Best Seller Man

Best Seller Man
Rahasia Dan Luka


__ADS_3

"kenapa ngelamun?", Topan tersentak sambil menolehkan kepalanya kearah Gempa-orang yang tadi memanggilnya.


" eh bang Alkana" jawab Topan


"kenapa melamun? udah malam tidur irawan" ajak gempa sambil berjalan kearah tempat tidurnya.


Topan menoleh sebentar sambil berujar


"iya bang, duluan aja bang" jawab topan, Laki-laki itu masih duduk di jendela menghadap keluar. seakan biasa-biasa saja padahal Topan tengah menahan sakit dan perih dari luka di pergelangan tanganya. pikirannya kembali teringat dengan perempuan yang menambraknya tadi sambil membawa air panas yang ntah buat apa Topan abai.


'aneh' pikir Topan.


"luka lu udah sembuh?" tanya Gempa sambil membuka ponselnya yang penuh dengan notifikasi dari si kembar. Topan kembali menoleh terdiam kemudian melihat pergelangan tangannya yang semakin parah.


"melepuh dikit, besok juga sembuh" jawabnya. gempa mengangguk sebenarnya dia merasa khawatir dia tau pasti kejadian topan yang tersiram air panas tadi, Tapi ketika melihat Topan yang seakan baik-baik saja gempapun memilih diam.


Namun ntah kenapa perkataan Badai yang mengatakan jika luka topan luka lama itu seakan benar adanya karena bukan hanya luka bekas air panas yang melepuh melainkan guratan-guratan yang terlihat meradang menambah parah luka Topan.


'emang luka kesiram air panas bisa kaya bekas sayatan ya? eh sayatan??' pikir Gempa.


"bang ko jadi lu yang ngelamun sih" tanya Topan. Gempa terkesiap kemudian terkekeh


"iya ngelamun lu nular Wan" jawab gempa jenaka.


Disisi lain di kamar sebelah Badai tengah memainkan rokoknya di balkon, di sampingnya minuman berperasa masam berjejer rapih yang masing-masing tersisa setengah.


"woy ngapain lu?" badai menoleh mendengar suara Hujan teman satu kamarnya di kos.


"lu ngapain bukannya tadi lu lagi sibuk sama laptop mau revisi proposal pengajuan" jawab Badai, Dia tadinya hendak pergi ke Ares ketika melihat Hujan yang kesibukan di depan laptopnya mengurus proposal. namun dia urung ketika melihat langit menurunkan hujan.


"udah selesai tinggal di print besok pagi aja di kamar A irawan ada prinan kan ya?" tanya Hujan. badai menggeleng.


"ngga tau, belum pernah kekamar bang Alkana sama A irawan" jawab Badai sambil menyesap rokoknya kemudian menginjaknya.


Hujan mengernyit bukan karena rokok baru yang badai injak tadi melainkan banyaknya minuman di samping badai.


"lu ngga mabok minum sebanyak ini kal? " tanya Hujan sambil mengambil salah satu minuman badai. badai menoleh melihat kearah minuman yang Hujan tanyakan.

__ADS_1


Bingung dia sulit menjelaskan hanya bisa diam membiarkan Hujan berpikir sendirian dipenuhi kebingungan.


"itu bukan wiski, vodka atau tuak Hujan, ini tuh cuman minuman biasa yang kalau lu minum terus-terusan lu numpuk gula di tubuhlu, diabet deh lu" jawab Badai asal, kembali lelaki remaja itu menarik rokok dari tempatnya.


"ya lu ngga salah sih tap-- jangan ngerokok depan gua kaleng" kata Hujan, badai yang baru saja akan mematikkan api ke rokoknya pun urung memilih menarik minuman yang baru lagi.


"gua masih kepikiran A irawan masa Jan. gua yakin banget itu bukan luka bekas kesiram air panas" kata badai mengalihkan topik dia takut Hujan bertanya lagi prihal dirinya dan banyaknya bekas minuman di samping kakinya.


Hujan menoleh sebenarnya dirinya pun berpikir demikian karena Hujan sempat terkena siraman air panas yang bertepatan dengan tanggal 13.


Dia kemudian menatap kakinya sebelah kakinya nampak berbeda itu luka bekas tersiram air panas dulu. Badai menoleh karena Hujan tak kunjung merespon dia melihat arah pandang Hujan walau malam penerangan di balkon masih cukup jelas dia terkesiap kaget.


"lu punya luka bekas air panas?" tanya badai kaget. Hujan mengangguk.


"rasanya sangat menyakitkan gua sempat pingsan bangun-bangun gua udah di rumah sakit sebelah kaki gua di perban" jelas Hujan. pikirannya dengan otomatis terputar kala Juan kelimpungan melihat Hujan yang tanpa sengaja menjatuhkan teko air panas sampai mengenai setengah kakinya dulu. semenjak itu pula Juan sangat mewanti-wanti hujan agar jangan menyentuh barang apapun.


"lagi pada ngapain kalian berdua?", Badai dan Hujan kemudian menoleh kearah suara disana Gempa dan Topan berdiri di ambang pintu.


" kalian juga lagi ngapain?" badai balik tanya.


"gua punya obatnya bang, bentar gua ambil dulu obatnya" kata badai sambil berjalan kearah kamarnya dan Hujan. sedang Hujan masih saja diam dia seakan mengingat sesuatu tapi ntah apa.


"woy" hujan terkesiap kaget karena Topan tiba-tiba merangkulnya, kini fokus Hujan pada pergelangan tangan Topan kemudian berpindah lagi ke arah kakinya.


'bekas luka yang berbeda' pikir Hujan. Jelas-jelas itu bukan luka bekas air panas, melainkan sayatan.


pikir Hujan kembali. sayatan? tunggu.


"nih" ketiganya menoleh kearah badai yang datang dengan kantong penuh obat.


"ko lu punya salep ini?" tanya gempa bingung.


"di apotek banyak" jawab Badai asal. Bukan bukan itu yang gempa tanyakan, melainkan kenapa Badai bisa punya obat dan salep pereda nyeri yang seakan remaja SMA itu sering mengalami luka yang parah setiap harinya.


'nyetok kah?' pikir gempa, jarang anak SMA nyetok obat-obatan pereda nyeri apalagi badai laki-laki. Biasanya jarang laki-laki yang peduli sampai nyetok obat-obatan segitu banyak.


"kenapa pada jadi patung gini sih, ini obat mau di pake apa ngga?" tanya badai kembali menyadarkan ketiganya. Bukan hanya Gempa yang kaget Topan dan Hujan pun sama. dari mana badai mendapatkannya dan dari mana lelaki SMA itu tau jika obat itu obat pereda nyeri.

__ADS_1


"sini biar gua obatin wan" gempa menerima obat-obatan yang badai sodorkan kemudian melihat Topan, Topan yang mengerti maksud pandang gempa langsung berjalan kearahnya.


"pelan-pelan itu perih lo, lumayan lah bisa bikin kering bang" kata badai.


Gempa mengangguk sedang Topan meringis merasakan perih di sekujur tubuhnya. Hujan yang menyaksikan ikut meringis melihat Topan yang mengaduh. bagaimana mungkin Topan bisa menahan sakit dari luka separah itu sedang dari tadi Topan masih bisa tertawa bahkan bergurau dengannya. Gempa yang mengobati luka Topan semakin yakin jika ini bukan lah luka kesiram air panas melainkan sayatan. coba bayangkan luka sayatan sampai meradang kemudian di siram air panas ntah kekuatan apa yang Topan miliki sampai bisa menahan luka separah itu. sedang Topan tadi masih biasa saja. disisi lain badai bisa merasakan betapa perihnya obat atau salep yang beradu dengan luka basah terbuka akibat sayatan yang disiram air panas.


"Lo kamu kenapa Irawan?" keempatnya spontan menoleh ke sumber suara, disana Guntur berjalan dengan terburu kearah keempatnya. sebagian bajunya terlihat basah.


"baru pulang mas?" tanya Gempa. Guntur mengangguk sambil berjongkok di samping Topan.


"kesiram air panas mas" jawab Topan, Guntur jadi ikutan meringis melihat Topan yang kembali mengaduh.


"pelan bang ya ampun" kata Topan sambil menarik tanganya dari Gempa.


"abisnya lu dari tadi sok kuat banget, itu luka parah lu diemin. bisa di amputasi tangan lu" kesal gempa.


"amit-amit bang" jawab Topan bergidik.


"ko bisa wan?, kerumah sakit sekarang mau?" tawar Guntur. sungguh contoh bapak kos yang baik. tawaran guntur membuat keempatnya kaget mereka terdiam seperti patung bingung mau merespon bapak kosnya.


"ko pada diem, bentar saya telpon pak didi biar dia siapkan mobil untu--


" ngga usah mas ini udah sembuh ko di obatin sama bang Alkana" jawab Topan memotong perkataan Guntur.


"ko bisa kena air panas? kamu nyeduh mie di kampus?" tanya Guntur lagi. karena yang dia tau nyeduh mie pake air panas.


"bukan mas, biasa ala ala di drama drama romansa saling bertabrakan di belokan taunya cewenya bawa air panas" jawab gempa. Badai spontan langsung tertawa, Hujan pun tidak berhasil menahan tawa. guntur hanya mengerjap. sedang topan diam.


"itumah drama azab namanya bukan romansa" kata Hujan yang berhasil mendapat lemparan salep dari Topan.


"maaf a gua ketawa dulu" kata Badai dia benar-benar tak bisa menghentikan tawanya.


Deskripsi cerita yang dikatakan gempa barusan berhasil membuat kelimanya tertawa melupakan masalah dan juga rasa lelah seharian.


Hujan berhasil melupakan sejenak proposal pengajuan yang tak kunjung di tanda tangan kepala sekolah, Badai berhasil melupakan masa lalunya sejenak juga sang ibu yang tak kunjung sembuh di rumah sakit jiwa, Gempa berhasil melupakan sejenak kecemasan dirinya yang menjelang malam, guntur berhasil melupakan sejenak rasa lelah seharian akibat kafe barunya, begitu juga Topan yang berhasil tertawa di tengah lukanya. Hujan berhasil membawa kisah kedekatan kelimanya walau ada sedekit petir yang di barengi guntur yang bersahutan namun hujan malam itu benar-benar bermakna bagi kelimanya.


Diambang pintu ada pak didi dan bi marni yang menyaksikan kelimanya tertawa bebas.

__ADS_1


__ADS_2