Best Seller Man

Best Seller Man
Bandung penuh kenangan


__ADS_3

"AYAH, IBU VIER IKUT" Teriak hujan spontan bangun dari tidurnya. Tubuhnya bergetar ketakutan air matanya keluar sambil sesekali terisak.


"Kak Juan, tadi ibu dan ayah pergi ninggalin Vier ka" Teriak Hujan.


"Vier" Teriak Juan lagi sambil memeluk adiknya. Tadi ketika Hujan kembali memejamkan matanya Juan kembali panik makanya dia dengan cepat berlari keluar untuk mencari dokter. Namun karena dokter yang menangani adiknya masih sibuk Juan kembali karena khawatir dengan keadaan adiknya.Dan benar saja Juan melihat sang adik yang ketakutan sambil terisak dan terus menerus meneriakan panggilan ibu dan ayah.


"Ibu dan ayah udah tiada Vier, nanti kita keBandung kita lihat makam ibu sama ayah" Kata Juan sambil memeluk hujan, keringat dingin keluar dari pelipis adik tirinya. Deru nafas yang tidak beraturan, bibirnya terus berucap lirih


"kak mereka bohong" Kata hujan tanpa sadar.


"Sadar Vier, kamu harus sadar disini kakak Vier" Tambah Juan yang tak melepas pelukan sang adik.


Beberapa menit setelahnya, Laki-laki paruh baya dengan stetoskop yang menggantung dileher serta pakaian khas dokter memasuki kamar rawat hujan dan menyuruh sang kakak untuk menunggu di luar. Dia Arul dokter hujan.


Di luar Juan menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah sakit, penyesalan kembali Juan dapatkan. pikirannya mengingat dimana dia mengiyakan tat kala hujan izin pergi ke perpustakaan kota. Tanpa mengingat jika hari itu adalah tanggal 13 tanggal dimana orang tuanya meninggal. tanggal yang sangat di hindari sang adik. Hujan.


Kesadaran Juan kembali tatkala Juan melihat Braga keluar dari kamar rawat hujan. Davian Braga Angkara adalah dokter spesialis yang merangkap menjadi dokter Hujan.


"Bagaimana adik saya dokter?" Tanya Juan tatkala melihat dokter Braga yang selalu menangani hujan ketika hujan kecelakaan.


"Dia hanya shock Juan, adik kamu jangan terlalu dibawa berpikir berat dulu" Jawab Braga yang dijawab anggukan oleh Juan.


"Baik dok terimakasih, saya masuk dulu" Jawab Juan.


Didalam hati Juan selalu sakit ketika melihat adiknya terbaring lemah di rumah sakit. Walau bukan adik kandungnya kini Juan sangat menyayangi Hujan lebih dari apapun, terbukti ketika Juan mulai berubah demi sang adik. Juga ketika Juan memilih pindah dari Bandung ke Jakarta hanya untuk kesembuhan trauma sang adik.


"Kak Juan?" Tanya Hujan. Tatkala kembali melihat Juan, kini dirinya dapat melihat dengan jelas pakaian kantor yang digunakan kakaknya terlihat sangat kusut dan berantakan.


"Iya, kamu udah sadar?" Tanya Juan berjalan lemah kearah blangkar sang adik. Sorot matanya menyendu tatkala melihat bekas infusan yang selalu tertancap di tangan kiri sang adik setiap bulannya. Dan kini infusan itu menancap kembali di tempat yang sama. Juan memang sudah menyiapkan hatinya, namun ntah kenapa Juan masih belum siap. Helaan nafas keluar dari mulut Juan, kemudian tersenyum mengelus lembut rambut Hujan.


"Maafin kakak karena lupa kalau hari ini tanggal 13, setelah kamu baikan ayo kita pergi ke Bandung. Kita liat makam ayah dan ibu" Jawab Juan, seakan sebuah kebiasaan setiap tanggal 13 setelah Hujan celaka mereka akan pergi ke Bandung.


"Aku juga lupa ka, padahal dari kemarin Vier cek kalender terus lo" Jawab Hujan, pikirannya kini dapat mengingat dalam setiap harinya Hujan selalu melihat kalender di manapun dia berada, ntah di ponsel, ruang OSIS atau bahkan di rumahnya.


"Kamu selalu mengucapkan hal sama ketika kamu menjawab vier" Kata Juan.


"Dan kakak selalu meminta maaaf ketika aku siuman, bukankah itu kata-kata yang sama yang selalu kakak lontarkan?" Kata Hujan. Iya mereka selalu mengucapkan hal yang sama. Juan mengangguk.


" Iya Vier" Jawab Juan.

__ADS_1


Besoknya hujan sudah boleh pulang, dan sorenya hujan bersama sang kakak - Juan- pun berangkat ke Bandung.


"Kak jadi tugas keluar kota?" Tanya Hujan pada sang kakak yang tengah menyetir.


"Kakak rasa ngga bakal kakak ambil, melihat kondisi kamu yang seperti ini" Jawab Juan tampa melihat sang adik. Matanya tetep fokus ke depan melihat jalan.


"Aku sudah biasa" Jawab Hujan. Sebuah kalimat yang selalu dilontarkan namun berdampak jauh dari kata biasa.


"Tidak, kakak khawatir Vier" Jawab Juan di tengah menyetirnya.


"Kak bukannya itu perintah atasan kak juan?" Tanya Hujan lagi. Kini tangannya mulai merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel pintar yang selalu hujan andalkan ketika bosan.


"Iya, terus kamu gimana. Mana bisa kakak tinggal" Jawab Juan sesekali melihat sang adik yang kini tengah fokus dengan smartphone nya.


"Aku bisa bersama Bimo" Jawab Hujan. Bimo adalah nama motor bebek kesayangan Hujan yang selalu menemani hujan di setiap harinya. Motor yang selalu hujan bangga-banggakan walau dengan harga tak seberapa namun memiliki arti yang besar dalam hidup Hujan.


"Dia bukan manusia Vier, mana bisa di ajak bicara apalagi untuk menitipkan mu. Ah iya kemarin kenapa ke bengkel? " Jawab Juan.


"Tapi itu motor dari mu kak, kamu ingat kak ketika aku sempat bercerita kalau aku menyenggol kaca spion mobil? " Tanya hujan. Dan diangguki oleh Juan.


"Ternyata, Bimo tergores akibat si motor matic" Jawab Hujan kesal.


"Tidak ka, Bimo sudah seperti teman bagiku. Aku merawatnya dengan sepenuh hati" Jawab Hujan kini tangannya terhenti dari scroll menscrollnya ketika matanya tak sengaja membaca berita yang dikirim temannya di grup tentang Perpustakaan kota.


"Seperti dalam iklan kecap ya? Asal tidak kamu besarkan dengan sepenuh jiwa" Jawab Juan, terkekeh tatkala mengingat iklan yang selalu ditampilkan ditv ketika mengganggu acara menontonnya. Sedikit membuatnya kesal.


"Memangnya motor bisa berkembang" Jawab hujan ketika mendengar jawaban konyol kakaknya. Semenjak kapan motor semakin gede? Mau di kasih bensin setiap detik pun dengan harga yang mahal motor tidak akan berubah. Juan tertawa sang adik memang selalu menjadi mood baginya.


"Kak aku separah ini?" Tanya Hujan sambil menunjukkan ponselnya. Disana salah satu temanya mengirim kan sebuah vidio pendek berdurasi kurang dari satu menit, dividio itu terlihat seorang remaja laki-laki tengah memilih buku dan tanpa sengaja kejatuhan rak buku yang berakhir seperti dalam kartu rami, saling menubruk satu sama lain. Juan menoleh sebentar guna melihat ponsel sang adik, kemudian mengangguk.


"Mungkin, kakak tidak tau kejadiannya seperti apa" Jawab Juan. Ketika dia kembali mengingat jika adiknya mengatakan akan ke perpustakaan kota sebelum dia berangkat kerja. Dan dengan santainya dia iyahkan tanpa mengecek kalender terlebih dahulu, ntah kenapa tanggal 13 selalu tiba-tiba terlupakan ketika hari itu tiba.


"Siapa yang melihat mu? Dan kenapa vidio itu tersebar?" Tanya Juan.


"Ntah mungkin orang iseng yang tak sengaja, yah pasti dia mengunggahnya di sosial media" Jawab Hujan sambil memutar terus menerus vidio itu.


"Apa mereka tau itu dirimu?" Tanya Juan.


"Tidak, mereka taunya aku ke Bandung. Kan setiap tanggal 13 Vier ke Bandung ka" Jawab Hujan.

__ADS_1


"Kamu tidak lupa mengirim surat izin ku kan ka?" Tanya Hujan lagi sambil menutup ponselnya.


"Tidak, surat izinnya selalu kakak buat jauh-jauh hari sebelum tanggal 13" Jawab Juan. Dirinya kembali teringat saat dia mulai mengoleksi amplop di meja kerjanya, juga pertanyaan dari karyawan lain yang menanyakan tumpukan amplop apa yang ada di meja Juan. Bahkan saking sibuknya, Juan selalu menyewa kurir yang akan mengantarkan surat izin Hujan ketika tanggal 13 nanti. Selain itu dirinya juga selalu mengambil izin libur dua sampai tiga hari setelah tanggal 13 belas. Karena itu perusahaan milik ayah angkatnya Juan tidaklah susah hanya untuk mendapatkan persetujuan prihal liburnya itu. Karena ayah angkatnya tau semua yang menimpa Juan.


"Terbaik" Jawab Hujan. Kini tangannya kembali membuka ponsel pintarnya.


"Kamu masih menonton vidio yang tadi?" Tanya Juan.


"Tidak ka, Vier menonton radika dan yusril" Jawab hujan sambil menunjukkan channel milik sahabatnya itu. Juan mengangguk.


Tak terasa kini mereka sudah memasuki kawasan bandung. Mobil Juan kini sudah sampai di belokan menuju rumah mereka di bandung.


"Kamu merindukan rumah?" Tanya Juan pada hujan.


"Tidak, setiap tanggal 13 kita pulang. Hanya aku merindukan orang tua kita. Mau berapa kalipun kita pulang mereka tetap tidak ada" Jawab Hujan sendu.


"Do'akan saja. Ayo keluar itu pak waryo sudah menyambut kita" Jawab Juan sambil menunjuk laki-laki setengah baya -Waryo- yang diberikan amanat untuk menjaga rumah mereka di bandung. Hujan mengangguk memilih menepis rasa rindu yang selalu saja sama setiap bulannya. Merindukan kedua orang tuanya.


Kini mereka tengah memanjatkan doa di depan dua buah nisan dengan nama ayah dan ibunya. Ayah biologis Hujan dan ibu biologis Juan.


"Kak bagaimana jika aku mencari kosan. Selama kakak pergi aku bisa tinggal bersama banyak orang ka" Tanya Hujan di jalan sekembalinya mereka dari pemakaman.


Karena hujan tidak mau selalu menjadi penghalang kerja sang kakak dia juga tidak mau merepotkan terlalu banyak terhadap kakak tirinya. Juan.


"Tidak, itu jauh lebih parah. Kamu mau mereka tau kamu aneh?" Tanya Juan. Aneh, iya adik tirinya itu aneh. Namun seaneh apapun adik tirinya Juan akan tetap menyayanginya.


"Mereka tidak akan menyadarinya, bukanlah kecelakaan bagi manusia sudah biasa ka?" Tanya Hujan.


"Tapi kamu berbeda mana ada celaka setiap tanggal 13" Jawab Juan sedikit kesal dengan sang adik ketika melontarkan kata biasa pada ujung kalimatnya.


"Yah mungkin itu bisa saja mereka menyangka nya kebetulan, ayolah ka aku sudah besar katanya khawatir kalau aku ditinggal bersama Bimo" Kata Hujan mencoba merayu sang kakak agar di perbolehkan pergi ngekos.


"Baiklah, nanti kakak pikirkan, sekalian kakak carikan kos nanti yang layak" Jawab Juan yang mendapatkan anggukan namun setelah itu gelengan dari hujan.


"Aku bisa mencarinya bersama radika dan harsal ka kebetulan orang tua gilang punya kontrakan jadi pasti dia tau kosan juga" Jawab Hujan antusias.


"Oh yasudah, baiklah. Janji selalu menjaga diri dengan baik" Jawab Juan yang kini diangguki adik tirinya. Hujan.


"janji, bawa banyak uang ka sama oleh-oleh kalau pulang" jawab Hujan sambil terkekeh.

__ADS_1


"kamu kira kakak mau berlibur" kata Juan sambil merangkul Hujan.


__ADS_2