Best Seller Man

Best Seller Man
di sogok kaleng soda


__ADS_3

Seorang laki-laki kini berjalan kearah sekre BEM sambil menyampirkan blazer universitas di pundaknya, belum sempat dia memasuki sekre teriakan orang yang cukup dia kenal menghentikan niatnya untuk masuk.


"Irawan kan lu?" Tanya laki-laki itu. Di tangannya menggenggam dua kaleng soda yang satu sudah di buka sedang satunya lagi masih utuh.


"Eh iya, bang Jafra kan?" Tanya Topan memastikan.


"Jafar wan bukan Jafra" Koreksi laki-laki yang ternyata Jafar itu.


"Kenapa bang ? Ada penting ?" Tanya Topan lagi.


"Ngomong bentar lah sama gua hayu" Jawab Jafar tangannya menyodorkan sekaleng minuman dingin bersoda yang tadi dia bawa.


"Boleh bang" Jawab Topan sambil menerima minuman soda itu kemudian mengikuti Jafar kearah tempat duduk, sebuah bangku panjang di depan sekre BEM. Topan sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan di bicarakan oleh kakak tingkatnya itu.


"Langsung aja nih wan, lu tau kan bentar lagi pemira. Nah gua pengen lu masuk partai gua wan" Kata Jafar ketika dirasa Topan sudah duduk disampingnya.


'Nah kan' -batin Topan.


"Waduh orang kaya gua mana pantes jadi mentri bang, terus gua bukan dari anggota lu kan" Jawab Topan jenaka. Pasalnya memang Topan ngga niat untuk masuk BEM universitas, BEM fakultas saja bikin dia keder apalagi BEM universitas. Sudah tak bisa dia bayangkan bagaimana hidupnya nanti. Ditambah dia bukanlah anggota Jafar di BEM universitas. Bisa di demo habis-habisan dia.


"Menurut gua sih sah-sah aja wan, kalau lu mau. Gua tau lu juga di tarik sama Biru kan?" Tanya Jafar di tengah meminum sodanya. Topan hanya mengangguk pandangannya terarah ke kaleng soda yang kini bahkan belum sempat dia minum . Sedang dikepalanya mencari alasan masuk akal untuk menolak dengan sopan ajakan kakak tingkatnya ini.


"Gua juga udah ngajak Raden buat gabung" Tambah Jafar. Membuat Topan spontan berbalik ketika Jafar menyebut nama Raden.


"Mau gabung dia bang?" Tanya Topan penasaran, Jafar mengangguk sambil menunggu jawaban Topan, kakak tingkatnya itu kembali meminum sodanya.


"Emang lu yakin kita bakal menang bang? Lu udah milih-milih aja mentri. Kalau bukan dari kita, kan mereka udah punya calon masing-masing pasti bang" Jawab Topan yang masih menggenggam minuman soda, tak berniat membukanya sama sekali.


"Yang penting niat, terus banyakin promosi banyakin pendukung juga pasti menang lah. Apalagi kalau lu sama Juna masuk partai gua celah buat menang nya gede wan" Jawab Jafar pasti. Iya sih politiknya itu bagus banget, yang di ambil kakak tingkatnya ini memang orang terpopuler kampus. Juna dan dirinya. Yang dipastikan akan banyak yang memilih. Siapa sih yang tidak kenal Juna atau Irawan di kampus itu, sekudet-kudetnya pasti tau.


"Gua juga udah ada calon buat maju jadi nyapres" Tambah Jafar. Topan terdiam. Dia tau orang yang Jafar maksud. Juna.


"Lu kenal Arjuna Satria Dwingga kan? Anak Fisip" Tanya Jafar, Topan mengangguk. Juna adalah mahasiswa jurusan HI yang kemarin memenangkan predikat prince dari fakultas fisip penggemarnya pun tak kalah banyaknya dari Topan.


"Temen kosannya Raden bang setau gua, dia juga pernah gabung himpunan kan ya bang? Emang dia udah setuju bang mau gabung?" Tanya Topan. Jafar mengangguk meminum kaleng sodanya lagi.


"Gua pastiin dia mau gabung partai gua" Jawab Jafar, sesaat setelah meminum kaleng soda miliknya.


"Gua harap lu mau gabung partai gua dari pada Biru" Kata Jafar sebelum beranjak.


Topan masih terdiam di bangku, kaleng soda yang tadinya dingin kini sudah tak dingin lagi akibat dia diamkan terlalu lama. Alih-alih meminum Topan malah menggengam kaleng sodanya kemudian beranjak.

__ADS_1


Topan berjalan seorang diri di koridor kampusnya, pikirannya masih berkecamuk dengan tawaran Jafar mengenai calon mentri. Sebenarnya Topan tidak ada niatan sedikitpun untuk bergabung ntah siapa yang mencalonkan dirinya sampai dirinya dipilih jadi mentri seperti sekarang.


.


.


Allahuakbar-Allohuakbar....


.


Suara adzan cukup menggema menyadarkan Topan untuk segera bergegas ke masjid, padahal dia selangkah lagi akan sampai dikelasnya namun Topan memilih untuk pergi ke masjid dari pada masuk ke kelas. Lagi pula dari luar dia mendengar kegaduhan dikelasnya, itu cukup menjadi pertanda bahwa dosen pengisi belum masuk ke kelasnya. Baru saja dia berbalik rangkulan dari orang yang dia kenal mengagetka nya.


"Tumben ngga di masjid lu Den?" Tanya Topan, orang yang merangkul Topan itu Raden.


"Nungguin lu, katanya abis dari perpustakaan lu mau ke kelas. Tadi lu kemana wan?" Tanya Raden.


"Gua ke sekre BEM tadi" Jawab Topan. Sambil memasukkan kaleng minum yang tadi dia genggam ke dalam tasnya.


"Ngapain , pagikan lu udah ke sekre BEM " Tanya Raden lagi. Mengernyit heran , mungkin saking cintanya sahabatnya itu pada BEM sampai sekre BEM dia jadikan rumah kedua?


"Udah kesana ya gua?" Tanya Topan, Raden mengangguk.


Dan terjadi lagi~


"Pas lu bilang , lu perang sama macet pagi-pagi " Jelas Raden. Topan menghentikan jalannya, iya tadi pagi Topan memang bercerita kalau dirinya selalu saja perang dengan kemacetan pagi hari. Andai saja dia punya pesawat terbang mungkin dia sudah menggunakan pesawat agar terhindar dari macet. Tapi masalahnya dimana dia akan landas nantinya ?? Atap kampus ? Terus Topan loncat begitu. Topan jadi teringat dengan serial drama Korea yang selalu di tonton perempuan di kelasnya lewat proyektor ketika dosen tidak jadi ngajar. Iya kalau loncatnya mulus lah kalau tidak? Kesandung, dia bukannya keren, alamat dia masuk rumah sakit. malu yang ada.


"Oh iya bener, btw tadi gua di samperin bang Jafra den. Bahas pemira" Kata Topan. Mereka terus berjalan beriringan menuju masjid universitas karena kebetulan fakultasnya itu cukup dekat dengan masjid universitas.


"Selagi lu sholat gua tunggu lu di perpustakaan sambil baca Al kitab ya vin"


Percakapan keduanya terhenti , atensi keduanya kini teralihkan dengan dua orang mahasiswa yang kini tak jauh dari mereka berdiri. Yang satu memasuki masjid satunya lagi memilih pergi.


"Beda agama mungkin" Kata Raden tiba-tiba. Apa yang ada di otak Raden sepertinya sama dengan yang Topan pikirkan. Beda agama.


"Iya kali den, kating ya kayanya?" Tanya Topan. Raden mengangguk kemudian berjalan kearah tempat wudhu mendahului Topan. Karena Topan masih membuka sepatunya. Lama kalau nunggu dia.


"Pak Galih imamnya " Tanya Topan pada Raden yang kini sudah selesai wudhu dan hendak memasuki masjid. Sedang Topan baru saja berjalan ke arah tempat wudhu.


"Iya kayanya , wudhu sana lu" Jawab Raden mengangguk sambil memasuki masjid bersama mahasiswa yang tadi.


Selesai sholat seperti biasa Topan dan Raden memilih diam di depan masjid alih-alih ke kelas. Dengan tiba-tiba Topan mengeluarkan minuman kaleng bersoda dari tasnya, membuat Raden mengernyit heran.

__ADS_1


"Dari bang Jafra" Kata Topan.


"Jafar Irawan, JAFAR. J-A-F-A-R, BUKAN JAFRA. Nama orang lu rubah-rubah , mana kating lagi" Koreksi Raden karena ntah kenapa sahabatnya itu selalu saja salah menyebut nama kating yang sama, cukup dia selalu lupa jangan di tambah lagi dia salah menyebut nama.


"Iya itu bang itu , dia bilang lu juga gabung partainya den?" Tanya Topan. Memilih tak peduli dengan nama kakak tingkatnya yang selalu saja salah dia sebutkan.


"Iya , gua diajak Juna sih" Jawab Raden mengangguk sambil mikirian sesuatu ntah apa itu Topan tidak tahu.


"Gua bingung mau gabung tapi setengah hati , lu di kasih soda juga atau apaan ?" Tanya Topan penasaran.


"Gabung setengah hati mah buat apa, bulletin wan jadi BEM universitas ngga gampang kalau setengah-setengah buat apa. Dibilang gua dari Juna" Jawab Raden. Topan mengernyit tidak mengerti dengan maksud perkataan Raden.


"Jadi malam kapan tuh gua lupa, Juna main ke unit gua terus tiba-tiba aja dia nawarin gua martabak yang dia bawa gitu. Sambil makan dia ngobrol masalah dia yang bakal nyapres di ajak masuk partai bang Jafar" Jelas Raden panjang lebar yang cukup tau dengan cara mengernyitnya Topan. Bingung.


"Berarti lu di kasih martabak den" Jawab Topan, yang masih dalam topik yang sama prihal makanan yang di jadikan sogokan agar mau masuk partai.


"Ck mungkin, tapi gua rasa gabung BEM universitas boleh juga wan lu kan dari BEM fakultas gua himpunan si Juna juga anak himpunan tau deh siapa lagi yang bakal di tarik bang Jafar nantinya" Kata Raden yang kini mulai memainkan ponselnya karena bunyi notifikasi ntah dari siapa.


"Politik bang Jafar boleh juga sih menurut gua" Kata Topan sambil menyampirkan blazer universitas nya dipundak.


"Iya, hayu ke kelas udah ada dosen katanya" Ajak Raden sambil membuka sarungnya kemudian dia lipat dan dia masukan ke dalam tasnya. Sedang Topan kini sudah beranjak menggunakan sepatu sambil menunggu Raden. Nampaknya bunyi notifikasi itu dari salah satu teman kelasnya yang memberi tahukan jika di kelas sudah ada dosen.


Topan dan Raden pun beranjak bergegas memasuki kelas.


...•••...


Sorenya sehabis sholat Ashar Topan dan Raden makan di kedai makanan dekat universitas mereka, karena rencananya mereka nanti selesai makan mau mencari kosan buat Topan yang di janjikan oleh Raden.


"Mau nyari kosan sekitaran mana wan?" Tanya Raden sesaat setelah memasukan satu sendok penuh ayam cingcang yang selalu di bubuhi di atas mie ayam.


"Ngga tau, sekitaran sini palingan. Ada ngga sih" Tanya Topan sambil memainkan sedotan minumnya, mengaduk es teh gelasnya sesekali.


"Kemarin gua tanya pak Dadang, sama Juna, ada dua rekomendasian nih buat lu mau yang mana dulu pak Dadang atau si ajun" Tanya Raden sambil mulai menyuapkan mie ayamnya kedalam mulut.


"Pak Dadang bapak kos lu kan? Rekomendasi Juna dimana. Ribet gua dengernya lu kadang ajun terus Juna" Jawab Topan yang mulai memakan mie ayamnya. Sedang Raden malah tertawa jenaka.


"Juna aja deh, iya kata pak Dadang disekitaran kontrakannya ada rumah yang mau di kosin kebetulan bapak kos gua kenal banget sama pemilik kosannya itu. Tapi wan ini kosan baru banget otomatis isinya ya kosong palingan lu pertama" Jelas Raden. Karena seret dia meminum minumannya dulu sebelum meneruskan ceritanya.


"Nah kalau Juna, rekomendasinya kosan yang di ujung jalan sini yang mentok itu lo yang gedean, tapi wan di kosan yang Juna rekomndasiin katanya itu campur, laki-laki sama perempuan gitu" Tambah Raden kini laki-laki itu mulai kembali menyiapkan mie ayamnya. Sedang Topan dari tadi masih memutar-mutar mie dengan garpu, tak minat.


"Keduanya ngga ada yang bener ya den" Kata Topan memilih meminum kembali minumannya. Es teh gelas.

__ADS_1


"Kita liat aja satu-satu wan, kalau menurut gua biar lu liat kondisinya nanti, jangan asal denger dari orang langsung percaya gitu aja" Kata Raden.


"Lu bener sih , yaudah mulai yu keburu magrib nih" Tambah Topan


__ADS_2