
Hujan berjalan dengan santai ke arah meja makan, disana sudah ada sang kakak yang sedang menata makanan hasil masakannya untuk sarapan pagi mereka.
"Ka Juan aku sudah mendapatkan kosan" Kata Hujan sambil menarik kursi makan disana. Juan terdiam kesibukannya yang tengah menata meja makan terhenti.
"Kakak tetep khawatir vier, bagaimana bisa kakak melepaskanmu seorang diri di kosan" Jawab Juan sambil duduk menghadap adik tirinya itu.
"Ka aku sudah besar aku bisa menjaga diriku, apa yang terjadi padaku itu sudah biasa" Jawab Hujan sambil mengambil nasi kemudian menyimpannya kedalam piring makannya.
"Lagian ka, disana aku tidak sendirian dan kakak tahu aku sudah mengenal mereka ka" Tambah hujan sambil menyimpan lauk kedalam piringnya.
"Vier kakak bukannya tidak percaya kamu bisa menjaga diri, hanya saja kakak terlalu khawatir" Jawab Juan dia juga melakukan hal yang sama dengan Hujan. Menyimpan nasi dan juga lauk pauk kedalam piringnya.
"Nanti kakak harus liat sebaik apa pemilik kosan ku" Tambah hujan. Sambil memasukkan sendok penuh nasi kedalam mulutnya. Sedang Juan hanya bisa menghela nafas, coba saja dia tidak ada kerjaan keluar kota mungkin sang adik masih bisa terus bersamanya.
"Yasudah, kakak bisa apa vier" Jawab Juan sendu. Jujur Juan masih belum bisa melepas sang adik dengan penyakit anehnya. Memang sang adik selalu saja melontarkan kata 'ini sudah biasa ka' tapi nyatanya itu sesuatu yang tak biasa dialami manusia normal pada umumnya.
Kurang lebih enam menit mereka menyelesaikan makannya, juan seperti biasa langsung membereskan meja makan sedang hujan mencuci piring bekas makan.
"ka Juan, ini kartu nama baru kah? " Tanya Hujan sambil memperlihatkan kartu nama milik sang kakak. Juan mengangguk, kartu nama itu memang baru saja dia dapatkan. Juan belum sempat menyimpannya.
"Iya, kenapa?" Jawab Juan sambil mengambil minuman dari dalam kulkas.
"Tidak, hanya saja. Kakak tau kan kita hanya sodara tiri? " Tanya hujan pandangannya menyendu sambil melihat kartu nama milik sang kakak,kartu nama itu secara tak langsung sebuah tamparan imajiner bagi hujan kalau dia hanya sebatas adik tiri Juan.
Juan sedikit kaget dia mengira sang adik akan membahas prihal dirinya yang naik jabatan. Tapi tidak, melainkan sebuah nama yang cukup membuat adiknya mengingat status mereka. Juan Kasendra Awangsa
"Iya vier. tapi kamu kan tahu, meskipun tiri kakak tulus dan sayang sama kamu. ada apa kenapa bertanya seperti itu? " Jawab Juan, tanganya menyimpan kembali minuman yang dia ambil kedalam kulkas. memiliki fokus dengan jawaban sang adik. Hujan.
"Ka dulu ayah sempat bilang aku punya kakak kandung, tapi aku tidak tau siapa" Jawab Hujan masih berdiri diposisi yang sama.
"Kamu tanyakan padanya tidak?" Tanya Juan sambil berjalan kearah sang adik kemudian menarik Hujan kedalam pelukannya.
"Waktu itu ayah sempat ingin menunjukan tapi-" Jawab hujan.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, lagi pula ada kakak kan? " Kata Juan, sambil menenangkan sang adik. Tanpa sengaja topik random yang mereka ambil berujung dengan membuka luka lama sang adik.
"Iya ka makasih udah berubah demi vier, hanya saja kenapa aku sulit melupakannya" Kata hujan, sudah lama masalalunya terlewati namun ingatan-ingatan setiap kejadian pahit itu tetap saja terulang kala hujan mengingat orang tuanya.
"Waktu itu ayah sempat ingin menunjukan tapi-" Jawab hujan.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan itu hanya masalalu bukankah kamu sekarang hidup di masa depan, lagi pula ada kakak kan? " Kata Juan, sambil menenangkan sang adik. Tanpa sengaja topik random yang mereka ambil berujung dengan membuka luka lama sang adik.
"Iya ka makasih udah berubah demi vier, hanya saja kenapa aku sulit melupakannya" Kata hujan, sudah lama masalalunya terlewati namun ingatan-ingatan setiap kejadian pahit itu tetap saja terulang kala hujan mengingat orang tuanya.
"Sama-sama vier, katanya mau persiapan buat ke kosan. Ayo kakak bantu" Kata Juan sambil berjalan menaiki tangga kearah kamar Hujan. Hujan mengekorinya di belakang.
"Kak menurut ka Juan apa kakak kandungku masih hidup?" Tanya Hujan sambil membuka pintu kamar miliknya. Juan menggeleng.
"Tidak untuk tidak tau atau tidak untuk tidak hidup?" Tanya hujan memastikan respon sang kakak. Juan.
"Tidak untuk tidak tau Vier" Jawab Juan yang kini sudah mulai berjalan membuka lemari pakaian Hujan.
"Berapa pasang baju yang ingin kamu bawa?" Tanya Juan sambil mengeluarkan beberapa pasang baju dari lemari Hujan. Hujan menggeleng tidak tau karena ini baru pertama kalinya dia kos.
"Menurut ka juan?" Tanya Hujan bingung sambil menatap beberapa pasang baju yang kini menumpuk rapih di atas kasurnya.
"Jangan terlalu banyak kamu kan kos hanya pas kakak pergi aja" Kata Juan. Hujan mengangguk kecil.
"Tapi ka kalau vier betah, lama ya?" Kata Hujan sambil membawa koper ke dekat kakaknya. Juan.
"Kamu ninggalin kakak sendirian?" Tanya Juan sedikit kesal, oh lihatlah bahkan dulu dia rela meninggalkan apapun demi adik tirinya ini dan sekarang adik tirinya akan meninggalkannya hanya demi kata betah. Sungguh?
"Kan biar kakak bebas ditambah vier ngga nyusahin kakak terus menerus" Jawab hujan, tangannya terulur mulai mengepak baju ke dalam koper.
"Biar kak Juan bebas nyari pacar" Tambah Hujan sambil terkekeh, pasalnya kakaknya itu jarang sekali dekat dengan perempuan alasannya selalu saja 'mana keburu siang malam kakak ngurusin kamu doang' bikin hujan kesel dengernya. Usia kakaknya itu sudah matang dan menurut Hujan kakaknya itu sudah pantas jika mulai memikirkan masa depannya sendiri termasuk menikah dan keinginan untuk berkeluarga.
"Masih lama vier" Jawab Juan sambil mengusap lembut surai adiknya.
"Atau jangan-jangan kak Juan suka sama vier lagi" Kata hujan sambil memeluk dirinya sendiri dan spontan menjauh dari jangkauan Juan yang tengah mengusap surainya. Hingga tangan sang kakak menggantung di udara.
"Sembarangan kalau ngomong" Jawab Juan sambil Sesekali Juan tertawa karena ucapan sang adik. Dari mana pikiran melenceng adiknya itu.
"Kan takutnya kak Juan kan deket banget sama vier" Jawab hujan posisinya masih menjauh dari jangkauan Juan.
"Ngaco kamu, ya kakak sayang kamu lah tapi nga lebih. kakak masih normal ya" Jawab Juan menggeleng tak habis pikir sambil tangannya mulai memilih beberapa buku-buku yang kiranya adiknya gunakan nanti di kosan.
Memang dari dulu Juan selalu saja mengutamakan Hujan, Juan selalu memberikan apa yang adiknya itu inginkan. Sekuat tenaga Juan selalu mengabulkan apapun yang Hujan butuhkan. Material dan imaterial semua Juan berikan. Cinta, kasih sayang dan juga pengorbanan. Juan sudah seperti sosok orang tua bagi Hujan.
"Coba vier perempuan vier pasti suka sama kak Juan apasih namanya brothercomplex ya ka?" Tanya Hujan sambil tertawa. Mengingat lontaran kata konyolnya tadi. Dari mana pikiran anehnya tadi yang menyebutkan jika sang kakak- Juan menyukainya.
__ADS_1
"Iya kali, kakak ngga tau" Jawab Juan menggeleng.
"Sudahlah lupakan topik nya terlalu ambigu Vier, mending kamu pilih buku yang akan kamu ambil" Kata Juan sambil mulai mengepak buku-buku kedalam tas baru untuk di bawa bersama koper nantinya. Sedang Hujan dari tadi hanya tertawa. Menertawakan dirinya juga sang kakak.
"Vier pintar ka, ngga usah bawa buku juga jadi" Sombong hujan. Memang Hujan terkenal dengan kepintarannya, laki-laki yang genap berusia 17 itu selalu saja menempati urutan pertama paralel IPA. Padahal Hujan tidak pernah belajar barang sedikitpun bahkan waktunya tersita oleh kegiatan OSIS kalau tidak ada kegiatan OSIS laki-laki yang menjabat sebagai ketua umum OSIS SMANMAN itu lebih memilih menjelahi alam mimpi dari pada menyibukkan dirinya belajar. Tidur.
"Sombong sekali adikku ini" Kata Juan sambil melempar buku paket kearah sang adik yang sedang menyombongkan dirinya.
"Sakit ka, ini buku paket tebal lo" Jawab Hujan, Juan hanya menggeleng.
"Yang bilang tipis siapa" Jawab Juan, percuma saja dia bertanya kepada adiknya itu. Dia kemudian memilih kembali buku-buku yang sekiranya adiknya itu butuhkan nantinya. Karena sang adik tidak akan mungkin bisa dia andalkan, bisa dipastikan adiknya itu hanya akan membawa baju saja ketika berangkat ke kos.
"Besar sekali itu apa ka isinya? Buku apa saja yang kak Juan masukan?" Tanya Hujan sambil membuka kembali tas yang sudah rapih kakaknya bereskan tadi.
"Yang kamu butuhkan, heh jangan di keluarin lagi" Kata Juan sambil manarik tas berisi beberapa buku milik Hujan. Karena adiknya itu malah akan mengeluarkan buku-buku yang sudah kakaknya bereskan.
Sekitar setengah jaman mereka selesai mengepak baju dan juga beberapa barang yang di butuhkan Hujan. Hingga suara bel pintu rumah cukup membuat mereka terdiam, beberapa saat kemudian mereka beranjak kebawah bersama.
"Siapa ka?" Tanya Hujan, sedang Juan kini tengah melihat intercom. Melihat siapa yang bertamu.
"Prajurit kamu tuh" Jawab Juan sambil membuka pintu rumah, terpampang lah teman-teman hujan yang berbaris rapih sambil tersenyum ke arah Juan.
"Selamat siang kakak ipar" Kata Gilang selaku si pemijit bel tadi. Juan tersenyum, menggaruk kepalanya tak gatal kemudian membuka pintu lebih lebar agar semua teman adiknya itu bisa masuk kedalam rumah.
"Heh kakak ipar lagi, gua malas sodaraan sama lu ya lang" Semprot hujan. Pasalnya Gilang selalu saja ingin menjodohkan kakaknya kedapa Juan. Sedang Hujan tidak setuju dia dari pada menjodohkan Juan dengan kakaknya Gilang mending dengan kakaknya Radika. Alasannya hanya Hujan dan Tuhan yang tahu.
"Serbuk jasjus kaya gua bisa apa" Jawab Gilang.
"Serbuk jasjus lawan Starbucks ya jauh" Tambah Gilang lagi.
"Udah duduk kalian, ini saya bawakan minum dan juga cemilan untuk kalian" Kata Juan yang kembali dari dapur dengan setoples kue dan juga beberapa ciki-cikian kesukaan hujan juga air minum dingin dan sebotol teh gelas.
"Tuh makan" Kata Hujan.
"Tum katanya minta bantuin ngepak barang?" Tanya Radika sesaat setelah meminum air putih yang di suguhkan Juan. Sedang Harsal duduk disampingnya masih fokus dengan gamenya yang sesekali di ganggu oleh tangan usil Gilang.
"Diam pak dadang" Kata Harsal kesal karena terus saja diganggu oleh Gilang.
"Udah rad, tadi sama kak Juan ya kan kak?" Kata Hujan sambil beralih menatap sang kakak yang kini berdiri di samping Hujan. Juan mengangguk.
"Kalian kalau mau main-main aja, ngepak barang soalnya sudah selesai. Sana ke kamar javier" Jawab Juan.
"Oh iya, gua dapet chat dari temen orang yang dulu nolongin gua, bentar gua lupa namanya---" Kata hujan sambil membuka ponselnya mencari nama orang yang tadi malam mengiriminya pesan dengan tiba-tiba.
"Anggara, dia bilang temannya butuh kosan juga tapi masih di rumah sakit belum sembuh katanya" Jawab Hujan sambil menunjukkan chat dari orang bernama anggara temen orang yang menolongnya dulu.
"Yaudah rekomendasiin aja tuh kosannya mas aga" Jawab Gilang yang langsung diangguki yusril juga radika sedang Harsal sudahlah dia mempunyai dunianya sendiri.
"Eh dari pakaian seragamnya kaya anak Gardapati masa" Kata Hujan.
"SMA Gardapati?" Tanya yusril memastikan.
"Iya, SMA Gardapati yang terkenal muridnya badung semua" Jawab Hujan.
"Yaudah lu kasih tau aja kosan di mas aga kosong" Kata Radika sambil membuka toples kue kering.
"Eh bukannya anak Gardapati itu anak yang pernah tawuran sama lu yah ril?" Tanya Gilang. Yusril mengangguk.
"Iya dulu, sekarang gua udah pengsiun tawuran" Jawab Yusril tangannya meraih kue kaleng yang disediakan oleh Juan tadi.
"Tapi, gua kan ngga kenal sama temannya nih gua malah dikirim kontak mana banyak banget lagi" Jawab Hujan sambil menunjukkan kembali kontak-kontak yang dikirim anggara.
"Ngga kelihatan tum, jauh" Jawab Radika yang dari tadi sudah memicingkan matanya penasaran dengan apa yang ditunjukkan Hujan.
"Ngomong dong dari tadi kanjeng" Jawab Hujan.
"Nih nama kontaknya tuh, aneh-aneh 'Raja,Mentri, Gajah,banteng,kuda' buset ini nama kontak apa nama bidak catur" Kata hujan. Sedang ketiga temannya hanya diam mereka bahkan menghentikan kunyahan nya.
"Benteng bukannya banteng tum" Koreksi Radika.
"Itu maksud gua" Kata hujan.
"Ada display namenya tum" Kata Harsal, membuat keempat bahkan kelima orang disana diam. Pasalnya dari tadi laki-laki yang menjabat sebagai ketua dua itu sibuk dengan dunianya, main game. Tapi ternyata gosip tentang dirinya yang pintar itu benar adanya. Dia masih bisa konsen dan bisa membagi pikirannya dua cabang. Buktinya dia masih bisa berpikir walau sedang bermain sekalipun. Hujan mengangguk kemudian membuka satu persatu display namenya setelah mengesavrnya terlebih dulu.
"Buset foto profilnya---- rambutnya warna warni kek lampu merah" Kata hujan sambil menunjukkan lagi foto profil yang dia maksud, yang sialnya ketiga temannya tidak dapat melihatnya dengan begitu jelas. Sedang Juan yang masih berdiri disamping adiknya hanya menggeleng.
'Salah apa saya punya adik macaman Javier'-batin Juan.
"Nih nama-namanya Arva, Askala, Devano, Badai, Heru" Kata Hujan. Sedang teman-teman nya masih terdiam.
__ADS_1
"Kalau di pikir ya tum, buat apa sih lu kepo? tadi kalian keponya kenapa? " Tanya Harsal sambil menyudahi main game ponselnya dia simpan di meja depannya, kemudian beralih memakan kue kaleng yang sedang di makan Gilang dan yusril.
"Lah sal gua juga ngga tau tiba-tiba orang yang bernama anggara ngirim kontak seRT gini" Jawab Hujan.
"bilang aja tum, tinggal datang ke kosannya Mas aga" Kata Radika. Yang diangguki oleh yang lain.
"Mending kalian ke kamar Javier gih, biar kalian enak duduknya ngga dempet-dempetan sama pangku-pangkuan" Kata Juan yang dari tadi menahan tawa agar tidak menggelegar melihat teman-teman adiknya itu.
"Yaudah ayo" Kata Hujan sambil berjalan terlebih dulu ke kamarnya.
Sedang teman-temannya masih di ruang tamu, saling tatap kemudian tersenyum jenaka menertawakan posisi masing-masing.
"Hehe iya ka, permisi ka Juan kita duluan" Kata Yusril sambil beranjak diikuti yang lainnya.
Dikamar Hujan kini tengah mencari remot AC mengatur suhu ruangan agar tidak berebut oksigen di dalam.
"Tum kakaklu makin ganteng ya makin tua, beneran nih jodohin lah sama kakak gua kak Bela kan cantik" Kata Gilang yang kekeuh ingin menjodohkan kakak mereka.
"Gua ngga mau iparan sama serbuk pohon toge" Jawab Hujan sambil menyimpan remot AC di meja belajarnya.
"Pohon toge sama pohon jati apalah daya" Kata Gilang melas.
"Tadi serbuk jasju sama Starbucks, sekarang pohon toge sama pohon jati besok besok apa lagi yang luibaratin lang. Jomplang bener" Kata Yusril sambil duduk bersila di kasur hujan. Sedang Harsal kini tengah tiduran di karpet bulu milik Hujan di bawah mulai fokus kembali dengan game di ponselnya.
"Permisi, menganggu vier ini makanannya kakak simpan di meja belajar ya" Kata Juan yang datang dengan beberapa cemilan dan juga minuman botol. Hujan mengangguk.
"Lu masih suka ngirim podcast horor tum?" Tanya Radika ketika melihat beberapa alat-alat podcast milik hujan di samping meja belajarnya. Mulai dari sound audio, mik, dan beberapa buku-buku horor yang menumpuk. Hujan mengangguk.
"Eh ada yang nambahin gua ke grup" Kata Hujan antusias. Membuat keempat temannya menoleh bersamaan.
"Siapa tum? " Kata Radika, tangannya kembali meraih kue kering yang tadi dia makan di ruang tamu Hujan.
Mereka terdiam menunggu hujan menjawab, karena hujan tak kunjung menjawab nampaknya dia masih sedikit bingung dengan isi pesan grupnya mungkin.
"Bentar lagi dapet chiken dinner gua" Seperti biasa Harsal selalu berseru dalam keheningan membuat semuanya melempar pandang pada laki-laki yang menjabat ketua OSIS dua itu. Sedang Harsal yang di tatap seperti itu hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
"Oh ini yang nambahin gua mas aga" Kata Hujan sambil memperlihatkan nama grupnya.
"Ada berapa emang agggotanya tum?" Tanya gilang yang kini mulai membuka ciki-cikian dengan cara di pukul hingga bersuara yang membuat Yusril kaget dan tak sengaja memuncratkan air minumnya ke arah Harsal.
"YUSRIL, emang gara-gara lu ya pak dadang muka gua kuyup gara-gara di sembur Yusril" Kata Harsal tak Terima karena mukanya kini kuyup kena semburan mulut Yusril tadi. Harsal sampai bangun dari acara tiduran nya karena kaget. Hujan tertawa tak henti melihat Harsal yang kuyup akibat Yusril. Sedang radika hanya menggeleng tak habis pikir dengan ketiga temenennya itu.
'Besok-besok gua minta ganti teman aja bisa?'-batin Radika.
"Empat. Gua, kak irawan, bang Alkana sama mas aga" Jawab Hujan setelah berhenti dari tawanya.
"Dibedain ya, kak, bang sama mas padahal artinya sama semua" Kata Yusril. Hujan mengangguk.
"Soalnya biar ngga bingung gitu" Jawab Hujan.
"Display name si kakak judes Topan, terus ini gempa siapa ya?"tanya Hujan pada keempat temannya.
"Ada fotonya tum" Kata Radika. Hujan menggeleng.
"Fotonya kosong" Jawab Hujan.
"Yang nambahin gua itu display namenya guntur dia pasti mas aga, berarti yang Gempa bang alkana ya?" Tanya hujan lagi, sedang ketiga temannya hanya bisa cengo. Bingung mau menggeleng mau mengangguk. Dia bertanya dan dia menjawabnya sendiri.
"Wih Guntur, Hujan, Gempa, Topan. Pertama Guntur dulu terus turun Hujan abis itu ada gempa muncullah topan yang siap mensapu bersih dunia" Kata Harsal dengan pikiran ajaibnya.
"Lah iya tum" Kata Gilang dan Yusril bersamaan sedang Radika dia masih diam.
"Iya lu kan display namenya Hujan" Kata Radika akhirnya setelah lama terdiam.
"Iya juga, wah Bang Alkana baik banget beda banget sama si judes" Kata Hujan yang tak peduli dengan pikiran ajaib semua temannya. Kalau dipikir memang iya sih ntah kebetulan atau tidak nama mereka hampir sama semua. Bencana.
"Udah mulai masuk emang mereka ke grup?" Tanya Radika. Hujan mengangguk kemudian memperlihatkan isi grup chatnya kepada Radika.
"Dilihat dari jaket Univ nya kak irawan kayanya dia anak UNRA" Kata Radika.
"UNRA?" Jawab Hujan bingung.
" Universitas Ranajaya itu lo yang terkenal itu tum" Jawab Radika, hujan mengangguk kemudian berseru setelahnya.
"Wah keren juga sikakak judes ini" Kata Hujan.
"Tum main ps ya kita" Kata Gilang yang langsung diangguki oleh Hujan.
Gilang dan Yusril fokus bermain ps, Harsal kembali sibuk dengan dunia gamenya sedang Radika memilih memejamkan mata sejenak dan hujan kini tengah berkirim pesan dengan anggara dan juga sesekali membalas grup barunya.
__ADS_1