
Topan berlari seorang diri di sekitar Koridor kampusnya. Tadi ketika dirinya mendapat panggilan telepon dari Raden, Topan sedikit kaget. Karena laki-laki yang sering dipanggil yang mulia oleh Topan itu tadi marah-marah prihal makalah. Makanya selesai dia mengurus urusan BEM bersama anak BEM lain Topan langsung pergi meninggalkan mereka.
Disinilah Topan sekarang di depan kedai minuman, nafasnya sedikit tersenggal karena berlari. Dia memsuki kedai sambil celingukan mencari sahabatnya, Raden. Hingga matanya menemukan laki-laki yang tengah menikmati vanilla latte di meja nomor sembilan.
"Kenapa den?" Tanya Topan tepat ketika sampai tanpa basa basi terlebih dulu. Raden hanya melihat dengan tampang kesal.
Bruk,
Bruk,
Bruk,
Bruk,
"Ini apa Irawan, kenapa banyak banget lu ngeprint" Tanya Raden kesal. Dia tahu penyakit Irawan yang kadang selalu lupa kalau dia pergi ke tempat yang sama.
"Loh gua print satu ko" Jawab Irawan sambil duduk di depan Raden. Sebelum berkata Raden menghela nafas terlebih dulu.
"Faktanya apa Irawan, liat ini ada empat biji Irawan empat biji" Jawab Raden sambil menunjuk satu persatu makalah yang kemarin di print Topan. Untuk memastikan kepada Topan kalau itu ada empat bukanlah satu.
"Yah gua lupa kali" Jawab Topan
"Iya tau, udah biasa. Tapi tetep aja gua kesel" Jawab Raden, memang dia sering mendapatkan kasus yang sama selama dia bersama Topan. Ntah itu dia print banyak atau bahkan dia membeli buku dengan buku yang sama. Itu sering terjadi. Tapi tetep saja Raden lama kelamaan kesel sendiri.
"Pantesan, temen gua bilang. Den ko temen lu Irawan bulak balik terus ngasih makalah yang sama" Kata Raden memperagakan bagaimana pusingnya Ajun yang kebetulan ada di kosan kebingungan dengan kelakuan ajaib milik sahabatnya itu. Irawan.
Kemarin ketika mereka selesai mengerjakan tugas bersama, karena buru-buru Raden harus ke tempat kerja part timenya. Dia memberikan amanah kepada Irawan agar sahabatnya itu mencetak makalah yang sudah mereka buat bersam. Dan apa yang terjadi ketika dia pulang dari bekerja part time nya, Ajun teman kosannya memberikan tumpukan makalah dengan muka bingung.
"Yaudah sih" Jawab Topan simple.
"Wan bukan begitu, mungkin kalau dua gua masih bisa wajar, lah ini empat wan. Mau diapakan ini makalah kawan mana tebel banget lagi" Kata Raden panjang lebar. Tangannyal menunjuk empat makalah yang tebelnya bukan main. Greget dia sama sahabatnya itu, rasanya dia ingin melemparkan gelas vanilla latte yang ada di depannya sekarang. Sedang Topan hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya y yang tidak gatal. Mau gimana lagi sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Ngga mungkin kan dia balikin lagi makalahnya ke tukang prinan. Terus minta uangnya kembali?
"Buat belajar" Jawab Topan sambil mengambil tiga makalahnya.
"Yaudah lu yang simpen tuh makalah sisanya, di kosan gua udah numpuk buku" Kata Raden.
"Iya yang mulia" Jawab Topan sambil menarik makalah yang disisain temannya Raden.
"Eh gua denger Ale bakal nyalon jadi presiden di pemira nanti?" Tanya Raden, mengganti topik bahasan.
"Katanya sih iya" Jawab Topan sambil memainkan nomor meja.
"Pesen minum sama makanan apakek gua laper habis ceramah" Kata Raden yang langsung diangguki Topan. Kemudian laki-laki itu beranjak ke meja counter.
"Kak keringetan habis lari ya?" Tanya seorang perempuan yang kebetulan ngantri di meja kasir bersama Topan. Topan yang mendengar pertanyaan seperti itu hanya mengangguk sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Anak FKH ya ka?" Tanya perempuan yang nampaknya temen perempuan yang tadi. Topan kembali mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Bayarnya debit atau cash mas" Tanya mba kasirnya.
"Debit" Jawab Topan sambil mengulurkan kartu kearah kasir.
"Ka udah punya pacar atau belum?" Tanya perempuan lain lagi yang nampaknya juga mau memesan minuman. Topan mengangguk, dan sukses menerbitkan raut wajah suram dari ketiga perempuan disana termasuk mba kasirnya.
"Wah anak FKH juga atau dari fakultas lain ka?" Tanya perempuan tadi lagi.
"Sapi" Jawab Topan simple sambil mengambil pesanan nya.
Nasib mempunyai wajah tampan, Topan selalu saja menjadi inceran semua kaum hawa. Terkadang banyak laki-laki yang iri dengan Topan. Bagaimana tidak dia tampan, anak BEM, rajin beribadah, dan lagi dia cukup pintar walau tak sepintar Raden. Pas lah kalau dijadikan calon imam masa depan. Bisa membimbing kejalan yang benar. Itu dari kaca mata semua mahasiswa kecuali Raden.
"Lama bener lu?" Tanya Raden yang melihat kehadiran Topan di depannya dengan pesanan mereka.
"Ngantri tadi" Jawab Topan sambil memberikan pesanan Raden. Raden yang mendengar jawaban Topan hanya mengangguk. Memang kedai minuman di depan kampus mereka sangat laku keras. Karena hanya satu.
"Gua denger kalau misal Ale jadi presiden lu bakal jadi mentri" Kata Raden. Topan hanya menggeleng tidak tertarik dengan topik bahasan Raden.
__ADS_1
"Ale bakal jadi lawan terkuat temen kosan gua, si Ajun" Tambah Raden lebih semangat lagi. Berbalik dengan Topan yang tidak ber semangat sama sekali dengan topik mereka. Ayolah dari kemarin topic bahasan mereka sama. Ngga di BEM ngga di kampus ngga di grup nya, semua membahas presiden dan dirinya yang bakal ditarik jadi mentri. Sedang Topan sama sekali tidak tertarik untuk menjadi mentri.
" Ajun ?" Topan mengernyit kemudian mengangguk, dia lupa kalau panggilan kosan laki-laki FISIP itu Ajun.
" Junas , kan namanya Arjuna Satria Dwingga. Di kampus emang dipanggil Junas sama dosen, dikosan tetep aja ajun" Jelas Raden sambil sesekali memakan roti yang dipesan Topan tadi.
"Oh" Jawab Topan sambil meminum minuman pesanannya. Raden tau Topan tidak tertarik dengan topik mereka.
"Eh partainya bang Biru apasih namanya? Ale di tarik ke partainya bang Biru kan?" Tanya Raden lagi. Tanpa melihat raut wajah Topan yang tak berminat sama sekali.
"Dayang sumbi" Jawab Topan asal.
"Serius wan ngga sekalian Jaka Tarub" Kata Raden kesa. Topan kalau tidak tertarik dia tidak akan merespon dengan benar.
"Persia" jawab Topan.
"Apaan tuh? Kucing?" Tanya Raden penasaran.
"Persatuan mahasiswa cendekia" Jawab Topan singkat.
"Kalau bang Jafar?" Tanya Raden lagi.
"Anggora kali" Jawab Topan asal. Raden yang sudah tahu dengan sifat Topan hanya berdecak kesal.
"eh Kemarin gua nanyain bang Faisal tentang loker yang lu tanyain" Kata Raden mengubah topik bahasan mereka.
"Oh ya? Terus terus?" Tanya Topan dengan antusias.
"Ada katanya tapi di bagian barista, mau ngga lu?" Jawab Raden.
"Sama kaya lu dong? Kacau yang ada tuh kafe sama gua kalau gua di taruh di bagian itu" Kata Topan. Yang langsung diangguki Raden.
"Iya gua tau, gua juga udah bilang tap i kalau kasir kebanyakan cewe wan masa iya lu mau pake rok" Jawab Raden sambil menunjuk Irawan dengan sedotan.
"Emang lu udah izin sama kakak lu mau kerja part time?" Tanya Raden lagi di sela kunyahan rotinya.
"Tanyain aja dulu wan, abis itu gampang gua bantu ntar kalau lu mau jadi barista atau mau cari kerja yang lain" Jawab Raden sambil tersenyum. Yang dibalas senyuman juga oleh Topan.
Topan dan Raden itu selalu saling membantu satu sama lain. Selama Topan ada tugas BEM Raden selalu setia berada disamping Topan, takutnya Topan berulah. Begitu juga sebaliknya Topan selalu ada jika Raden membutuhkan bantuannya. Persahabatan yang dijalin sedari SMA itu sudah cukup untuk mereka saling mengenal satu sama lain, baik itu sifat , maupun sikap kepribadian masing-masing.
"Pengen mie ayam pake bakso gua wan, beli yu" Kata Raden tiba-tiba.
"Dih, ngga ada angin ngga ada hujan" Kata Topan. Keinginan random Raden kadang selalu membuat Topan ngelus dada.
"Abis BEM deh gua beliin" Tambahnya lagi. Raden hanya mengangguk padahal Raden berniat mengajak Topan pergi membeli mie ayam.
"Yaudah balik kampus yuk, katanya lu mau ke sekre BEM" Kata Raden sambil beranjak. Topan hanya mengangguki sambil mengambil minuman yang belum habis dia minum tadi.
Topan kini tengah duduk seorang diri di kursi panjang yang mengarah ke lapangan tempat ospek maba, satu tangannya masih menggenggam minuman yang tadi dia pesan. Dia mengunyah santai boba di mulut ya. Pikirannya berkeliaran gara-gara Raden bertanya prihal sang kakak, Topan jadi merindukan kakaknya itu. Sang kakak yang memilih melanjutkan kuliah dan bekerja di luar negri-Budapest-membuat dirinya kesusahan hanya untuk mengetahui kabar sang kakak. Ya semenjak kejadian itu kakaknya lebih memilih pergi ke luar negri dan melupakan semua nya agar bisa memulai hidup baru. Topan yang waktu itu diajak hanya bisa menggeleng, dia tidak mungkin pindah alasannya karena Raden. Raden sudah seperti adik bagi Topan walau terkadang sifat dewasa Raden membuatnya terlihat seperti sosok kakak untuk dirinya.
"Kak Irawan kan?" Tanya seorang perempuan yang sontak membuat Topan kaget.
'Astagfirulloh, gua kira hantu tadi' -batin Topan sedikit kesal, pasalnya perempuan itu tiba-tiba saja datang. Atau mungkin Topan yang terlalu lama melamun?
"Iya" Jawab Topan sambil berbalik dan menemukan seorang perempuan yang memakai pakaian ospek khas anak fakultas kedokteran hewan.
"Aku mau bilang makasih ke kakak, soalnya kemarin udah dikasih makan" Kata perempuan itu sedikit malu.
'Dikasih makan? Ko kaya hewan piaraan gua?' - batin Topan.
"Maksudnya?" Tanya Topan bingung.
"Itu nasi kotak kemarin ka, makasih" Jelas perempuan itu.
'Oh nasi kotak'
__ADS_1
"Yaudah iya" Jawab Topan singkat. Namun perempuan itu tidak juga pergi dari hadapannya. Topan mengernyit.
"Ada lagi?" Tanyanya.
"Emmm nama aku Rena ka" Kata perempuan itu sebelum benar benar pergi.
"Emang gua nanya nama ya?" gumam Topan heran.
"Woy bro" Tepukan Derri pada pundaknya yang tiba-tiba sukses membuat Topan kaget.
"LAHAULA" kaget Topan kemudian memukul Derri menggunakan gelas minuman yang dia pegang. Membuat laki-laki itu mengaduh seketika.
"Didalem lagi pada ngomongin lu tuh, asiik calon bapak mentri" Kata Derri sambil duduk di kursi yang tadi Topan duduki.
"Asli ngga niat gua der jadi mentri" Jawab Topan serius. Sungguh tadi Topan tidak jadi masuk sekre karena dia mendengar bahwa anak BEM lain tengah membicarakan prihal Ale yang akan nyalon jadi presiden di pemira nanti. Topik basi kalau kata Topan. Padahal lagi hangat-hangatnya di kalangan mahasiswa lain.
"Ngga papa dong, siapa tau lu nanti jadi mentri di Negara sendiri kan" Kata Derri sambil mengambil minuman Topan kemudian menyedot nya. Dan mengernyit seketika.
'Ancur Negara kalau gua jadi mentri' -batin Topan.
"Dih sue, tinggal bobanya doang" Kata Derri sambil melihat isi gelas minuman Topan.
"Yah makanya ngga gua minum, bikin emosi doang" Jawab Topan, sambil membuka ponsel miliknya.
"Bukannya ngambil sedotan gede tadi" Kata Derri sambil membuka paksa penutup minuman itu. Dan meminumnya langsung tanpa sedotan.
"Males lama" Jawab Topan sambil beranjak.
"Heh mau kemana lu?" Tanya Derri.
"Sholat yu berjamaah Ashar, yang mulia siap jadi imam. Sekalian ajak yang lain" Jawab Topan sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, Derri hanya mengangguk sebagai respon.
Mereka berjalan berbarengan kearah mesjid. Disana sudah ada Raden yang duduk menunggu Topan sambil membaca Al-Quran. Adem banget liatnya.
"Rajin banget den" Kata Pahlevi sambil duduk di samping Raden.
"Iya nih, buru lu semua wudlu pak Galih udah siap-siap tuh" Kata Raden sambil menunjuk salah satu dosennya yang selalu menjadi imam.
"Imamnya pak Galih, kata Irawan lu imamnya den" Tanya Derri yang baru saja bergabung setelah selesai wudhu.
"Kalau ada pak Galih, gua istirahat" Jawab Raden sambil menyimpan Al-Quran ke tempat nya lagi.
"Eh Irawan mana?" Tanya Raden lagi pasalnya sahabatnya itu belum kelihatan batang hidungnya di sekitar mesjid.
"Lagi wudhu, tuh anaknya" Jawab Derri sambil menunjuk Topan yang baru saja memasuki mesjid.
Mereka sholat berjamaah bersama-sama. Selesai sholat Topan tidak kembali ke sekre, dia memilih duduk di depan masjid bersama Raden. Alesannya dia bosan mendengar topic bahasan mengenai calon presiden BEM yang tentu saja dirinya akan ikut terbawa.
"Eh den gua rencana pengen ngekos juga sama kaya lu" Kata Topan tiba-tiba.
"emang kenapa apartemen lu? Dulu kan gua udah ngajak lu ngekos biar bisa nyari kosan aga gedean" Kata Raden. Dulu memang Raden sempat mengajak Topan untuk ngekos bareng selain dekat ke kampus, mereka juga bias menghemat uang jajan. Namun karena kekhawatiran sang kakak terhadap Topan makanya Topan dibelikan satu unit apartmen.
"Bosen gua, liat apartment gua yang sunyi sepi tak berkehidupan" Jawab Topan dramatis.
"Kosan gua penuh lagi, unit Sembilan yang pinggir Ajun kemarin kosong eh tadi siang pas gua mau ke kampus udah ada orang aja di delam" Jawab Raden. Kosan tempat Raden itu termasuk kosan elit selain itu juga sangat startegis karena deka t ke kampus. Makanan disekitaran kosan Raden pun cukup terjangkau pas buat dompet mahasiswa. Walau bapak kosannya cukup ketat kosan itu menjadi incaran setiap mahasiswa.
"Kosan lu buat dua orang boleh ngga sih?" Tanya Topan sambil berbalik ke arah Raden, yang tengah bersila d teras masjid sedang dirinya duduk di ujung.
"Boleh-boleh aja deh kayanya, tapi kosan gua kasurnya cuman satu. Masa iya kita tidur barengan lawak bener" Jawab Raden.
"Lagian ngga kebayang wan dari apartemen ke kosan emang bakal betah?" Tambahnya lagi.
"Ngga tau juga" Kata Topan.
"Tar gua nyari kosan elit sekitaran kosan gua deh siapa tahu ada kosan kosong yang aga elitan dikit, atau ngga gua tanya Ajun deh ntar biasanya dia tau" Kata Raden. Padahal kosan dia pun sudah termasuk kosan elit. Mau seelit apa lagi coba?
__ADS_1
"Iya deh, kalau ngga dapet temenin gua nyari kosan ya?" Pinta Topan, yang langsung diangguki oleh Raden.