Best Seller Man

Best Seller Man
Jumat kliwon


__ADS_3

"AAAA mayat" Badai berteriak layaknya perempuan yang ketakutan kecoa, membuat pak didi yang saat itu baru saja memarkirkan mobil di halaman berjengit kaget, spontan keluar.


"mayat apa to mas?" tanya pak didi yang menambah kaget badai sampai hampir jatuh pingsan. untung cuman jatuh doang.


"SETANNNNNNN" Badai kembali berteriak, posisinya masih duduk menatap pak didi yang kini berdiri di sampingnya, telunjuknya menunjuk sesuatu di tepat di depan pak didi berdiri.


Topan dan Hujan yang baru saja buka pagar langsung berlari kearah teriakan badai. keduanya bahkan mengabaikan bubur ayam mereka.


"astagfirulloh istigfar to mas ini pak didi mas, bukan setan" kata pak didi dia juga sedikit kaget ketika badai berteriak kencang tadi, disisi lain Badai masih menetralkan jantungnya tanganya masih menunjuk sesuatu yang membuat pak didi pun seketika pucat pasi.


Topan dan Hujan yang baru aja datang selesai sholat berjamaah berhasil menyaksikan badai yang ketakutan setengah mati sampai gelosotan di bawah dengan pak didi di sampingnya termenung kaku. Hujan yang penasaran langsung melayangkan tanya membuat Badai dan pak didi berteriak bersamaan.


"AAAAA" teriak keduany-pak didi dan Badai, kali ini berhasil membangunkan Guntur yang langsung berlari keluar dengan serentak.


"INI GUA JAVIER, SAMA A IRAWAN" Hujan berteriak menambah kacau. sedang Topan sedari tadi hanya diam menyaksikan, pandnagannya beralih kepada Guntur yang ngosngosan karena lari. Baru aja Topan akan berujar


"AAAA" kembali Badai dan Pak didi berteriak bersamaan dengan hujan yang terbawa karena kaget, membuat Topan tersentak kaget juga karena ketiganya.


'ko mereka malah paduan suara' pikir Topan. sedang Guntur yang sama-sama kaget pun berteriak juga walau ngga sampai lima oktaf seperti Pak didi, badai, dan Hujan. sedang Topan mengerjap.


"aduh", suara itu membuat Badai, Pak didi, Hujan, Guntur dan juga Topan spontan diam. Hingga ketiganya serentak mengalihkan pandangan kepada tumbuhan yang ada di halaman. Tumbuhan Bambu hias yang sengaja di tanam Ceko hanya untuk menambah keindahan rumahnya kini berubah menjadi tumbuhan mistis yang berhasil membuat bulu kuduk keempatnya berdiri-Merinding.


srak... srak.... srak....


suara tumbuhan bambu hias yang bergoyang ntah karena apa. baik Guntur, pak didi, topan, Hujan apalagi Badai tak ada yang berani melihat kearah tumbuhan bambu hias itu. Topan membaca al-ikhlas karena emang itu yang spontan keluar dari mulutnya, Hujan yang di ajarkan ayat Kursi oleh Juan pun mendadak blank. sedang Guntur, Pak didi dan Badai hanya terdiam ketiganya merapalkan kata-kata random yang kurang jelas. beberapa menit setelah suara grasak grusuk hilng terlihat bayangan yang menambah mencekam suasana. kelimanya bahkan tak ada yang berani melirik kearah bayangan yang ntah bayangan siapa.


"loh mas Alkana kenapa tiduran disini" teriakn ini keluar dari bi marni yang baru aja keluar dari mobil yang pak didi parkir kan asal tadi.


"EEEEEEHHH" Hujan, Topan berteriak, Badai spontan melemparkan helmnya kearah bi marni. sedang pak didi pingsan karena kaget membuat Guntur kelimpungan kejatuhan tubuh pak didi.


"Bang Alkana" Topan yang terlebih dahulu sadar sedang Hujan dan Badai masihlah terkena serangan mental karena kaget sedang Guntur dia menyanggah berat badan pak didi yang tadi spontan pingsan.


disisi lain Gempa baru aja siuman berterima kasih lah kepada senter dari HP bi marni yang membuatnya kesilauan tadi.


"mas alkana, ya ampun" Bi marni yang masih mendapatkan kesadaran normal berujar sambil berjalan kerarah Gempa yang masih terlihat kebingungan.


srak... srak... srak... semua yang ada disana spontan langung terdiam, Gempa yang baru siuman pun langsung terdiam bahkan guntur, topan, Hujan dan badai pun mengabaikan pertanyaan yang hendak di layangkan untuk Gempa.


'sedang apa dia disini? ko bisa?' banyak, masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan di benak ketiganya.


"A hari apa ini a?" Hujan bertanya ditengah keterdiaman semuanya.


"jumat"


"jangan-jangan jumat kliwon" ini badai yang menyaut setelah melemparkan helm nya asal tadi untung ngga sampai kena bi marni. pikiran semuanya kacau ngga ada yang berpikir normal memikirkan kejadian-kejadian yang mungkin terjadi, ntah itu tentang mitos malam jumat kliwon, atau bahkan hantu hantu bergentayangan ikut masuk dan mampir sejenak di pikiran sampah pagi mereka.


"gua denger tadi ada yang meninggal lagi" ucap topan


"meninggalnya bunuh diri wan?" Guntur menyaut walau sedang kesusahan.


Mungkin disini yang paling susah ya guntur udah pak didi pingsan dia juga ketakutan pikiran guntur nambah bercabanng apalagi rumah itu rumah kosong yang ngga di huni bertahun-tahun. Namun tanpa mereka sadari hari itu hari sabtu memang sih malamnya malam jumat.


srak... srak... srak....


mereka semua masih ketakutan namun anehnya tak ada yang bisa lari dalam kondisi kaya gini, kaki mereka rasanya kaku ngga bisa di gerakin apa lagi lari.


"a lu dari tadi baca al-ikhlas ngga selesai selesai" badai kembali berkomentar di tengah kegentingan. baru aja topan akan menjawab, suara derap langkah seseorang membuat mereka kembali terdiam.


"Jangan-jangan psikopat" Hujan bersuara lirih yang kemudian berhasil di tendang badai sambil mengumpat.


mereka kembali terdiam tat kala mendengar derap langkah yang semakin mendekat, bi marni yang kebetulan membawa senter dari hpnya ngga sengaja mengarahkannya ke dinding gerasi yang terbuka disana memperlihatkan sekelebat bayangan orang yang membawa sesuatu. Topan yang paling awal sadar berterima kasih lah pada Raden yang sering membawa topan ke mesjid, walau ada sedikit takut topan memberanikan dirinya untuk melihat kearah bayangan itu berasal.


"jangan a" hujan menarik sarung Topan, agar Topan ngga melirik kearah bayangan.


"oh" Gempa yang nyawanya baru saja terkumpul menunjuk sesuatu di belakang Topan, bukannya penasaran keenamnya malah semakin ketakutan dan hampir pingsan berjamaah.


srak... srak...


"kenapa bang?" badai kembali bersuara di tengah kegentingan. Gempa menggeleng namun masih menunjuk seseorang yang ntah siapa.


" Jan, kalen bantu gua nggangkut pak didi lu kakinya berdua mas aga kepalanya, bang Alkana sama bi marni urusan gua hitungan ketiga lari ayo" Topan masih sempat-sempatnya diskusi. Hujan dan badai mengangguk sudah siap menarik kaki pak didi. Topan udah ancang-ancang mau narik Gempa sama bi Marni.

__ADS_1


"1"


"2"


"ti....


"a pak didi berat banget ternyata kecil-kecil" Hujan berkomentar membuat badai hampir prustasi


"gusur" badai menyaut asal.


"tiii"


"ga, larii"


"tukang bubur Irawan, bukan hantu" kata guntur. karena guntur tadi memberanikan diri berbalik sebelum dia bener-bener menggotong pak didi yang masih pingsan.


"itu yang mau gua sebut tadi" kata gempa.


srak... srak...


"astagfirulloh" semuanya langsung melihat kearah bambu hias,


"meong"


seekor kucing kecil berwarna hitam pekat keluar dengan susah payah dari sela-sela bambu hias.


"kucing" teriak Hujan sambil menggendongnya. Hujan memang lah pecinta hewan termasuk kucing. inget kucing yang ada di belakang Ruang OSIS kan?


"hachiiim" badai bersin-bersin ngga henti.


"jauh-jauh jan gua alergi bulu kucing, hachim, hachim, hachim" badai terus bersin-bersin sedang hujan yang memiliki sifat usil iseng mendekatkan kucing kecil itu kearah badai.


"pak didi" kata gempa sambil menujuk pak didi yang masih pingsan di bawah.


" ini bubur ayam siapa?" tanya guntur karena kedua tanganya penuh dengan 1 mangkuk bubur ayam. sedang tukang bubur ayam yang tadi sudah melanjutkan jualannya.


"mas badai ini helm nya"kata bi marni sambil meberikan helm badai yang rusak akibat dia lempar karena kaget.


...•••...


Raden tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Topan,


"lagian lu tumbenan percaya Hantu" ucap Raden


"ya gimana lu bayangin aja habis denger orang meninggal satu komplek sama vier di jalan eh kebawa sampe kosan, mana nyebutnya bundir lagi.sampah banget kan" jelas Topan menggebu


"kata Raden lu mau kerja di tempat part time kita?" Juna atau sering Raden panggil ajun nyaut dari ambang pintu.


"lah jun ngga ada kelas?" tanya Raden, Juna menggeleng sambil berjalan kearah Raden dan Topan yg ntah sedang apa di kelas berduaan.


"homoan ya lu berdua?" ucap Juna


"gila aja lu / ngga lah" elak keduanya.


"Tangan lu kenapa wan?" tanya Juna tatkala melihat tangan Topan yang di perban.


"kepo lu kaya wartawan" jawab Topan sambil menarik jaketnya pergi meninggalkan keduanya.


"mau kemana?" tanya Raden.


"mesjid" jawab Topan.


...•••...


sedang di sebuah kafe di lantai dua Guntur tengah sibuk membereskan mejanya sambil sesekali menggerutu kesal.


"ini gedung udah tua apa gimana sih, masa atapnya bocor" ucap guntur tangannya tak berhenti menyapu setiap langit-langit ruanganya yang terkelupas sedang tangan satunya lagi sibuk megang pengki.


"tau gini mending gua diem di New York aja ngga balik" tambahnya kini dia mulai mengepel lantai yang kotornya minta ampun. tadi padahal Laka menawarkan bantuan untuk membereskan ruangan Guntur. Namun dia menolak dan memilih memberikan beberapa list yang dia buat semalaman penuh untuk karyawannya. Jadi tadi pagi-pagi ketika guntur sampai ruanganya laki-laki itu langsung mengumpulkan seluruh staff kemudian memberikannya tugas satu persatu untuk mereka kerjakan.


"ck anak keluarga bagaskar jadi gembel sih ini judulnya" Guntur berucap di tengah malangnya dirinya yang tengah mengelap meja kerja nya yang sesekali membuatnya bersin karena debu yang lumayan banyak.

__ADS_1


"permisi, hachiiim, hachiiim...."


Regal masuk dengan berkas yang ntah berkas apa.


"pak mau saya bantu?" ucap Regal menawarkan bantuan, yang jelas saja langsung Guntur tolak.


"ngga usah kamu selesaikan saja yang tadi kertas saya kasih, temen kamu mana yang suka bawa komik itu siapa namanya akar? saya mau ngasih dia berkas yang harus di selesaikan tolong suruh kesini" jawab guntur ditengah menyapunya. Regal mematung kemudian mengangguk sebelum berujar


"pak ini berkas yang tadi bapak suruh isi" guntur yang sibuk beberes langsung terdiam


'cepet banget'


"berkas yang saya kasih udah selesai kamu isi?" tanya Guntur kaget. Regal mengangguk yakin, mengerjap guntur kemudian menunjuk meja yang sudah di bersihkannya.


"simpen disitu panggil si akar akar ituh lupa saya namanya" kata Guntur.


"bang mahes pak" jawab Regal. guntur mengangguk asal.


"bilang keuangannya udah sampai mana saya mau liat" kata Guntur.


"eh satu lagi gal, laka suruh kesini ya" Regal menggangguk. Beberapa menit setelah kepergian Regal datang Laka yang membawa berkas penuh debu membuat Guntur kembali kesal. dia sudah membersihkan susah payah ruanganya sekuat tenaga, dan dengan santainya laka menyimpan tumpukan map penuh debu itu di meja yang sudah bersih.


'Tuhan' batin guntur.


"ini pak yang Anda cari" ucap laka sambil manaruh berkas di meja. muka flat Guntur menjadi respon ketika laka mendongak. dia kemudian mengerjap


"pak lagi ngapain ko pake kresek gitu?" tanya Laka bingung. pasalnya yang laka liat bukanlah Guntur yang pertama kali ketemu denganya bukan laki-laki rapih yang Perfectionis melainkan laki-laki sederhana yang pegang sapu sama pelan plus kemoceng ditambah masker dan kresek hitam kecil yang digunakan untuk menutup rambut, sedang setengah badannya dia menggunakan tresbek untuk menutupi kemeja mahalnya agar tidak terkena debu serta kedua kaki dan tangan guntur dia tutupi menggunakan kresek bekas dari minimarket berterima kasihlah kepada pak didi yang selalu menumpuk kresek bekas di mobil guntur.


pastes Regal tadi keluar dari ruangan Guntur kaya orang linglung taunya ternyata atasan mereka pun alias Guntur sfrekuensi sama mereka -Aneh-.


"mana data investor udah kamu cari ka?" tanya Guntur. Laka mengangguk namun masih kaget dengan penampilan Guntur.


"Laska mana? udah bikin berapa desain kopi?" tanya Guntur lagi. laka menggeleng sambil berujar


"anaknya masih di bawah di ruang barista lagi diskusi kali"


disisi lain di ruangan barista


"ah kalah kan gua"


"ah sial mati, lu si bang ah ngga bantuin gua"


"triple kill"


"yesss"


iya diskusi main game. Laska lagi sibuk pushreng.


"saya tunggu sampe jam 4 sore, bilang sama laska"


"oh iya tadi yang saya suruh bikin banner mana? dua perempuan aneh itu siapa namanya?" tanya guntur.


"Pian sana Arna?, mereka di ruangan sebelah lagi bikin banner" jawab Laka.


disisi lain di ruangan sebelah.


"shi jin nya sweeet banget jadi pengen punya pacar tentara"


"ih ko haruto makin tampan ya makin gede jadi nyesel udah lahir duluan"


iya yang satu lagi nonton drakor satunya lagi ngepoin boyband korea.


"saya tunggu sampai jam 4,kalau jam 4 belum selesai kalian ngga saya kasih libur untuk bulan ini" guntur menjeda perkataanya, untuk mengambil nafas sejak kemudian dia duduk di kursi sambil kembali berujar


"kalian jangan pulang sebelum saya pulang, paham" ucap final Guntur. Laka mengengguk kemudian undur diri.


Seakan terkena badai topan, kafe yang didalamnya tadinya santai-santai leha-leha kini mulai sibuk dengan tugas-tugas yang di berikan Guntur. ya walau terkadang mereka belum bisa di bawa serius.


Guntur mendapatkan pesan dari Septian -sekertaris ayahnya- jika guntur tidak gerak cepat memperbaiki strategi kencana,kafe itu akan tutup karena bangkrut. Jadi tadi malam Guntur merelakan tidur pulasnya digantikan dengan mengerjakan projek demi kafe kencana yang hampir bangkrut dan tutup total. semalaman penuh Guntur mengerutu hebat sumpah serapah bahkan dia persembahkan untuk sang ayahanda tercintanya.


...•••...

__ADS_1


Disisi lain Hujan masih lah mengejar-ngejar kepala sekolah yang tak kunjung di tandatangani proposal pengajuan ekstra kulikuler Game yang di ajukan oleh Harsal. Sebelum menemui kepala sekolah Hujan sudah menemui pak cahyo terlebih dahulu meminta pendapat namun menurut pak cahyo itu akan sulit dan benar proposal pengajuan tak kunjung di tandatangi dengan banyak alasan. Hujan cape.


__ADS_2