Best Seller Man

Best Seller Man
arus pikiran yang tersesat


__ADS_3

sebuah motor ninja Hijau baru saja memasuki universitas Ranajaya kedatangannya mampu menarik atensi semua mahasiswa disana terutama perempuan. Dia Topan. Rupanya Laki-laki Dirgantara itu mengendarai motor tanpa helm bagaimana tidak rambut hitam legam yang tersibak anginpun ntah kenapa malah terlihat tersisir rapih di mata perempuan disana ditambah kaos hitam tanpa bedahan dan juga blazer yang asal tersampir di pundak menambah kesan tampan bukannya urakan.


kabar yang katanya Topan bakal di angkat menjadi mentri Bem Universitas pun menyebar layaknya virus seakan tanpa perantara, membuat nama Topan semakin melambung tinggi, apalagi dengan paras yang rupawan semua mahasiswa sudah bisa menerka bungsu dirgantara itu bakal menempati posisi mentri tanpa harus ikut cape orasi sana sini. Bahkan tawaran mengisi radio kampus dan juga acara kampus pun membludak namun tak ada tanggapan atau penyetujuan dari mulut bungsu dirgantara itu, Topan seakan malas jika menyangkut pemira ataupun pembahsan yang membawa dirinya pada dua partai yang lagi hangat diperbincangkan, Biru dan Jafar.


Lain pemikiran mahasiswa, lain lagi pemikiran Topan.


Selama berjalan kearah kelasnya otak Topan terus memutar pada kejadian kemarin tatkala Gempa yang di bawa oleh bapak-bapak komplek dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Luka sana sini dan dalam kondisi yang tak sadarkan diri. Sekelebat ingatan tentang percakapannya dengan Hujan dan Badai pagi kemarin membuatnya berpikir ulang tentang hipotesa tak berdasar yang tak sengaja Hujan lontarkan hingga satu kata di otaknya dapat membuat laki-laki Dirgantara itu tidak dapat berfikir logis kembali. Ngepet.


Ini prihal pagi yang selalu menjadi saksi Gempa hilang di tempat tidur dan selalu di temukan di luar rumah. Anehnya gempa selalu menjawab dengan kooperatif kalau dia pergi mencari makan. dari sekian banyaknya alibi yang gempa selalu lontarkan adalah pergi mencari makan.


"mencari makan ya" lirihnya. Tangannya merogoh tasnya mengeluarkan kaleng soda darisana.


Topan yang awalnya ingin memilih abaipun hilang kendali hanya karena kecurigaaannya tentang ngepet, apalagi ketika dia teringat isi chat grup Bemnya tentang Degas yang membahas Babi ngepet di kompleknya.


"masa sih bang Alkana ngepet jauh banget sampe ke kompleknya Degas" gumamnya, satu tegukan berhasil dia loloskan.


"sampah banget pagi-pagi otak gua, yakali keluarga Naraya kaya hasil ngepet", lirih Topan, rupanya dia masih bisa berpikir logis tidak menelan bulat-bulat pembicaraan Hujan dan Badai walau bukti terdorong nyata tapi Topan masih menyangkalnya.


"ngga lucu tiba-tiba gua masuk koran karena temen kosan gua babi ngepet" ucapnya lirih bersamaan dengan langkahnya yang terus dia rajut seraya tanganya tak henti meneguk soda yang berhasil dia habiskan setengah kaleng sekaligus. Terlalu terbawa arus pikirannya sendiri membuat Topan tak sadar jika kelasnya sudah terlewat cukup jauh.


hingga sebuah tepukan di pundaknya berhasil meloloskan soda yang harusnya sampe di kerongkongan muncrat sekaligus keluar.


"bikin kaget lu ah" kesal Topan sambil terbatuk-batuk karena tersedak soda yang sebagian masuk ke hidungnya. Perih.


"lu mau kemana wan?" tanya Raden ngosngosan karena berlari mengejar Topan seraya mengelap wajahnya yang terciprat soda dari mulut Topan hampir aja dia mengumpat karena ulah Topan, tapi beruntung agama yang di tanamkan keluarga Raden berhasil meredam amarah dan kekesalan akibat semburan soda pagi-pagi.


"kelas lah" jawab Topan sambil menyeka soda dengan punggung tanganya.


"kelas lu--- hah---udah kelewat masalahnya--- SAPI"jawab Raden kesal sambil menunjuk kelas yang dimaksud, seakan sebuah video yang di pouse tiba-tiba, Topan mengerjap dan mematung seketika rupanya saking kerasnya berpikir tentang babi ngepet dia sampai tidak sadar sudah melewati kelasnya.


Tepat ketika topan memasuki kelas, sepeti biasa Derri selalu menjadi pembuka gosip sampah paginya.terlihat di pojok kelas Derry dan yang lainnya tengah berkumpul layaknya seperti ibu-ibu arisan.


"ini dia bapak mentri kita" teriak Degas yang membuat atensi semua mahasiswa di kelas terarah padanya, sedang Derri menggelar kesed kelas layaknya sebuab karpet merah untuk Topan berjalan.


"pak irawan bagaimana anda akan pilih partai siapa? Mengingat Pemira sebentar lagi" tanya Derry seakan dirinya sang reporter yang bertanya pada calon mentri. Topan hanya bisa menggeleng tak habis pikir dengan teman-teman Bemnya.


'pahlevi terlalu keras kayanya melatih Bem, sampe otak mereka rontok terbawa keringat' pikir Topan.


"Raden gimana?, kononkatanya anda bersama partai bang Jafar sudah berorasi duluan apakah betul?" tanya Rafta ikut-ikutan gila. Raden terlihat menggeleng tak habis pikir, sambil menoleh kearah Topan yang memilih langsung duduk tak berniat menjawab sama sekali.


"Gua yakin sih Junas menang banyak kalau sama Ale" kata Rafta karena Raden tak kunjung menjawab dia mengeluarkan pemikirannya seraya menuangkan kuaci pada telapak tanganya.


"junas sepak terjangnya jauh sih, tapi kan sama Ale imbang" sanggah Degas sambil bersender pada dinding kelas seraya mengunyah kuacinya sesekali.


"berat sih kalau menurut gua, sama kuat apalagi bang jafar sama bang biru itu mah ibaratnya patih sama gajah" kata Derry yang kini duduk di kesed yanga baru saja diinjak Topan. sungguh pengibaratan yang jauh dan berat.


"lah ko bawa-bawa gajah" otak Rafta yang kelewat polos pun tak mampu menampung otak hiperbola yang bermemorfosa jadi sampah pagi milik Derri. Sedang Topan hanya menghela nafas cape dengan tingkah teman satu Bemnya. kelas paginya harus disatukan dengan kedua teman bem yang otaknya sudah tertinggal ketika pertaman kali masuk Bem. Perbincangan tentang Pemira pun terus menjadi topik mereka membuat Topan muak mendengarnya pagi-pagi. Sampai dia merasa hari ini hari yang sangat menyebalkan mulai dari awal bangun tidur dia harus mengantri mandi bersama anak kosannya mengambil baju asal di lemari ditambah helm yang ketinggalan karena buru-buru dan berakhir satu kelas dengan Derri dan Degas yang mulutnya melebihi perempuan di universitasnnya dalam bergosip.


"sabar wan, stok sabarlu seluar lapangan GBK" lirihnya sambil sesekali membaca bukunya.


bermula dari perbincangan topik pemira yang sedang hangat-hangatnya berakhir ke dosen fakultas hukum yang ntah dari mana mulainya.Topan hanya menjadi pihak penyimak begitu juga teman-teman mahasiswa yang lain, Derri dan kawan-kawan memang sangat terkenal dengan jiwa bacotnya. Sosial butterfy kalau kata mereka namun tidak bagi topan yang memandang mereka lalat bukan kupu-kupu.


Predikat ratu gosip nampaknya sudah berganti jadi predikat Raja gosip untuk fakultas Hewan yang disandang oleh teman sebayanya sendiri Derri karena Topik yang muncul selalu dari mulut Derri bermula.

__ADS_1


"Pak kenan, itu dosen Hukum kan ya der" tanya Degas kuaci yang sudah hampir habispun sudah di gantikan dengan ciki-cikian seribuan yang di beli di warung depan universitas.


"oh dosen yang suka pergi-pergian itu?" tanya Rafta. Derri kembali mengangguk, sambil sesekali melempar sukro ke mulutnya.


"ko lu tau? tau dari mana?" tanya Degas, Derri tersenyum seraya menoleh ke arah Raden sambil berseru


"Den lu kenal kan ya sama anaknya pak kenan?", Raden yang mendengar langsung menoleh. Sejenak terdiam kemudian menggangguk.


"nah kadi kebetulan Raden punya temen nah temennya temennya Raden itu temenan sama anaknya pak kenan gua tau dari temennya Raden" jelas Derri sambil menghabiskan sukronya.


"HAH GIMANA?" tanya Rafta, kalau diibaratkan Rafta itu ibarat sampah pelastik yang baru bergabung dengan sampah kotor di got. Masih polos namun ntah kenapa betah banget berteman sama Degas dan Derri yang otaknya serampangan tak jelas.


Perbincangan gosip sampah pagi mereka terpaksa harus berkahir dengan datangnya dosen pengisi kelas yang mengundang teriakan histeris sekelas


"pre-test"


...•••...


Sedang di sebuah perusahaan Guntur terlihat tengah duduk di ruangannya, kemeja polos hitam yang dia lilitkan sampai sikut juga kecamata baca yang dia kenakan menggambarkan kesan dewasa pada usianya. Di depannya sebuah tumpukan berkas yang bisa saja membuat matanya sakit seketika ditambah perdebatan hebat dengan sang ayah cukup membuat paginya berantakan. Berawal dari dirinya yang mencoba meyakin kan sang ayah tentang keberadaan kakaknya yang di Vienna berakhir dengan dirinya yang tanpa sengaja malah mengungkit kesalahan sang ayah di masa lalu.


"ayah tau, ayah sudah membuat seorang anak yang tidak berdosa menanggung kesalahan ku yah"


"dan sampai sekarang aku hanya menjadi manusia yang hidup dengan penyesalan, apa sekarang ayah puas ditambah ka Ceko per--"


Dia menyentuh pipinya yang memanas akibat tamparan hebat sang ayah, sedang ibunya hanya bisa menangis menjerit melihat ayah dan anak yang saling adu mulut.


Dia sadar dirinya yang terlalu patuh menuruti semua aturan norma hanya untuk menjaga nama baik keluarga, Guntur hanya bisa diam berpura-pura tak tau apa-apa mengantarkan sahabatnya menjadi kambing hitam karena keterdiamannya.


Masalahnya seakan sebuah alogaritma dalam matematika, rumit dan sulit dipecahkan. Ditambah penyesalan tak berdasar yang dia rasakan membuatnya menatap dunia dalam fatamorgana. Palsu.


Sorot mata memohon dari anak laki-laki itu terus menghantui pikirannya seakan seperti hantu yang terus menggentayangi setaip malamnya, karena itu yang menjadi bibit benih penyesalan yang tumbuh dalam dirinya. Dan sekarang bibit itu sudah tumbuh mengakar kuat yang lambat laut mengganggu kejiwaannya. Guntur mengurung diri di kamar selama beberapa bulan setelah kasus itu usai dan sahabatnya masuk jeruji besi.


Ketukan jari seseorang dimeja seakan menyadarkannya, dari lamunan pahit masa lalu yang membuatnya terjerembab cukup dalam dan kuat.


Sebuah nama baik keluarga yang harus dia jaga justru yang berbalik menghancurkannya perlahan.


Guntur mendongak menemukan Laka yang berdiri di sebrang mejanya.


"ada pak awangsa ingin bertemu" kata Laka sambil menunjuk ke arah pintu yang nampaknya si tamu masih berdiri di luar. Guntur mengangguk,


"suruh masuk" jawabnya. Laka langsung keluar di gantikan dengan masuknya Juan yang kini duduk di depannya.


"ada yang bisa saya bantu? Apa anda kesini membahas kerja sama kita?" tanya Guntur memulai percakapannya. Juan terdiam terlihat menimbang obrolan.


"sebagian itu, sebagian lagi---saya mau ijin membawa adik saya pergi keluar tepat tanggal 13" jawab Juan, dari cara bicaranya Juan terlihat ragu namun dia memilih untuk mengutarakan. guntur mengangguk tak masalah.


"oh iya tentu saja boleh, Javier kan adik anda" jawab Guntur dengan jawaban formal. Juan terlihat menghela nafas lega seraya berujar kembali


"bisa kah saya minta----sebagai kakak Javier, untuk menjaga javier pada tanggal 13 agar dia jangan keluar dari kosan" tambahnya kedua tanganya bertaut menguat terlihat dari urat-urat yang sedikit menonjol seakan menahan sesuatu. kakinya pun terlihat nampak gusar ketika Juan mengutarakannya. Guntur terdiam sejenak dia tiba-tiba saja teringat Ceko sosok kakak yang selalu menjadi pelindungnya. Dan Juan terlihat seperti Ceko.


"saya usahakan, tapi kenapa? Bukannya dia harus sekolah?" tanya Guntur heran, Juan terdiam ada beberapa alasan yang tidak dapat dia utarakan.


"eeeu--- karena saya akan mengajaknya ke Bandung"

__ADS_1


Deg..


Ntah kenapa menyebut kata Bandung membuat Guntur langsung gelisah seketika, dia teringat sahabatnya. Kepalanya mendadak pening putaran masa lalu dimana sorot anak laki-laki itu spontan merengsek masuk tanpa pinta. Membuat guntur merasa sesak seketika.


"pak Rayga, anda kenapa? Pak anda masih mendengar saya" ujar Juan khawatir karena tiba-tiba saja Guntur menyentuh kepalanya dan pupil matanya memejam seakan hilang kesadaran. Guncangan bahu dari Juan dapat menyadarkan Guntur pada kenyataan, dia menyeka peluh di dahinya yang ntah kenapa tiba-tiba berkeringat.


"ah maaf saya sedikit tidak enak badan, bisa kita langsung saja ke pembahasan kerjaan" jawab Guntur dia tengah berjuang menormalkan kewarasan pikirannya di tengah kegelisahannya.


"oh iya maaf pak, anda kemarin meminta data diri saya kan ini data diri saya pak dan ini beberapa berkas pengajuan yang sudah di tanda tangani pak rendra pak" jawab Juan, ntah dia harus merasa bersalah karena membicarakan di luar topik kantor atau tidak karena dia merasa kalau topik tadi hanya mengenai adiknya bukan sesuatu yang berat untuk di perbincangkan atau sebaliknya topik basa basi hanya untuk mengakrabkan mereka.


"tunggu, adik kamu bukannya javier?, ini ko---? tanya guntur heran.


"Javier adik tiri saya pak, sedang yang tertera disana dia adik kandung saya" jawab Juan enteng.


"adik tiri? jadi kalian?"


"iya javier dan saya sodara tiri pak, tapi saya sudah anggap Javier seperti adik kandung saya juga. mereka sama orang yang saya jaga dan saya sayangi mereka sama-sama korban keegoisan keluarga" jawab Juan dari nada bicaranya Guntur tau Juan tengah menahan kekesalan. Guntur mengangguk sejenak pandangannya tak lepas dari data diri milik Juan


...•••...


Sedang di sebuah warung kopi yang tak jauh dari Gardapati tiga motor terparkir di depannya. Aroma kopi hitam yang khas bercampur dengan wangi asap rokok yang bersumber dari beberapa anak ber seragam Gardapati berhasil menyaingi polusi udara dari asap kendaraan bermotor.


"lawan lu ketum Mandala ini" teriak Askala, Anggara hanya mengangguk dia tak menyangka kalau lawannya dari SMA mandala adalah Javier alias Ketua umum Mandala. Mendengar kata Mandala Badai yang tengah berbaring di kursi kayu pun spontan langsung bangun.


"maksud lu lawan anggara javier?" tanya Badai memastikan, Gardian mengangguk sambil sesekali menyesap rokoknya. Sedang askala masih fokus dengan laptopnya mencari dengan teliti SMAnya.


"kenapa, lu kaget?" tanya Heru yang melihat keterkejutan Badai.


"lawan apa?" tanya bu Rima sambil menghidangkan gorengan yang masih hangat di meja.


"lawan catur bi, biasa perlombaan antar sekolah" jawab Arva seraya mengambil gorengan yang langsung dia makan bersama cabe rawitnya.


"kaga, dunia sempit banget kenapa harus javier" jawab Badai sambil beranjak seraya mengambil gelas kopinya yang tinggal setengah gelas.


"mungkin ngga ada yang mau lawan Anggara lu tau sendiri medalinya berjejer siapa sih yang mau datang buat kalah doang, asli buang-buang waktu" jawab Arva di tengah mengunyah gorengannya.


"iya karena ngga ada yang maju yaudah terpaksa tuh ketum bakal turun tangan walau dia tau bakal mati dalam babak pertama" kata Askala sambil menyimpan gasolin dimeja setelah dia pakai.Badai mengangguk ntah kenapa ada setitik kekhawatiran di hatinya.


"tanggal berapa catur?" tanya Heru seraya menoleh kearah Askala.


"13" jawab Anggara ditengah menyesap rokoknya.


"barengan sama basket dong" kata Heru lagi seraya mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Gardian menggangguk sambil beranjak mendekat ke meja berniat mengambil gorengan namun urung ketika mendengar perkataan Arva


"gua denger, abi jadi kapten basket"


"gua kira bakal Gilang" jawab Heru yang tak kalah kagetnya, bahkan tanganya masih mengudara dengan gasolin yang masih menyala.


"mantan tukang tawuran jadi kapten basket, seru nih kayanya bukannya main basket nanti kita yang ada bacok-bacokan bawa gir" tambah Askala sambil menutup laptopnya, sedang anggara fokusnya teralihkan pada api gasolin yang masih menyala milik heru.


"tapi kayanya dia udah insaf ngga kaya kita yang ngga insyaf-insyaf padahal ajal udah deket aja tiap hari" kata Badai menanggapi


" bukan lagi, nyawa udah di tenggorokan masih aja sambat sana sini" tambah Arva sambil membuang puntung rokok miliknya.

__ADS_1


Sedang anggara masih fokus dengan api pada gasolin menyala, matanya berbinar namun seketika menggelap dia meraih air minum dengan tiba-tiba yang langsung dia siramkan kearah gasolin menyala milik Heru yang tanpa sengaja muka Heru berhasil tersiram juga. Degup jantung Anggara tiba-tiba saja berdetak kecang nafasnya ntah kenapa tak beraturan bersamaan dengan itu gelap langsung menjemputnya. Membuat Badai dan yang lainnya berseru khawatir bercampur kaget.


"anggara" ujar kelimanya bersamaan.


__ADS_2