
Terlihat seorang laki-laki remaja tengah duduk di salah satu rumah makan, didepannya tiga buah minuman yang sama serta dua tumpuk rokok utuh cukup membuat beberapa pasang mata terarah padanya. Sesekali matanya memperhatikan notifikasi pesan yang tampil di layar ponselnya.
[Chat]
Badai
Gua udah sampe rumahnya masih di gembok.
[Chat]
Anggara
Pagi banget kal, masih pada tidur apalagi weekend
"Sial gua lupa kalau hari ini weekend" Ucapnya sambil membuka tutup minuman kemudian meminumnya hingga setengah botol. Dia badai.
"Bodo ah, gua bangunin aja orang rumahnya" Kesal badai sambil memasukkan rokok kedalam saku jaketnya. Dia beranjak meninggalkan dua botol minuman utuh disana.
Baru saja hendak menstater motor tiba-tiba matanya menangkap pergerakan dari pagar yang sepertinya akan dibuka oleh si pemilik rumah. Mengabaikan kunci motor yang masih tercantel dia berjalan menghampiri perempuan setengah baya yang akan masuk kedalam mobil.
"Permisi, apa benar ini koskosan atas nama pak Rayga?" Tanya Badai sambil sesekali mencocokan nama yang dikasih Arva lewat ponselnya karena dia takut salah menyebutkan nama si pemilik kosan.
"Oh iya betul,saya Marni pembantunya, ada perlu apa kalau boleh tau?" Tanya bi sumi dengan sopan.
"Ah saya kalendrika, saya sudah menghubungi pak Rayga untuk kosan terus saya disuruh menemuinya hari ini" Jelas badai. Badai memanglah anak yang badung tapi untuk masalah sopan santun badai bisa menempatkan.
"Itu mas Aga di dalam mobil, sebentar biar bibi sampaikan" Kata bi Marni, badai mengangguk. Sambil menunggu badai berbalas pesan dengan Arva dan juga Anggara.
"Kata mas aga, disuruh masuk saja ada pak didi di dalam" Jawab bi Marni sambil menunjuk arah pintu masuk yang masih sedikit terbuka.
"Oh oke, Terima kasih" Jawab badai,
Sepeninggal mobil si pemilik rumah, badai langsung menghampiri motornya.
Tat kala motor badai memasuki halaman rumah, terlihat seorang laki-laki paruh baya keluar dari rumah tersebut. Dia pak didi. Mungkin karena suara knalpot milik badai yang bising sehingga mengangu aktivitasnya di dalam. Tepat ketika badai melepas helmnya, pak didi berujar.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pak didi,
"Permisi pak, saya kalen saya--
" Oh yang menghubungi mas aga tadi malam ya?" Tanya pak didi. Badai mengangguk dalam hati menerka bahwa pemilik kosnya ini orang yang ramah dan juga terbuka.
"Mari saya bantu, tunjukkan kamarnya" Kata pak didi sambil berjalan menghampirimu badai kemudian mengambil alih koper miliknya. Sedang badai mengekori di belakang sambil membawa tas punggung miliknya, hingga pak didi berhenti di salah satu pintu berwarna coklat sebelah kanan.
'Yang tengah pintu apaan?' batin Badai.
"Ini mas kamarnya, monggo silahkan" Kata pak didi sambil menyimpan koper milik badai tepat di depan pintu tersebut. Badai mengangguk kemudian mulai memasuki kamarnya.
Beberapa jam setelah badai tiba kini dua buah mobil mulai memasuki halaman rumah Ceko, karena halaman yang sempit membuat salah satu mobil harus parkir sedikit keluar dari pagar.
"Motor siapa ini ka?" Tunjuk Hujan, sebelum tangannya membuka pintu mobil dan menarik tas ransel miliknya. Juan hanya menggeleng sambil melepas seatbelt miliknya.
Sedang di depan mereke dua orang laki-laki keluar dari dalam mobil sambil mengeluarkan koper. Terdengar mereka saling menyahut samar namun hujan abai, memilih berjalan memasuki rumah tanpa peduli sang kakak yang kesusahan membawa koper besar miliknya.
"Permisi apa ada orang" Kata Hujan mengetuk pintu yang sudah terbuka lumayan lebar, sedang di belakangnya Juna sang kakak tiri dengan berbaik hatinya menggeret koper milik adik sialan yang kini sudah meninggalkannya cukup jauh darinya. Juan diam-diam mengumpat namun masih bisa memaklumi adik tirinya itu.
__ADS_1
"Ka ko ngg ada yang jawab ya?" Tanya Hujan pada Juan sedang Juan hanya mengedikkan bahunya acuh tangannya pegel menarik koper mulai dari rumah mereka sampai rumah Ceko. Contoh kakak yang baik.
"Mungkin tidak ada orang, atau mereka sedang di dapur" Jawab Juan sesaat setelah meletakkan koper besar di kursi panjang di sana.
"Mungkin, mas aganya sih kayanya kerja ka" Jawab Hujan masih celingak celinguk kedalam isi rumah. Mau masuk dia segan ngga masuk sudah seperti pengemis yang minta-minta di depan pintu berharap di kasih uang.
"Kerja apaan hari libur gini" Jawab Juan.
"Permisi, mau kedalam juga?" Tanya laki-laki di belakang mereka. Juan dan hujan mengangguk kedua kakak beradik itu kompakan melihat kearah yang sama yaitu koper.
"Mau ngekos juga?" Tanya Juan.
"Bu-
" Sa gimana lama banget" Perkataan ini muncul dari belakang laki-laki tadi. Dan sukses membuat Juan maupun hujan melongo. Eh mereke kembar, pikir keduanya.
"Belum ini juga mereka lagi nunggu orang rumahnya" Jawab laki-laki tadi.
"Eh iya, gua Ardasa ini kembaran gua Arsaka. Yang mau ngekos tuh adek gua sebenernya" Jawab laki-laki tadi yang bernama Ardasa. Juan mengangguk masih cengo melihat sikembar, pasalnya dia jarang banget melihat secara langsung anak kembar selain upin ipin itu juga di TV.
"Eh bentar, ini kakak yang kembar yang waktu di rumah sakit bukan ya?" Tanya Hujan ketika dia teringat dengan laki-laki yang tidak sengaja dia senggol dengan stang motornya. Si kembar hanya diam, salah satunya mungkin saja sedang mengingat kejadian yang di maksud Hujan.
"Loh mas javier sudah sampai?, mari masuk kenapa pada diem di luar to mas" Karena terlalu lama diam sampai mereka tidak menyadariada seseorang yang menghampiri ke empatnya, dia pak didi.
"Eh iya pak, kenal kan ini kakak saya Juan" Jawab Javier sambil mengenalkan sang kakak tercinta.
"Saya supir keluarga bagaskar, panggil saja pak didi" Jawab pak didi sambil membuka pintu semakin lebar agar keempatnya tidak kesusahan masuk.
"Ah iya, saya Arsaka dan ini kembaran saya ardasa" Kata Arsaka. Pak didi kemudian mengangguk, seakan tau dengan kebingungan mimik muka pak didi Arsaka langsung berujar.
"Kami mengantar adik kami pak, yang mau kos disini. Sa bangunkan adik kamu cepet" Kata Arsaka sambil menyenggol ardasa dengan sikutnya. Ardasa kemudian mengangguk dan ijin keluar sebentar.
"Wan rame banget" Kata raden sebelum menarik seatbelt dan membuka pintu mobil. Topan hanya mengedikkan bahu acuh memilih keluar dan melihat keadaan.
"Dari belakang tuh cowo kaya gua kenal deh den" Kata topan sambil menunjuk laki-laki yang baru saja keluar dari mobil di depannya.
"Siapa?" Tanya raden.
"Ngga tau" Jawab topan sambil membuka bagasi dan mengeluarkan koper miliknya.
"Tadi katanya kenal irawan dirgantara" Jawab Raden kesel.
"Dah bantuin gua, bawa tuh koper" Titah Topan sambil medorong koper besar miliknya. Karena tak mau cekcok dengan sang sahabat raden memilih menarik koper milik Topan. Keduanya terhenti secara bersamaan tatkala melihat pintu yang terbuka.
"Masuk ngga nih?" Tanya raden. Topan celingak celinguk melihat situasi.
"Loh itu si-
" Ka Irawan" Teriak laki-laki remaja yang tak sengaja melihat Topan. Topan kemudian menarik raden masuk.
"Javair, bang alkana pindah sekarang juga? " Tunjuk Topan satu persatu , Kata-kata Topan sukses membuat raut muka remaja laki-laki itu berubah masam.
"Javier ka Javier" Jawab Hujan kesel. Sedang gempa hanya tersenyum sambil mengangguk.
Ntah kebetulan atau gimana mereka ternyata barengan sampai di rumah ceko. Karena banyaknya orang di rumah ceko membuat pak didi kebingungan mau disuruh duduk tempatnya tidak cukup tidak mungkin berpangkuan kan? , kalau tidak terlihat tidak sopan masa tamu dari tadi berdiri. Pak didi pun jadi dilema.
__ADS_1
Karena terdengar cukup berisik di ruang tamu, seorang laki-laki remaja turun dari lantai dua. Membuat pasang mata yang ada di ruang tamu menuju kearahnya. Hening seketika mengambil alih keadaan.
"Mas kalen bagaimana sudah di lihat kamarnya?" Tanya pak didi tatkala melihat remaja laki-laki yang tadi pagi mengagetkan nya dengan suara knalpot yang lumayan bising. Baru saja badai akan menjawab teriakan dari Hujan cukup membuatnya kembali bergeming.
"Berarti lu sekamar sama gua dong, siapa tadi namun lu, kaleng?" Tanya Hujan. Badai terdiam melihat dengan lamat remaja laki-laki yang baru saja berujar. Memutar bola mata kesal kemudian menjawab.
"Gua kalendrika, bukan kaleng. Gua sih bebas sekamar sama siapa aja yang penting ngga berisik"
"Berarti ada empat orang dong ya, gua, irawan, javier sama lu siapa tadi?" Tanya Gempa.
"Iya bang" Jawab Topan, sambil menduduki koper miliknya. Sedang Badai hanya berdehem sambil bersandar di dinding samping tangga.
Keheningan kembali menyapa semua orang yang ada disana. tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Suasana pun sedikit terasa canggung apalagi mereka baru pertama bertemu ya walau mungkin sebagian udah ada yang saling kenal. Seperti Hujan, Topan dan juga gempa, tapi kan mereka belum saling mengenal dekat jadi atmosfer kecanggungan masih terasa disana.
Kriet...
Suara pintu di buka pelan pun terdengar sangat nyaring,karena saking heningnya ruang tamu. Disana berdiri seorang laki-laki dewasa yang cukup mereka kenal atau mungkin sebagian?
"Loh mas aga" Kata Pak didi sambil berjalan ke arah Guntur. Sedang Guntur masih terdiam di ambang pintu sambil menenteng keresek merah berisi sayuran.
"Dia siapa Vier" Bisik Juan pada Hujan.
"siapa tuh?" Tanya Arsaka yang di balas gelengan spontan dari si kembaran. Ardasa. Sedang Gempa masih bergeming.
"Di---a bapak kos nya" Tunjuk hujan dan Topan.
"Pak didi kenapa di luar banyak banget mobil, mobil saya jadi sulit parkir" Kata Guntur yang sedikit ngosngosan karena akibat halaman rumahnya penuh mobil, Guntur harus parkir di minimarket depan komplek.
"Ini to mas, mereka yang mau ngekost sudah tiba semua" Jawab pak didi. Sambil mengambil alih keresk merah milik guntur. Guntur mengangguk matanya memperhatikan satu persatu orang yang kini ada di ruang tamu miliknya.
'mereka yakin mau ngekos?' pikir guntur.
"Mas bukannya tadi mas aga keluar bersama bi Marni? bi Marni dimana to mas sekarang?" Tanya pak didi yang celingak celinguk mencari sosok pembantu keluarga bagaskar.
"Loh tadi-----ya ampun pak masih di dalem mobil" Kata guntur laki-laki dewasa itu bermaksud kembali lagi keluar namun tak jadi ketika dia melihat dua orang remaja laki-laki yang ada di depannya.
"gila yang ngekos disini siapa aja sih masa kaya mau hantaran hajatan mobil penuh banget di luar" dia Arva yang baru saja sampai bersama Heru yang berjalan disampibgnya.
"Iya yang ngekos cuman mau buang duit doang kayanya" tambah heru. Percapapakan mereka terhenti karena melihat laki-laki dewasa yang mengernyit kearah mereka.
"Eh kalian siapa lagi?" Tanya Guntur tatkala melihat Arva dan Heru.
"Saya?" Tanya Arva sambil menunjuk dirinya sendiri. Guntur mengangguk belum juga Arva menjawab Guntur teringat sesuatu.
"Bentar yang ngechat saya atas nama kaleng eh kalen atau kalem, yang mana orangnya?" Tanya Guntur kembali berbalik memperhatikan satu persatu orang disana, sambil menunggu jawaban.
Mendengar namanya salah disebut lagi, badai berdecak kesal sambil menjawab.
"Saya, nama saya kalen bukan kaleng apalagi kalem"
"oh maaf soalnya tadi saya kurang jelas lihat nama, Kamu satu kamar sama javier ya? " Kata Guntur, badai mengangguk tanpa peduli yang mana orang yang dimaksud si pemilik kosan.
"Perkenalkan saya Rayga Guntur Bagaskar,pemilik kosan ini. Semua penjelasannya sudah jelas belum tentang kosan,masalah pembayaran,fasilitas dan lain-lain?" Tanya guntur sambil berjalan mendekat. Merasa tidak ada yang bersuara gunturpun melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, sekarang silahkan kalian pergi ke kamar kalian masing-masing dan mulai membereskan perlengkapan kalian.semoga betah ya" Final guntur.
__ADS_1
Hujan langsung berpamitan pada sang kakak, Juan. Gempa langsung menarik kopernya kearah tangga meninggalkan kedua kakak kembarnya. Dan Topan yang langsung mendorong kopernya tanpa peduli dengan raden yang hampir jatuh, untung saja ada Badai yang langsung menarik raden tat kala topan mulai mendorong kopernya. Sedangkan badai langsung berjalan keluar menghampiri heru dan Arva.
"Pak ini kunci mobil saya, bi Marni masih di mobil tolong ya pak saya mau ke dapur dulu haus" Jelas Guntur. Kini tinggallah pak didi seorang diri di ruang tamu.