannya kembali dia jatuhkan pada kalender di mejanya, kurang lebih tiga belas hari lagi tanggal 13 itu artinya semua itu bertepatan dengan tanggal 13. tanggal yang menjadi momok menakutkan baginya. mitos yang dia yakini adanya, tentang tanggal 13.


"gantiin bang cello dong lu?" tanya Harsal, karena setau dia kapten basket Mandala itu Arcello yang sekarang kelas dua belas mipa tiga. Yusril mengangguk.


"jangan lupa juga nanti kumpul osis" kata Hujan, kembali gilang menoleh kearah Hujan


"cie Gilang di rebutin yang satu ketua umum satu lagi kapten basket gua jadi iri apa gua kurang cantik" kata Radika dramatis sambil menarik anak rambutnya kedelakang telinga.


"pilih gua lang, lu kalau pilih gua gua bakal bahagiain lu hidup dan mati" kata Hujan jenaka yang spontan berjongkok sambil menggengam tangan gilang layaknya seperti pangeran yang sedang melamar putri raja.


"pilih gua lang, lu kalau pilih gua ngga bakal gua apa-apain sih nntinya tapi lang pulau samosir gua sebrangin danau Toba gua daki lang demi lu" kata Yusril sambil mengacungkan salah satu sepatunya seakan itu sebuah cincin yang akan dia sematkan. sedang gilang hanya mengerjap hingga tawa khas Radika yang memenuhi ruang osis berhasil menarik tawa semuanya. Mungkin mereka punya masalah masing-masing namun dengan berkumpul tawa itu kembali ada melupakan semua masalah yang dirasa tak kan berujung dan rumit bagi mereka.


...•••...


sedang disebuah ruangan terlihat guntur tengah sibuk dengan tumpukan kertas di mejanya, sesekali matanya beralih dari kertas ke layar monitor di depannya.


"wah perusahaannya cukup gede dan terkenal ko kena PHK ya--- dia reputasinya pun bagus di perusahaannya? dan dari keuntungan yg di dapat perusahaannya ngga mungkin bangkrut. perusahaan penerbangan lo ini" gumam guntur tatkala dia selesai membaca resume milik Mahesa. setelah makan siang Guntur menyuruh Laka untuk mengumpulkan resume milik pegawainya. Selain karena penasaran dia juga ingin tau apakah betul apa yang dikatakan laka pas pertama kali mereka ketemu, laka seakan mendeskripsikan bahwa mereka yang bekerja di kencana kafe termasuk orang yang di buang dunia alias tidak berguna. Namun baru saja Guntur membaca resume milik Mahesa ternyata memang betul dia terkena pemutusan kontrak hanya saja dari semua yang dia baca Mahesa bukanlah pegawai yang mempunyai reputasi jelek di kantornya dan lagi perusahaan tempat kerja Mahesa bukanlah perusahaan kecil yang mudah gulung tikar. Kertapati Airlane merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penerbangan yang tergabung dalam Gardapati grup reputasi perusahaannya pun bagus pegawainya sejahtera setau Guntur. Apalagi SMAnya yang terkenal dengan sekolah elit dengan banyak anak borjuis di dalamnya.


"aneh" gumamnya, kembali tangannya mengambil kertas resume yang baru namun ketika awal membaca kertas baru Guntur sudah mengernyit, siku-siku yang tercetak di keninganya sudah bisa menggambarkan kebingungan tatkala dia membaca resume itu.


"regal, nilai-nilainya bagus bahkan hampir A+ semua terus ini ko bisa jadi mahasiswa abadi ya?" gumam guntur, sedang fokus membaca satu persatu resume milik pegawainya tiba-tiba saja Laka masuk dengan beberapa berkas di tanganya.


"ini pengajuan budget, terus yang ini janji temu sama pak Rendra Pangestu sekertarisnya bilang beliau masih di luar negri, dan ini satu lagi pengajuan aplikasi yang dibuat laska baru 70% penyelesaiannya dan ini--- " laka mengangantung perkataannya tat kala dia melihat sebuah kartu nama di genggamannya. membuat Guntur mengernyit setelah itu terkesiap kaget karena laka tiba-tiba bersuara seakan memdapat jackpot.


"OH IYA---ah maaf ini, kata sekertaris pak Rendra kalau beliau ngga bisa dihubungin karena sibuk dia menyuruh untuk menghubungi nomor di kartu nama ini---pak Juan kasen---" belum sempat Laka mengeja nama yang tertera di kartu nama Guntur dengan cepat merebutnya.


"Juan? kakaknya Javier kan ini? dia bekerja di perusahaannya pak Rendra" monolog Guntur tatkala dia melihat kartu nama itu disana terdapat nama jabatan dan foto, Guntur sangat ingat terakhir kali dia melihat Juan kakak Hujan. sedang Laka dia hanya mematung bahkan posisi tanganya masih mengudara seakan sedang memegang sebuah kartu nama yang baru saja di rebut guntur.


"kenapa pak? ada masalah dengan kartu nama nya?" tanya laka, guntur menggeleng sambil menyimpan kartu nama milik juan di samping laptopnya.


"ada lagi?, bagaiman pengajuan budget ada komentar ngga?" tanya Guntur. Laka menggeleng dia kemudian menunjukkan tanda tangan yang di bubuhkan oleh ayah Guntur. Ferdinan. sebagai tanda proposal sudah di setujui dan tinggal menunggu dana cair.


"udah gua duga, oke makasih laka" kata guntur.

__ADS_1


"oh iya, bisa tolong selidiki perusahaan tempat Mahesa di---


" Buat apa?" belum juga Guntur selesai berkata Laka sudah memotongnya.


"hanya saja ini terlalu aneh, Mahesa terlihat tidak memiliki kesalahan disini dan juga perusahaan ini setau saya tidak berpotensi untuk bangkrut dan merumahkan karywannya" kata Guntur sambil membaca kembali resume milik Mahesa.


"ini bukan tempat pelayanan investigasi atau sebangsanya pak ini kafe, anda lupa?" kata Laka terkesan dingin. guntur menoleh dari nada bicara laka tadi ntah kenapa laka terkesan melarang Guntur untuk menyelidiki lebih dalam penyebab Mahesa di rumahkan. pecat. walau tidak secara blak-blakan Laka melarang guntur.


"lebih baik anda fokus sama perusahaan anda, nasib karyawan ada di tangan anda dan lagi yang bekerja disini kebanyakan anak mahasiswa yang membutuhkan uang untuk melangsungkan kuliah mereka" pungkas Laka sebelum dia pamit undur diri dari ruangan Guntur. guntur mengangguk mengerti hanya saja dia merasa ada yang janggal di kencana kafe, mereka memang seakan manusia buangan tapi bukan arti yang sesungguhnya itu hanya kiasan semata, lalu siapa mereka apalagi melihat dari beberapa resume yang sempat guntur baca tadi mereka bukanlah orang-orang yang seperti apa yang laka deskripsikan ketika awal. suara pintu yang tertutup dengan keras membuat guntur kaget dia spontan menoleh kearah pintu yang baru saja di tutup Laka.


...•••...


Malamnya terlihat Topan tengah duduk di teras rumah bersama Hujan dan juga gempa, di depan mereka terlihat sepiring gorengan, sekeresek chiken dan juga sebotol aqua besar.


"lu kenapa diam mulu tumben" tanya Topan menyenggol bahu Hujan pelan karena biasanya Hujan paling bawel dan cerewet dari kelimanya. tapi semenjak mereka berkumpul di teras rumah hujan tak mengeluarkan kata satupun. hujan yang berniat mengambil sayap ayam pun urung.


"ngga papa a, gua cuman kepik---


" tunggu ngapain lu bawa kalender sih Javier?" tanya gempa tatkala dia melihat kalender yang ada di pangkuan hujan. Hujan kemudian mengalihkan pandangannya kearah kalender yang ada dipangkuannya.


"oh ini, itu tadi---- astagfirullloh kalen" belum juga Hujan selesai menyelesaikan perkataannya kalen datang sambil membawa Gitar yang tak sengaja mengenai kepala Hujan. dia sebenarnya sedikit bernafas lega karena dengan datangnya kalen dia tidak usah mencari alasan logis kenapa dia membawa kalender selain karena dia ingin mengingat tanggal 13.


"jauh-jauh lu dari gua bau rokok, eh itu kenapa mata lu kalen?" komentar Hujan tatkala dia mencium bau rokok dari tubuh Badai namun ketika dia melihat mata badai yang merah dia menarik lengan badai memperjelas penglihatannya bola mata putih badai benar-benar berubah menjadi merah semuanya.


"kelilipan" jawab badai sekenanya, tanganya langsung mengambil sayap ayam yang tadi tak jadi diambil hujan.


"lah iya cah, itu kenapa mata lu bisa kaya ghoul gitu kal?" tanya Topan tatkala dia melihat kearah badai. sedang badai hanya tersenyum sambil menggeleng dia terlihat menikmati sayap ayam nya abai dengan pertanyaan Topan dan Hujan.


"serius kalendrika mata lu kenapa ini, ini luka di pelipislu kenapa lagi? lu tawuran apa gimana?" cerocos Hujan dia meringis bercampur khawatir tatkala melihat luka di pelipis badai terlihat meradang bercampur nanah namun sang empu tampaknya tak peduli sama sekali. Hujan bisa menerka sepertinya mata merahnya berakibat dari pelipis badai yang luka. sedang badai masih bungkam tanganya menarik gorengan dan mulai memakannya lagi.


"tunggu gua ambilin p3k bekas gua tadi pagi" kata Gempa sambil beranjak.


"ini lu di pukul? apa gimana?" tanya Topan dia menarik dagu badai agar dia bisa melihat dengan jelas lukanya. menghela nafas sejenak sambil berusahan melepaskan kepalanya dari tangan topan,


"gua bukan anak baik-baik kaya lu javier mungkin kita sama, sama anak SMA bedanya lu punya banyak teman karena lu ketua umum sedang gua punya banyak musuh karena gua ketua geng" kata Badai tangannya mulai memetik gitar yang terdengar sumbang.


"terus luka itu udah lu obatin apa belum kaleng rombeng?" tanya Hujan terlihat khawatir dia bahkan melupakan kalender yang sejak tadi dia perhatikan.


"udah seadanya, hanya saja gua jadi sedikit rabun sekarang" kata Badai menoleh sebentar kearah hujan kemudian dia melanjutkan kembali memetik gitarnya.


"lu bisa cerita sama kita kalau lu ada masalah kalen" kata Gempa yang baru saja bergabung dengan kotak P3k dalam genggamannya. dia kemudian langsung mengobati luka badai yang di bantu Topan keduanya meringis mereka seakan bisa merasakan bagaimana perih dan sakitnya luka itu. mengingat keduanya yang sering terluka. atau bahkan keempatnya.


sedang badai dia seakan tidak merasakan sakit meringis pun dia tidak, fokusnya masih pada senar gitar yang nampaknya sedang dia betulkan.


"Ada apa ini? kenapa kamu kalen?" tanya guntur yang baru saja memarkirkan mobilnya di gerasi dia langsung kaget ketika melihat topan dan gempa yang tengah mengobati badai.


"ngga papa mas---- perkataan badai menganggantung tatkala dia melihat kalender yang dipegang hujan, disana hujan seakan menandai angka 13


" ko lu buletin angka 13 mau ngapain emang?" tanya badai menoleh kearah Hujan. Hujan terdiam rasanya ayam yang tengah dia kunyah mendadak hambar tak terasa. akibat kaget dengan pertanyaan retoris badai.


"kal balik sini kepalanya, ngga kelihatan itu lukanya" kata gempa menarik pelan rahang Badai agar menghadap karahnya. sedang Hujan dia langsung beranjak


"gua duluan ya udah ngantuk, lu hutang penjelasan sama gua kalen" kata Hujan sambil pergi meninggalkan keempatnya.


"lu juga hutang penjelasan sama gua tanggal 13 mau ngapain heh" jawab Badai dia tak peduli dengan gempa atau pun topan yang mengobatinya karena badai terus menoleh kearah hujan yang mulai menaiki tangga.


"kamu mau kerumah sakit kalen, mata kamu itu takutnya kenap--


" ngga usah gua mau nyusul javier, minggir bang, a" kata Badai sambil beranjak dia tak lupa mengambil gitarnya. sedang yang lebih tua hanya diam termenung.


sepeninggal Badai dan Hujan ketiganya hanya diam duduk bersila mengelilingi makanan sisa hingga sebuah panggilan masuk milik guntur berhasil memecah keheningan disana.Guntur langsung beranjak tepat ketika dia menganggkat telpon.


"oh iya, bagaimana pak rendra pangestu bisa saya hubungin? atau saya ketemu pak Juan saja ah--- maaf maksud saya pak Awangsa sudah cukup"


sedikit percakapan guntur dengan si penelpon yang tak sengaja terdengar oleh Topan dan juga Gempa, sebelum guntur benar-benar menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


'Pak rendra Pangestu?' batin keduanya bersamaan.


__ADS_2