Best Seller Man

Best Seller Man
Rutinitas pagi yang NORMAL


__ADS_3

Allohuakbar-allohuakbar...


suara adzan subuh berkumandang menyadarkan seorang laki-laki yang sedari tadi masih sibuk dengan memikirkan kemana perginya teman sekosannya. dia Topan.


tepat pukul tiga dini hari dia terbangun karena mendengar bunyi gaduh di bawah, tepatnya di sekitaran ruang tamu menuju pintu masuk rumah Ceko. Anehnya suara gaduh yang ntah disebabkan oleh apa itu bersamaan dengan menghilangnya teman sekosannya, gempa. Memilih kembali abai topan beranggapan kalau gempa mungkin saja kebawah berjalan cepat karena kehausan terus menubruk apa saja yang menghalangi jalannya. kembali memejamkan mata sejenak mengusir pikiran aneh yang menyapanya pagi buta, memilih keluar berniat untuk mengambil wudhu kemudian sholat.


disisi lain, bersamaan dengan bangunnya Topan, Badai baru saja sampai ke rumah Ceko. dia berjengit kaget tatkala mendengar suara alarm mobil milik si pemilik kosan, Guntur.


"sial, ngagetin aja nih mobil" gumamnya sambil membuka helm dan menaruh di stang motor maticnya. dia berjalan pelan matanya memicing mencari keanehan dari sebab alarm mobil itu berbunyi.


"ngga ada yang aneh?" atau maling?" pikirnya. dia kembali berbalik mengecek pagar rumah dan memastikan dia menguncinya dengan benar.


"ada yang aneh" katanya sambil berlalu.


Paginya Topan berjalan menuruni tangga, dia berpapasan dengan Gempa yang terburu menaiki tangga dengan wajah yang sedikit menghawatirkan. mungkin bagi Topan.


"lah bang? lu habis dari--- eh buset muka lu itu kenapa bang?" kaget topan, karena muka gempa itu seperti orang yang baru saja habis terjatuh.


gempa hanya menggeleng sambil berujar.


"ngga papa ko ini gua tadi kepleset" jawabnya tanpa memberhantikan langkahnya, berlalu tanpa menatap Topan sedikitpun. Bahkan gempa sedikit menunduk. dan membuang muka.


"kepleset diman-- ah yaudahlah ya bukan urusan gua" monolognya sambil berlalu, mencoba abai walau itu mungkin tidak bisa Topan abaikan. kepleset dimana coba? mungkin kalau menggelinding di tangga Topan bisa abai karena jelas. hingga tiba-tiba sebuah fakta kecil membuatnya memberhentikan langkahnya di tangga terakhir.


"tunggu, tadi bang alkana masih pake piyama kan ya?"


"kenapa ngomong sendiri wan?" tanya Guntur yang tak sengaja melihat Topan bermonolog.


"ngga papa mas, mau berangkat kerja mas?" tanya Topan. guntur mengangguk asal pikirannya seakan memilih mau berkata lagi atau tidak.


"ah iya wan, kamu denger suara alarm mobil saya tidak pas dini hari sekitar jam 2 apa 3 ya?" tanya guntur, akhirnya dia mengutarakan pertanyaan yang hendak dia abaikan. Topan mengangguk, Tiba-tiba dia teringat dengan gempa teman sekosannya yang tiba-tiba hilang tadi.


"kata Pak didi, alarm mobil saya nyala tapi dia cek mobilnya utuh-utuh saja" tambah guntur. topan awalnya ingin bercerita kalau semalam gempa tidak ada di kosan. namun dia kembali berpikir kalau itu bukanlah urusannya.


"mungkin punya bang Alkana, mas" jawab Topan.


"mungkin" angguk guntur kaku.


dikamar Gempa tengah meringis menahan sakit, bagian pipinya lebam dan keningnya sedikit membiru itu karena dia menumbruk kaca spion milik guntur tadi malam ketika dia dalam kondisi. somnabulisme. atau tidur sambil berjalan. kedua telapak tanganya kotor oleh tanah dan juga sedikit lecet akibat jatuh yang tiba-tiba karena dia kaget mendengar bunyi alarm mobil dalam mimpinya. tanpa gempa sadari itu nyata.


"aww" ringisnya.


"apa gua kasih aja ya semua kunci sama irawan" monolognya sambil mengoleskan obat merah ke telapak tanganya yang lecet.


semalam Guntur sudah membagikan kunci untuk masing-masing anak di kosan termasuk dirinya. semuanya kebagian tiga kunci, diantaranya kunci kamar, kunci rumah Ceko dan terakhir kunci gerbang. Guntur juga semalam sudah memberikan pengarahan tentang semua aturan di rumah Ceko. ntah kenapa Gempa semalam langsung spotan bertanya mengenai kebebasan keluar masuk rumah ceko, dan guntur menjawab kalau itu dia bebaskan. asal tidak menganggu tetangga dan juga semua penghuni rumah Ceko. gempa dapat bernafas lega mengingat dirinya yang mempunyai penyakit aneh yang kapan saja pergi dari rumah tanpa sadar.


"mana gua sekarang ada ngisi kelas pagi lagi, ngga lucu kalau muka gua kaya orang abis tauran gini. benjol sama lebam-lebam" .


sedang fokus mengoleskan obat merah dan juga salep di pipi dan telapak tanganya. ponselnya berdering menampilkan beberapa panggilan dari dua kakak kembarnya. 25 panggilan tak terjawab artaka, 30 panggilan tak terjawab Arsaka, 1 satu panggilan tak terjawab Fabian. gempa mengabaikan panggilan dari kedua kakak kembarnya yang dapat gempa tebak mereka akan bertanya keadaan dirinya, dia lebih memfokuskan dengan 1 buah panggilan atas nama Fabian yang di barengi dengan satu buah pesan.


[Fabian]


nanti kamu isi dua kelas saya

__ADS_1


soalnya saya ada kerjaan ke luar kota.


"AH" teriaknya kesal. dosen ini memang selalu menguji kesabarannya dan pagi ini sukses membuat mood nya makin buruk. Seakan sebuah kicauan di twitter dosen ini menonaktifkan balas pesan, atau hanya orang tertentu saja yang dapat menjawab dan gempa bukan salahsatunya. tak berniat membalas dia lebih memilih menarik handuk sambil melempar asal ponselnya ke atas kasur.


"eh bang---- loh itu kenapa mukanya bang? semalem berantem sama bang irawan ya?" tanya Hujan asal. gempa berjengit kaget hampir saja dia mengumpat. untung masih bisa di tahan.


"bikin kaget aja lu, ngga lah gua berantem sama irawan merebutin apa coba?"


"ya siapa tau kan irawan kan suk---


"lagi ngapain lu berdua halangin jalan gua?" pertanyaan ini keluar dari badai yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"--ka ngajak ribut" jawab Hujan diakhiri dengan tawa jenaka. padahal ngga ada yang lucu.


"muka lu kenapa bang, itu habis tawuran dimana?" tanya. badai tatkala melihat muka Gempa. ah gempa sudah menebak ntah hujan ataupun badai yang akan bertanya sepelerti itu. habis tawuran dimana?.


"jatuh tadi pas keluar rumah" jawab gempa. Hujan mengangguk badai yang ingin bertanya lagi pun urung ketika dia melihat raut muka gempa. seakan males menjawab apalagi menjelaskan.


"heh? kalen semalam lu kemana?" tanya Hujan.


"kepo" jawab badai sambil membanting pintu kosan.


"buset, gua tanya baik-baik ya Jamal" teriak Hujan kesal.


di depan Topan tengah duduk sambil menscroll hpnya, mengecek apabila ada yang tertinggal. hingga matanya tertuju pada satu buah pot bunga yang rusak ntah ulah siapa, bersamaan dengan suara Pak didi yang mengomel pagi hari.


"kenapa Pak? " tanya Topan, sambil memasukkan ponsel kedalam saku jaketnya. Pak didi terdiam sejenak sambil menunjuk pot yang sudah Topan duga.


"ini mas, ada orang iseng rusak tanaman. potnya sampe gini" , Topan mengangguk kaku, karena di pikirannya siapa orang iseng yang ngerusakin tanaman mahal yang bahkan lebih milih di curi dari pada di rusak.


"nah kan, bapak juga denger mas. padahal semalam bapak kedepan senter-senter sana sini tapi ngga ada siapa-siapa to mas. malah serem sendiri" jelas Pak didi sambil bergidik.


"tapi Yo mas, mas aga itu ngga pernah khawatir sama kaya gituan" tambah Pak didi. Topan tersenyum ramah, pikirannya kembali menerka mungkin saja dia abai karena nyawa lebih berharga dari pada mobil. dari pada melawan pencuri yang siapa tau bawa paralatan tajam mending diam seakan tidak tau. jaman sekarang orang lebih peduli sama yang viral dari pada yang teriak minta tolong. intinya orang sudah ngga peduli dan jauh dari kata empati.


"mungkin karena kedap suara kali Pak kamarnya mas aga"


"bisa jadi yo mas, dindingnya pake besi" jawab Pak didi asal.


"mati Pak didalem kalau pake besi" jawab Topan diakhiri tawa ramahnya.


Dikamar gempa tengah sibuk menjawab pertanyaan dari kedua kakak kembarnya.


"baik aku baik ka, iya sehat ka arsa aku sehat, ngga ko ngga papa. ngga bohong ka" perkataan itu keluar dari mulut gempa yang sibuk menjawab pertanyaan yang beruntung dari kedua kakak kembarnya bergantian dalam satu ponsel. tadinya gempa mau abai namun dia takut chatan kakak kembarnya berhasil menimbun chatan penting di bawahnya apalagi gempa itu tipikal orang yang melihat chat dari notif saja.


"iya ka iya, nanti alkana cerita" jawabnya tanganya tak henti memasukkan beberapa buku matakuliah dan satu buah laptop kedalam tas. hingga tanpa sengaja pandangannya jatuh pada tumpukan buku paket yang sama di atas meja belajar milik Topan.


"banyak banget" gumam gempa mengabaikan ponsel, menaruhnya ke dalam tas tanpa mengakhiri panggilan. dia memilih berjalan kearah meja belajar Topan untuk memastikan penglihatannya kalau itu memang buku yang sama, dan betul semua itu buku yang sama ada sekitar lima tupuk buku yang sama di meja belajar Topan. mungkin kalau pencil ataupun bolpoin menumpuk tidak aneh karena mungkin saja Topan suka nyetok, atau mungkin pulpennya sering hilang atau dicuri. tapi ini buku tidak mungkin kan Topan menyetok buku paket? heh buat apa, buku memang bisa habis apa ya? isinya? atau Topan minum bukunya dia jadiin jamu? pikiran random tak berakal pagi-pagi sudah mengisi pikiran kosongnya.


"mungkin kapan-kapan kalau keburu gua tanya" niat gempa, sambil menarik tas ranselnya kemudian keluar dari kamarnya. ingatkan gempa kalau dia masih dalam panggilan bersama kedua kakak kembarnya.


di depan Topan tengah kebingungan seorang diri, selepas kepergian Pak didi yang katanya mau beli pot baru, dia langsung berjalan ke arah motornya yang di parkir bersebelahan dengan motor Hujan.


"belum berangkat ka?" tanya Hujan yang hendak menaiki motornya. Topan menggeleng namun terlihat bingung.

__ADS_1


"kenap----, iya lang? ini gua mau otw ko" Hujan bermaksud bertanya lagi namun karena sebuah panggilan dia jadi abai. hujan memilih melajukan motornya sambil menelpon menggunakan earphone.


"lah bocah dari tadi nelpon?"


"siapa yang nelpon?"


"astagfirulloh, lu kalau datang salam dulu kek kal" kesal Topan, sedang badai tak peduli dia malah menampilkan muka flatnya. sambil mengenakan helm badai berujar.


"gua berangkat duluan ya"


"Hati-hati kal" jawab Topan. setelah beberapa menit perginya badai Topan teringat kalau dia lupa dengan kunci motor nya.


"kunci motor" monolognya sambil berlari cepat memasuki rumah Ceko kembali.


"Buru-buru banget wan kenapa?" tanya gempa yang berpapasan dengan Topan yang terburu menaiki tangga. ko seperti dejavu tadi dia yang diposisi Topan kan?


"kunci motor gua bang ketinggalan" jawab Topan,


"eh al mau berangkat?" tanya guntur tepat ketika Gempa melewatinya.


"iya mas, ngga kerja mas?" jawab Gempa balik tanya.


"bentar lagi nih lagi nunggu Pak didi" jawab guntur. gempa mengangguk.


"duluan mas"


sepeninggal gempa dengan mobil porche nya, Topan kembali dengan kunci motornya. namun ketika sampai di depan rumah Topan kembali teringat tentang kunci motornya lagi.


"udah gua ambil kan tadi kuncinya?" monolog Topan sambil berjalan ragu kearah motornya. namun baru saja beberapa langkah dia kembali lagi ke memasuki rumah Ceko.


"loh mau kemana lagi wan?" tanya Guntur sambil menyimpan ponsel di meja depannya.


"ngambil kunci motor" jawab Topan.


"bukannya udah kamu ambil ya wan?" tanya Guntur.


"iya mas?" tanya Topan balik


"ko kamu malah nanya saya? tadi kan kamu mau ngambil kunci pas papasan sama alkana kan atau mau ngambil apa? " bingung guntur


Topan terdiam tanganya kemudian meraba saku jaketnya.


"oh iya udah, makasih mas. duluan ya mas" jawab topan sambil pergi berpamitan. meninggalkan guntur dengan seribu pertanyaan tertahan di benaknya. lupa atau gimana? pikir guntur.


"mas aga, nunggu lama yo mas?" tanya Pak didi membuyarkan pikiran guntur seketika.


"ngga Pak, santai saja. beresin dulu saja kerjaannya pak" jawab guntur yang mulai melepas pikiran anehnya prihal pertanyaan bercabang yang mungkin tak kan ada yang menjawab, karena tidak dia utarakan.


"iya mas,ternyata semalam mungkin ada orang iseng mas rusakin taneman sampe potnya rusak banget" jelas Pak didi dengan cara bicara yang mengutarakan kekesalannya akibat pot dan tanamannya yang rusak.


"ngga papa, beli lagi saja pak" jawab guntur dengan pikiran pendeknya.


"oh iya mas, itu lo bunyi alarm nya ternyata orang iseng tadi kayanya numbruk kaca spion atau gimana saya ngga tau mas tiba-tiba kaca spionnya muter kebelakang" jelas Pak didi lagi. guntur mengangguk, tidak mau berpikir keras mengenai kaca spion yang seakan jadi langganan kerusakan mobil miliknya.

__ADS_1


"kalau sudah selesai saya tunggu di depan ya Pak"


"baik mas" jawab Pak didi.


__ADS_2