Best Seller Man

Best Seller Man
masalalu Guntur


__ADS_3

Guntur kembali terbangun karena mimpinya, mimpi yang selalu menghantui guntur dalam hidupnya. Dia terdiam melihat sekitarnya.


"Ko kamar gua kecil sih?" Gumam guntur, langit-langit kamarnya pun asing Di penglihatan nya, Di kamar itu hanya ada satu buah kursi dan satu buah meja, juga lemari pakaian ukuran sedang.


"Kan gua di kamar studio milik Ceko" Gumam Guntur lagi. Iya dia baru sadar kalau kini dia tengah menempati kamar studio milik kakaknya. Ceko. Dulu guntur kira di studio kakaknya itu tidak ada kamar tidur, taunya pas guntur lihat kedalam ada pintu kaca yang di dalamnya ternyata sebuah kamar ukuran sedang. Sepertinya kamar itu digunakan untuk kakaknya dulu ketika malas ke atas -ke kamarnya- ketika selesai membuat lagu atau latihan musik.


"Jujur ka gua kangen banget sama lu" Gumamnya, saat tanganya menyentuh buku note balok milik sang kakak yang lusuh karena sudah lama. Bahkan sebagian buku note itu sudah sobek. Kemudian dia berjalan ke arah gitar, tanganya memetik random gitar itu.


"Ga gua nanti mau bushking, lu harus ikut" Kata yang selalu guntur ingat, dan berakhir sang kakak mendapatkan tamparan panas di pipinya ketika Ceko pulang.


"Bushking" Gumam guntur lagi. Gitar yang tadi dia petik random adalah gitar yang sering kakaknya bawa ketika buskhing.


Bushking memang menjadi kesukaan sang kakak dulu, meskipun mendapat larangan dari sang ayah ceko, kakaknya itu seakan tidak peduli dan masih meneruskan hobinya. Memberontak dan melawan sang ayah seakan menjadi kebiasaan atau bahkan hobi sang kakak dulu.


Bagi Ceko dengan bushking dia dapat menyampaikan beberapa bait syair yang mungkin dapat mewakili isi hati milik sang kakak. Selain itu sang kakak juga sering ngamen di kafe-kafe, sang kakak juga selalu mendapatkan upah sepadan dari jerih payahnya ketika mengamen. Uang yang kakaknya dapatkan pun tidak sedikit, guntur selalu menjadi orang pertama yang di kabulkan keinginan nya ketika sang kakak mendapatkan upah ngamen. Ntah kenapa walau tak seberapa guntur sangat senang, berbeda dengan apa yang di berikan oleh orang tuanya.


Ceko dan guntur itu sangat berbeda, Ceko anak yang sering melawan orang tua sedang, guntur anak yang mengikuti keinginan orang tuanya, bahasa kasarnya guntur si bungsu robot orang tuanya sedang Ceko si suling pembangkang. Ceko hidup dalam kebencian mendalam terhadap orang tuanya dan guntur hidup dengan penyesalan akibat keegoisan orang tuanya.


Guntur kembali terdiam lebih memilih duduk di depan keyboard, Banyak kenangan yang terputar random di otaknya. Salah satunya kekasih kakaknya.


Flashback.


Guntur baru saja pulang dari sekolah, seperti biasa dia langsung ke kamarnya. Tiba-tiba pintunya terbuka kemudian terlihat sang kakak memasuki kamar sambil tersenyum.


"Lu harus tau gua punya pacar, tapi dia kuliah di luar negri" Kata sang kakak sambil duduk di meja belajar milik guntur.


"Ck, bagaimana kalian kenal?" Tanya guntur penasaran. Bahkan dia menyimpan buku yang sedang dia baca.


"Dia melihat kakak bushking, kemudian kami saling kenal-


" Sesimpel itu?" Kernyit guntur tak habis pikir. Karena dia tidak pernah menyukai siapapun seumur hidupnya, mungkin karena hidupnya hanya dikendalikan oleh orang tuanya. Sehingga dia tak pernah merasakan apapun. Bahagia, sedih, senang, susah, tak pernah dia rasakan. Sepertinya guntur lebih sering menelan pil kebohongan dalam setiap hidupnya. Karena faktanya dia selalu saja memperlihatkan dia baik-baik saja di depan sang kakak. Bahkan dia sempat bertanya pada dirinya dia baik-baik saja atau tidak???


"Gua belum selesai bicara, dengerin gua jangan di potong" Kata Ceko, guntur tersenyum kemudian mengangguk bukunya dia tutup lebih memilih mendengarkan cerita sang kakak prihal kekasih barunya itu.


"Jadi dia lagi liburan di indo dan kebetulan ini ke tiga kalinya kita bertemu, bukannya kalau tiga kali bertemu tandanya kita jodoh?" Belum sempat Ceko meneruskan lemparan bantal tanpa di duga mengenai kepalanya. Pelakunya adalah adiknya. Guntur.


"Kalau begitu gua jodoh sama guru gua dong, gua udah ketemu sama dia lebih dari lima kali di tempat yang sama pula" Kata guntur yang seketika mendapat lemparan tip-x dari sang kakak yang tengah duduk menyender di meja belajar guntur.


"Ngga gitu jalurnya, dengerin makanya. Jadi nih abis itu kita kenalan-


" Namanya siapa ka?" Dengan tak sabaran guntur memilih memotong cerita yang nampaknya panjangnya akan memakan waktu siang sampai malam itu.


"Namanya-


END.


Tok.. Tok.. Tok..


Tok... Tok..


Lamunannya terhenti karena suara ketukan pintu, dirinya kembali sadar kemudian menoleh ke arah pintu memastikan kalau baru saja memang ada yang mengetuk pintu studio.


"Masuk, oh pak didi kenapa pak?" Tanya guntur tatkala melihat pak didi kini bberdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah kertas ntah kertas apa.


"Ini loh mas barang-barang untuk kosannya udah dateng" Jawab Pak didi, sambil memperlihatkan kertas bon yang nampaknya struk belanjaan, keperluan kosan.


"Oh sudah kumplit semua pak?" Tanya guntur sambil berjalan menghampiri pak didi. Kemudian mengambil struk belanjaan dari tangan supirnya itu.


"Sudah mas, mau di ganti cat dulu atau tidak mas?" Tanya pak didi lagi.


"Ngga usah pak biarkan saja cat kamarnya seperti itu, kalau sudah kumplit langsung di pasang aja pak nanti saya lihat saya mau mandi dulu" Ucap guntur sambil memeberikan kembali struk belanjaan tadi.


"Baik mas" Jawab pak didi kemudian pamit.


Hari dimana dirinya mendapatkan ide yang bersumber dari supirnya itu, guntur langsung menelpon sang kakak dan berkata jika rumah kredit milik kakaknya dulu akan dia jadikan koskosan. Tanpa di duga sang kakak degan mudahnya langsung mengiyakan usul guntur. Besoknya guntur menyuruh pak didi untuk memberitahukan pak dadang jika rumah Ceko akan dia ubah menjadi koskosan. Dan keesokan harinya guntur kembali di beri kabar kalau ada tiga orang yang berniat untuk kos disana, awalnya guntur hanya akan menerima dua orang saja untuk mengisis bekas kamar dirinya dan juga ceko namun karena mendengar ada tiga orang guntur pun memutuskan untuk membeli dua kasur ukuran sedang di setiap kamar, jadi dia akan menerima empat orang di kosannya.


Guntur melangkah ke kamar mandi, sambil melihat-lihat keadaan di luar yang tengah sibuk menurunkan beberapa perlengkapan kosan untuk di simpan di kamar atas.


Sekitar sepuluh menit guntur keluar, dengan menggukan kaos coklat dan juga celana bahan warna hitam. Dia langsung melangkah ke lantai dua untuk melihat keadaan disana seperti apa.


Dari tangga dia sudah mendegar pak didi berbicara karena logat supirnya itu sangat guntur kenal. Nampaknya pak didi baru saja bertemu dengan teman sekampung halaman.


"Udah sampai mana pak?" Tanya guntur sambil berjalan menghampiri pak didi dan juga laki-laki paruh baya di samping pak didi.


"Kamar pertama sudah ada dua kasur tinggal meja belajar dan satu set meja kursi untuk di tengah mas" Jelas pak didi. Guntur mengangguk kemudian melihat-lihat kedalam. Dua kasur di setiap sudut sudah ada juga satu set meja belajar.


"Permisi mas, disini ada printer mas dibiarkan saja apa bagaimana mas?" Tanya salah satu tukang yang tengah memasang meja belajar. Guntur mengernyit. Ah iya dia ingat printer itu milik sang kakak dulu.


"Printer nya masih bagus??" Tanya guntur heran.


"Masih mas, sepertinya baru" Jawab si tukang.


"Baru? , biarkan saja apa menghalangi?" Tanya guntur sambil berjalan kearah letak printer. Printer itu letaknya di atas meja yang menempel pada dinding.

__ADS_1


"Tidak mas, hanya saja mungkin menghalangi belajar" Jawab si tukang. Guntur mengangguk.


"Biarkan saja, mungkin nanti dibutuhkan untuk anak yang mau kos disini" Jawab guntur.


Guntur kembali berjalan keluar karena kalau dia di dalam takutnya dia menghalangi. Dia kembali menghampiri pak didi yang tengah bercengkrama dengan laki-laki paruh baya yang nampaknya teman sekampung halaman karena logat mereka yang sama. Guntur tersenyum.


"Jam berapa mereka datang pak?" Tanya guntur sambil berdiri di samping pak didi.


"Kurang tau mas, sepertinya tidak tentu mas" Jawab pak didi.


"Loh mereka, maksud saya anak yang akan kos disini bukankah mereka saling kenal?" Tanya guntur lagi. Mengernyit bingung.


"Nda mas, mereka beda. pak dadang bilang satu anak SMA dua anak kuliahan" Jelas pak didi.


"Oh tapi laki-laki semua kan?" Tanya guntur.


"Iya mas laki-laki, kalau bukan ngeri to mas kalau campur kosannya nanti ada yang tidak diinginkan terjadi di kosan kan bahaya mas" Jawab pak didi. Guntur bernafas lega.


"Yaudah pak saya keluar cari makan dulu, jangan lupa tukang sama teman pak didi di kasih makan ya pak. Uangnya masih cukupkan?" Tanya guntur.


"Yo masih mas, lebih ini mas" Jawab pak didi. Guntur mengangguk.


"Saya keluar dulu ya pak, sepertinya makanan di depan enak enak" Jawab guntur sambil menunjuk warung makan di depan rumah Ceko.


"Warteg mas?" Tanya pak didi kaget.


"Iya, enak seperti nya pak. Saya mau coba pak" Jawab guntur.


"Nda mau saya belikan dulu mas ke restoran atau mau apa to namanya itu yang diantarkan mas?" Tanya pak didi.


"Delivery pak, ngga usah pak" Jawab guntur.


"Saya titip rumah pak" Kata guntur sambil berlalu dan mulai menuruni tangga.


Di depan rumah Ceko, ada berbagai kedai makanan dan kedai minuman yang nampaknya terjangkau untuk semua kalangan. Di ujung jalan tepatnya arah belokan ke rumah Ceko ada minimarket yang buka 24jam hanya terhalang oleh lapangan basket outdoor. Sangat strategis. Kakaknya memang sangat pintar memilih tempat.


Guntur menyapukan pandangannya mencari makanan yang nampaknya menggugah selera. Hingga matanya jatuh pada rumah makan yang letaknya tak begitu jauh dari sana. Rumah makan 99.


Sekitar lima-tujuh menit guntur sudah sampai di sana, rumah makan itu sangat ramai pengunjung. Dia sampai kesusahan lewat akibat terlalu banyak motor yang terparkir, kemudian dia menduduki salah satu bangku dan mulai melihat-lihat menu.


"Gua harus jalan kesana terus mesen atau gimana ya?" Gumam guntur. Kebingungan guntur nampaknya terbaca dengan jelas hingga seorang perempuan menghampirinya.


"Permisi ada yang bisa saya bantu?" Tanya perempuan itu menawarkan diri.


"Baik, sebentar saya pesan kan" Ucap perempuan itu. Guntur mengangguk.


"Tunggu sebentar, kapan saya harus bayar?" Tanya guntur lagi.


"Nanti saja setelah makan" Jawab perempuan itu. Guntur kembali mengangguk.


"Terima kasih" Kata guntur, tanpa sengaja pandangannya melihat sebuah mobil yang nampaknya pernah guntur lihat. Mobil Porsche panamera berwarna putih. Yang berhenti tepat di depan rumah makan yang sama dengannya.


"Mobil itu bukannya mobil yang kemarin?" Gumam guntur. Pandangannya terus memperhatikan mobil Porsche ntah milik siapa itu. Hingga dua orang laki-laki keluar dari dalam mobil itu. Salah satunya ada yang memakan perban di kepalanya juga jalannya sedikit pincang.


Tak


Seperti dejavu, bunyi piring yang beradu dengan meja kembali mengalihkan atensinya. Kini di depannya sudah ada makanan yang tadi dia pesan. Terlihat enak baunya membuatnya seketika lapar.


Dia langsung saja memakan makanannya dengan tenang, tanpa dia sadari kedua laki-laki tadi memasuki rumah makan, kemudian duduk tak jauh darinya.


"Pesen apa lu al?"


"Ini aja nih" (Nunjuk menu)


"Pesen ini sama ini ya"


Percakapan kedua laki-laki yang duduk disampingnya, kembali mengalihkan atensinya. Kini fokus guntur pada pulpen yang menyantel di saku kemeja milik laki-laki yang memakai perban.


Terlihat berkilau.


Berbeda dengan sebelum-sebelumnya kali ini si pemilik sadar dengan apa yang guntur lihat. Guntur sedikit terhenyak. Karena takut curiga guntur kembali memakan makanannya dengan tenang. Namun dia semakin gelisah, pulpen itu seakan menari-nari di kepalanya minta diambil.


"Kepagian ngga sih kita tum?"


"Jam sebelas dari mana pagi"


"Kesiangan dong"


"Eh lu bilang orang yang nolongin lu temennya mau cari kosan jadi? "


"Ntah gua aja kenal sehari doang"


Atensi guntur kembali teralih, kini dengan kehadiran lima remaja laki-laki yang terlihat mulai memasuki rumah makan.

__ADS_1


'Bukannya dia anak SMA yang dulu ketemu di tukang bubur ya' -batin guntur.


"Makanannya bungkus vin, pak kenan chat gua suruh ngasih rekapan nilai"


'Ah sial pulpennya pergi'- batin guntur.


Guntur semakin gelisah tatkala melihat si pemilik pulpen akan beranjak pergi, dia terus memperhatikan lewat sudut matanya kemana laki-laki dengan perban di kepalanya itu beranjak. Sepertinya laki-laki tadi hendak membayar pesanan yang tak jadi dia makan. Dengan cepat guntur beranjak ke lemari es kemudian mengambil sebotol teh gelas disana. Padahal tadi jelas dia meminta air putih bukan? Lalu buat apa dia mengambil teh gelas?


Guntur bisa makan dengan tenang sekarang, nasi goreng kepiting ntah kenapa rasanya sangat enak ketika dinikmati. Pikir guntur.


Tak lama dia menghabiskan makanannya, ponselnya menyala menampilkan notifikasi disana. Pesan dari pak didi yang memberitahukan jika pak didi dan juga para tukang sudah selesai dan mereka tengah makan sekarang.



Guntur pun beranjak untuk membayar,


Di depan warung makan atensi guntur kembali teralihkan, dengan motor bebek. Honda supra x 125 Fi. Motor yang sangat guntur kenal karena seringnya dia lihat.


"Motor bebek ini kenapa terus ngikutin gua ya?" Gumam guntur sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku. Kemudian mengeluarkan pulpen berwarna hitam dengan ujung penutup warna silver. Pulpen yang terlihat berkilau dan benar saja pulpen itu sangat berkilau di genggaman guntur.


"Oh iya, ayo masuk duduk dulu biar pak didi yang jelaskan" Jawab guntur. Kelima remaja itupun masuk cukup memenuhi kursi di ruang tamu. Guntur mengerjap. Dia baru menemui orang baru, tak tanggung-tanggung lima orang sekaligus.


"Perkenalkan nama saya Rayga Guntur Bagaskar, kalian bisa panggil saya Aga," Kata guntur. Sedang pak didi kini tengah membuat minum di dapur.


"Nama saya Javier hujan adinata, dan ini keempat teman saya. Radika, Harsal, Gilang, yusril" Jawab remaja laki-laki itu yang ternyata bernama Javier.


"Jangan panggil saya pak saya tidak setua itu, panggil saja saya mas aga sama seperti yang lain" Jawab guntur.


" iya baik mas aga" Jawab Javier mengangguk.


"Oh perkenalkan dia pak didi, supir saya" Jata guntur sambil mengambil gelas dari baki untuk di simpan di meja membantu pak didi. Javier mengangguk tersenyum dengan ramah. Baru saja guntur mau menjelaskan prihal kosan, atensi semua yang di dalam termasuk guntur teralihkan dengan datangnya dua motor ninja berbeda warna. Hijau dan merah.


Guntur mengernyit, kemudian beranjak.


"Biar saya yang melihat pak" Kata guntur tatkala melihat pak didi yang hendak keluar.


"Kalian tunggu sebentar" Kata guntur ke lima remaja laki-laki disana.


Guntur kemudian keluar, dan menemukan dua orang laki-laki yang terlihat kebingungan.


" wan lagi ada tamu kali ya, banyak motor soalnya"


"Ck mana gua tau"


"Pintunya kebuka wan"


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Tanya guntur. Kemudian laki-laki yang berdiri memunggungi berbalik sedang satunya lagi masih diam di atas motor lengkap dengan helm fulfacenya.


"Begini ka, saya mau bertanya apa benar ini kosan?" Tanya si laki-laki itu.


"Oh iya benar" Jawab guntur mengangguk kemudian tersenyum dengan ramah. Cerminan bapak kos yang ramah baik dan tampan.


"Ini dulu kami disuruh datang lagi sama pak dadang, temen saya rencana mau melihat kosannya ka" Jawab si laki-laki yang sama.


"Oh kalian mau kos? Mari masuk" Jawab guntur. laki-laki itu pun masuk. Yang satu lagi kemudian melepas helm fulfacenya.


Guntur kemudian kembali memasuki rumah bersama kedua laki-laki tadi dibelakang nya.


"Loh kakak ini kan?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Javier ketika remaja laki-laki itu melihat laki-laki yang berjalan di belakang guntur.


"Heh lu kan anak yang salah ngesen kaya emak-emak itu kan?" Tanya si laki-laki yang baru saja datang di belakang guntur.


"Kakak itu kak irawan kan ya?" Tanya Javier lagi.


"Iya lu itu jiii, jaaa. Ah javair kan ya? " Kata laki-laki tadi.


Guntur terdiam, pak didi diam ke empat temannya nya diam teman laki-laki tadipun diam.


"Jadi kalian saling kenal?" Tanya guntur setelah terdiam beberapa lama karena sedikit kaget. Rumahnya dijadikan ajang reunian ternyata.


"Iya pak, eh mas aga. Javier ka bukan javair" Jawab Javier.


"Susah banget sih nama lu, lu ngapain, cari kosan juga?" Tanya Laki-laki tadi yang dipanggil Irawan oleh Javier.


"Iya ka, lu juga?" Tanya Javier, Irawan mengangguk.


"Bentar-bentar ini jadinya gimana?, gua dari tadi cengo doang kerjaannya wan" Kata laki-laki di samping irawan.


"Bukan cuman kamu saya juga" Jawab guntur. Pak didi mengangguk mengiyakan. Karena dari tadipun pak didi hanya diam. Tak kebagian dialog. Baru saja laki-laki yang bernama irawan mau menjawab, atensi semuanya kembali teralihkan termasuk guntur dengan datangnya mobil Porsche Panamera berwarna putih.


"Siapa lagi yang datang" Kata guntur. Nampaknya dalam sehari dia kini sudah menemui berbagai orang baru sekaligus dengan sikap dan watak yang berbeda ada di sekeliling nya.


'Ini bukannya mobil yang tadi?' - batin guntur.

__ADS_1


__ADS_2