
..."SKILL GUA UDAH TINGKAT DEWA"...
"Selamat datang di bandara internasional Jakarta Soekarno – Hatta di Tangerang, Banten"
Seorang laki-laki baru saja keluar setelah pengecekkan boarding pass,
"Haaaah, Selamat datang Indonesia" Ucapnya. Bandara itu masih sama, masih sama ketika terakhir kali dia menggeret koper untuk meninggalkan Indonesia. Dan kini dia kembali menggeret kopernya untuk pulang.
Jujur dia sudah rindu tempat kelahirannya.
Laki-laki itu berjalan sambil mendorong barang bawaannya keluar dari terminal tiga, dari atas sampai bawah sangat terlihat bahwa laki-laki dewasa ini terlahir dari keluarga sangat berada. Pakaian branded yang dia pakai cukup membuat rakyat jelata menjerit saking tak kuatnya membeli.
Laki-laki dewasa itu mulai menyapukan pandangannya mencari papan nama atas nama dirinya, banyaknya orang berlalu lalang cukup membuat laki-laki itu sedikit kesusahan. Hingga dia menemukan papan nama "MAS AGA" Yang lumayan besar di pegang oleh laki-laki paruh baya yang sangat dia kenal. Sudut bibirnya tertarik keatas ketika dia menemukan laki-laki paruh baya yang nampaknya tengah menunggu kedatangannya. Kemudian Laki-laki itu berjalan kearah laki-laki paruh baya yang nampaknya tidak melihat keberadaannya.
"Pak didi?" Tanyanya sambil tersenyum, kemudian tanpa sungkan memeluk laki-laki paruh baya yang tadi dia panggil membuat laki-laki paruh baya itu sedikit kaget.
"Mas aga sudah lama sekali ya mas" Kata pak Didi orang yang menjemputnya sambil mengambil alih barang bawaan laki-laki itu.
Rayga Guntur Bagaskar, Laki-laki dewasa yang mempunyai faras tampan yang mumpuni bak seorang model. Dia anak bungsu keluarga Bagaskar. Bagaskar grup sendiri adalah perusahaan yang mempunyai core bussiness di bidang property, sudah banyak hunian yang didirikan oleh perusahaan tersebut antara lain hotel bintang lima, villa, mall, rumah sakit serta apartemen.
Sampai di dalam mobil Guntur langsung tertidur akibat jet lag, perjalanan yang memakan waktu sekitar dua puluh empat jam dari Amerika ke Indonesia sangat menguras tenaganya. Walau di tempat transit -Amsterdam- dia bisa sedikit istirahat.
Namun akibat getar ponsel disakunya dia kembali terbangun dilihatnya layar ponselnya kini menampilkan panggilan dengan nama Ceko sebagai si pemannggil.
[Calling]
Ceko.
"Udah sampai?" Tanya laki-laki disebrang.
"Iya ka" Jawab Guntur.
"Yaudah istirahat, kakak baru pulang kerja" Jawab laki-laki disebrang.
"Jaga kesehatan ka" Jawab Guntur mengakhiri panggilannya.
"Macet ya pak?" Tanya Guntur sambil sesekali melihat kedepannya.
"Biasa mas, tidur lagi aja mas Aga" Kata pak Didi. Guntur mengangguk, kendaraan didepannya sangat padat.
Tau kaya gini mending dia berangkat siang saja dari New York agar sampai di Indonesia malam. Dia sengaja berangkat sore dari bandara -New Jersey- agar sampai di Indonesia pagi untuk menghindari macet, namun ternyata dia salah besar. rupanya mau pagi siang atau malam sepertinya jakarta macet.
"Di rumah ada siapa aja pak tadi?" Tanya Guntur. Pandangan laki-laki itu terarah pada pulpen yang ada di gengamannya. Pulpen biru dengan ukuran cantik di setiap sisinya.
"Kosong mas, ibu baru saja berangkat sama tuan sore kemarin" Jawab pak Didi sesekali dia menekan klakson mobil, agar mobil di depannya jalan.
"Kemana?" Tanya Guntur. Sambil memasukan pulpen itu kedalam saku jaketnya.
"Singapura mas" Jawab pak Didi.
"Semoga mereka menetap di Singapura, dan tidak pernah kembali" Kata Guntur sambil sesekali melihat ke sampingnya.
"Ya ampun mas, jangan begitu to" Jawab pak Didi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Jauh lebih nyaman pak, tanpa-
ngueengngngng
Bruk,
Duk,
" ASTAGFIRULLOH" Teriak pak Didi spontan sambal melongokkan kepalanya ke luar. Dilihatnya seorang anak SMA menggunakan motor bebek tiba-tiba saja menyenggol kaca spion mobil mereka.
"OALAH, BOCA GENDENG" Teriak pak Didi kesal,
" ANAK JAMAN SEKARANG, MOBIL LAGI ANTENG KO DISENGGOL" Tambahnya dengan bersungut-sungut sedang Guntur dari tadi hanya bisa tersenyum. Logat bicara pak Didi tidak pernah berubah.
"Ngga papa pak, langsung diperbaiki aja nanti pas sampe" Kata Guntur menyabarkan Pak Didi.
"Mas Aga, liat tuh anak sekarang. ngga ada takut-takutnya kejar-kejaran sama polisi" Kata pak Didi sambil menunjuk dua motor yang berbeda type tak jauh di depan mereka. Sedang Guntur hanya mengangguk.
"Bakalan macet panjang ini mas" Tambahnya lagi.
__ADS_1
"Ngga papa pak, santai saja jangan buru-buru" Jawab Guntur. Pandangannya jatuh pada laki-laki yang baru saja keluar dari sebuah taksi. Nampaknya dari pada bermacet-macetan laki-laki itu jauh lebih memilih berjalan.
"Iya mas, maaf to mas, mas Aga pulang malah kaya gini" Kata pak Didi yang merasa tidak enak. Pasalnya semenjak keberangkatannya ke New York baru sekarang dia kembali lagi ke Indonesia, setelah begitu lamanya dia menetap disana.
"Ngga papa pak, yaudah santai saja ya pak. Saya juga sedikit mengantuk bangunkan saya ketika sampai ya pak" Kata Guntur sambil memejamkan matanya.
Tak terasa perjalanan yang lumayan alot akibat kemacetan pagi-pagi pun sampai.
"Mas Aga sudah sampai" Kata pak Didi menggoyangkan pelan pundak Guntur.
"Oh, iya Pak terima kasih" Jawab Guntur sambil meregangkan otot-ototnya. Pegal.
"Mas Aga, saya simpan kopernya ke kamar ya mas" Kata pak Didi yang langsung diangguki oleh Guntur.
Sebelum melangkah masuk kedalam rumah, Guntur menyempatkan waktu untuk melihat kaca spion yang tadi disenggol oleh anak SMA di jalan ketika macet.
"Ada-ada saja" Gumam Guntur sambil menggelang.
Kemudian dia menyapukan pandangannya kesekeliling halaman rumahnya.
"Tidak berubah" Pikirnya. Sambil berlalu memasuki rumah.
"Alhamdulillah mas Aga sudah sampai dengan selamat" Kata bi Marni yang baru saja keluar dari dapur nampaknya pembantu keluarga Bagaskar itu selesai mempersiapkan makanan untuk menyambut anak bungsu keluarga Bagaskar. Guntur.
"Iya bi cape banget, saya keatas dulu ya bi" Jawab Guntur, sambil memeluk bi Marni. Pembantu rumah tangga keluarga Bagaskar.
"Ngga mau makan dulu mas Aga?" Tanya bi Marni.
"Ngga bi, nanti aja" Jawab Guntur. Yang diangguki oleh bi Marni.
Laki-laki itu melangkah ke arah kamarnya di lantai dua, karena rasa cape yang menguasai dirinya dengan cepat memejam. Seperti mati Guntur tertidur sampai delapan jam lebih. Hingga suara getar ponsel yang disimpan di atas nakas membangunkannya.
[Calling]
Ceko.
"Udah sampai rumah?" Tanya Ceko di sebrang sana.
"Hm" Jawab Guntur setengah sadar.
"Hm" Jawab Guntur.
Matanya mengerjap, kemudian mengernyit langit-langit kamarnya sangat asing. Ah ia lupa kini dia sudah di Indonesia. Dia terdiam beberapa lama kemudian bangun melangkah ke kamar mandi sambil sesekali menguap. Setelah beberapa menit Guntur keluar dengan tampilan yang lebih segar mengambil ponsel kemudian pergi meninggal kan kamarnya.
Kini laki-laki yang kerap disapa aga itu berdiri di depan pintu kamar sang kakak yang letaknya di samping kamarnya. Tangannya mengudara di atas knop pintu kamar sang kakak, setelah meyakinkan dirinya Guntur menekan knop pintu itu dan mulai memasuki kamar milik kakaknya. Semua tidak ada yang berubah, yang membedakan hanya suasana di dalam kamar itu. Yang tadinya berisik karena aktifitas sang kakak yang menyukai musik kini sunyi senyap tanpa kehidupan di dalamnya.
Bayangan-bayangan dirinya dan sang kakak pun turut menjadi ilusi semata di hadapannya, dirinya yang suka menjaili sang kakak, dirinya yang suka merusak gitar milik sang kakak dan dirinya yang selalu merengek merindukan kakak ketika kakaknya tidak pulang akibat ulah ayah mereka.
Kini mereka sudah sama-sama berpisah, dirinya yang memilih pergi dan menetap di New York juga sang kakak yang memilih tinggal di Vienna bersama istrinya tanpa membawa nama Bagaskar di ujung namanya.
"Maaf gua cuman laki-laki egois" Gumamnya. Pandangannya jatuh pada foto dirinya dan sang kakak yang terpajang apik di dinding kamar. Disana di poto itu terlihat keduanya sangat bahagia tanpa mengetahui jika foto itu adalah foto terakhir keduanya bertemu.
Tok.. Tok..
Suara pintu yang diketuk cukup menyadarkan Guntur dari lamunan panjang masa lalu.
"Mas Aga di dalam, mas makan dulu mas bibi udah siapin " Kata bi Marni, pembantu di rumah keluarga Bagaskar.
"Iya bi nanti saya kebawah" Katanya sambil beranjak menuju pintu.
Sebelum benar-benar pergi Guntur kembali berbalik seakan merekam kembali memori lama bersama sang kakak di pikirannya.
"Gua harap lu selalu bahagia ka" Katanya ditengah helaan nafasnya. Pasalnya dia tidak tau bagaimana kondisi kakaknya di Vienna yang dia tahu kakaknya selalu berkata dia baik-baik saja itu pun lewat telpon. Iya, mereka hanya berkomunikasi lewat telpon saja tanpa tatap muka sama sekali.
Guntur kembali menuruni tangga, kakinya melangkah ringan ke arah dapur, disana ada bi Marni yang sedang menata makanan untuk dirinya.
"Mas Aga ayo makan dulu" Kata bi Marni sambil menarik kursi makan untuk Guntur.
"Iya bi, bi panggilin pak Didi nya bi" Kata Guntur, yang langsung diangguki oleh bi Marni. Pembantunya itu tanpa ba bi bu langsung pergi mencari pak Didi, supir keluarga Bagaskar.
Selang beberapa menit bi Marni kembali bersama pak Didi.
"Ayo pak sini duduk" Kata Guntur sambil menarik kursi makan sebelahnya.
__ADS_1
"Sini bi, bibi juga duduk" Tambah Guntur sambil beranjak beralih menarik kursi makan sebrangnya.
"Tapi mas" Kata bi Marni sama pak Didi bersamaan.
"Cie barengan, udah bi aku kesepian makan sendirian lagian ini terlalu banyak kalau cuman untuk sendiri" Jawab Guntur dengan ramah.
Guntur, sudah menganggap bi Marni dan pak Didi sebagai orang tuanya sendiri. Karena dari dulu Guntur hanya hidup bersama pak Didi dan bi Marni. Karena kedua orang tuanya sangat sibuk apalagi ayahnya, Guntur hanya bias bertemu dengan sang ayah bisa di bilang sebulan sekali.
"Wah makasih banyak to mas" Kata pak Didi
"Iya pak, ayo bi makan cepet enak lo makanan buatan bibi" Kata Guntur sambil menyuap memasukkan satu sendok penuh nasi ke mulutnya.
"Tapi mas Aga-"
"Udah bi ayo, disini juga ngga ada papa sama mamah kan bi" Sela Guntur. Akhirnya bi Marni pun ikut makan bergabung bersamanya. Guntur tersenyum keluarganya serasa lengkap, walau kedua orang tua aslinya ntah dimana dan sedang apa sekarang.
"Mas New York itu dimana to mas?" Tanya pak Didi memecah keheningan.
"Hus tidak boleh bicara, lagi makan,tidak sopan" Kata bi Marni sambil memukul tangan pak Didi dengan centong nasi.
"Ngga papa bi, biar ngga sepi. New York itu di Amerika Serikat pak" Jawab Guntur sambil meraih gelas minumnya.
"Kalau Amerika Serikat teh dimana mas" Tanya bi Marni penasaran. Setelah mengisi piringnya dengan penuh nasi.
"Di peta ada" Jawab pak Didi. Guntur hanya bisa mengerjap. Di peta? Pikirnya.
"Amerika Serikat itu negara bi, sama kaya Indonesia gini, terus di dalamnya ada kota-kota. Nah salah satunya New York. " Jelas Guntur.
"Oalah, disana rame pasti yo mas" Tanya pak Didi. Sedang bi Marni hanya bias menyimak sambil memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"Rame pak. Siang sampe malam ngga berhenti karamaiannya, sama lah seperti jakarta. Ramai" Jawab Guntur dengan sabar. Bahkan laki-laki itu tidak jadi menyendokkan nasinya, memilih menjawab dulu pertanyaan dari pak Didi.
"Nah pasti ini sedikit familiar, patung liberty" Tambah Guntur. Sambil mengacungkan sendokknya. Seperti patung liberty yang memegang obor.
"Oh iya mas sering denger bibi di TV" Jawab bi Marni. Mengangguk namun masih serasa bingung. Karena tidak begitu tahu dengan patung yang di maksud anak majikannya itu.
"Nah disana ada bi, patung liberty itu bisa di bilang patung selamat datang bagi para imigran dan juga pengunjung, patung itu juga salah satu ikon kebanggaan orang amerika bi. nanti kapan-kapan saya ajak bi Marni sama Pak Didi kesana" Jawab Guntur sambil menurunkan sendoknya. Sedangkan dari tadi pak Didi dan bi Marni menyimak dengan seksama penuturan yang diberikan oleh Guntur. Walau sedikit tidak mengerti.
"Wah jauh sekali dong mas Aga" Kata bi Marni.
"Memang perjalanan bisa memakan waktu lama, tergantung pesawat yang kita ambil. tadi saya berangkat sorean dari New Jersey transit di Amsterdam nah nanti baru dari Amsterdam ke indo" Tambah Guntur.
"Wah begitu to mas, panjang yo mas perjalanannya" Jawab pak Didi sambil memasukkan kerupuk ke dalam mulutnya.
"Iya Pak tubuhnya harus kuat persiapan harus bener-bener mateng, tapi kadang penyakit jet lag tetep aja ikut pa padahal udah persiapan" Jawab Guntur sambil tersenyum.
"oh gitu to mas, Kalau mas Ceko sama mas di sana juga?" Tanya pak Didi lagi, sedang bi Marni hanya bisa menyimak.
"Ngga pak, kalau kakak itu di Vienna. Vienna itu di Eropa, kota Vienna terkenal dengan kota musik makanya kak Ceko lebih milih menetap disana" Jawab Guntur sesaat setelah memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"Pusing kepala saya mas, banyak banget to mas" Kata pak Didi. Sedang Guntur dari tadi hanya tersenyum ramah. Setidaknya ada yang menggantikan pertanyaan dari kedua orang tuanya walau hanya sekedar kepenasaran kedua pembantunya itu. Guntur sudah bahagia.
Tak terasa makan mereka pun selesai dengan diselingi dari pertanyaan pak Didi dan bi Marni tentang New York, Vienna dan juga kabar kakaknya. Ceko.
"Pak Didi sedang apa?" Tanya Guntur yang melihat pak Didi tengah mengelap-ngelap kaca spion mobil.
"Ini mas Aga, gara-gara bocah SMA tadi kaca spionnya jadi begini to mas" Tunjuk pak Didi pada kaca spion yang kini berubah arah. Berputar jadi menghadap pintu mobil.
"Itu tinggal di putar aja pak" Jawab Guntur sambil memutar spion mobilnya. Hingga benar.
"Rusak nanti mas Aga, ini juga nih mas liat" Tunjuk pak Didi lagi kali ini pada goresan panjang tepat di bawah spion mobil.
"Kena stang motor kali pak ini, dibawa kebengkel juga bagus lagi" Jawab Guntur lagi sambil mengusap-ngusap kasar goresan di mobil.
"Pak anter saya ke pemakaman umum ya" Kata Guntur.
"Siap mas Aga mari" Jawab pak Didi.
Mereka berangkat ke pemakaman umum, di tengah jalan Guntur menyempatkan membeli bunga untuk disimpan di sana. Sekitar dua jam setengah mereka sampai di pemakaman.
"Hai Ra" Kata Guntur. Pandangannya jatuh pada batu nisan dengan nama Kiara Dewita.
"Sudah lama ya gua ngga kesini, udah berapa tahun ya ra?" Tanyanya ntah pada siapa.
__ADS_1
"Oh iya, maaf gua sendirian. Gua bahkan ngga tahu kabar dirinya ra" Kata Guntur.
"Semoga lu bahagia di alam sana ra" Final Guntur sambil menyimpan bunga nya disamping bunga yang lain.