Best Seller Man

Best Seller Man
Masa lalu Badai


__ADS_3

Badai kini tengah berdiri di atap rumah sakit seorang diri, ntah kenapa atap menjadi tempatnya mencurahkan segalanya. tubuhnya dia senderkan ke pembatas yang tingginya sebatas sikutnya. Pandangannya dia arahkan ke bawah, melihat banyaknya manusia yang terlihat kecil dalam pandangan nya.


"Ini kalau gua loncat langsung mati kayanya" Gumam badai. Dia kemudian menggehela nafas. Bolehkah dia bilang jika hidupnya sangat rumit? Benang kusut di otaknya ntah kenapa tak juga mendapatkan jalan keluarnya. Malah semakin kusut lagi dan lagi.


"Andai aja kejadian itu ngga pernah ada, mungkin kami masih utuh" Kata Badai. Sebagaian memorinya kembali mengingat kebersamaan keluarganya sebelum sesuatu itu merenggut kebahagiaan keluarganya juga dirinya.


Flashback


Seorang anak laki-laki dengan riang memasuki rumah sambil membawa buku rapot hasil dari belajarnya.


"Ibu lihat lah aku mendapatkan juara satu lagi" Kata anak kecil itu sambil memperlihatkan sebuah rapot murid SD miliknya.


"Wah anak mamah hebat, kamu mau apa sayang nanti mamah belikan?" Tanya sang ibu tersenyum bangga kepada sang anak dengan prestasinya. Sang anak menggeleng kemudian tersenyum


"Aku mau kita semua seperti ini selamanya" Jawab si anak. Sang ibu hanya mengangguk kemudian mengusap surai anaknya.


"Kak kia udah pulang mah?" Tanya si anak lagi. badai. Sambil mengayunkan kakinya di atas sopan di samping sang ibu.


"Belum sayang kakak kamu masih sekolah, sebentar lagi mungkin" Jawab sang ibu ramah yang masih fokus dengan memperhatikan buah hatinya yang tumbuh dengan penuh kebahagiaan.


"Aku tak sabar ingin menunjukkan rapotku padanya mah" Ucap Badai.


"Ngga sabar apa nih?" Sautan itu muncul dari arah pintu masuk ruang tamu, di ambang pintu berdiri sang kakak -kia- tengah berdiri sambil bersedakep dada seakan meminta jawaban pada sang adik yang kini tengah tersenyum cerah padanya. Badai meraihnya rapot miliknya kemudian berjalan kepada sang kakak sambil berseru


"Kak kiaaaa, Lihat aku juara kelas lagi, mana rapot kakak?" Katanya sambil menengadahkan tangannya penasaran ingin melihat rapot milik sang kakak.


"Ck, mentang-mentang pintar kamu ya" Kata Kia sang adik hanya memeletkan lidahnya mengejek sambil berlarian.


"Jangan lari kamu sini kakak kejar" Kata kia sambil berlari mengejar badai. Sedang sang adik hanya tertawa riang di tengah larinya dan terus mengejek sang kakak.

__ADS_1


"Aku pintar kakak tidak, ye, ye, ye, ye" Ejek badai kepada kia. Sedang kia hanya menggeleng. Kia memang tidak sepintar badai karena mereka berbeda.


"Anak jagoan ayah kenapa? Lagi senang?" Tanya sang ayah yang baru saja datang sepertinya sehabis menjemput sang kakak dari sekolah tadi.


"Ayaaaah.......gendong" Teriak badai sambil berlari menemui ayahnya kemudian merentangkan tangannya minta di gendong ayahnya -Tanu- langsung menggendong sang anak saat itu juga.


"Ayah liat kalen juara satu lagi, mau mobil mobilan ayah mau robot" Katanya sambil kembali memperlihatkan rapotnya, nilainya hampir semua -sempurna sama rata. Dia terus bergerak di gendongan ayahnya sambil memeluk erat leher sang ayah.


"Jagoan ayah memang yang terbaik" Jawab sang ayah sambil mengusap kasar surai badai di gendongannya.


"Apapun sayang ayah belikan nanti mau apapaun itu" Tambah ayahnya membuat badai bersorak ceria sambil tertawa mengejek melihat sang kakak. Kia.


"Adiikkku sayang sini mau kakak kasih hadiah tidaaak~" Kata sang kakak sambil memeluk badai. Sedang sang adik -badai- meronta minta dilepaskan karena pelukan sang kakak membuatnya sesak bukan main.


"Huaaaah ayah kak kia nyebelin" Kata badai sambil meminta bantuan kepada ayahnya juga ibunya agar lepas dari pelukan sang kakak. Kia. Sedang ayah dan ibunya hanya tersenyum sambil melihat kedua anak mereka.


Sungguh dirinya merasa menjadi anak paling beruntung di dunia karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Keluarga yang selalu memberikan penyemangat di setiap harinya. Keluarga yang menjadi rumah untuknya.


End


"Rencana Tuhan memang ngga ada yang tahu, siapa yang menyangka keluarga yang gua bangga-banggain dulu semuanya tinggal nama doang, ayah,ibu iya hanya nama artinya kosong" Kata Badai tersenyum sambil mengalihkan pandangannya keatas, memandang matahari yang terlihat bulat walau tidak jelas dalam pandangannya.


"Menyebalkan" Tambahnya, kilasan-kilasan masa lalu selalu berhasil membuat laki-laki yang terkenal dengan julukan raja tawuran itu rapuh serapuh-rapuhnya bahkan siapa yang mengira badai menangis hingga terisak.


"Gua benci lu ka, gua benci lu" Katanya sambil meremas pembatas balkon seakan menumpahkan emosinya. Keluarga yang digadang-gadangkan akan menjadi keluarga paling harmonis kini sudah hancur semua itu berawal dari terungkapnya status tiri milik Kia.


"Andai saja gua bisa ngubah takdir, mungkin keluarga kita masih utuh " Tambahnya pegangannya pada pembatas semakin kuat sejalan dengan air mata yang tanpa di duga keluar tatkala badai mengedip. Iya andai dirinya bisa mengubah takdir namun sayang dirinya hanya jadi pembaca yang bahkan tak tau apa ending dari sebuah cerita.


"Hidup gua makin rumit ka, hidup gua makin kacau ayah makin menjadi ibu makin gila gua makin hancur" Tambahnya pandangannya kini mulai memburam air mata itu semakin deras keluar. Sungguh jika saja seseorang melihatnya dalam kondisi ini bisa dipastikan dia akan melihat sosok badai yang berbeda. Sangat rapuh.

__ADS_1


kepergian sang kakak, dan juga terungkapnya sebuah rahasia besar yang cukup membuat badai terlonjak kaget sampai tak mampu berkata apapun. Sang kakak ternyata bukanlah kakak kandungnya, sang kakak -kia- ternyata anak yang diambil ibunya ketika menikah dengan ayahnya. Rahasia itu berhasil kedua orang tuanya tutupi sampai badai menginjak masa SMP. Dimana badai harus melihat sang ayah menyiksa sang ibu karena terus-terusan menangis sampai berujung di rumah sakit jiwa. Hingga sang ayah tak sengaja berucap jika Kia bukanlah anaknya. Runtuh sudah pertahanan badai. Sekarang dia tau kenapa sang kakak selalu saja mengalah pada dirinya semenjak dulu dan sang kakak selalu saja menangis seorang diri seakan menyimpan luka yang cukup dalam dan tak mampu menyembuhkannya seorang diri.


Kakak yang selalu dia banggakan ternyata menyimpan sebuah rahasia besar selama hidupnya. Badai merasa dibohongi oleh keluarganya. Tepat saat itu kehidupannya berbeda mamahnya mulai suka mengurung diri di kamar dan jarang keluar,sedang sang ayah lebih sering marah-marah tidak jelas juga sering tidak pulang kerumah, sang ayah-Tanu- lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. Dan badai lebih sering menghabiskan waktu di luar mencari kenyamanan seorang diri. Badai mulai sering membangkang dan juga sering membolos di sekolahnya hingga Sang ayah murka dan sering memarahi anak kandungnya. Badai. Sang ibu yang terus menangis akibat kepergian sang kakak malah menjadi gila membuat sang ayah semakin kalut dan terkadang menumpahkannya kepada badai. Pukulan yang berakhir siksaan badai sudah Terima sejak remaja ketika badai mendapatkan nilai yang kecil badai akan di marahi dan berujung pukulan.


Badai masih ingat dia melihat sang ibu menangis dalam pelukan ayahnya sedang sang ayah mematung setelah menerima telpon mengabarkan sang kakak. Kia dibunuh. Saat itu juga sang ayah menarik tangan badai untuk dibawa ke mobil mereka pergi kerumah sakit untuk melihat jasad kakaknya. Kia. Dirumah sakit cukup banyak orang, satu yang badai ingat anak laki-laki yang terisak sambil menghampiri ayahnya.


"Itu bukan salah kakak saya om, kakak saya bukan pembunuh"


Kata anak laki-laki itu sambil terus menerus terisak.


"Kakak saya bukan pembunuh om tante"


Katanya sambil berlutut di depan kedua tangan orang tua badai sedang ibu dan ayah badai hanya diam mematung. Apalagi ketika melihat jasad kia keluar dari ruangan pecah sudah tangis mamahnya. Kasus kia berujung dibawa ke meja hijau oleh sang ayah. Badai tak dapat menyaksikan karena dititipkan kepada kakek dan neneknya.


"Ada yang aneh" Katanya Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya matanya sesekali memejam merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya. Kasus sang kakak di tutup, kia dinyatakan meninggal karena didorong oleh temannya. Temannya pun mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang dilakukannya.


"Dibunuh atau justru bunuh diri?" Tanya badai pada dirinya sendiri. Masalahnya tepat ketika malam dimana besoknya sang kakak dinyatakan meninggal kia ke kamarnya sambil berpesan.


"Aku mau berbicara meskipun kamu masih kecil tapi kamu harus ingat seberat apapun masalahmu nanti jangan sampai kamu ingin meninggalkan dunia dengan mudah" Pesan yang menjadi akhir dari semua kebahagiaan badai. Karena setelah itu semuanya hancur. Siapa sangka itu kata terakhir yang Kia ucapkan untuknya. Senyuman yang selalu sang kakak berikan dan juga kebahagiaan yang selalu kakaknya pancarkan semua palsu. Dibalik itu sang kakak menyimpan sebuah masalah yang membuatnya terjerat seorang diri.


"mungkin ngga sih, gua punya kakak tiri adik adik kak kia? Kalau gua nanya mamah yang ada gua gila sendiri ngomong sama orang gila" Pikirnya mengingat sang ibu kini di rumah sakit jiwa. Setiap hari sang ibu hanya tersenyum kemudian terisak terus seperti itu sambil mendekap boneka berbi yang sudah kumal.


"Rumit bener hidup gua. ini gua dilahirin serumit ini, orang lain kaya gua ngga ya?" Katanya sambil menyeka kasar air mata yang keluar, netranya membias menolak ingatan-ingatan yang siap membuatnya terpuruk semakin dalam.


"Bodoh" Gumamnya lagi.


"Gua harap lu bahagia di alam sana" Kata badai Pandangannya dia alihkan ke langit memandangnya dengan dalam seakan berharap alam menyampaikan pesannya.


"HEH JANGAN BUNUH DIRI"

__ADS_1


__ADS_2