Best Seller Man

Best Seller Man
ALUKA


__ADS_3

SMA Mandala


"udah nyampe gua nih" jawab Hujan sambil mengakhiri panggilan dengan Gilang.


Setelah memarkirkan motornya hujan langsung berjalan kearah ruang OSIS, di sepanjang koridor hujan menjawab siapa saja yang menyapanya.


"pagi ka"


"iya pagi"


"eh pak ketum, baru sampe pak?"


"iya nih"


"Er kucing di belakang RO punya lu, udah lahiran"


"oh udah nnti deh gua liat"


dan banyak lagi, bahkan beberapa pertanyaan random sampai serius pun dia sempatkan untuk dijawab, sungguh cerminan ketua OSIS yang baik dan benar bukan?


"ngga bakal ada tanggal tiga belas yang kedua kan di bulan sekarang?" monolog hujan sambil membuka pintu ruang OSIS. hujan menghela nafas sambil bergumam


"menjadi orang yang pertama tidak buruk" karena belum ada satupun anak OSIS yang datang, padahal tadi Gilang sudah menelponnya pagi-pagi dia kira Gilang sudah sampai namun ternyata temannya itu hanya mengingatkannya untuk pergi pagi. Hujan langsung melempar asal tas nya ke kursi kemudian mencari remot AC yang selalu di tanyakan Radika karena suka hilang ntah kemana. dan kini dia merasakannya, kemana perginya remot AC? sederhana tapi berhasil membuatnya kesal.


"dimana sih?" monolognya sambil terus mencari remot AC, dirasa tak ada di sekitar mejanya dan meja anggota OSIS yang lain Huna mulai mencari ke setiap lemari.


Tanganya tak henti-hentinya membuka beberapa lemari di ruang OSIS mulai dari lemari buku agenda OSIS sampai perabotan. siapa tau terselip atau mungkin ada yang iseng naro asal,karena dulu pernah remot AC bergabung bersama sapu ijuk dan teman-temannya. namun nihil remot AC tidak ada. hingga Hujan memutuskan mencarinya ke lemari besi yang memisahkan dua ruang, disana hanya berisi buku agenda OSIS yang sudah lama. singkatnya mungkin bisa di sebut gudang buku OSIS. walau tidak mungkin ada disana karena tempat itu jarang sekali anak OSIS masuki tapi kembali lagi karena ulah kata iseng apa saja bisa terjadi bukan?


"sial" gerutunya karena lemarinya cukup tinggi hujan sedikit kesusahan.


"hachiim" akibat debu alergi hujan pun kambuh. bersin yang tak henti hingga netra coklatnya menangkap seorang yang akan memasuki ruang OSIS dengan muka ketakutan.


'HEH' pikir hujan.


"bismillahirrohmanirrohim allohulailahhaillahuaw..." gumam Gilang sambil memejamkan matanya, membuat Hujan yang melihat mengeryit heran.


'bocah kenapa?' pikir Hujan.


"ko ngga takut?" gumam gilang


"takut apa lang?" tanya Hujan bingung semakin bingung lagi Gilang membawa Al-quran yang ada di meja Radika.


'lah buat apaan itu bocah' pikir Hujan makin bingung.


"Bismillah pergi kau setan" teriak Gilang semakin keras.


"eh buset, bocah ini gua javier lang javier ketua umum bukan setan ,hantu atau apalah itu" jelas Hujan dengan susah payah karena kepalanya sedikit terjepit atara lemari dan bingkai foto presiden yang di pajang menghapad ruang OSIS, G ilang mengerjap.


"Javier ketua umum SMA Mandala? yang cerewet itu?" tanya Gilang memastikan.


"heh gua ngga cerewet, iya gua Javier ketua umum SMA Mandala" jelas Hujan.


"serius bukan hantu kepala buntung yang sering di bicarain anak kelas gua kan lu?" tanya Gilang lagi tanpa berpikir semenjak kapan hantu bisa diajak bicara, rupanya akal sehatnya sudah hilang karena takut. memang pernah ada kabar tentang penghuni Ruang OSIS yang sempat ramai dibicarakan anak Mandala namun belum ada kebenaran yang membuktikan jika disana memang ada penghuninya ntah itu nyata atau hanya ilusi salah satu anak Mandala yang ingin viral di sosial media.


"Javier ini, Javier anak Adinata" jawab Hujan


"bikin kaget lu Er, ngapain sih disana bikin gua jantungan pgi-pagi" kata Gilang hampir saja Gilang membenarkan anggapan anak Mandala yang berkata kalau di ruang OSIS ada penunggunya.


"nyari remot AC" jawab Hujan tanganya bahkan sudah kotor karena debu yang menempel di setiap buku yang dia pegang.


"Hachimm"


"awas foto kesu---


" Hach---aduh" teriak Hujan yang tanpa sengaja menyundul foto yang baru saja Gilang peringatkan.


"yah Pak presiden kita jatuh" kata Gilang mendrama.


"presiden jatuh? dimana lang? ko ngga ada beritanya? apa baru saja? mana-man ngga ada notif twitter ko?" pertanyaan beruntun itu muncul dari Yusril yang baru saja sampai di ruang OSIS.


"siapa yang jatuh--- presiden? jatuh dari apa?" radika menyerobot masuk dengan pertanyaan yang sama.


"jatuh" gumam Harsal yang masih berdiri di ambang pintu.


krik... krik...


"loh ko pada diam?" tanya radika penasaran.


"lang lu tau berita dari mana itu?" tanya radika. sedang gilang hanya bisa mengedip lamban. memproses kemana arah pembicaraan radika.


"Astagfirulloh" teriak Yusril yang cukup mengagetkan Radika dan Harsal


"kenapa sih lu ril?" tanya Radika


"itu siapa?" tunjuk Yusril ke arah Hujan.


"astagfirulloh Er ngapain disitu sih" kaget radika.


".... "


"tum ada-ada aja lu" tambah Harsal yang sama baru menyadari keberadaan Hujan.


".... "


"Lang presiden jatuhnya dimana? " Tambah Yusril yang sama penasarannya dengan Radika. memilih mengabaikan Hujan yang berniat menjelaskan sedang apa dia di atas.


"Bukan presiden itu yang di maksud Gilang, tapi itu" jawab Hujan sambil menunjuk foto presiden yang jatuh terbalik karena tersundul kepalanya.


"itu yang jatuh foto"


"jadi?" tanya radika menuntut jawaban.


"yang jatuh itu foto presiden tuh itu yang jatuh" Jelas hujan dengan susah payah karena terhalang foto satunya lagi.


"eh wakil presiden awas jatuh juga itu tum" teriak Gilang lebih histeris, sukses membuat radika kesal dan ingin menelannya hidup-hidup.

__ADS_1


"gua kira berita beneran tadi taunya anak lebay udah ngedrama pagi-pagi" kesal Yusril sambil berjalan ke bangkunya.


"untung gua ngga begitu penasaran, tapi tum lu lagi apa itu serem banget kelihatan kepala doang?" tanya Harsal sambil menunjuk posisi Hujan. kepala hujan masih terjepit antar lemari dan foto besar.


"nyari remot AC"


" nih gua bawa soalnya suka ilang-ilangan" jawab Radika sambil mengeluarkan remot AC dari dalam tas nya. Hujan bingung mau marah dia ngga salah, ngga marah dia kesel dari tadi nyari remot AC yang taunya dibawa Radika.


"eh gua keluar dulu ya ambil banner di bang Pahlevi mumpung belum ke kampus" kata Harsal.


"oke" jawab Hujan sambil membereskan kembali kursi bekas dia naik tadi mencari remot AC yang ternyata di bawa Radika.


"gua juga ada urusan bentar ya Er" kata Radika.


Hujan hanya mengangguk sebagai respon. masih ada sedikit kesal tapi sulit mengungkapkan.


setelah kepergian harsal dan Radikal, Hujan langsung disuguhkan dengan tumpukan beberapa proposal pengajuan ekstrakulikuler yang akan ditampilkan pas penyambutan nanti. remaja laki-laki yang menginjak masa pubertas itu kini tengah di sibukkan dengan acara penyambutan murid baru yang rencananya akan di laksanakan kurang lebih dua minggu lagi.


"Lang coba tanya Nadia dana cair berapa dari sekolah?" Tanya Hujan. Gilang langsung mengecek ponsel sambil menujukkan sebuah pesan yang sama sekali tidak terbaca hujan karena cukup jauh, Gilang berujar.


"Semua cair katanya"


"oh iya sponsor gimana siapa aja yang mau? " tanya hujan sambil kembali membaca beberapa proposal lagi.


"sponsor ke Renata coba gua ngga megang sponsor tum" jawab Gilang tanpa menoleh dan masih fokus dengan laptopnya.


"lah tum lu ko lu masih disini bukannya langsung ke tempat pemotretan ya?" tanya Harsal.


"ntar aja siangan soalnya gua udah izin kalau pagi sibuk di OSIS gua" jelas Hujan.


"jadinya lu pemotretan sama siapa?" tanya Gilang yang sibuk sendiri dengan latopnya.


"Ngerjain apa sih karyawan?" Tanya Harsal yang tiba-tiba duduk dimeja depan Gilang sambil makan sukro dengan santainya.


"Biasa tugas negara" Jawab Gilang.


"Sama kak Rinjani anak IPA 1" jawab hujan.


"wes dia kan kakak kelas yang populer itu yang kemarin Olimpiade fisika kan?" tanya Yusril sambari mengambil duduk di meja Gilang. Hujan hanya mengangguk seakan tak peduli dengan kata populer.


"Eh tum semua eskul bakal tampil kan nanti?" Tanya Gilang sambil mengalihkan pandangannya kearah Hujan. sedang tanganya mendorong Yusril agar menjauh dari mejanya.


"Tampil semua kecuali kir kayanya soalnya gua belum dapet proposal pengajuannya" Jawab Hujan tanpa menoleh.


"Di gua kalau kir Tum" Kata Radika yang baru saja masuk ruang OSIS dengan tumpukan buku ntah buku apa.


"asiik jabatan baru nih kayanya rad?" tanya Yusril, sedang Radika hanya terdiam namun mengangguk setelahnya.


"bang bian lengser lu naik" tanya Hujan. Radika mengangguk


"iya, gua kira yang naik bakal Dika atau Reska taunya gua" jawab Radika.


"sibuk bener lu paduka, ngga papa biar nambah subcribe lu kan lu bisa sekalian ngevlog atau masukin kir anak Mandala ke yutub cenel lu" usul Gilang.


"boleh juga sih lang" jawab Radika sambil menyimpan tumpukan buku di mejanya.


"Bekas ospek tahun kemarin buku-buku sama makalah sekolah" Jawab Radika sambil menyimpan dengan kasar berkas-berkas ke meja hingga berjatuhan. Hujan mengangguk sambil berjalan kearah radika.


"Hachiiiiim"


"buset" teriak Yusril


"nah kan karena debu tuh" kata Hujan, karena dia juga merasakan apa yang di rasakan radika. bedanya hujan tadi pagi pas mencari remot AC.


"Bersin satu kali lagi dapet bonus piring pecah lu paduka" Kata Gilang sebenarnya dia sedikit kesal gara-gara bersin Radika kini di laptop gilang huruf a bersepasi sepasi cukup banyak.Yusril yang iseng kemudian melihat ke laptop Gilang,


"Apaan itu la-a-a-ata-a lang?" Tanya Yusril yang tanpa sadar malah menyodorkan sebotol air minum kearah Radika, karena sedang kehausan Radika langsung meminumnya tanpa berpikir dulu.


"byuuur"


"banjir bandang" teriak Yusril


"Ah lu rese, laptop gua lu sembur radika" teriak Gilang. hujan cuman diam bukan radika yang salah disini tapi Yusril yang ngasih air minum ke radika.


"ya ma---uhuk---uhuk" jawab radika kesedak. bukannya nambah baik muka radika malah memerah karena batuk yang terus menerus. Hujan menarik Radika agar duduk.


"elap pake tisu, ctrl S terus laptopnya nonaktifin dulu nnti nyalain lagi" jelas Hujan sambil menyimpan kotak tisu di meja Gilang.


"Hachiiiiim"


"Radika tanggung jawab gara-gara lu proposal kegiatan OSIS ancur" Kata Gilang kesal. Masalahnya tadi pas hujan menyuruh Gilang mengesabe filenya Radika kembali lagi bersin membuat Gilang kaget dan tanpa sengaja menambah kesan estetik dengan menambahkan huruf S yang cukup banyak di proposal.


"De--- hachiiim---b--ahachiim-u, lu juga hachiim Sa---chim lah malah ng---chim air ke gu---chim e" Jawab Radika ditengah bersin-bersinnya.


"ya maaf salah ngsih gua, mau ngasih kotak tisu malah botol air minum" jelas Yusril. membuat Hujan langsung menggelengkan kepala dengan kelakuan teman-teman ajaibnya.


"lang kalau udah di save matiin, terus hidupin lagi" perintah Hujan memilih abai dengan Radika dan Yusril. gilang mengangguk walau sedikit mendumel karena ulah radika Gilang harus mengedit ulang proposal kegiatan OSIS.


"udah mendingan?" tanya Hujan di balas anggukan oleh radika, hujan kemudian menyodorkan air minum.


"minum pelan sambil duduk" titah hujan,


Hujan mulai memilih-milih buku seperti apa yang di jadikan perlengkapan yang harus di bawa murid baru nanti.


"Ini bagus nih contoh bukunya" Kata Hujan sambil menunjukkan buku bersampul batik dengan peta negara Indonesia di belakangnya.


"Ribet tum masih untung kalau pada bisa gambar kalau kaga itu hasilnya jelak garis doang kan ngga lucu, paling tidak di print lah" usul Gilang


"Betul tuh kata Gilang, liat deh ada buku gua kaga? asli jelek banget. gua kan ngga bisa gambar" Kata Yusril sambil berjalan ke meja Radika. dan mulai mencari buku miliknya dulu.


"Buku gua tuh dulu" Teriak Harsal dari arah pintu sambil menunjuk buku yang kini di pegang Hujan. Buku yang tadi Hujan bilang bagus ternyata itu buku milik Harsal.


"Oh iya bener baru sadar gua, pantesan gambarnya bagus banget" Kata Hujan. Harsal memang terkenal dengan tangan emas bahkan Harsal bisa menggambar tanpa menghapus sama sekali, selain menggambar laki-laki yang menjabat sebagai ketua dua itu juga menekuni dunia design. Bahkan Harsal sering mengikuti lomba-lomba design antar sekolah, Karena bakat Harsal juga hampir seluruh banner SMA Mandala dia yang design.


"Aluka Harsal Andreas, namalu bagus banget ternyata" Kata Yusril dengan nada sedikit kaget.

__ADS_1


"Lah iya panjang banget nama lu ternyata" Kata gilang karena di nametag namanya Harsal hanya tertulis "Harsal Andeas" Sedang Harsal hanya tertawa.


"dulu aluka itu nama ibu gua, tapi ketika bokap nyokap gua kandas alias cerei ya itu cuman nama doang buat gua, ngga berarti" jelas Harsal panjang lebar. Hujan seakan menemukan fakta baru, sisi Harsal yang ini belum pernah hujan tau. yang dia tau hanya Harsal gila ngegame dan juga pinter gambar. fakta itu juga membuat Gilang, Yusril dan radika kaget. ternyata Harsal cukup pintar menyembunyikan masalahnya sendirian.


"biasa aja liatin guanyakali" kata Harsal sambil tertawa.


"semenjak kapan?" tanya Hujan penasaran karena setau hujan keluarga Harsal itu utuh tak ada sedikitpun kabar yang dia dengar prihal keluarga Harsal. diapun tidak pernah mendengar Harsal yang punya masalah.


"udah lama ko itu pas gua masuk semester 2 kalau ngga salah mereka cereinya" jelas Harsal. Hujan jadi teringat, sekarang dia tau penyebab Harsal mengundurkan diri dari lomba design tingkat kota, mungkin ini ada penyebabnya dengan perceraian keluarganya.


"jadi yang waktu itu?" tanya hujan. Harsal mengangguk.


"iya benar, gua mengundurkan diri karena harus menghadiri pengadilan" jelas Harsal. hujan dengan cepat memeluk Harsal dibarengi dengan keempat temannya yang lain. dalam hati hujan bersyukur kedua orang tuanya dulu tidak bercerai ketika hujan dewasa, karena dia tidak bisa membayangkan seperti apa dirinya ketika di posisi Harsal.


"sory sal, kita ngga tau" kata Yusril. diangguki Radika dan Gilang.


"perceraian itu pilihan, ya gua sebagai anak bisa apa" tambah Harsal.


"lo kuat bro" kata Gilang, sedang hujan masih memeluk erat tubuh Harsal.


"panas woy" teriak Harsal sambil melepas pelukan dari teman-temannya satu persatu.


"Udah ngambil banner?" Tanya Hujan. Harsal mengangguk


"Udah, hampir aja bang pahlevi mau berangkat ke kampus tadi" Jawab Harsal sambil menunjukkan dua banner satu banner game sedang satu lagi banner sekolah untuk ospek nanti.


"Edan keren banget sal" Kata Yusril


"Eh baru ngeh gua sal, itu baju gamers yang lu design waktu itu ya?" Tanya Radika hidungnya sedikit memerah karena nangis, radika itu berhari lembut mudah nangis dan juga pekaan. Harsal mengangguk.


"Oh iya sal pas eskul nanti anak game nampilin apa, mabar di depan umum gitu secara live?" Tanya Yusril penasaran.


"Kaga lah pengenalan gua nanti tentang eskul game" Jawab Harsal.


"Oh lu yg maju?" Tanya Gilang. Harsal mengangguk yakin.


"Terus siapa lang? Kalau bukan Harsal" Tanya Radika.


"Diem lu kemusuhan kita" Jawab Gilang sewot.


"Ya pasti Harsal lah yang ngebentuk sampe sujud-sujud di kaki Javier kan dia demi terbentuknya eskul game" Jawab Yusri yang berhasil mendapat lemparan buku dari Harsal.


...•••...


Universitas Ranajaya


Seorang laki-laki terlihat sibuk menggulir kanan kiri ponselnya dengan tak minat karena faktanya itu hanya kegiatan mengusir bosan yang dilakukan Topan karena menunggu seseorang. Topan mendengus sudah sekitar Satu jam lebih dia melakukan hal yang sama dari tadi. Tau gitu dia memilih menunggu Raden di Kelas atau di kantin.


"ck menyebalkan" gumam Topan, seakan sebuah siklus dia ulang lagi kegiatan tadi, hingga sebuah notif masuk kedalam ponselnya.


"jangan lupa nanti rapat dulu" eja topan membaca chat masuk dari grup bemnya, baru saja dia akan mengetik sebuah jawaban beruntun datang dari anak bem lain mengurungkan topan untuk menjawab secara pribadi.


"sudah terwakil----eh apaan-apaan ini muka gua dijadiin sticker" kesal Topan, tadi Topan sudah menduga jawaban dari anak bem lain hanya sebuah sticker tidak jelas namun Topan tidak menduga akan ada salah satu anak bem yang menjadikan muka Topan sebagai sticker. mana komuknya ngga jelas lagi.


"Degas , ngajak ribut nih anak" tambahnya karena anak bem yang menjadikan sticker muka Topan itu Degas.


"siapa yang ngajak ribut? " Tanya Raden.


"lu yang ngajak ribut sama gua, lama banget si Den" Jawab Topan sewot, Iya dari tadi Topan menunggu Raden pasalnya sahabatnya itu minta diantar ke bank untuk membayar semesteran tapi karena mengantri Raden menyuruh Topan menunggu di luar.


" Ya maaf, bukannya di luar ada bangku ya ko lu malah nunggu disini sih" Tanya Raden, tadi Raden menyuruh topan menunggu di luar karena memang disana disediakan beberapa tempat duduk khusus yang digunakan untuk menunggu panggilan. namun ternyata ketika tadi Raden keluar topan ngga ada disana.


"Di liatin gua tiap ada yang masuk ke bank, risih. Yakali kepala gua harus di tutup pake kardus " Jawab Topan.


"Boleh dicoba wan" Jawab Raden sambil berlalu.


'Ko ngajak ribut beneran' -batin Topan


"Hallo ka Irawan" Sapa salah satu mahasiswi yang berpapasan dengan Topan.


"Siapa?" Tanya Raden.


"Ngga tau gua" Jawab Topan bingung.


"Habis dari bank ya ka?" Tanya mahasiswi satunya.


"Yakali habis dari tempat cucian motor" Jawab Topan. Kedua mahasiswi itu malah tertawa menganggap apa yang Topan lontarkan seakan bercandaan.


"Bayar semesteran ya ka?" Tanya mereka lagi.


"Meres sapi mba, ayo buru! jalan lu jangan kaya miss Universe" Kata Topan sambil menyeret tangan Raden tanpa berprikemanusiaan.


Raden sepanjang jalan tertawa terbahak-bahak melihat kondisi muka Topan. Pasalnya mukanya bener-bener terlihat sangat tidak bersahabat, selain karena ulah mahasiswi iseng yang tadi, Raden menertawakan sticker muka Topan yang dibuat Degas.


"kreatif juga ya Degas" kata Raden sambil mencroll ponsel Topan.


"Jangan ketawa, ketawa lagi lu gua tendang nyampe fakultas hukum" jawab Topan kesal karena sedari tadi -ketika Topan menarik Raden- sahabatnya itu tak berhenti ketawa.


"Mata gua sampe berair lo ini"


"Bodo" Jawab Topan.


Keduanya berjalan ke arah gedung fakultas kedokteran hewan, sepanjang jalan Raden tertawa tanpa berhenti membuat seluruh atensi mahasiswa tertuju pada mereka.


"ini muka lu lucu banget asli"


".... "


"gitu aja ngambek anaknya mamah wendi, eh btw udah setuju lu milih siapa nih?" tanya Raden karena dari tadi sahabatnya itu memang terlihat masam. mungkin bisa jadi Topan ngambek.


"ngga tau masih bingung gua bang biru banyak banget dekengnya, gua liat bang Ale pinter banget politiknya. pusing pala pangeran" jawab Topan.


"dih pangeran, Voldemort lu mah"


"serem banget ngga sekalian thanos" jawab Topan asal.

__ADS_1


"boleh lah itu juga sama-sama jahat"


"....."


__ADS_2