
Sudah hampir satu jam guntur habiskan, kerongkongannyapun terasa kering, dia tengah memaparkan sebuah grafik pemasukan dan pengeluaran kencana kafe dari tahun ke tahun yang semakin turun drastis hingga siapa saja yang akan berkerja sama dengan kencana kafe untuk kedepannya, berbeda dengan rapat sebelumnya yang terkesan santai rupanya aura kepemimpinan dari sibungsu keluarga bagaskar dapat membuat suasana berubah total-lebih kondusif.
"Oke pemaparan saya cukup sekian, ada yang ingin ditanyakan" pungkas guntur.
“Pak” Mahesa mengacungkan tangannya membuat atensi semua anggota rapat terarah kepadanya. Guntur mengangguk, tangannya mengisyaratkan agar Mahesa mengutarakan niatnya mengacungkan tangan.
“saya mau bertanya, kita tidak punya divisi marketing. Apa nanti akan dibuat atau bagaimana pak?”tanya Mahesa yang sebenarnya menjadi perwakilan pertanyaan dari seluruh isi kepala anggota rapat kini. Boro-boro divisi marketing mereka itu seakan multistasking apa ana di kerjain belum jelas divisinya. Acak-acakan.
"Itu sudah saya bicarakan dengan laka, nanti biar laka yang membagi tugas untuk kalian ya strukturnya sudah saya bagi-bagi" jawab Guntur. Silahkan ada lagi.
“ untuk aplikasi mobile pak? Apa tidak mendadak maksud saya itu terkesan dadakan, dan juga untuk budget kita sama sekali tidak punya badgetnya pak" pertanyaan ini keluar dari Regal yang sedari tadi mengacungkan tangan.
"Untuk budget saya sudah menyiapkan proposal untuk pengajuan biaya pembantuan ke Head Office jadi tidak masalah lagi pula itu menjadi rencana kita selanjutnya untuk sekarang kota fokus pembenahan di struktur kafe" jawab Guntur dengan tenang dia seakan sudah bisa menerka semua pertanyaan yang peserta rapat ajukan. Mahesa mengangguk paham.
"Oh iya pak terus kalau banner sama brosur yang kemarin itu gimana pak?"
Tanya pianka. Guntur terdiam sesaat memgambil gelas minumnya kemudian berujar
"Untuk brosur dan banner besok mulai di tempel dan dibagikan ya nanti untuk siapa-siapa nya sudah ada di laka" jawab guntur.
"Emang siapa aja bang?" Tanya Mahesa kearah laka.
"Nanti di dapur gua jelasin" jawab laka.
"Oh iya untuk aplikasi yang akan di ajukan kamu sudah buat sampe mana laska?" Tanya Guntur.
"Hampir 60 persen pak" jawab Laska, memang tidak salah Guntur mengandalkan laska, IQ tingginya bisa guntur manfaatkan untuk mempelajari pembuatan aplikasi walaupun masih kasar.
"Nanti kalau bagus saya ajukan ke HO"
Laska hanya mengacungkan jempol tanganya tanda setuju.
“pak jadi bakal ada perombakan dong untuk semuanya?” tanya Juna mencoba mengutarakan apa yang ada di pikirannya, dia satu-satu barista yang menjadi perwakilan mengikuti rapat. Guntur kembali mengangguk sambil berujar
"Betul, bakal ada perombakan dan pengecatan ulang nantinya simtem kafe pun akan saya ubah" jawab guntur.
"Menurut bapak sendiri apa mungkin bisa tembus, budget gede banyak biaya yang kita butuhkan itu ngga mudah pak bahkan jauh sebelum bapak Rayga sendiri sudah mencobanya dan selalu gagal" kali ini Arnata yang sedari tadi tak melepas atensi dari Guntur.
"Jangan salah Arnata Pak Rayga ini anak bungsu bagaskar grup betul kan pak" jawab Regal, arnata terlihat sedikit kaget. Sedang Guntur hanya tersenyum.
"Saya pastikan disetujui, ada lagi?" jawab guntur yakin. Dirasa sudah tidak pertanyaan lagi guntur mengakhiri rapatnya.
"Terima kasih sudah datang ke rapat sore ini silahkan kalian boleh kembali lagi melanjutkan pekerjaan kalian" pungkas Guntur.
"Oh iya Laka dan Laska kalian masih tetap disini ya ada sedikit yang ingin saya bicarakan untuk sisanya silahkan meninggalkan meja rapat" tambahnya. satu persatu anggota rapat mulai meninggalkan tempat duduknya, dan kini tersisa Laka dan juga Laska.
"Anda yakin ini akan berjalan lancar pak" tanya laka ragu benar kata Arnata budget yang dibutuhkan untuk merombak kafe sangatlah besar.
"Mengenai aplikasi yg anda berikan ke saya contohnya it sangat rumit dan tidak memungkinkan untuk jadi di waktu dekat ini" kata laska sambil menoleh kearah Guntur.
"Saya yakin, saya akan merombak semuanya kita akan buat kafe kencana dengan suasana yang baru" jawab Guntur dengan yakin. Walau jauh di lubuk hatinya gunturpun merasa tak yakin. Orang penyakitan kaya guntur yang harusnya mendapatkan rehabilitasi malah diberikan tanggung jawab sebesar ini.
Sedang disebuah tempat badai tengah terduduk di atas motornya kedua jarinya mengapit rokok yang sesekali dia hisap. Anak tunggal keluarga Andraka ini tengah mengikuti sebuah balapan liar yang biasa anak Ares ikuti. Melempar rokoknya sembarang badai mulai melangkah kearena.
Suara teriakan dan juga sorakan yang memekakan telinga dari setiap orang mulai mengisi Arena balapan, dua motor yang sedang melakukan kocok gas membuat atmospher disana menegangkan hingga bendera yang diangkat keudara oleh perempuan yang memakai pakaian kurang bahan menandakan bahwa balapan akan dimulai.
Disisilain Hujan baru saja selesai dari rapat panjangnya yang membahas tentang esktrakulikuler baru yang berbarengan dengan penerimaan siswa baru Mandala. Saking alotnya rapat yang dipimpin oleh kepala sekolahnya dia sampai tak sadar dengan waktu yang sudah menunjukan pukul delapan malam, gilang bahkan menawarkan tumpangan nginep gratis dirumahnya yang tentu saja langsung di tolak Hujan. Ketika hendak pulang tiba-tiba dia ingin membeli cilor, keinginan randomnya itu bersamaan dengan sebuah notifikasi masuk dari Topan.
"Cilor" gumamnya. Iya Topan mengajak Hujan untuk membeli cilor kapan-kapan. Pandanganya dia arahkan ketukang cilor yang biasa mangkal di depan mandala dan kosong.
"Ck udah pulang kali tukang cilornya" gumam hujan. Tapi ntah kenapa keinginan randomnya itu seakan sama seperti wanita hamil yang tengah ngidam.
Iya Hujan ngidam cilor, membuka hpnya kemudian dia mencari dimaps tukang cilor yang masih buka?
__ADS_1
"Jauh bener" gumamnya. Namun dia tetap mengikuti sesuai mapsnya berada, tanpa terasa karena berputar-putar mencari cilor yang ngga jelas dimana itu waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam.
"Gila gua nyari cilor sampe tiga jaman?" Gumamnya tatkala dia kembali berhenti untuk mengecek mapsnya. Sambil kembali bergumam.
"Oh dikit lagi" sekitar lima menit Hujan sampe di tempat yang di maksud maps "tukang cilor" namun didepannya bukanlah tukang cilor melainkan sebuah arena balapan liar. Hujan menganga hebat seraca bergantian melihat maps di hpnya dan juga sirkuit balapan di depannya juga meyakinkan suara ponsel hujan yang berbunyi "lokasi anda berada di sebelah kiri" bagaimana bisa di sebelah kiri mana? bukannya disini ada yang jualan cilor ya, pikirnya kenapa malah jadi sirkuit balap terus tukang cilor yang dimaksud di maps ini dimana? Pikir Hujan. Detak jatungnya tak beraturan apalagi ketika melihat kumpulan anak geng motor di arena. Hujan memelankan motornya supaya mereka tidak sadar dengan keberadaannya apalagi dirinya masih memakai pakaian seragam dengan pin osisnya. Mampus kalau ketahuan bisa hancur lebur dia tak tersisa. Berlebihan mungkin tapi iya Hujan setakut itu. Namun ketika hendak mendorong motornya menjauh tanpa sengaja dia melihat teman badai.
"Arva kan itu ya" gumam hujan. Terkutuklah jiwa penasaran anak Adinata itu. Dia mengikuti kemana perginya teman badai, sedikit menyesali sebenarnya karena kini di depannya banyak anak motor selain itu bau asap rokok dan alkohol yang beradu dapat mengganggu penciuman dan membuat sesak paru, hingga padangannya jatuh kepada remaja yang kini tengah memacu motornya di lapangan
"Kalen" gumam hujan sampai dia tak menyadari ada seseorang juga yang melihat kearahnya.
"Woy"
"Mampus ketauan gua kudu lari" katanya sambil berlari dan bersembunyi di semak-semak untung malam jadi dia tidak begitu jelas. Dirasa sudah aman Hujan langsung menghubungi Topan dia berjalan kesana kemari dengan gelisah masih di pinggir sirkuit namun sedikit jauh dari balapan. digenggamannya sebuah ponsel hitam yang masih dalam panggilan, atensinya tak lepas dari Badai yang tengah memacukan motornya diarena. Hujan terus mendial nomor Topan sambil bergumam.
“angkat A angkat” gumamnya karena Topan tak kunjung mengangkat panggilannya.
Sedang Badai kini tengah balapan, laki-laki itu sesekali melihat spion motornya dan tersenyum mengejek tak kala melihat musuhnya tertinggal jauh, Sirkuit Laksar memang sudah biasa bagi badai tak heran jika dirinya selalu saja menang dan menorehkan rasa benci yang membekas pada musuhnya. Sirkuit Laskar termasuk sirkuit temporer dimana sirkuit yang diubah dari jalanan yang di gunakan untuk arena balap, jadi kala siang hari itu hanya jalanan umum biasa.
Tadi ketika Badai baru saja sampai ditempat tujuan remaja itu sudah disuguhi Anggara, Heru dan Juga Askala yang babak belur akibat berkelahi dengan musuh, Badai dengan cepat berlari melepas helm bogonya sambil berjalan kearah anggara dan temen-temannya. Badai tidak tahu apa yang melatarbelakangi perkelahian mereka karena hampir setiap malam laki-laki andraka itu sering mengikuti tawuran antar geng yang tidak jelas latar belakngnya. Pandanganya jatuh pada Gardian yang sudah terkulai lemas di sanggah oleh Arva yang juga tak kalah parahnya. Tanpa ba bi bu Badai langsung menyetujui ajakan dari musuhnya yaitu bertanding di Laskar.
“sial” gumam badai ketika dia merasakan dirinya tidak dapat mengendalikan motornya. Badai melupakan fakta bahwa musuhnya itu tidak pernah bermain ‘bersih’. Seharusnya tadi badai tau dan jauh lebih hati-hati dengan tawaran musuhnya.
“ini sama aja gua kaya setorin jiwa sama malaikat pencabut nyawa” gumam Badai sedikit was-was karena dia lupa, motor yang dia pake bukanlah motor matic andalannya melainkan motor ninja milik musuhnya.
Beruntungnya sirkuit laskar bisa dibilang kandang untuk badai, jadi setidaknya musuhnya itu tidak
dengan mudah mengalahkan badai ketika dikandang, Tersenyum mengejek kearah musuhnya. Badai kembali menarik gasnya. Tanpa peduli dengan lambaian malaikat pencabut nyawa yang sudah siap di hadapannya, dirinya malah melakukan speed trap yang membuat semua penonton bersorak, rupanya itu berhasil membuat lawannya sedikit gentar dengan kelakuan diluar nalarnya, kematian sudah didepan mata tanpa peduli Badai masih bisa membuat semua orang bersorak. satu kata buat badai Gila.
Orang macam apa disaat motornya oleng malah melakukan speed trap.
“dia salah nantangin gua” gumamnya.
Sedang dari tadi Hujan terus mengumpati Topan dan Gempa karena Topan tak kunjung mengangkat panggilannya, Hujan menghubungi Gempa namun keduanya nihil tak ada jawaban hingga di panggilan ke dua puluh sembilan Topan mengangkatnya.
[calling]
“APA SIH GANG---“
“BANG EH A ITU ANU--TUKANG CILOR-- EH SALAH KALEN BALAPAN”
“serius Vier, tukang cilor kenapa? Balapan?”
“gua serius a buka chat dari gua, gua sekarang di arena kalen balapan bukan tukang cilor, a —“
“lima belas menit, sharlok ya”
Hujan sedikit bernafas lega ketika dia mendengar Topan akan menyusulnya, Hujan tau dan sadar dirinya dan Badai bukanlah siapa-siapa dan mereka jelas tak berhubungan darah namun ntah kenapa rasa khawatir yang cukup besar membuatnya sesak tertahan melihat badai di arena balap.
Hujan tau badai memanglah anak badung namun dia tidak menerka Badai sampai balapan dengan anak geng motor. Diam-diam Hujan mengharapkan kasih sayang Tuhan untuk badai, agar badai dapat kembali dengan selamat.
“emang ngga ngotak si kalen, bukannya mikir dulu tadi”
"Udah ian dia lagi ngebela lu"
"Tapi gua juga ngga mau ngorbanin dia Askala"
"Kita berdoa aja semoga kalen baik-baik aja, meskipun jarang beribadah tapi gua yakin Tuhan sayang sama makhluk bentukan kaya kalen"
"Aamiin",
Percakapan yang berhasil Hujan tangkap dari balik semak-semak persembunyiannya. Hujan tak melepas atensi dari perkumpulan teman-teman badai hingga salah satu dari mereka mengenali Hujan.
"Lu bukannya si ketua umum Mandala ya?" Hujan terkesiap kaget menoleh kebelakangnya hingga pandanganya beradu dengan remaja seusianya dengan luka yang sedikit mengering di bagian pipi.
__ADS_1
"Lu siapa? Kenal gua" tanya Hujan memberanikan diri. Remaja itu mengangguk mengulurkan tanganya.
"Gua anggara temennya kalen" Hujan mengangguk kemudian anggara mengajak Hujan bergabung kearah teman-teman badai yang lain. Walau ragu hujan pun tetap mengikuti teman badai. Anggara.
Sedang di sirkuit kecepatan motor Badai menurun karena sempat sulit mengendalikan motornya tadi konsentrasi Badai sedikit terganggu karena teriakan orang di pinggir lapang, Hujan.
'ngga mungkin Hujan datengkan? ' batinnya.
Itu dijadikan kesempatan oleh musuhnya untuk mengejarnya dan menendang bagian pinggir motornya membuatnya oleng ke pinggir dan hampir keluar dari Arena. Hingga badai mendengar teriakan Hujan untuk kedua kalinya.
“ telinga gua kenapa sih, ini lagi motor rongsokan” katanya terus disambung dengan umpatan-umpatan sambil mencoba mengendalikan motor, fokusnya masih terus tak lepas dari simusuh.
Kaki kiri badai kembali menginjak tuas kuplingnya untuk melakukan oper gigi karena didepannya ada tikungan dan siap menurunkan kakinya, setelah itu langsung tarik gas di awal tikungan menambah laju motornya kembali menyusul lawannya.
Saat jaraknya sudah dekat dengan motor musuhnya, Badai sengaja menempelkan motornya untuk mengganggu konsetrasi musuhnya.
Hingga Badai kini berhasil mendahului musuhnya kembali memimpin balapan, sorakan pun semakin ramai.
dirinya kembali tersenyum mengejek menunjukkan kepada musuhnya kalau apa yang dilakukan musuhnya itu tidak membuatnya takut apalagi gentar. Sesekali Badai memperhatikan si musuh lewat spion motornya takutnya dia kecolongan kembali seperti tadi untung dirinya bisa mengendalikan motornya kalau tidak, mungkin badai sudah tersungkur keluar dari sirkuit dijemput yang maha kuasa.
Sedang kini Hujan tengah menatap heran Topan dan juga Gempa, karena keduanya itu datang dengan sangat berantakan, Topan yang datang dengan helm full facenya dan gempa yang datang dengan helm hijau khas ojek online.
“lu kesini naik motor bang a?” tanya Hujan bergantian ketika melihat keduanya datang bersamaan. Topan mengangguk masih belum melepas helm full faceny.
“kaga, naik mobil” jawab Gempa kepalanya celingak celinguk melihat ke arah arena melihat dua motor yang sedang kejar-kejaran.
"Itu kalen?" Tanya gempa. Hujan mengangguk.
"Keren juga" kata Topan. Yang berhasil mendapatkan geplakan di helm dari hujan.
“bang lu naik mobil pake helm?” tanya Topan sambil membuka kaca helm full facenya. Sedang Hujan dia tak melepas pandang dari arena berharap badai cepat telihat dari kajauhan.
“ngga lah wan, tadi lagi macet dapet chat dari Javier karena kaget langsung keluar mobilnya gua tinggalin tadi tau dimana" jawab Gempa membuat Topan kaget.mobil mahal di tinggal? dia motornya parkir aja masih dia perhatikan lah ini mobil mahal di tinggal. Topan menggeleng tak habis pikir. Iya Topam tahu mungkin Gempa tengah kalut. Tapi ngga ninggalin mobill sembarangan juga.
“bang seriusan terus--” perkataan Topan terpotong akibat tepukan dipundaknya membuatnya berbalik dan mengernyit ketika menemukan bapak-bapak berjaket ojek online.
“apa”tanya Topan bingung,
'dari mana asal bapak ini' pikir Topan, ko di sirkuit balap ada bapak2 ojol yang seharusnya dilarang masuk.
“maaf helmnya mas itu masih dipake” kata bapak itu sambil menunjuk Gempa yang sedari tadi memusatkan atensinya kepada Badai.
'Oalah gusti' pikir Topan.
“bang, itu helm orang balikin” kata Topan menepuk pundak Gempa guna mengalihkan atensinya.
“eh lu ko bisa tau, Kalen balapan?” tanya Gempa kearah Hujan mengabaikan pertanyaan Topan disampingny. Pandanganya bergantian antara Gempa dan bapak-bapak itu yang diyakini ojek online masih ada di tempatnya. Kedua kalinya Topan menepuk pundak Gempa.
“HELM BANG ALKANA” teriak Topan membuat Gempa dan juga orang yang berdiri di sampingnya menoleh. Gempa yang baru saja sadar dengan helm yang masih dia pakai langsung melepaskannya dan memberikan helm itu kepada Topan.
“WOY JANGAN CURANG” teriak Gempa ketika melihat motor badai dari kejauhan kembali oleng akibat ulah musuhnya membuat Topan kaget dan hampir saja melemparkan helm milik tukang ojek tadi.
"bang ko bisa kesini sama ojol?" tanya Hujan yang heran, Topan pun ikut penasaran dengan jawaban gempa, karena demi sarung kotak milik Raden tadi aja topan hampir ngga sampai alias tamat di hadang geng motor untng aja helmnya kuat dan di tolong yang katanya temen badai.
"bisa dong, pake duit gua kasih aja duit ya ojek online gua jalan lah gampang kan ngga usah pake tenaga" jawab Gempa enteng. Hujan dan Topan mengerjap saling memandang satu sama lain kemudian terdiam.
"WOY KALEN TUH MENANG" teriakan Gempa cukup membuat Hujan dan Topan log out dari keterdiamannya.
Dari kejauhan motor badai sudah terlihat sorakan dari penonton menambah riuh pekak malam, Hujan dapat bernafas lega bukan hanya Hujan melainkan Topan, dan Gempa pun sama, ketika motor yang di kendarai badai menginjak garis finish semua anak ares langsung turun kelapangan merayakan kemenangan Badai meninggalkan Hujan, Gempa dan Topan yang berdiri kaku setelah semua pasang mata menyadari keberadaan mereka.
"HUJAN, BANG ALKANA, A---IRAWAN" teriak Badai. Ketiganya langsung menoleh bersamaan kearah badai. Dia kurang mengenali lelaki yang memakai helm full face yang sama dengan dirinya. Tapi dia yakin kalau itu Topan.
"Kalian ngapain disini?" Tanya badai yang heran bercampur kaget melihat keberadaan ketiga temen kosannya. dia berjalan menghampiri ketiganya sambil melempar helm fullfacenya.
__ADS_1
Baru saja hendak bertanya bagaimana bisa mereka sampai disini, namun suara gaduh dari mobil yang ntah punya siapa membuat atensi semuanya teralihkan. terutama Badai.
"MAS RAYGA" teriak Badai.